
Sehari sebelum pelulusan ....
Tak ada yang tahu, hubungan Kania dan Nafis sebenarnya sudah tenggang sejak tiga bulan lalu, hanya saja Kania tidak menceritakan hal itu kepada sahabatnya, Cazy dan Regina. Kerap kali ada yang mempertanyakan hubungannya dengan Nafis, Kania akan menjawab 'baik', sambil tersenyum. Keceriaan yang dia tampakkan di sekolah pun palsu, sejatinya pikiran Kania dihantui dengan pertanyaan-pertanyaan tentang sikap Nafis yang berubah 360°.
Nafis sekarang mudah marah, suka mengatur, bahkan pernah menuduh Kania mendua di belakangnya dengan alasan yang tidak masuk akal. Hal itu lantas memicu pertengkaran Kania dan Nafis, mengakibatkan mereka lost contact hingga saat ini, tapi hubungan mereka masih terjalin.
Karena hal itu, Kania jadi tidak fokus belajar yang berdampak pada nilai ujiannya yang menurun, tapi untung saja tidak ada yang memperhatikan.
Tepat di malam sebelum hari pelulusan, dua jam detik-detik bertambahnya usia Kania. Kania yang sudah menyediakan kue tar dengan lilin berbentuk angka delapan belas terus menatap ponsel, berharap Nafis tetap mengingat tentang hari istimewanya meski hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja.
Hingga dua jam berlalu, sedetik lagi hari berganti, tidak ada tanda-tanda Nafis akan menghubunginya. Kania menyalakan lilin untuk sedia ditiup. Lalu kembali menatap layar ponsel. Sayangnya status keaktifan Nafis di laman chat tidak memberi kepastian. Bahkan, kapan terakhir kali lelaki itu aktif pun tidak terpampang. Kania akhirnya pasrah.
Hari sudah berganti, grup kelas langsung ricuh memberi Kania ucapan selamat. Kania tersenyum hangat, ia bersyukur memiliki teman kelas yang kompak dan perhatian padanya.
Sembari membalas puluhan pesan ucapan ulang tahun yang masuk di ponselnya, tiba-tiba dari email yang tidak dikenal mengiriminya link yang jika ditekan langsung menggiring Kania ke halaman web.
Rupanya itu link kartu ucapan selamat ulang tahun. Pipi Kania mengembang, sudut matanya sampai menampilkan kerutan sangking senangnya.
Kartu ucapan itu awalnya berbentuk rumah 2 dimensi yang hanya tampak dari sisi depan saja, memiliki cat berbagai warna pastel. Rumah itu ada di dalam sebuah bingkai yang memiliki latar berwarna putih. Shoot animasi rumah itu mendekat, sampai pada pintu kayu yang berwarna coklat, terdapat tulisan 'click in'. Kania menekannya membuat pintu itu terbuka dan menampilkan isi rumah yang di dalamnya terpajang banyak bingkai foto Kania, dan di salah satu sisi temboknya terdapat ucapan, Happy Birthday 18th, Kania. All the best on your birthday.
(Selamat Ulang tahun untuk ke18 tahun, Kania. Semua hal baik terjadi di ulang tahunmu).
Ada animasi balon gas dengan berbagai warna melayang di sisi kiri-kanan tembok, terdapat pula meja yang di atasnya ada kue tar bertingkat dua berwarna merah muda.
Kania seperti diajak menjelajah ruangan 2 dimensi itu. Tak sadar air tiba-tiba luruh di sudut matanya, ia terharu atas kejutan yang diberikan 'Nafis' untuknya.
Ya, ia yakin gmail anonim itu pasti milik Nafis.
Nalurinya terhadap sikap baru Nafis terlalu jauh, Kania malu mengakui ini, tapi jujur sebagai seorang perempuan Kania mencurigai Nafis telah mendua. Kania sebenarnya tidak ingin percaya naluri itu, tapi yang namanya naluri, sekuat apa pun ia berusaha menepisnya naluri itu terus menempel hingga ke saraf otaknya dan menguasai pikirannya.
Kania menyesal telah berasumsi yang tidak-tidak kepada Nafis. Lantas, kala selesai dibuat berkeliling di rumah 2 dimensi berkedok kartu ucapan ulang tahun itu, Kania langsung mengirimkan pesan kepada Nafis.
