
Ingat, Fay dibaca Fei.
Kemesraan Nafis dan Kania sudah Fay telan mentah-mentah dalam dua tahun. Memang agak nyeri tapi agar tetap waras Fay membiasakan diri untuk menerima semuanya, meski belum ada satu gadis pun yang berhasil menyisikan Kania di hati Fay.
Setahun tanpa Nafis ini sedikit membuat Fay lega karena Nafis melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Tapi bukannya longgar, hubungan mereka malah semakin erat. Kepercayaan antar keduanya semakin kokoh terbangun.
Fay tiba di sekolah pagi-pagi sekali, hari ini adalah hari terakhir ujian penentu kelulusan angkatan Fay. Fay tidak langsung menuju mejanya, ia singgah di meja Kania, terdapat biodata dan foto gadis itu di kartu ujian yang ditempel di meja. Fay kemudian duduk sambil terus memandangi wajah Kania.
"Capek banget naksir sama lo." Usai bersuara lirih dan terdiam di tempat itu untuk beberapa detik, Fay segera bangkit, tapi saat berbalik Fay melihat ada orang tengah bersandar di pintu kelas memperhatikannya dengan kedua tangan disisipkan ke dalam saku celana. Sepertinya orang itu sudah cukup lama di sana.
Fay mendengus. Dia adalah Rafi Dyatma si ketua kelas.
"Lo naksir Kania?" tanya Rafi, tertawa setelahnya.
Fay pura-pura tuli lalu membaringkan kepala di atas meja.
Rafi sebenarnya tidak perduli dengan apa yang didengarnya, tapi itu peluang untuk mendekati Fay yang selama ini gemar menyendiri.
Rafi berjalan ke meja Kania, dia menatap foto Kania yang tersenyum manis. Dia menganggukkan kepala pelan. "Kania emang cantik sih." Setelahnya Rafi berjalan ke bangku Fay.
"Kenapa nggak confes?" tanya Rafi setelah duduk di bangku di depan Fay. Tidak ada balasan, dan Rafi tahu tidak akan semudah itu.
"Sejak kapan?" tanya Rafi sambil menatap Fay yang hanya menampakkan kepalanya, tidak diambil hati oleh Rafi.
"Perjuangin bro, kalau perlu lo tikung si Nafis, mumpung dia nggak di sini," saran Rafi sudah tidak mengharapkan balasan, karena yakin Fay tidak akan membalas perkataannya.
Tapi siapa sangka, Fay bersuara. "Caranya?" Setelah itu Fay menampakkan wajah melas.
Rafi lantas tertawa, ia memukul bahu kiri Fay keras, lalu berkata. "Rebut hatinya Kania dulu."
Rafi diam sejenak, tampak berpikir, jari telunjuknya mengusap dagu, kembali berkata. "Tapi cukup sulit buat Kania yang udah bucin gitu, dan ...." Rafi melihat penampilan Fay beberapa detik lalu menganggukkan kepala. "Visual lo sebenarnya oke, cuma, apa ya, aura lo itu gelap tau, kayak ketempel makhluk alus, orang-orang nggak tertarik kenal sama lo."
"Lo kata gue cenayang?" sewot Fay terdengar kesal.
"Bisa ngomong gitu juga lo, haha," papar Rafi.
"Cih." Fay langsung melihat keluar jendela.
Rafi tertawa lagi, lalu mengulurkan tangan. "Gue bersedia bantu lo jadi perusak hubungan Kania dan Nafis."
Fay menatap tangan Rafi dengan kerutan alis heran, beralih pada wajah Rafi yang tengah tersenyum miring sambil menaikturunkan satu alisnya.
Tak disangka Fay luluh. Ia mendesah singkat tapi langsung menepuk telapak tangan Rafi, alih-alih menjabatnya sebagai tanda kesepakatan, pertemanan mungkin?
Rafi mendesis karena tangannya perih, tapi ia langsung tertawa melihat Fay sedang tertawa menghadap jendela kaca.
"Lucu ya, jendelanya?" tanya Rafi di sela-sela tawanya.
*****
Ujian telah usai, sisa menunggu satu pekan untuk pelulusan. Tidak seperti hari sebelumnya, saat jam pulang Fay selalu keluar kelas sendirian, kini ia berada dalam rangkulan Rafi yang sok akrab dengannya.
Siswa yang melihat itu terkejut, termasuk Kania karena Rafi mudah menjadi akrab dengan Fay, tidak sepertinya yang 12 tahun sekelas dengan Fay yang menyapa pun tidak pernah.
