
Fay, Rafi, Didit, Kania, Regina, dan Cazy berada di parkiran kampus. Terbentuk dua kubu diantara mereka, yaitu kubu perempuan dan laki-laki.
Kubu Fay saling merangkul sambil mendengar arahan Rafi yang katanya sudah pro menghadapi perempuan. Tapi, sepertinya semua arahan yang keluar dari mulut Rafi tidak mempan untuk Didit, mengingat garangnya seorang Regina. Dan Fay, malah sebaliknya dia menyimak jelas sampai lupa untuk berkedip.
Sedangkan di kubu perempuan, mereka menunggu di depan mobil Fay sambil menatap tiga lelaki aneh yang cukup jauh di depan. Melihat kelakuan mereka, Regina semakin tidak yakin untuk membiarkan Kania pulang bersama Fay.
Dengan dua tangan yang sudah bersimpuh di pinggang, Regina menatap Kania sambil berkata, "Lo yakin aman sama manusia aneh kayak dia?"
"Maksud lo Fay?" tanya Cazy dengan suara pelan. Regina hanya mengangguk.
Kania yang baru ingin mengangkat suara langsung batal saat ketiga lelaki itu menghampiri mereka.
Fay hanya memfokuskan pandangannya pada Kania sambil tersenyum, lalu berkata, "Yuk, pulang."
Kania menganggukkan kepala tanpa memperdulikan senyuman Fay yang sempat membuatnya bertanya. Kania menuju pintu mobil, tapi hangat sebuah tangan terasa melingkari pergelangannya mengalihkan pandangan semua orang.
Rafi mendengus lalu menyingkirkan tangan Regina yang menahan Kania. "Santai aja, Gin. Buset takut amat, enang aja, Fay anak baik kok, cuma ya emang agak geser otaknya tapi dia anak baik." Bukannya tentang Regina malah semakin khawatir.
Cazy mengusap punggung Regina, lalu menepuknya beberapa kali. Meminta temannya itu untuk tidak terlalu mengkhawatirkan Kania, Cazy paham bahwa Regina seperti itu karena Regina tidak ingin jika Kania terlalu dekat dengan Fay sebab beberapa bulan lalu Kania disakiti Nafis.
Baik Regina dan Cazy, keduanya tahu bahwa sebenarnya Kania belum sepenuhnya pulih dari sedihnya. Regina pun menyadari sikap berbeda Fay pada Kania, yang tanpa sadar Fay telah memperlihatkan ketertarikannya pada Kania dan Regina bukan orang yang lumpuh akan hal seperti itu. Sebagai seorang sahabat, Regina selalu memastikan bahwa sahabatnya baik-baik saja hingga kepekaannya terhadap sesuatu semakin terasa.
Cazy tahu betul isi hati Regina sekaligus merasa bersalah karena di antara mereka hanya Regina yang tidak tahu maksud dan tujuan Fay mendekati Kania. Tapi, demi 'kebaikan' kata Rafi, Cazy tidak boleh membocorkan rahasia itu. Biarlah waktu yang mengungkapnya, kata Rafi.
Saat Fay dan Kania sudah berada dalam mobil. Rafi dan Cazy juga sudah berada di atas motor besar Rafi. Sedangkan Didit dan Regina masih terdiam di depan motor metik Regina, tapi dengan ekspresi keduanya yang saling terhubung.
Wajah memerah Didit dan decakan pinggang andalan Regina membuat empat teman mereka kebingungan. Didit seperti seorang anak yang habis dimarahi ibunya. Setakut itu Didit sama Regina?
"Didit sama Regina udah kenal lama?" tanya Fay sok kalem, padahal jantungnya sedang berontak. Berdua dengan Kania di dalam mobil, tidak pernah terbayangkan olehnya.
Mata Kania yang semula fokus pada Didit dan Regina beralih pada Fay tapi ada jeda sebelum Kania menjawab, karena tiba-tiba ia merasa tatapan Fay barusan memberi energi berbeda. Energi yang tiba-tiba membuatnya merasa canggung. Setelahnya Kania menjawab.
"Gue nggak yakin, tapi sesekali gue liat Regina merhatiin-" Kania langsung membulatkan mata dan melipat bibir secara bersamaan. Hampir saja ia membocorkan aib sahabatnya sendiri.
Akibat potongan ucapan Kania yang terlambat Fay langsung paham arah pembicaraan Kania, tapi Fay memilih untuk tidak meminta kelanjutannya sampai Kania mengucapkan alasan baru.
"Hmm, gue juga nggak tau." Alasan itu membuat Fay tertawa dalam hati.
Fay hanya mengangguk kemudian menyalakan mesin mobil.
