
*Cazy dibaca Kezi!
Tidak seperti dulu, kemana-mana Fay sendirian, kini di mana pun Fay berada pasti ada dua orang yang selalu jalan beriringan dengannya, Rafi dan Didit.
Lapangan sekolah ramai oleh siswa yang mengenakan pakaian yang berbeda-beda. Konsep pelulusan kali ini memang berbeda, osis sekaligus panitia penyelenggara mengangkat tema 'Impian'. Acara pertama dimulai dengan upacara pembuka. Kedua, pengumuman kelulusan. Ketiga, pesan motivasi untuk para siswa agar semangat mengejar impiannya, dan terakhir acara bebas setiap kelas tapi masih dalam pantauan guru. Juga yang lebih menyenangkan, para siswa diwajibkan memakai seragam sesuai impian mereka ketika menyelesaikan pendidikan nanti.
Ada yang memakai jas seperti presiden, ada yang memakai seragam kesehatan, ada yang berpenampilan layaknya CEO, bahkan ada yang memakai kaus oblong yang memiliki banyak tambalan kain karena sobek, dll.
Nah, yang memakai kaus oblong itu adalah tiga sekawan yang baru seminggu ini menjadi akrab. Perbedaan mereka menarik perhatian semua orang, bahkan membuat kepala sekolah geleng-geleng kepala. Dibanding dengan siswa berpenampilan rapi yang memanjakan mata, penampilan sejoli ini malah merusak mata.
Terlebih Fay yang memakai kaus yang memiliki belasan bolongan dan tambalan, selaras dengan celana kain yang sengaja dicoret spidol hitam cokelat agar menyerupai lap kaki. Juga topi yang sengaja dibaluri lumpur kering dan wig gimbal berwarna kuning kemerahan seperti habis disemir cahaya matahari.
Namun, alas kakinya berbeda sendiri, ia memakai sepatu kulit dari brand ternama yang harganya berkisar sampai puluhan juta. Tapi karena modelnya yang banyak mirip di pasaran, tidak ada yang mengetahui bahwa itu adalah brand asli.
Rafi dan Didit terus menertawai Fay yang cosplay jadi orang gila kesasar. Menurut mereka Fay memang menggambarkan takdirnya mendatang, inilah Fay yang gila karena cinta.
Meski agak nyeleneh juga, penampilan Rafi dan Didit mah masih wajar-wajar saja, karena mereka hanya mengambil konsep pengangguran, sementara Fay asal berdandan membuatnya tampak seperti orang gila sungguhan.
"Bukan gue ya Fay yang ajar lo kek gini," aku Rafi di sela-sela tawanya.
"Kita sepakat jadi pengangguran, lo malah jadi orang gila, apa udah beneran gila?" tanya Didit.
Rupanya Fay tidak menghiraukan itu, matanya terus mengarah pada Kania yang mengenakan jas putih, selayaknya dokter muda dan celana kain panjang formal abu gelap, serta rambut panjang hitam di atas siku dibiarkan terurai. Tapi ada yang berbeda di wajah gadis itu, kantung matanya bengkak dan gelap, senyumnya pun tidak selebar seperti biasa. Namun, Fay tetap tersenyum sambil mengagumi gadis itu.
Rafi dan Didit yang terabaikan mengikuti arah pandang Fay, kemudian mereka saling tatap dengan sudut bibir tertarik ke atas.
Tak tunggu lama, Didit langsung meraup kasar wajah Fay beberapa kali, demi menyadarkan lelaki itu. Fay lantas memberontak sambil menepis tangan Didit, tak terhitung sudah berapa kali Fay berdecih karena tangan Didit yang asam menyentuh bibirnya.
"Abis peras lemon minimal cuci tangan, Dit. Jangan main usap muka gue sembarangan," umpat Fay, sementara Didit hanya tertawa dan sekali lagi mengusap wajah Fay tanpa kapok, sampai akhirnya Fay geram untuk membalas dan mengejar Didit yang sudah lari beberapa meter darinya.
Rafi yang ditinggal dua temannya berjalan ke arah kumpulan gadis yang di sana ada Kania. Rafi bukan mendekati Kania, tapi sahabat Kania yang mengenakan setelan putih dan rok hitam di atas lutut. Rafi langsung merangkul gadis itu secara tiba-tiba, mengusap rambut panjangnya, mengejutkan kumpulan gadis di situ.
