Love Dellivery

Love Dellivery
Chapter 5 "Persiapan Buana Dream Hotel Part 1 season 1"


__ADS_3

yow..yow..yow puput balik lagi thehehe.. banyakan bacot emang.. uwuwuwu abis frustasi banget sama tugas ngampus.. baru juga masuk tugas udah bejibun.. tapi demi reader puput ngerasa ga keberatan kok.. jadi..


*Happy Reading...


/Love Dellivery/


Pagi ini Emu kembali bangun lebih cepat, bukan karena perasaan bimbang yang menerpanya seperti kemarin, tapi lebih kepada kesibukannya yang memadat akhir akhir ini.


Kesibukannya dalam membantu menyiapkan keperluan untuk mendekor dan menyiapkan cake yang akan disediakan untuk acara ulang tahun hotel mewah itu.


Ia bahkan harus begadang demi membuat banyak rancangan thema yang sesuai dengan setiap cake yang akan dipakai. Dan membuat daftar bahan bahan untuk membuat setiap cake yang memungkinkan terpilih.


Wajah Emu sedikit pucat, mungkin evek karena kurangnya tidur, serta memikirkan keadaan ibunya yang tiba tiba memburuk. Padahal kemarin sempat membaik, apa ibunya juga ikut merasakan kekalutannya. Sehingga itu mungkin juga mempengaruhi kondisi kesehatan sang ibu.


Emu masih percaya dengan perkataan ibunya dulu, yang mengatakan jika ikatan seoarang anak dan ibu itu sangat kuat.


Menghela nafas perlahan, rasanya belakangan ini Emu terlalu banyak mengela nafas, teringat akan perkataan orang dulu. Jika sering menghela nafas maka kebahagiaan juga akan ikut menghilang, tapi sudahlah.


Jam sudah menunjukan pukul 6 pagi , Emu langsung membawa semua catatannya, mengunci pintu rumahnya dan bergegas menuju cafe. Hari ini ia akan menunjukan beberapa thema dengan rekomendasi cake yang sesuai pada Aron.


Aaahh.., Aron. Pemuda yang tiba tiba datang dan menawarkan hal yang tidak pernah Emu bayangkan akan ia dapatkan.


Pemuda itu, menawarkan banyak ikatan padanya, persahabatan, persaudaraan, kekeluargaan, dan cinta ?. Tunggu, cinta ?, Emu mencoba tidak terlalu banyak berharap.


Trauma akan kisah cinta masa lalu membuatnya membentengi hatinya dengan dinginnya es. Tak ingin lagi ia mengenal apa itu ikatan cinta antara laki laki dan perempuan.


Hatinya terlanjur sakit, dan ia tidak ingin membuka luka baru sedangkan luka yang lama belum mengering.


Menggelengkan kepala untuk mengusir pemikirannya barusan, sampai ia tak sadar jika telah sampai didepan cafe tempatnya bekerja. Suasananya begitu sepi tapi pintu depan cafe sudah terbuka, menandakan adanya orang yang datang sebelum Emu.


Mengabaikan suapa yang datang, Emu lantas langsung menuju ruang pegawai, di tempat itu tersedia loker tempat ia menyimpan barang barang bawaannya. Sekaligus tempat menyimpan seragam kerja, khusus untuk Emu karena ia memegang bagian dapur.


Ia hanya diberi kemeja putih lengan pendek dan sebuah celemek berwarna hitam, serta ia selalu memakai celana panjang berwarna hitam yang membuatnya lebih leluasa bergerak.


Selesai dengan urusannya ia segera menyimpan rencana rancangannya kedalam loker, sebelum menunjukan pada Aron nanti.


Lalu ia menuju dapur dan segera memulai rutinitasnya, mengambil beberapa bahan membuat dessert dan kue yang akan disediakan untuk pelanggan cafe nanti.


Melihat isi penyimpanan bahan bahan untuk membuat dessert sudah mulai menipis, ia membuat catatan jika harus berbelanja nanti, mengisi kembali pasokan bahan untuk membuat dessert.


Sepi rasanya karena hari masih tergolong pagi, namun hal itu tak berlangsung lama. Emu merasakan sepasang tangan memeluk erat pinggangnya dari belakang.


Ia menolehkan pandangan nya dan ia melihat, sosok Yana sedang memeluknya sambil menahan rasa ingin tertawanya. Ingin sekali rasanya Emu memukul kepala dengan kucir tinggi itu karena sempat membuatnya terkejut. Ia pikir siapa gitu yang meluk dari belakang.


