Living in the World Where I Can See a Stars

Living in the World Where I Can See a Stars
Bab 02 - Dia yang Lain (Bagian 2)


__ADS_3

Bab 02 (Bagian 2)


(Has been edited, by Radrael. Wednesday, July 10, 2019)


 


 


"Beruang Iblis?" tanyaku bingung.


Michelle yang sudah kembali, kini tengah meracikanku sebuah minuman obat yang bisa membuat tubuhku pulih lebih cepat.


"Benar sekali, beruang yang mengejarmu adalah iblis yang telah menjelma menjadi hewan." jelas Erika.


"Iblis yang menjelma menjadi wujud hewan, biasanya semakin bertambah kuat. Karena sudah memiliki wujud nyatanya." Imbuh Michelle yang sudah selesai meracik minuman obat.


Lalu, dia berjalan mendekat ke arahku dengan menenteng cangkir di tangan kanannya.


"Apakah itu berbahaya?"


"Pertanyaan bodoh. Tentu saja berbahaya, buktinya Kau sampai dibuat sekarat olehnya."


"Ini, habiskan ya, Fate." Ujar Michelle seraya memberikan cangkirnya padaku.


"... Umm. Terima kasih."


Kulihat air obat yang ada di dalam cangkir. Warnanya kuning gelap, kental, dan memiliki aroma yang menyengat.


"Rasanya mungkin pahit, tapi tetap tahan saja ya. Jangan coba-coba Kau muntahkan."


"Aku mengerti."


"Michelle, sudahlah. Dia 'kan laki-laki, tak perlu berlebihan untuk memanjakannya." sindir Erika.


"Tidak apa-apa. Bagaimana pun juga, Fate itu pasienku, Erika."


Sembari mendengarkan mereka berdua, aku menahan napas dan perlahan minumannya.


Ternyata benar. Obat ini terasa menjadi semakin pahit saat aku benar-benar menelannya. Namun, aku tetap menahannya hingga seluruh air-nya terminum.


"Ini teh hangat, minumlah untuk mengurangi rasa pahit yang tertinggal di lidah." Sambung Michelle cekatan.


Cangkir yang kupegang kembali diterima oleh Michelle. Lalu, kuraih gelas yang Michelle pegang sebagai gantinya dan langsung kutenggak habis air teh yang ada di dalamnya.


"Bagaimana? Apa rasa pahitnya berkurang?"


"Umm, begitulah. Terima kasih banyak."


"Sama-sama."


Kami berdua sama-sama membalas dengan saling lempar senyum.


"Apa hubungan kalian berdua benar-benar hanya sekedar perawat dan pasien?"


"E—Erika! Apa maksud perkataanmu?" sambar Michelle yang hampir menjatuhkan gelasnya.


Erika tersenyum makin jahil, "Habisnya, kalian terlihat sangat dekat walaupun baru bertemu."


Dengan wajah yang memerah, Michelle membalas, "Itu tidak benar. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan, kok."


"Erika, berhenti menggoda Michelle." sautku menengahi.


"Iya-iya, aku hanya bercanda, kok."


"Kalau begitu, aku ingin memasak makanan dulu untuk makan malam kita." Ujar Michelle sambil menenteng nampan yang terdapat bekas cangkir obat. "Erika, tolong awasi Fate ya hingga aku kembali."


"Baiklah-baik, dasar merepotkan saja. Cepatlah sembuh."


"Maaf saja, ya!" balasku tak mau kalah.


Michelle hanya tersenyum, dan kemudiam dia segera beranjak dari ruangan ini.


"Hei, Erika."


Erika yang tengah melepas jubahnya lalu menoleh ke arahku, "Hmm?"


"Maaf jika aku lancang. Kalian berdua, apakah kalian berteman?"


"Tentu saja, Michelle adalah sahabat sekaligus partner-ku."


"Begitu, ya. Lalu, kenapa kalian bisa berada di desa ini?"


Menahan jawaban dari pertanyaaku, Erika kemudian mendekat ke arah ranjangku dan menarik bangku yang tersedia lalu duduk.


"Sudah jelas bukan. Karena kami berdua ingin memburu beruang iblis yang menghuni Hutan Lux."


"Kenapa harus kalian?"


