
Di bawah langit oranye, di sebuah taman bermain dua anak tengah kejar-kejaran. Salah satunya, yakni gadis berusia 6 tahun tiba-tiba tersandung oleh batu membuatnya terjatuh dan tergores di bagian lutut.
Anak gadis itu sesaat meringis menatap kepergian anak laki-laki yang dikejarnya tengah berlari tanpa menoleh ke belakang. Hal itu lantas membuatnya menangis kencang, karena merasa ditinggalkan oleh sahabatnya di area luas sendirian. Gadis itu bernama Kania.
Langit semakin gelap, Kania masih terus menangis, tapi kini dia tidak sendiri. Ada anak laki-laki lain bernama Fay yang sekelas dengannya di bangku sekolah dasar.
Fay bukan tidak sengaja melihat Kania, dia ada di taman bermain itu juga sudah sejam, tapi tidak berani menampakkan kehadirannya atau lebih tepatnya tidak ingin menganggu kesenangan Kania yang tengah bermain dengan Nafis, kakak kelasnya.
Setelah mengumpul banyak keberanian, Fay akhirnya menghampiri Kania, ia berdiri di depan Kania yang terus menenggelamkan wajahnya di balik lipatan tangan dan himpitan kedua lutut. Pun Kania mengangkat kepala saat mendengar suara derap langkah pelan berhenti di hadapannya.
Kania harap yang di hadapannya ini adalah Nafis, ternyata bukan. Fay berjongkok lalu mengulurkan tangan, demi mengajak Kania bangkit, tapi-
Brak
Sebuah mangga jatuh mengenai atap gazebo, langsung menyadarkan Fay dari lamunannya. Entah bagaimana bisa anak berusia 6 tahun membayangkan hal itu.
Akar lamunannya ini karena gadis di sekolah barunya bernama Kania, tiba-tiba saja ia terus memikirkan anak gadis itu sejak pertama melihatnya. Lantas keesokan harinya di sekolah untuk hari ke dua, Fay sangat ingin akrab dengan Kania, ia pun mulai mengambil langkah untuk mendekat, tapi Nafis dari kelas lain langsung duduk di samping Kania dengan beberapa cemilan di tangannya.
Namun, Fay tetap melanjutkan langkahnya tapi hanya beberapa langkah langsung berhenti, ia tiba-tiba malu. Padahal Kania yang extrovert bisa saja langsung menjadi temannya jika ia ingin berteman, tapi entah mengapa, Kania berbeda, bahkan hanya sekedar bertanya sepatah dua kata pun Fay harus berpikir panjang dulu.
Karena ketidakberanian Fay untuk mengajak Kania berbicara lebih dulu tidak pernah dikembangkan, sifat itu terus berlanjut sampai Fay menginjak bangku SMA.
Masa SMA, dimana ia sudah paham mengapa ia selalu grogi jika dekat Kania dan tidak berani menatap Kania karena itu akan membuat hatinya berdebar.
Fay tahu, ia mencintai gadis itu dari 11 tahun lalu, tapi karena keberaniannya yang tipis dan kalah oleh Nafis ketua osis sekolah sekaligus sahabat Kania, alhasil Fay hanya terus memendam perasaannya sampai akhirnya ada kabar Kania dan Nafis berpacaran.
Naas memang, Nafis selalu 10 langkah di dapan Fay. Meski sudah sekelas 11 tahun Kania sekedar 'tahu' siapa Fay. Karena bagi Kania, Fay bukan siswa yang bisa dengan mudah diajak bercanda seperti siswa lainnya, sebab Fay seolah membatasi diri dalam berteman dan komunikasi. Fay selalu sibuk sendiri dengan lamunan dan komiknya yang selalu berganti judul setiap harinya. Hal itu membuat Kania segan untuk mengobrol santai dengan Fay.
__ADS_1
Fay nolep, itulah julukan yang diam-diam dibuat oleh teman kelas Fay.
*Nolep adalah orang tidak punya kegiatan bermanfaat dan gemar menyendiri.
*****
Jam istirahat tiba, seperti biasa, di saat semua siswa bergegas menuju kantin, Fay melanjutkan membaca komiknya yang sisa beberapa lembar lagi tamat. Kalau ditanya lapar, Fay tentu menjawab iya, tapi inilah satu-satunya cara agar ia tidak melihat kemesraan Kania dan Nafis di kantin.
Fay selalu sedia sandwich yang dibawa dari rumah untuk ia makan di jam istirahat, hal ini juga yang membuatnya kurang bugar dan jadi pemalas karena makan siangnya yang mengandung banyak gula dan lemak.