"Kenapa Emu..?, kecewa yahh.., tau bukan Aron yang meluk kamu, hihihihi..". itu kata Yana saat melihat raut wajah Emu yang terlihat sedikit kecewa


Mendengar hal itu membuat Emu pun melaksanakan niat mulia nya. Yaitu memukul kepala Yana dengan cukup kuat, sampai terdengar ringisan dari empunya. Dan menuai tatapan tajam dari yang bersangkutan.


"Apa..!?, mau dipukul lagi, kau sih kalo ngomong itu jangan asal ceplos aja". seru Emu sebal


"Yeeeee..., bukan gitu, kan kali aja, abis kau melamun ga jelas gitu sih, kan aku mikirnya gitu". menghiraukan keberadaan Yana, Emu kembali meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda


"Ngomong omomg wajah mu pucat, kau sakit?". tanya Yana


"Enggak, cuma kurang tidur". jawab Emu seadanya


Yana hanya menaikan bahunya kemudian pergi keluar, melihat hal itu Emu hanya mendengus. Apanya yang menjadi sosok kakak jika justru Yana yang bertingkah layaknya anak kecil. pikir Emu kesal.


Kembali melanjutkan pekerjaan nya, Emu mulai memanggang muffin coklat dan akan membuat adonan dessert muffin yang lain lagi.


Saat sedang serius nya mencampur adonan, kembali sepasang lengan memeluknya dari belakang. Hal itu membuat Emu mengehela nafasnya cepat, pasti Yana lagi, pikirnya.


Tiba tiba dari arah pintu dapur, sebuah suara mengejutkan Emu, itu suara Aron. Karena terkejut Emu langsung berbalik dan tak sengaja melihat siapa yang memeluk pinggangnya dari belakang.


"JOAN...!!!!". pekik Emu dan Aron bersamaan


"Apa yang kau lakukan Joan?!". seru Aron kesal dan langsung menarik kerah belakang seragam Joan agar menjauh dari Emu.


"Theheheheh.., tidak ada apa apa". jawab Joan dengan wajah tanpa dosanya, sementara Emu sendiri shock


Bagaimana tidak shock, ia pikir yang memeluknya sedari tadi itu Yana, kenapa malah Joan. Jika ia tau yang memeluknya adalah Joan sudah dari tadi ia akan menolak pelukan itu.

__ADS_1


Wajah Aron memerah karena menahan kesal, sial aku kecolongan, batinnya mengamuk. Tidak terima Emu dipeluk oleh sembarangan orang sekalipun itu Joan temannya.


"Apa yang kau lakukan Joan?". tanya Emu masih dengan wajah shocknya


"Aku sedang ada masalah, lalu saat melihat mu entah kenapa aku sangat ingin memeluk mu, dan ternyata bau mu enak, makanya aku betah memeluk mu lama lama". jelas Joan dengan tampang polosnya


Aron memijat kepala nya, manahan rasa pusing akibat tingkah absurd teman nya. Bisa cepat tua ia jika mengurus tingkah Joan.


"Baiklah lupakan saja apa yang telah terjadi, Emu lanjutkan pekerjaan mu, maaf menganggu. Dan Joan segera lihat persediaan biji kopi, lalu bantu aku merapikan bagian depan". perntah Aron mutlak


Joan langsung ngacir, pergi dengan suara tawa yang tidak dapat ia tahan. Ingin sekali rasanya Aron menggeplak kepala berhiaskan surai hijau itu.


"Maafkan Joan ya Emu, mungkin dia belum minum obatnya pagi ini". ujar Aron sambil menggaruk kepalanya yang sebenernya tidak gatal


"Iya tidak apa, aku pikir tadi itu Yana, karena tadi Yana juga memeluk ku begitu". balas Emu


"Oh ya.., bagaimana dengan tugas yang aku berikan, apa sudah selesai?". tanya Aron mengalihkan suasana


"Sudah, jika mau aku bisa memperlihatkan nya pada mu".


Jawab Emu sembari mengeluarkan kue muffinnya yang telah matang dari oven, aroma coklat menggoda langsung memenuhi dapur cafe.


"Tidak perlu nanti saja, oh ya kita akan berangkat siang ini. Aku juga akan mengajak Gerry untuk menemani, persiapkan semuanya" jelas Aron


"Apa tidak apa apa, meninggalkan Kevin, Yana dan Joan mengurus cafe saat sendang ramai. Maksud ku apa mereka tidak akan kerepotan nanti saat kita pergi?".


Tanya Emu setelah memasukan adonan muffin blueberrynya. Lalu melihat kearah Aron yang sedang intens menatapnya.