*****
Dua menit berlalu, di dalam mobil hanya ada keheningan. Tapi di pikiran Fay masih terbayang dengan tutorial yang sudah diberikan Rafi untuknya.
Biar suasana nggak awkward lo tanya deh bagaimana perasaan dia tentang hari ini. Kalau dia jawab senang, tanya lagi apa yang menurut dia menyenangkan, kalau nggak ya lo jawab sebaliknya. Dan apakah ada kegiatan dia setelah dari kampus. Kalau perlu lo ajak makan, tapi menurut gue itu kecepatan sih, minimal lo tau dulu deh alamat rumah dia.
__ADS_1
Lantas Fay mencoba mempraktekkan itu.
"Gimana hari ini?" Fay hanya melirik Kania dari ekor matanya, agar terlihat enjoy dan fokus mengemudi.
"Seneng banget, materi tadi kayak sama aja saat kita sekolah, bedanya penjabaran materi untuk mahasiswa kayaknya dibuat lebih berbobot deh. And ... gue suka, karena itu melatih otak kita buat mengerjakan sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Lebih kritis aja gitu."
Fay mengangguk sambil menahan senyum. Duh gawat, cintanya bertambah berkali-kali lipat mendengar penuturan itu.
"Lo sendiri?" Kania menatap Fay.
"Seneng banget." Fay dengan ekspresi datarnya. Karena lo seneng, sambungnya dalam hati.
Kania mendengar itu hanya terkekeh.
Kania mengubah posisi dengan sedikit menggerakkan bahunya. Agaknya Kania merasa lebih nyaman daripada tadi, bibirnya pun membentuk senyum saat melihat keluar jendela mobil. Jurus anti awkward dari Rafi berhasil.
"Abis ini lo ada kegiatan?" Kini Fay berani menatap wajah Kania.
"Gue kerja."
"Kerja?" Fay baru mengetahui itu.
Kania mengangguk. "Kalau gue nggak kerja gue nggak bisa kuliah."
Fay membulatkan mata sempurna bahkan sampai menepikan mobil dan berhenti. Kania yang juga terkejut karena mobil tiba-tiba berhenti lantas menatap Fay yang kini tampak lebih ... waras.
"Keluarga lo?" Fay bertanya setelah tadi membuang pandangannya sebentar. Fay langsung sadar akan perubahan wajah Kania yang merasa tidak nyaman.
"Itu bukan urusan lo," kata Kania kemudian bersandar, memandang keluar mobil dengan sorot mata sayu.
Fay kembali melanjutkan laju mobil. Namun, kini suasana mobil kembali awkward. Sepanjang jalan pikiran Fay didominasi oleh pertanyaan tentang latar belakang Kania yang tidak ia ketahui.
Fay jadi menyesal karena sejak dulu ia tidak mencari tahu identitas asli Kania, tapi itu bukan karena effortless Fay, melainkan kehadiran Nafis yang saat itu berperan sebagai sahabat Kania yang selalu ada di mana pun Kania berada. Fay paham posisinya di hidup Kania kala itu, alhasil Fay menjauhi hal-hal yang menyangkut dengan Kania.
*****
Akhirnya mobil Fay berhenti di tempat tujuan. Fay memandangi bangunan bertingkat dua yang memiliki beberapa pintu di depannya. Di salah satu sisi tembok bangunan itu terdapat slogan bertuliskan Kost Putri.
Kania ngekost. Fay lantas turun lebih dulu dari mobil untuk membukakan Kania pintu mobil. Mereka saling berhadapan di depan kost, tapi Fay kembali fokus mengamati suasana kost Kania.
Kania hanya diam melihat gelagat penasaran Fay. Itu terjadi cukup lama sampai akhirnya Fay angkat suara.
"Lo tinggal di apartemen gue aja." Kata-kata yang keluar pelan dan terkesan santai itu membuat Kania ternganga.
Mata Fay beralih menatap Kania yang masih terkejut. "Namanya aja kost putri, tapi kenapa banyak laki-laki di sini?"
__ADS_1
Kania tidak menjawab, sebenarnya pernyataan itu sedikit menyenggol hatinya, karena itu kost murah, tapi Fay tidak tahu apa-apa. Kania memilih diam.
Sebenarnya Kania pun tidak tahan di kostnya, hanya saja tawaran harga kost itu sangat murah dari kost biasanya membuat Kania tergiur, tapi banyak laki-laki nakal yang sengaja menawarkan harga mahal kepada pemilik kost agar diterima di kost itu hanya untuk menggoda perempuan.