Terjadi sepersekian detik jeda setelah aku menanyakan itu. Erika menatapku tak percaya, dengan bibir yang berkerut dan alis mata diangkat.


"Hei, Kau serius menanyakan itu?"


"Memangnya kenapa?"


Erika menggeleng dengan ekspresi yang datar, dan sejujurnya itu menjengkelkan untuk dilihat.


"Kau benar-benar dungu, ya?"


"Ugh."


"Pfftt! Iya-iya, akan aku beritahu kok. Berhentilah merajuk."


Mendengar nada tawanya. Membuatku kini menatap Erika tak berkedip.


Entah kenapa, aku begitu terpaku saat melihatnya tersenyum dan tertawa. Aku tak ingin melewatkannya, dan selalu membayangkannya di mana hari ini akan terjadi.


Gestur tubuhnya saat tertawa begitu anggun, kedua kelopak matanya kadang terpejam dan sayu. Semuanya, terlihat sangat indah walau hanya sekejap mata.


Apakah seperti itu? jika Nenela tengah tertawa bersamaku?


Ya, pasti seperti itu ...


Andai saja ak—


Tiba-tiba, sesuatu yang kuat mendarat keras di dahiku.


"Ouch!" pekikku tertahan.


"Hei! Berhenti menatapku seperti itu dasar mesum!"


"Ta—Tahan dulu, Erika! Kau salah paham, bukan begitu maksudku!" Balasku sambil mengusap-usap dahi.


"Jadi apa maksud tatapanmu tadi?!"

__ADS_1


Dengan memberanikan diri aku menjawab jujur, "Aku hanya berpikir, jika kau sangat anggun saat tertawa ...."


"...."


"Erika?"


Wajah Erika tiba-tiba memerah seperti tomat. Dia segera bangkit dari duduknya, kemudian mencengkram kerah kaos-ku dan menarik serta mendorongnya berkali-kali.


"Da—Dasar dungu! Mesum! Mata keranjang! Perayu wanita! Mati saja Kau seratus kali dimakan beruang, dasar bodoh!" cercanya.


"Hei! E—Erika tenanglah! Kumohon!" kataku susah payah. "... sesak! Ak—Aku tidak bisa bernapas!"


Kau pasti bercanda. Aku saja tak pernah mendengar Nenela meneriaku semacam itu. Apalagi hingga menganiayaku seperti barusan.


Sudah kupastikan, Erika memang kebalikan dari sifat Nenela.


 


 


***


 


 


"Jadi, kenapa?" tanyaku lagi seraya membenarkan kerah kaos yang telah melonggar karena ditarik-tarik oleh Erika.


Kutatap Erika yang wajahnya masih merah, akan tetapi dia sudah lebih tenang setelah puas melampiaskan kesalahpahamannya padaku.


Dengan membenarkan posisi duduk, Erika berkata, "Sudah jelas bukan? Karena kami berdualah yang mengambil Quest tersebut."


"Quest? Maksudmu sejenis misi?"


"Tepat sekali. Kurang lebihnya seperti itu."


"Hmm, begitu."


Erika lalu menuangkan teh yang tersimpan di dalam teko berbahan dasar keramik yang bening ke dalam dua cangkir.


Setelah itu, dia lalu memberikan salah satu cangkir itu kepadaku.


"Terima kasih. Lalu, bisalah kau jelaskan lebih rinci lagi mengenai Quest dan segala hal yang berhubungan dengannya?" pintaku.


"Apa Kau mengalami sesuatu yang membuatmu lupa ingatan?"


Aku tak memiliki jawaban yang sekiranya logis dan mampu memuaskan Erika. Mengingat, aku bahkan tak begitu mengerti bagaimana dunia ini bekerja.


"Anggap saja aku seorang yang benar-benar dungu, dan sama sekali tak memiliki informasi mengenai dunia ini."


Terjadi sepersekian detik jeda di dalam perbincangan kami. Aku yakin, jika jawabanku barusan terdengar sangat konyol dan jauh dari nalar.


Kupalingkan pandanganku ke dalam air teh yang di dalam cangkir. Terlihat jelas, wajahku yang menyembunyikan sesuatu di sana.


Mau bagaimana lagi, bukan?


Aku memang tidak pandai berbohong.


