Long Wait

Long Wait
Mahasiswa Baru


__ADS_3

...Pemusnah Nolep...


Aditya Gawin


Nyengir lo, Fay, nyengir ampe gusi lo kering


Benar kata Didit, lima bulan setelah pelulusan akhirnya di hari ini Fay saling menyimpan nomor ponsel bersama Kania, awalnya Fay saja, itu pun nomor Kania ia ambil dari grup kelas.


Rafi Dyatma


Bukan cuma nyengir, Dit. Udah sampai sujud syukur kayaknya


Fay Hendry


Tempe aja lo berdua


Aditya Gawin


Tahu njim


Rafi Dyatma


Jadi bagaimana kabar kedekatan kalian? Sudah melewati garis start atau masih stuck aja di tempat


Fay Hendry


Udah lewat garis start 5 cm


Aditya Gawin


Setidaknya ada kemajuan


Fay Hendry


Yoi, Bro🤜🤛


Aditya Gawin


Kalau lo, Raf?


Rafi Dyatma


Yang jelas nggak kayak lo, jomlo


Aditya Gawin


Jomlo2 gini yang bakal nikah duluan gue


Rafi Dyatma


Hm halu


Fay Hendry


Nggk papa Dit halu aja sesuka lo


Aditya Gawin


Mau gue kasi tau rahasia?


Rafi Dyatma


Apa cyu?


Fay Hendry


Minyak🗿


Rafi Dyatma


Nyimak, Fay nyimak


Aditya Gawin


Gue udah punya bini

__ADS_1


Rafi Dyatma


Wah wah, udah kena lcd nya nih, Fay


Fay Hendry


Gue doain langgeng Dit


Aditya Gawin


Yoi


Rafi Dyatma


Dahlah, nggak waras lo semua


Fay yang semula terbaring kini beranjak ke arah balkon sambil membawa segelas kopi. Dari lantai 20 apartemen, Fay menatap jalan raya di malam hari, pemandangan yang sangat menyenangkan, sepanjang jalan terang oleh lampu kendaraan di bawah.


Indah, tapi akan lebih indah jika seorang yang dikasihinya juga ada bersamanya. Setelah itu, Fay masuk kembali untuk mengambil ponsel, lalu ke balkon lagi. Ia kini duduk di ayunan di balkon sambil melihat foto-foto Kania di Instagram.


Fay tersenyum, ia membayangkan di mana saat ia dan Kania berjumpa besok. Namun, di sela-sela itu ada sesuatu yang mengganjal pikiran Fay. Setahunya Kania bercita-cita menjadi dokter, tapi saat pengambilan jurusan Kania malah memilih jurusan Akuntansi yang se-fakultas dengan Fay yang mengambil Bisnis Ekonomi.


Bohong jika Fay tidak senang mendengar hal itu, tapi kenapa tiba-tiba Kania berubah pikiran?


"Takdir," kata Fay. "Kayaknya gue emang ditakdirkan buat sama Kania makanya Tuhan lebih mengikis jarak antara kami."


Positif thinking sekali, padahal Kania harus merelakan cita-citanya karena alasan ekonomi. Bahkan ia diterima di kampus pun karena beasiswa. Hanya saja Rafi tidak menginfokan masalah itu kepada Fay. Kata Rafi, biarlah dia cari tahu sendiri.


*****


Enam hari berlalu, ospek pun usai. Mahasiswa baru sudah memulai pembelajaran.


Fay, Rafi dan Didit berkumpul di halaman fakultas ekonomi setelah mereka menyelesaikan pembelajaran hari di itu. Mereka duduk di bawah pohon rindang yang di bawahnya ada kursi kayu melingkari pohon.


Karena paksaan orang tua, Rafli dan Didit pun mengambil jurusan Ekonomi Bisnis demi meneruskan usaha keluarga. Mereka berbincang ria bahkan tertawa cekikikan karena kelakuan mereka sendiri, tapi tiba-tiba teriakan perempuan menghentikan obrolan mereka.


"Rafi!" Itu Cazy.


Ketiga lelaki itu lantas memutar leher ke arah suara. Di sana sudah ada tiga gadis yang berjalan mendekat. Kania, Cazy dan Regina.


Mata Fay tidak pernah berpaling, Kania melihat itu dengan alis terangkat. "Kenapa?" Kania menyentuh wajahnya. "Ada yang salah sama gue?"


Fay langsung tersadar. "Aa ... ah nggak apa-apa." Fay menggelengkan kepala lalu membuang pandangan ke sembarang arah.


Sementara Rafi dan Cazy tidak kenal tempat bermesraan di dekat mereka. Semuanya hanya menggelengkan kepala.


"Eh, Kai. Pulang nanti lo naik apa?" tanya Didit.


Hal itu sontak menarik perhatian Fay. Bagus, Dit bagus. Fay berteriak dalam hati, seolah tahu isi pikiran Didit.


"Hmmm, bareng Gina," jawab Kania lalu menatap Regina yang sejak tadi hanya diam. Tumben.