"Woi, ngapain lo, Raf!" Bentak Regina, tidak terima sahabatnya tiba-tiba dirangkul oleh Rafi. Regina yang memang dikenal galak, mendorong tubuh Rafi menjauh dari Cazy, gadis yang dirangkul Rafi barusan.
Tapi tidak seperti biasa, Rafi yang takut menghadapi Regina kini dengan santai merangkul Cazy kembali sambil berkata, "Cewek gue, apa lo?!"
Sontak pernyataan itu membuat semua yang ada di situ ternganga, termasuk Didit dan Fay yang tidak sengaja lari di dekat mereka. Fay, Didit sempat berhenti, dan tanpa pikir panjang langsung menarik Rafi untuk dimintai penjelasan.
"Wah, nggak sehati lo, Raf. Nggak kasian lo liat gelandang di sebelah gue ini. Cinta dia belasan tahun nggak terbalas dengan mudahnya lo dapat cewek? Blaster ChinDo lagi," kompor Didit tapi bukannya marah, Fay malah cekikikan membuat Rafi dan Didit kebingungan.
"Kenapa dia?" tanya Didit.
"Kayaknya udah beneran gila deh, Dit," papar Rafi. Didit lantas mengangguk. "Kayaknya."
"Ajarin gue dong, Raf," pinta Fay.
__ADS_1
"Tanpa gue ajarin pun lo pasti bisa dapatin Kania," ujar Rafi.
Tidak ada perubahan ekspresi, Fay menanggapi itu biasa-biasa saja. Saking seringnya diledek halu oleh Rafi, dan selalu saja perkataan Rafi seolah mendukung Fay mengejar cinta Kania, padahal aslinya sedang meledek.
"Gue ke Cazy nggak serius. Dia gue jadiin alat doang buat cari tau hubungan Kania sama Nafis, biar rencana kita berhasil, Bro," tutur Rafi menaikturunkan satu alisnya membuat Didit dan Fay melotot.
Bagi Didit, apa yang dilakukan Rafi itu salah, ya memang salah, Fay mengakui itu. Dengan perasaan kesal Didit langsung meninju bahu Rafi tapi tidak pakai otot, lalu berkata, "Udah mau jadi perusak hubungan orang, lo mau jadi cowok brengsek juga?"
"Goblok sih goblok, Raf, tapi jangan goblok banget. Iya kali gue pengen ngerusak hubungan Kania, jangan berlebihan gitu jim, mana mainin cewek lagi. Gue jadi ngeri sama lo." Fay mengusap dua bahunya yang merinding.
Alis Rafi berkerut, ia heran kenapa keadaan tiba-tiba berubah serius begini?
"Kenapa sih lo berdua?" Tunjuk Rafi dengan dagunya, tapi Didit dan Fay hanya diam ikut bingung.
"Gue becanda kali, gue tulus sama Cazy. Cewek manis, imut, putih gitu iya kali gue sia-siakan. Gue cuma mau kasi lo info yang hot, fantastis dan yang pastinya luar binasa yang gue dapat dari hubungan gue sama Cazy." Rafi diam sesaat, sekedar menarik napas sebentar lalu membuangnya, dan berkata, "Cazy bilang, Kania, Nafis, end."
*****
Tak
Petasan kertas diledakkan di hadapan Kania. Gadis yang sejak tadi banyak melamun itu dikejutkan oleh Regina dan teman kelas lainnya yang membawa satu buah kue tar lingkaran bertingkat yang bertuliskan, Happy Birthday Kania dengan lilin menyala berbentuk angka 18.
Suara terompet dan petasan kertas menggema di ruang kelas bersama dengan nyanyian ucapan selamat. Cazy yang memegang topi kerucut berwarna kuning terang langsung memasangkan topi itu di kepala Kania. Dibandingkan tadi, akhirnya Kania tersenyum lebar juga, karena dari tadi gadis itu hanya tersenyum tipis jika ada yang menarik humornya.
Kania menatap sekeliling, untuk saat ini, Nafis tidak ada dalam ingatannya. Hari itu ia manfaatkan untuk bersenang-senang apalagi mengingat ini adalah hari terakhir mereka kumpul bersama. Sementara Fay, yang sejak tadi mengawasi Kania dari jauh pun ikut tersenyum, bahkan tertawa saat Kania ditarik oleh Cazy dan Regina untuk berjoget bersama.
Fay di bangkunya yang paling ujung terus memperhatikan gerak-gerik gadis dambaannya, hingga tak sadar Rafi sudah duduk di mejanya.
"Jangan buru-buru, Fay. Tunggu dia sembuh dulu," ujar Rafi juga menatap Kania yang sedang memakan kue tar bersama kekasihnya, Cazy.