Emu yang ditatap seperti itu mulai merasa gugup, ia mengingat saat saat bersama dengan Aron tiap mengantarkan nya pulang ke rumah. Pelukan hangat itu dan ci-. Astaga apa yang ia pikirkan, kenpa ia malah memikirkan hal seperti itu.


Aron sendiri terkejut saat melihat wajah pucat Emu yang memerah dibagian pipinya, sontak saja ia berjalan mendekat langsung menyentuh dahi Emu.


"Apa kau lagi sakit?, muka mu pucat, pipi mu juga merah. Apa kau demam, tapi dahi mu tidak panas". suara Aron terdengar begitu khawatir


"Ah..., ini hanya evek kurang tidur, nanti setelah istirahat juga baikan kok".


Jelas Emu sambil menurunkan tangan Aron dari dahi nya. Ia tidak ingin pipinya bertambah merah oke. Itu akan sangat menggangu pikirannya dan membuat nya tidak fokus bekerja.


Sementara Emu mencoba menetralkan debaran jantung nya. Tak lama Kevin datang membantu pekerjaan Emu didapur, Ia membantu menggoreng donat dan Emu mempersiapkan hiasan untuk donat.


"Kevin, bisakah aku minta tolong, karena bahan untuk membuat dessert dan bahan lain sudah habis, besok temani aku berbelanja bersama Yana yah.., kita ajak Gerry juga untuk membantu". ujar Emu sambil mempersiapkan coklat cair untuk hiasan


"Baiklah, apa kau sudah membuat catatan bahan yang akan di beli, jika kita berpencar saat berbelanja nanti itu akan mempersingkat waktu". jawab Kevin seadanya


"Sudah kok".


Lalu kembali hening sampai Gerry datang dan menanyakan apakah donatnya sudah selesai dibuat karena beberapa pelanggan sudah bertanya dan ingin memesan.


Langsung saja Emu mempersiapkan donat yang akan dibawa Gerry, dengan cekatan ia menghias donat yang sudah digoreng Kevin. Menghiasnya dengan coklat cair dan beberapa hiasan lain.


Kemudian menyusunnya di nampan yang akan Gerry bawa, lelah rasanya tapi semua itu Emu lakukan dengan perasaan tulus.


Setiap Emu membuat dessert wajah bahagialah yang ia pasang, dan itu sempat membuat Kevin bertanya tanya.


"Kenapa muka mu selalu seneng kalo pas buat dessert?". tanya Kevin langsung


"Humm.., aku hanya mengingat ibu ku saja". balas Emu dengan suara yang lirih


Dan Kevin tak bertanya apa apa lagi, apa untungnya coba buat diri Kevin mengetahui latar belakang gadis manis itu. Meskipun ada sedikit rasa ganjal dihatinya.


Waktu pun berlalu, tak terasa ini waktunya Aron, Emu, dan Gerry untuk pergi menemui pihak managemen hotel.


Sebelumnya Aron telah melihat hasil rancangan dekorasi pesta yang Emu presentasikan secara singkat padanya. Aron sempat dibuat takjub saat gadis berambut pendek itu berbicara, begitu lugas dan tegas. Benar benar menguasai apa yang ia sampaikan.


Diperjalanan mereka berharap harap cemas, pasalnya pikiran mereka hampir terbagi dua, antara persiapan mereka untuk menyampaikan hasil pemikiran mereka kepada pihak managemen hotel, dan keadaan cafe yang ramai namun hanya dijaga oleh Yana, Joan, dan Kevin.


Perjalanan yang harusnya terasa lama, malah berjalan begitu cepat. Tak terasa Aron, Emu dan Gerry sampai dihotel tujuan mereka.


Memantabkan diri mereka mulai melangkah memasuki hotel, bertanya pada pihak resepsionis untuk memenuhi janji. Lalu mereka diminta menunggu selama beberapa saat.


Tak lama manager hotel memanggil mereka, rasa gugup mulai merambati diri mereka lagi, pada saat mereka memasuki rauangan manager itu. Tak ayal hal itu membuat Emu menghela nafasnya.

__ADS_1


Berusaha agar terlihat tetap tenang dan menyampaikan apa yang menjadi ide idenya pada Mr. Brian selaku manager hotel.


Emu, Aron dan Gerry melakulan presentasi dengan sangat baik, ditambah rancangan Emu yang terkesan sederhana namun mewah dan elegan membuat Mr. Brian langsung mengiyakan tema pesta yang dipresentasikan.


Berjabat tangan sebagai tanda persetujuan antara Aron dan Mr. Brian, mereka akan memulai pekerjaan mereka dengan baik, mencoba untuk meminimalisir kesalahan agar nama cafe mereka juga meningkat peminat nya.