Benar, 'kan, Nenela?


"Begitu, ya. Jadi Kau memang orang dungu yang kehilangan ingatannya dan menjadi mesum?" saut Erika seraya menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi wajah yang menjengkelkan.


"Dih, aku serius ini."


"Umm, tolonglah."


"Akan kubuat ini sederhana saja, supaya lebih cepat Kau memahaminya, Fate."


"Kuserahkan padamu, Erika."


Setelah menyeruput teh-nya, Erika lalu meletakan cangkir di tangan di atas meja.


"Pertama, aku adalah seorang Petualang, begitupula dengan Michelle. Dan aku, seorang Petualang dengan Class Kesatria. Sementara Michelle, dia Penyihir yang lebih fokus menjadi seorang Healer."


"Petualang ..., Kesatria dan Penyihir, ya?"


"Lalu, kami berdua adalah Petualang dengan Ranking A, berlencana Perak." Imbuhnya seraya menunjukan sebuah lencana perak yang terpasang di atas saku kemejanya.


"Itukah lencana yang Kau maksud?"


"Benar, lencana ini adalah tanda bagi kami sebagai seorang Petualang resmi di Kerajaan Aegis. Untuk Ranking, itu merupakan tingkatan kami sebagai seorang Petualang."


Aku mengangguk mengerti, "Jadi, semakin tinggi Ranking yang kita punya, maka orang-orang akan berpikir jika kita adalah Petualang yang memiliki kemampuan bertarung tinggi, seperti itu?"


"Begitulah."


"Jadi, Quest yang kalian berdua ambil juga disesuaikan dengan Ranking Petualang kalian?"


Untuk kesekian kalinya, Erika mengagguk, "Begitulah. Bagaimana, sudah memiliki gambaran tentang bagaimana dunia ini bekerja?"


"Umm, sedikit kurasa."


"Bagus. Untuk yang lainnya, kuyakin jika kau akan sedikit-demi-sedikit menjadi paham dengan sendirinya ketika kau berkunjung ke Ibu Kota Kerajaan Aegis, Kota Centoaria." tambah Erika menjelaskan. "... akan aku jelaskan sisanya nanti saja. Saat kau sudah sembuh total, dan kita akan ke Ibu Kota."


"Ibu Kota, ya? Baiklah, aku mengerti."


Memang benar. Apa yang dikatakan Erika barusan. Akan lebih mudah mengerti apabila aku sendiri melihatnya langsung.


Aku sejujurnya tak menyangka, jika dunia ini memiliki kehidupan yang lebih teratur. Kukira, [Yggdrallia] adalah sebuah dunia yang tiap harinya akan dipenuhi konflik dan lebih bar-bar.


Selanjutnya. Pekerjaan di dunia ini sepertinya beragam, salah satunya adalah menjadi seorang Petualang.


Dengan memiliki lencana yang merupakan bukti jika telah menjadi seorang Petualang resmi, kita bisa mendapatkan pekerjaan melalui Quest yang diambil, sesuai ranking Petualang kita tentu saja.


Maksud resmi di sini, mungkin mengacu pada keberadaan para Petualang yang profesi mereka sebagai seorang Petualang memang telah diakui oleh Kerajaan. Dengan kata lain, profesi kita sebagai seorang Petualang akan diakui jika memiliki lencana tersebut.


Ini masuk akal, jika seorang telah memiliki lencana, kemampuan mereka sebagai seorang Petualang tak perlu diragukan lagi. Karena, pihak Kerajaan yang meresmikan itu telah menjamin kelayakan mereka sebagai seorang Petualang Kerajaan Aegis.


Yang menjadi pertanyaanku, bagaimana caranya mendapatkan lencana resmi itu?


Menurutku yang paling sederhana, mungkin dengan mengajukan diri. Tapi, mengajukan diri ke siapa dan kemana?


Apakah ke Kerajaan? Serikat? Atau suatu Organisasi penting di Kerajaan ini?


Lalu yang terakhir. Setiap petualang telah memiliki ranking atau peringkat masing-masing, sesuai kemampuan mereka.


Ini yang paling terdengar menarik. Karena semakin tinggi ranking seorang Petualang, kemampuan bertarung dan pengalaman mereka menjadi semakin kuat. Maka, tak perlu heran jika aku nantinya akan bertemu Petualang yang memiliki ranking tinggi.