"Lo tau? Gue juga ultah hari ini," ungkap Fay lalu menatap Rafi yang sempat ternganga mendengar itu.
"Woi, Fay juga ultah!" teriak Rafi.
Pergerakan para siswa langsung berhenti, semua mata langsung tertuju pada Fay, termasuk Kania.
Fay memukul jidatnya, ia menyesal telah memberitahu Rafi. Tak kuasa menahan malu, Fay langsung memalingkan wajahnya ke jendela tanpa mempedulikan teman kelasnya yang juga bernyanyi untuk Fay.
"Selamat ulang tahun, Nolep. Selamat ulang tahun," nyanyi salah satu siswa.
"Happy birthday, Fay. Sori, gue nggak tau, padahal tiap tahun teman kelas ngerayain ultah gue, ternyata lo juga ultah di tanggal yang sama," ucap salah seorang perempuan.
Dari suaranya, Fay tahu itu Kania, ia membatu dengan wajah yang tiba-tiba memerah hingga telinga, belum lagi jantungnya yang seolah berontak di dada, untung saja wajahnya menghadap jendela. Sementara Rafi dan Didit yang melihat itu mati-matian menahan tawa.
Sebenarnya Fay enggan berbalik karena ia malu wajahnya dilihat semua orang, tapi Fay tidak nyaman juga jika terlalu lama mengabaikan Kania. Pun, kesempatan ini tidak boleh disia-siakan. Beberapa detik bergulat dengan pikirannya, akhirnya Fay berbalik badan juga, dengan harapan orang-orang tidak menyadari perubahan wajahnya.
__ADS_1
Keraguan Fay tidak berhenti di situ saja, setelah berbalik ia melihat tangan Kania terulur di depannya, pelan-pelan Fay mengangkat tangan dan mereka saling berjabat tangan.
Belasan tahun mengagumi Kania, ini kali pertama Fay menyentuhnya yang jelas memberi afek aneh pada tubuhnya. Bersama itu secara ajaib jantung Fay yang semula bergedor keras seketika melemah dan wajahnya yang semula terasa panas pun mereda.
Keraguan yang tiba-tiba sirna membuat Fay berani mengangkat kepala demi menatap gadis itu. Selayaknya menatap wajah orang lain, Fay berani menatap matanya, tapi jelas tatapan mata ini istimewa. Tidak seperti menatap Rafi dan Didit, ada desiran beda yang otomatis aktif membangkitkan energinya.
Fay tersenyum lebar lalu berkata, "Thanks, lo juga, happy birthday." Kania membalasnya mengangguk sambil tersenyum.
Tak
Petasan kertas diledakkan Didit di hadapan Fay dan Kania, alhasil sentuhan tangan keduanya lepas. Fay menatap Didit dengan mata memicin kesal.
Para siswa bersorak lalu memberikan ucapan selamat untuk bertambahnya usia Fay, tapi ucapannya membuat Fay kesal.
"HAPPY BIRTHDAY MANTAN NOLEP, SEMOGA LO TETAP BEGINI, JANGAN NOLEP LAGI."
Semua tertawa, kecuali Fay pastinya.
Setelah ucapan itu seluruh siswa melanjutkan kegiatan mereka. Kania pun bergabung dengan teman gadisnya kembali, berjoget, bernyanyi dan tertawa bersama tanpa lepas dari mata Fay.
Rafi dan Didit menghampiri Fay yang masih suka menyendiri di tengah-tengah ramenya kelas. Kedua lelaki itu menarik kursi ke dekat Fay, lalu Rafi berbisik. "Gue tau di mana Kania kuliah, ini kesempatan buat lo, Fay."
Fay menatap Rafi. "Jelas gue bakal manfaatin. Eh, tapi lo kuliah di mana?"
"Gue ikut Cazy," jelas Rafi.
"Kalau lo, Dit?" tanya Fay.
"Gue ikut Rafi," jawab Didit. Rafi mengerutkan kening menghadap Didit. "Kok ikut gue? ... tapi oke."
"Yah, gue sendiri, nih. Ya nolep lagi gue," kata Fay mendengus di akhir kata.
"Cazy kan ikut Kania," ungkap Rafi.
Didit cekikikan lalu bergumam, "Nggak ada kata reuni di antara kita."
"Kenapa nggak dari awal aja lo bilang, kalau lo juga pengen kuliah di tempat yang sama," bisik Fay menggesekkan gigi karena geram.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1