Didit, bertubuh sedikit besar dan berotot yang katanya tank kelas langsung merangkul Fay juga di sisi sebelah. Fay yang melihat itu membulat mata. Ia menatap Rafi dan Didit bergantian.
"Eh, lo berdua ngapain?" tanya Fay sambil berusaha keluar dari rangkulan keduanya.
"Nobar one piece?" tawar Didit langsung dilanjutkan dengan perkataan Rafi. "Gas!"
Keduanya mengencangkan rangkulan membuat Fay susah membebaskan diri sampai akhirnya ketika Fay pasrah, Rafi dan Didit menaikturunkan alisnya pada Fay.
"Gue nggak suka anime," tutur Fay dengan malas.
__ADS_1
"Tapi lo suka komik," papar Didit.
"Suka komik nggak harus suka anime, kan?" tanya Fay kesal, karena kepanasan dihimpit dua orang cukup lama.
"Iya juga sih," gumam Didit.
"Ya udah, terserah, kita kemana aja. Yang penting lo ikut, jangan nolep terus," kukuh Rafi menyeret Fay keluar bersama Didit.
Sekelas yang melihat itu sesaat ternganga, tapi setelah mereka hilang dari pandangan, semuanya kembali ke aktifitas masing-masing. Selain Kania yang tidak menyangka, Fay ternyata tidak se-nolep yang dibayangkan.
****
Sepekan berlalu, tidak pernah Fay duga sebelumnya, Rafi dan Didit tiba-tiba menjadi akrab dengannya bahkan mereka sudah memiliki grup chat berjudul, Pemusnah Nolep.
Semua terjadi begitu saja. Meski judulnya sedikit membuat Fay kesal, tapi itu tidak sebanding dengan kebahagiaannya bersama dua orang aneh ini, yang secara tidak sengaja mengurangi bayangan Kania di pikiran Fay.
Satu pekan, Fay Hendry, Rafi Dyatma dan Aditya Gawin(Didit) sudah menjadi sangat dekat. Fay yang dulu suka menyendiri kini menampakkan sifat aslinya yang ternyata gemar membuat Rafi dan Didit menggelengkan kepala.
Seminggu itu diisi dengan 10% main game, 10% nongkrong hingga larut malam dan 80% mengejek naasnya kisah cinta Fay yang tidak pernah ada kemajuan, malah semakin mundur.
Pagi-pagi sekali, saat Fay bersiap mandi untuk menghadiri acara pelulusan SMA tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Ting
...Pemusnah Nolep...
Aditya Gawin
Udah pelulusan aja nih, gila sih kalau lo belum mupon dari Kania @Fay Hendry
Rafi Dyatma
Masalah dia sih, Dit. Toh dia demen nyakitin diri sendiri
Aditya Gawin
Fay Hendry
Gua baru tau ada racun manis
Rafi Dyatma
Bjir
Aditya Gawin
Hari ini terakhir lo liat Kania. Gimana, tahan nggak?
Fay Hendry
Nggak yakin
Rafi Dyatma
Duh, bahaya nih, Dit. Takut entar tiba-tiba ada kabar nggak mengenakkan
Aditya Gawin
Kita kudu penjagaan ketat nih
Rafi Dyatma
Minimal confes dulu Fay baru modar
__ADS_1
Fay Hendry
Confes apaan, ditatap dia aja gue langsung pingson. Pengen deh punya cewek, tapi gue nggak ikhlas buat
lupain Kania. Apa gue coba pacaran sama cewek lain aja, ya?
Rafi Dyatma
Eh, lo lupa kesepakatan awal?
Aditya Gawin
Kesepakatan apa tuh?
Rafi Dyatma
Kita kan janji bakal bantuin lo rusak hubungan Kania sama Nafis
Fay Hendry
Nggak ah, ntar Kania nangis gue nggak mau dia nangis karena gue
Rafi Dyatma
🤣
Aditya Gawin
Sudah tidak terselamatkan ༎ຶ‿༎ຶ
Fay Hendry
Tau gak apa yang bikin gue nggak bisa lupain Kania?
Rafi Dyatma
Nggak
Aditya Gawin
Dan nggak mau tau
Fay Hendry
Karna gue yakin, Kania pasti bisa gue miliki
Rafi Dyatma
Bermain-mainlah dengan halumu, kawan
Aditya Gawin
Jangan berlebihan kawan, takut tiba-tiba ada kabar lo udah di RS jiwa
"Nggak guna!" semprot Fay pada ponselnya yang masih menampilkan laman grup chat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1