Untuk cara menaikan ranking, mungkin dengan terus menerus menjalankan Quest? Atau ada suatu cara yang memang dikhusukan untuk menaikan ranking seorang Petualang?


Sepertinya, hanya sebatas itu yang mampu aku gambarkan setelah mendengar penjelasan singkat dari Erika. Itu sudah cukup membantu.


Namun, mengejutkan juga jika Erika masih mau menjelaskan hal lain lagi nantinya. Dia bersedia membawaku bersamanya ke Ibu Kota Kerajaan ini.

__ADS_1


Apa mungkin, semua pertanyaanku tadi akan bisa terjawab jika datang ke sana?


Aku jadi tak sabar untuk menantikannya ...


Di dunia ini, akan menjadi apa aku nantinya?


Sejujurnya, saat memikirkan hal itu membuatku menjadi bersemangat. Aku jadi tidak sabar untuk datangnya hari itu.


"Lagi-lagi Kau tersenyum sendiri. Dasar aneh."


"Berisik." elakku. "Jadi waktu itu, Kau sedang menjalankan Quest-nya, ya?"


"Benar, dan tiba-tiba kami berdua mendengar bunyi sambaran petir di dalam hutan." Angguk Erika.


Aku teringat, jadi Erika bisa tahu keberadaanku karena Skill sihir yang aku lakukan.


"Apakah itu milikmu?"


Aku mengangguk tanpa ragu, "Umm, begitulah."


"Wah, kau ternyata seorang Penyihir, ya?" Tanya lagi Erika.


"Kurasa begitu."


"Tapi, jika Kau seorang Penyihir, kenapa kau membawa sarung pedang di punggungmu?" tambah Erika bertanya. "... aneh sekali, 'kan?"


Aku lalu menggaruk-garuk kapalaku yang sama sekali tak gatal. Mendengarnya, aku menjadi ragu untuk menjawab. Mana mungkin aku menceritakan, jika aku diberikan sarung pedang itu oleh Michaella?


"Ya—Yang lebih penting, bagaimana keadaan desa ini setelah beruang iblis itu Kau bunuh?" Alihku.


"Ya tentu saja, penduduk desa menjadi lebih tenang jika akan beraktivitas di hutan."


"Begitu, syukurlah. Itu artinya, kau dan Michelle berhasil menyelesaikan Quest-nya?"


"Tentu saja, bukan?" Dia mengatakan itu dengan bangga.


"Kerja bagus."


Terjadi keheningan di antara kami. Aku lalu meminum teh yang ternyata sudah mendingin.


Erika lalu menggeser bangkunya untuk lebih mendekat ke ranjangku.


"Sejujurnya, aku dan Michelle sangat berterima kasih padamu, Fate."


Mendengar itu, aku kemudian menjauhkan cangkir dari mulut, "Bukankah seharusnya aku yang mengatakan itu kepada kalian berdua? Kau sudah menyelamatkanku, dan Michelle sudah merawat semua lukaku hingga sembuh."


Erika mencengkram selimut yang kugunakan dengan pelan, "Berkat Kau, desa ini berhasil di selamatkan. Quest kami juga selesai."


"Hei, Erika ... aku tidak melakukan apapun."


Erika menggeleng pelan, "Itu tidak benar. Aku tahu, kau nekat berlari ke dalam hutan karena menyadari, jika kau terus berlari mengikuti jalan setapak di dalam hutan. Beruang itu akan sampai di desa ini, 'kan?"


"I—Itu—"


"Aku sudah melihat jejak kaki beruang iblis yang mengejarmu. Jadi, sia-sia saja jika kau mengelak." Potong Erika.


"Aku hanya kebetulan saja bisa menebaknya, kok." Balasku.


"Petang itu, aku dan Michelle nekat masuk ke dalam hutan dan meninggalkan desa tanpa pikir panjang. Jika saja kami tahu, kalau beruang iblis itu bersembunyi di wilayah hutan dekat desa. Kami akan tetap tinggal." Sambung Erika seraya semakin kuat mencengkram selimut. "... jika beruang itu tidak mengejarmu dan memasuki desa. Aku, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan semua penduduk desa ini ...."