Tapi, hari ini berbeda. Tiba-tiba saja sepasang kekasih masuk di kelas yang hanya ada Fay di dalamnya. Nafis dan Kania. Nafsu makan Fay semakin hilang melihat Kania yang mengeluarkan dua kotak makanan dari tasnya. Keduanya makan di kelas, saling suap tanpa peduli kehadiran Fay yang memilih tidur ketimbang melanjutkan makannya karena sudah tidak selera.
"Dia teman kelas kamu, kan, SD dulu?" tanya Nafis.
Kania yang semula membelakangi bangku Fay segera membalik badan.
Posisi boleh terlihat tidur, tapi telinga Fay sedang menguping obrolan mereka. Dan ... ini kali pertama Kania menyebutkan namanya, yang secara cepat memberikan efek berbeda di jantung Fay, padahal hanya disebutkan namanya.
"Nolep?" sebut Nafis dengan kekehan kecil di akhir. Kania membulatkan matanya pada Nafis, menurutnya tidak sopan memanggil orang dengan kata itu.
Tapi entah di bagian mana yang lucu, kekehan Nafis yang semula terdengar seperti bisikan kini berubah menjadi tawa yang keras.
Fay jelas tidak terima, ingin sekali dia langsung melayangkan tinjuan, tapi ada Kania di sisi Nafis. Alhasil Fay hanya mengepalkan tangan kuat, hingga menampilkan pembuluh darah vena berwarna hijau yang berada di punggung tangan.
"Gue becanda, Bro," kata Nafis tanpa rasa bersalah.
Sementara Kania yang tidak merasa enak pada Fay hanya meringis tanpa suara melihat kelakuan Nafis yang semakin kurang ajar saja. Nafis yang sopan, lembut, murah senyum seolah hilang secara tiba-tiba. Kini berubah menjadi Nafis yang bandel, keras kepala dan suka berbohong.
Kania jujur mulai lelah dengan sifat Nafis yang berubah drastis, tapi pikiran itu ditepis olehnya. Kania selalu memaklumi saja kelakuan Nafis yang sudah berapa puluh kali ia sebutkan sebagai khilaf.
__ADS_1
*****
Jam istirahat berakhir, dengan perut yang kosong dan kepala yang panas karena kelakuan Nafis, Fay menjadi tidak fokus belajar. Alhasil Fay belajar seadanya, syukur-syukur tidak ada pertanyaan yang dilontarkan, kalau pun ada Fay ikhlas jika dijadikan tontonan kelas di depan papan tulis sampai pulang sekolah.
Dua jam berlalu, kelas pun usai, para siswa beriringan keluar kelas termasuk Fay, tapi tiba-tiba pergelangannya dilingkari jari tangan yang lembut dan hangat. Fay lantas berbalik untuk melihat siapa yang menahannya, dan ya, benar saja itu adalah Kania.
Tiba-tiba jantung Fay membunyikan detakan keras, yang juga memberi efek ekspresi yang ... berlebihan? Fay membatu, sampai matanya yang melotot pun susah untuk berkedip. Syok, kaget, dan rasa senang berpadu hingga tidak ada kata yang mampu mendeskripsikan perasaannya.
"Gue minta maaf ya atas nama Nafis, soal kejadian tadi," ucap Kania setelah melepaskan tangannya dari Fay.
Tapi tidak ada jawaban, Fay malah menatap kedua mata Kania, kedua mata yang selama ini tidak berani ia tatap dan untuk yang pertama kalinya, bukan hanya dia, Kania pun menatap mata Fay.
Mereka seperti sedang beradu tatap tanpa kenal waktu. Bahkan tak terasa kelas sudah kosong, menyisakan keduanya dengan tatapan keduanya belum juga lepas.
Tak
Kania meletukkan jarinya di hadapan Fay yang sejak tadi melihat ke luar jendela. Yah, Fay melamun lagi.
Saat tersadar, Fay langsung buang muka, lalu meninggalkan Kania sebelum menjabat permintaan maafnya.
Sembari berjalan di koridor. Hangat bekas tangan Kania masih bisa ia rasa. Fay memegang pergelangannya yang tadi disentuh Kania. Ia tersenyum tipis, tapi senyumnya pudar mengingat rasa bersalahnya meninggalkan Kania yang jelas sedang bingung dengan sikap Fay.
"Gue bingung, ini gue naksir Kania atau takut sama dia?" tanya Fay pada dirinya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Fay : Nih, bunga buat kamu yang baca🌹
__ADS_1