Didit Lalu menatap Regina. "Lo pulang naik apa?"


"Motor," jawab Regina.


Didit mengangguk kemudian berkata, "Gimana kalau lo pulang bareng Fay aja. Kalian searah soalnya, biar gue bareng Regina. Iya nggak, Gin? Kita kan searah juga, bareng aja ya. Kasian juga Fay harus balik arah kalau anterin gue," jelas Didit membuat alis Regina berkerut.


"Kalau bareng Fay lo juga adem Kai, nggak kena debu sama matahari," jelas Didit berusaha meyakinkan.


Kania lalu menatap Fay yang tak lepas menatapnya karena menunggu jawaban.


"Kasian Gina juga, kan kalau dia putar balik lagi abis anterin lo," kukuh Didit membuat Regina melotot.


"Eh, ngomong apa lo. Gue nggak keberatan kok." Regina melihat ke arah Kania. "Serius, Kai gue nggak keberatan." Regina lalu menatap tajam Didit. "Jangan sembarang ngomong lo, Dit."


Didit tersenyum kecil, tapi tidak disadari Kania yang terlanjur menenangkan Regina.


Sejak tadi menyimak, akhirnya Fay angkat suara. "Biar gue anterin lo pulang," tawarnya.


Kania dengan cepat menjawab. "Iya." Karena teringat omongan Didit.


Regina memegang tangan Kania. "Enggak, lo kalau mau pulang bareng gue, kita bareng aja. Gue nggak masalah, jangan dengerin omongan Didit, setan emang dia."


Kania tersenyum lembut. "Tapi bener yang diomongin Didit, biar gue bareng Fay. Sekalian juga kan, daripada Fay repot-repot anterin Didit."

__ADS_1


Regina lantas menatap tajam Didit. Tanpa suara Regina berkata. Awas lo, Dit. Gue bonyokin muka lo. Didit cepat memalingkan wajah, takut melihat amarah Regina.


Regina kemudian menatap Fay. "Karena Kai yang ngomong sendiri, oke. Tapi, jaga temen gue baik-baik, awas lo apa-apain!" kecam Regina.


Dalam hati Didit berkata. Maaf, Kai. Tapi gue nggak jamin lo di dekat Fay. Regina, Cazy maafin gue juga, temen gue bangs*t bangs*t soalnya.


Karena perbincangan itu, tak sadar Rafi dan Cazy ternyata sudah hilang dari pandangan. Sejoli itu pergi entah kemana. Didit lantas membuka ponsel untuk memperingati Rafi di grup mereka. Didit jujur takut pada Regina.


...Pemusnah Nolep...


Aditya Gawin


Jangan lo apa-apain Cazy! @Rafi Dyatma


Notifikasi pesan terdengar di ponsel Fay, lelaki itu lantas membukanya dan melihat pesan Didit. Fay pun mengetik untuk membalas.


Fay Hendry


Telat lo, Dit


Aditya Gawin


Lo juga, Fay. Jangan sentuh Kania!


Fay Hendry


Tenang, Bro. Semua butuh proses nggak semudah itu


Aditya Gawin


Bangs*t emang. Perempuan dijaga bukan dirusak!


Fay Hendry


Lo kenapa sih, Dit, hahah. Takut diamuk Regina?


"Eh, pada ngapain lo?" tanya Regina melihat Didit dan Fay yang sedang mengetik di layar ponsel terutama Fay yang sesekali tertawa.


Fay dan Didit sontak menatap kedua gadis di depannya lalu menggeleng. Regina yang paham sekali isi otak lelaki mengangkat tangan, menunjuk wajah Fay dan berpesan, "Jangan lo sentuh teman gue!"


"Enggak," janji Fay.


"Kalau sampai Kania kenapa-kenapa, bukan cuma lo, Fay. Lo juga, Dit. Gue bonyokin lo pada, apalagi si Rafi tuh awas aja entar kalau gue ketemu," ancam Regina.


"Daripada lo marah-marah ke kita yang nggak ngapa-ngapain, mending lo cari si Cazy deh. Kayaknya udah kehipnotis ama pesona buaya darat." Omongan Didit lantas membuat Regina bangkit dari duduknya sambil menggenggam pergelangan Kania.


"Buruan Kai, kita cari Cazy. Awas aja kalau Cazy kenapa-kenapa, gue ulek si Rafi."


Baru juga berkata seperti itu, tiba-tiba Rafi dan Cazy datang sambil memakan ice cream cone. Bahkan di tangan kanan Cazy membawa satu kantong hitam yang berisi ice cream dan beberapa cemilan.


Cazy tersenyum pada kedua sahabatnya. "Tara, Rafi yang traktir." Cazy memberikan kantongan itu pada Regina yang masih mematung, sementara Kania, Fay, dan Didit tertawa melihat Regina.


"Makanya jangan suudzon dulu," ceramah Didit, lalu terkekeh dan merampas kantongan di tangan Regina.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...











*Pict on Pinterest

__ADS_1


__ADS_2