Terdapat puluhan pesan darinya yang tidak dibalas, bahkan dilihat oleh Nafis, tapi Kania mengabaikannya, ia hanya fokus pada apa yang ingin ia sampaikan pada Nafis tentang kartu ucapan istimewa itu.
Kania Lestari
Makasih, ya. Aku suka banget sama kartu ucapan yang kamu kirim. Juga ... aku sebenarnya malu mau ngomong ini, sebelumnya aku mau minta maaf udah berpikir yang enggak-enggak tentang kamu. Aku malu tapi harus mengakui ini, sebenarnya setelah pertengkaran kita hari itu aku jadi punya firasat kalau kamu selingkuh dari aku. Maaf, ya, maaf banget. Aku harap kamu ngerti dan makasih aku seneng banget dapat hadiah kamu.
Sangking sukanya, ia bahkan menonton kembali animasi itu, sampai mengabaikan beberapa pesan ucapan dari orang-orang yang mengenalnya.
__ADS_1
Sejam berlalu, akhirnya Nafis aktif juga kala Kania menonton animasi itu entah untuk yang ke berapa puluh kalinya.
Pesan Nafis masuk. Dengan perasaan senang Kania langsung membuka laman chat.
Nafis
Kartu ucapan?
Alih-alih meminta maaf dahulu untuk kelakuannya yang mengabaikan pesan Kania, ia langsung mempertanyakan hal yang sontak membuat Kania mengerutkan kening.
Kania Lestari
Iya kartu ucapan yang kamu kirim di gmail, aku suka banget.
Nafis
Gw nggak ada kirim kartu ucapan.
Drag
Jantung Kania langsung berdegup kencang setelah merasakan detak keras barusan di dadanya. Juga, kata 'gw'. Kenapa Nafis mengubah gaya bicaranya? Karena masih syok, Kania tidak langsung membalas pesan Nafis, ia masih mencerna pesan Nafis barusan.
Satu pesan dari Nafis masuk lagi. Pesan kali ini semakin membuat jantung Kania berdetak hebat, matanya sampai melotot dan perlahan mengeluarkan air mata setelah habis membacanya.
Nafis
Tangan Kania yang bergetar bergerak cepat mematikan ponsel, ia melempar asal ponselnya, lalu menangis di dalam selimut. Bisa-bisanya Nafis berkata seperti itu.
Di tengah keheningan dan kegelapan, hanya ada suara tangis Kania, dan setitik cahaya lilin yang sedetik lagi padam karena sumbunya habis terbakar. Alhasil permukaan kue tar yang semula berwarna merah muda berubah putih oleh lilin.
Awalnya suara tangis Kania hanya terdengar seperti lirihan kecil, namun beberapa detik langsung berubah jadi tangisan yang keras dan berat.
Di hari istimewanya ini, hanya Nafis dan teman-temannya yang bisa ia harapkan ucapan. Tapi salah satunya malah menghancurkan kebahagiaannya.
Lalu, bagaimana orang tua Kania? Inilah alasan mengapa Kania sampai sangat bucin kepada Nafis, sebab hubungan Kania dan keluarganya tidak baik. Kania memiliki saudara kembar laki-laki yang saat ini tinggal bersama orang tuanya, tidak seperti kania yang menyendiri di kos-kosan
Kania bukan dari keluarga yang berada, tapi hidupnya semakin terasa tidak adil karena perlakuan yang ia dapatkan dengan saudara kembarnya itu berbeda. Sejak kecil kakaknya diperlakukan istimewa, apa yang diinginkan kakaknya pasti dituruti orang tuanya, padahal mereka bukan dari keluarga yang bisa dibilang sanggup untuk mewujudkan apa saja yang mereka inginkan.
Sementara Kania, tak satu pun permintaannya dikabulkan, 'mereka' hanya selalu bilang nanti, nanti dan nanti, padahal tidak pernah terwujud. Sampai akhirnya Kania terbiasa dengan itu. Egonya yang selalu tertahan menumpuk, hingga berani mengambil keputusan yang tidak ia biarkan orang tuanya ikut campur.
__ADS_1
Kania meminta berpisah dari keluarganya saat ia sudah menginjak bangku kelas 1 SMA. Hal itu sempat tidak disetujui ayahnya, tapi karena mental Kania sudah terbentuk sangat kuat, ia berani melawan perkataan ayahnya dengan suara keras, sementara ibunya hanya diam. Wanita 40 tahun itu setuju Kania berpisah dari mereka.