Nada suaranya semakin serak dan lemah. Kulit seputih saljunya juga nampak pucat. Erika begitu terlihat menyesal saat ini.


Memang benar. Apa yang Erika katakan, membuatku bersyukur karena akulah yang berhasil bertemu dengan beruang itu terlebih dahulu.


Karena, jika aku tidak mencoba memeriksa keberadaannya saat itu. Mungkin dia akan mengabaikanku dan tetap bersembunyi. Hingga sampai di desa ini, dan semuanya akan berakhir.


Setelah mengetahui semua itu. Sangat lumrah, jika Erika maupun Michelle begitu ketakutan semisal mereka tahu jika beruang itu bersembunyi di dekat hutan pedesaan ini. Karena, mereka saat itu lebih memilih untuk memburu langsung beruang iblis itu ke dalam hutan daripada melindungi penduduk desa.


Jika aku di posisi mereka, mungkin aku akan merasakan perasaan yang sama.


"Sungguh, aku ... sangat berterima kasih padamu, Fate ...."


Aku mendengar nada suaranya, begitu pelan dan dalam. Tak lupa, ada rasa penyesalan, lega, dan frustrasi di sana. Emosinya begitu saling tumpang tindih, dan membuat Erika kebingungan.


Walau menunduk, aku mampu mengintip jika Erika menitikan air mata.


"Padahal, ini merupakan Quest rank A pertama kami. Dan kami, hampir saja mengacaukannya ...."


Nada suara ini ...


Nenela, apa memang benar jika kau ada di dalam diri Erika?


Apa aku salah, jika mengharapkan itu?


"Bodoh, tentu saja salah!"


Benar juga, bodohnya aku menyamakan dia dengan dirimu.


Lihat saja Erika. Dia begitu berisik, ceroboh, bertindak seenaknya, dan kepribadiannya buruk. Sangat kebalikan dari sosokmu. Tapi, meskipun begitu. Dia tetap seorang gadis sepertimu. Dia rapuh, selalu berusaha sebaik mungkin untuk melakukan sesuatu, senantiasa ingin terlihat tegar, dan sensitif.


Benar, 'kan ... Nenela?


Dan untukmu ...


Kira-kira kau itu gadis yang seperti apa, ya?


Aku benar-benar akan berakhir menjadi seorang yang kejam jika membiarkan Erika yang saat ini tengah tenggelam dalam rasa sesalnya.


Harus kuakui, melihatnya membuatku kembali teringat pada Nenela. Oleh sebab itu, aku benar-benar tak kuasa untuk melihatnya.


Pasti, ada sesuatu yang bisa kulakukan untuk Erika.


Supaya Erika, bisa berhenti menyalahkan dirinya semakin banyak.


Bukankah begitu, Nenela?


Dengan memberanikan diri, kuusap pelan rambut putihnya. Kelembutan saat membelai rambutnya begitu terasa, harum wangi dari rambutnya juga mulai tercium ketika semakin kuusap.


Erika sedikit tersentak, akan tetapi dia malah semakin keras menangis.


"Kau sudah berusaha keras, Erika." ucapku pelan. "... aku tahu dan bisa melihatnya saat bertemu denganmu malam itu."


"Wajahmu sangat merah, napasmu terengah-engah, dahimu basah akan keringat, bahkan rambutmu jadi berantakan karena terlalu tergesa saat berlari ke tempat aku diterkam beruang itu. Pokoknya, malam itu kau terlihat sangat kacau."


Aku tertawa kecil, untuk sekedar mengiburnya. Walau aku tahu jika ini sia-sia, setidaknya aku ingin dia tahu. Jika aku yang kini mencoba menghiburnya, bisa ada di sini berkat dirinya yang telah menyelamatkanku.


Malam bersalju itu, di mana Erika yang datang kepadaku. Dengan peluh di dahinya, walau suhu tengah sedingin es. Kedua kakinya gemetaran setelah menebas beruang iblis yang hendak memakanku menjadi dua bagian terpisah.


Namun bagiku saat itu, dia yang diterangi cahaya bulan dan bermandikan salju, begitu cantik.


"Terima kasih, Erika. Berkat Kau, aku telah terselamatkan ...."


 

__ADS_1


 


__ADS_2