Senja telah menapak diangkasa. Aron, Emu, dan Gerry kembali ke cafe dengan berita baik yang langsung membuat Yana memeluk Emu dengan erat sambil berlompat lompat kecil, sementara para laki laki hanya tertawa melihat tingkah kekanakan salah satu sahabat mereka.


Senyuman tak henti hentinya terbit dibibir enam sekawan itu. Emu juga seolah melupakan sejenak masalahnya, ia merasa saat ini kebahagiaan sedang melingkupinya, dan Emu berharap kesehatan ibunya meningkat sama seperti rasa bahagia nya saat ini.


Sore itu mereka habiskan untuk melayani para pelanggan dengan lebih bersemangat, raut lelah tak tampak sedikit pun diwajah mereka.


Sampai sang luna mulai melangkah ke singgasana nya, menerangi jalanan yang masih ramai walaupun hari mulai gelap. Malam ini Emu pulang bersama dengan Aron, Joan dan Yana. Bejalan beriringan dibawah cahaya lampu jalanan, melintasi jalan beralaskan aspal yang warna hitamnya sudah pudar.


"Emu.., err.. ak..aku mi..minta maaf ya". ujar Joan tiba tiba


"Humm.., untuk apa?". bingung Emu dengan perkataan Joan yang tiba tiba


Hal ini membuat Aron menghentikan langkahnya, dan menunggu disamping Emu menanti kelanjutan dari apa yang akan terjadi setelah ini.


Posisi Emu mau tidak mau berada ditengah dan diapit oleh Aron disisi kanan dan Joan disisi Kiri. Merasa pembicaraannya didengar oleh orang lain, Joan lantas menarik tangan Emu dan membawanya sedikit menjauh dari Aron.


Sedangkan Aron sendiri mendengus kesal karena tingkah teman nya, walaupun tidak Aron pungkiri jika ia merasa sedikit sesak dibagian dadanya entah karena apa.


"Emu maaf, tapi pembicaraan kita hanya antara aku dan kau yang boleh tau". ujar Joan dengan raut serius.


"Iya, ada apa Joan?". tanya Emu penasaran melihat keseriusan dalam diri Joan


"Soal aku memeluk mu itu karena...".


"Ahh.., begitukah". respon Emu singkat, karena ia sendiri tidak tau harus merespon seperti apa terhadap penjelasan Joan


Sementara Joan hanya menunduk dengan tampang wajah yang sulit diartikan, tapi tak ia bantah jika perasaan nya sedikit lebih baik setelah memberitaukan pada Emu soal apa yang sedang ia rasakan.


"Lebih baik kita kembali, Aron pasti masih ditempat tadi dan kita tak boleh membuatnya cemas". menepuk pundak tegap Joan, Emu mencoba memberi afeksi berupa semangat


"Baiklah, terimakasih sudah mau mendengar Emu". senyuman tulus tersungging dibibir Joan yang biasanya hanya dihiasi kepalsuan. Huh, siapa yang tau.


Mereka kembali menemui Aron, dugaan Emu tepat karena Aron masih menunggu mereka dengan tatapan tajam yang mengarah padanya.


Emu hanya tersenyum canggung ditatap seperti itu, mereka kembali berjalan dengan dihiasi keheningan setelahnya. Sampai Joan tiba ditujuan nya dan berpisah dengan Aron dan Emu.


Melihat kepergian Joan, Emu memberikan tatapan sendu yang tak luput dari penglihatan Aron.


"Kenapa kau merhatiin si ajoan sampai segitunya Emu?". ujar Arin dengan nada cemburu yang tidak ditutupi


Namun Emu hanya diam, dan hal itu membuat Aron semakin kesal. Menghentikan langkah nya Aron langsung menarik tangan Emu dan membawanya kedalam peluk kan hangat Aron.


Menenggelamkan wajah manis gadis itu dalam dadanya, Emu diam tidak berontak pasalnya ia merasa nyaman dengan pelukan Aron. Biarlah kali ini Aron mencoba memastikan perasaannya sebelum bertindak lebih jauh pada sosok Emu.


.


.


.


T...


B...


C...


iya iya tau.. udah jarang up.. sekali up malah ganje.. jadi mohon maap ye.. reader sekalian..


tapi puput tetep berharap masih ada yang nunggu kelanjutan cerita ganje ini.., stay save ya reader tercinta ku..


jangan lupa kripik pedasnya..


mohon maaf juga apabila menemukan typo..


Sincerely

__ADS_1


Puput..~ 💚


__ADS_2