Andai punya cukup banyak uang pun Kania lebih memilih pindah. Ia resah saat pulang kerja mau tidak mau harus melewati lantai satu yang didominasi laki-laki untuk naik ke lantai dua. Setiap malam Kania harus melawan perasaan was-wasnya, tapi syukur Kania tidak pernah tersentuh oleh mereka.
"Mereka nggak mengganggu, kan?" tanya Fay, baru saja Kania ingin bersuara, tiba-tiba ada seorang gadis berseragam SMA lewat di kumpulan laki-laki jamet itu. Langkahnta terhenti oleh mereka yang menghadang jalan, gadis itu terdiam dengan keringat yang membasahi keningnya, ia digombal dan dirayu dengan kata-kata menjijikkan, bahkan ada satu laki-laki nekat merangkulnya.
Fay tidak tinggal diam, ia berjalan ke dalam kost. Menarik keras gadis SMA ber-name tag Widya membuat rangkulan lelaki tadi terlepas. Dari yang Fay lihat lelaki yang merangkul Widya barusan juga masih SMA. Kania pun menghampiri Fay yang dengan sigap Fay mengarahkan gadis itu pada Kania.
Para lelaki yang jumlahnya ada sekitar tujuh orang menatap Fay dari ujung kaki hingga kepala, mereka tertawa remeh, bahkan nekat melayangkan tinjuan tapi dengan jeli Fay langsung menghindar membuat lelaki yang hendak meninjunya mendengus lalu tertawa hambar.
Ketujuh lelaki itu tiba-tiba tertawa. Melihat badan kurus Fay membuat mereka tidak berselera memulai keributan. Satu lelaki yang berotot besar menghampiri Fay, merangkulnya, membuat pernapasan Fay tertahan karena bau badan lelaki itu.
Lelaki itu berbisik, "Kalau lo nggak mau malu di hadapan cewek lo." Ia menatap Kania sebentar. "Mending lo minggir."
Udahlah bau ketek, bau jigong juga. Fay mencibir dalam hati. Mungkin orang yang melihatnya mengira wajah Fay memerah karena ketakutan, padahal Fay dibuat resah bahkan terasa dililit oleh bau menyengat dari lelaki itu.
Mau tidak mau, Fay memilih mundur dan menggenggam lengan Kania yang juga menggenggam Widya untuk naik ke lantai dua.
Bukan takut melawan, baunya itu loh. Elleh, alasan kau Fay!
Sesampainya di lantai dua Kania menatap hibah Widya sambil memegang satu bahunya lalu mengusapnya.
"Aku takut, Kak. Aku selalu diganggu Geri, nggak di sekolah, nggak di kost aku selalu diganggu dia." Widya kini mengeluarkan air mata yang sepertinya sudah ditahan sejak tadi. Seluruh wajah Widya basah oleh air mata yang sudah bercampur dengan keringat.
Fay dan Kania saling menatap mendengar perkataan Widya. Mereka turut berjongkok saat Widya berjongkok demi membungkam suara tangisnya dalam lipatan tangan dan lututnya. Mengingatkan Kania dengan dirinya sendiri.
Sekitar 10 menit, Kania berhasil menenangkan Widya, sementara Fay sejak tadi hanya menunggu di luar kamar kini dihampiri Kania. Lagi-lagi Kania batal bersuara saat Fay lebih dulu angkat suara.
"Lo pindah dari sini titik." Fay menatap tajam. Jelas Fay resah dengan tingkah para lelaki jamet di bawah tadi. Awas saja sampai Kania tersentuh oleh mereka.
"Gue nggak tau mau pindah di mana, cuma kost ini yang mampu gue bayar." Kania sudah tidak menutup diri, sebab ia lelah dengan tatapan hibah Fay. Kania tidak ingin dikasihani, itu hanya akan melemahkan dirinya.
Fay menggaruk belakang lehernya sambil menatap Kania dengan kepala yang miring 30°. "Terpaksa deh gue harus belajar bela diri dan nge-gym malam ini biar bisa jagain lo."
Entah sudah berapa kali hari ini Kania melotot. Ia dibuat melotot lagi dengan perkataan Fay barusan. "Jagain gue?"
"Kalau gue kasih duit buat pindah kost pasti lo nolak, apalagi kalau gue nawarin buat tinggal di apartemen gue, ya mending gue jagain lo. Pulang pergi lo, biar gue yang anterin!
Sekalian gue mau jagain Widya, nggak tega gue liat dia, kayaknya dia di-bully sama bocah di bawa tadi. Itu kali yang namanya Geri." Fay menghela napas kemudian mengusap kepalan tangannya yang sudah berurat. "Awas aja tuh bocah songong, gua bawain Didit baru tau rasa."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1