Tapi, entah mengapa ayah Kania sedikit berbeda, ia kukuh untuk tidak membiarkan Kania melepaskan diri dari keluarga. Bahkan untuk pertama kalinya, ayah kania berkata, "Kania anak aku, dia tidak boleh pergi jauh dariku."
Kania yang mendengar itu bukannya luluh malah terkekeh, lalu membalas. "Aku bukan anak kalian, anak kalian kan cuma Kefan. Aku nggak pernah dianggap di rumah ini, jadi apa gunanya aku tinggal di sini? Yang aku dapat cuma rasa sakit karna suka dibanding-bandingin dan sekarang aku udah cukup besar, aku berani tinggal sendirian. Sendiri lebih menjaga mental aku agar tetap waras."
Saat itu Kania benar-benar sudah tidak merasakan adanya ikatan batin antarkeluarga, sampai ia yakin untuk memisahkan diri.
Akhirnya karena keegoisan Kania yang sudah tidak bisa dilawan dan kekebalan dia terhadap larangan ayahnya, Kania memilih kabur dan benar saja tak satu pun orang yang ia sebut keluarga berjuang mencarinya.
Kania harus membiayai dirinya sendiri dengan bekerja paruh waktu sepulang sekolah hingga larut malam.
Ini yang Kania benci saat ia bersedih, seharusnya di hari istimewanya ini ia bahagia, tapi tiba-tiba ia mengingat keluarganya. Tiba-tiba mengingat perlakuan buruk mereka terhadap Kania, dan tiba-tiba Kania mengingat bagaimana lelahnya ia berjuang hidup sendirian. Hal itu lantas memancing tangisnya untuk bersuara lebih keras lagi.
Bukan hanya gagal dalam keluarga, Kania gagal dalam percintaan, dan gagal untuk mempertahankan pendiriannya sebagai perempuan mandiri yang kuat. Tangisannya membuat ia sadar, bagaimana pun ia tetaplah wanita yang lemah. Kania akui, Kania lelah menjalani hidup ini.
Dari semua yang telah terjadi, akankah Kania sanggup menjalani hidupnya setelah kepergian Nafis?
Satu-satunya orang yang tahu bagaimana hidupnya.
Memang cuma Nafis manusia di dunia ini? Jangan murahan, Kania. Kania menjerit dalam hati.
Kania jadi sadar, selama ini ia hanya mengemis perhatian dari Nafis karena kurangnya perhatian dari orang tuanya. Kania juga hanya memanfaatkan Nafis untuk menghilangkan lelahnya. Ia tidak berhak marah pada Nafis, wajar jika sifat Nafis berubah, barang kali ia lelah dengan Kania.
Kekesalan yang semula tumpah pada Nafis kini berbalik pada dirinya sendiri. Menyadari hal itu, membuat tangis Kania perlahan reda, yang tersisa hanyalah suara tarikan nafas dan helaan.
Kania keluar dari selimut dengan jalan sempoyongan menuju ponselnya yang tadi ia lempar. Tombol power ia tekan pelan sambil menyesali telah melempar ponselnya, untung saja masih menyala.
Ada tiga pesan, dari Nafis, Cazy dan Regina.
Pesan yang pertama ia lihat dari Nafis, yang berisi ajakan untuk mengakhiri hubungan mereka. Hal itu lantas kembali membuat tangis Kania pecah. Meski egois menjadikan Nafis tempat pelampiasan, tetapi dari lubuk hatinya ia sungguh mencintai lelaki itu.
Hanya Nafis yang tahu bagaimana ia susahnya hidup hingga saat ini, hanya Nafis yang selalu menemani kesepiannya, tapi ... hari ini lelaki itu memilih pergi. Mau tidak mau Kania harus ikhlas dan belajar membiasakan diri untuk hidup tanpa seseorang di sampingnya.
Tangisnya yang berubah tersendat-sendat mulai reda. Kania berjalan ke arah dapur untuk mengambil segelas air untuk diminum, lalu dengan tangan bergetar Kania mengirimkan Cazy dan Regina pesan tentang kabar hubungannya dengan Nafis, sekaligus meminta mereka menjemputnya untuk pergi bersama pelulusan nanti.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1