
hae.. hae..
Puput bakalan usahakan up cerita ini sesering mungkin.. maaf ya kalo chapter kemaren ngecewain bat..
*Happy Reading...
/Love Dellivery/
Langit masih begitu gelap. Ditambah awan mendung yang kelabu menutupi langit dikota yang terkenal akan kesibukannya itu, tapi hal sebuah awan kelabu dan langit gelap tak menjadi penghalang bagi Emu untuk segera bersiap.
Hari ini ia harus berangkat lebih pagi, tak ada waktu untuk memikirkan hal lain selain pekerjaannya saat ini, ia akan sangat sibuk dan pekerjaannya tidak ada yang bisa ditunda.
"Baiklah.., kunci rumah sudah, daftar belanjaan sudah. Tinggal menghubungi Gerry untuk segera menjemput ku". ujar nya memastikan semua hal telah ia lakukan dengan baik
Hari ini adalah jadwal cafe ditutup namun, hal itu bukan berarti para pegawai cafe seperti Emu bisa menikmati liburan. Melainkan mereka akan lebih sibuk dari biasanya, mempersiapkan banyak hal untuk keesokan harinya untuk kembali membuka cafe.
Seperti saat ini Emu sedang mencoba menghubungi Gerry untuk menjemputnya pergi ke supermarket mall tempat Aron biasa membeli kebutuhan cafe.
Kenapa Emu menghubungi Gerry untuk menjemputnya dan bukannya Aron, itu karena Emu merasa tingkah Aron sangat aneh belakangan ini. Walaupun Emu menyukai tingkah Aron tapi rasa bingung, heran, dan takut tentu saja masih mendominasi hatinya.
Lagipula untuk urusan keuangan cafe Aron menyerahkan nya kepada Gerry, secara otomatis Gerry adalah bendahara cafe.
Tadi malam Emu menyampaikan pada Kevin untuk menghubungi Gerry agar menjemputnya, namun karena pagi ini Gerry tidak kelihatan batang hidung nya hal itulah yang membuat Emu menghubungi Gerry langsung.
"Jika tau begini, aku lebih baik pergi sendiri". keluh Emu
Beberapa menit kemudian...
"Maaf lama, aku ada urusan tadi". ujar sebuah suara, itu suara Gerry
"Ya ampun Ger.., kenapa bisa lama kali?. Kalo ga bisa bilang aja, capek tau nunggu".
"Iya maaf.., lalu bagaimana kita akan langsung pergi atau menunggu Kevin dan Yana?". tanya Gerry mengalihkan pembicaraan
"Kita langsung berangkat, soalnya Yana akan sedikit terlambat dan untuk Kevin, kami mengatur untuk bertemu langsung di supermarket mall". jelas Emu
Mereka berdua berangkat dengan menggunakan mobil milik Aron selaku pemilik cafe. Mobil dengan kapasitas bagasi yang besar agar dapat membawa barang belanjaan dengan mudah.
Tentu saja sebagai bos yang baik, Aron mempercayakan mobil nya itu pada Gerry. Dan sebagai orang yang dipercaya Aron, Gerry tidak menyianyiakan kesempatan itu.
"Baiklah kita berangkat". ujar Gerry
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, dan membawa mereka ke wilayah gedung gedung tinggi dimana terdapat beberapa toko toko yang terlihat menarik.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di supermarket mall yang Gerry maksud, setelah memarkirkan mobil di basement. Emu menghubungi Kevin untuk memberitahukan posisi mereka berada.
Tak lama Kevin menghampiri, dan mereka langsung masuk kedalam supermarket mall.
"Oke.., ini daftar belanjaannya. Kevin urus bahan dessert dan cake, Gerry urus biji kopi. Dan aku akan mengurus sayuran, setelah selesai kita bertemu di kasir, bagaimana?". jelas Emu membagi pekerjaan mereka agar tidak terlalu berat
"Oke, lalu bagaimana dengan Yana?". tanya Gerry
"Karena Bahan untuk dessert dan cake yang paling banyak akan dibeli, Yana bakal bantuin Kevin, kita belikan sekalian buat keperluan persiapan di Buana Dream Hotel nanti". ujar Emu memandang Kevin yang menatapnya intens
"Gimana Kevin?, gapapa kan?". ulang Emu
Perkataan Emu menyadarkan lamunan Kevin, tersadar Kevin hanya menganggu kecil sebagai respon.
"Baiklah mari berpencar, oh ya sebelum itu. Kevin jangan lupa hubungi Yana, oke dah.., sampai ketemu dikasir".
Emu langsung mengambil troli belanjaan dan melangkah kan kaki nya menuju bagian sayur dan buah buahan.
Tidak menyadari sepasang manik yang menatapnya dengan pandangan sulit diartikan.
Setibanya Emu dibagian sayuran dan buah, ia langsung bergerak memilih milih sayur dan buah yang akan ia beli. Kuliatasnya harus bagus, warnanya cerah dan terlihat segar.
Kegiatan berbelanja seperti ini membuat Emu teringat akan ibunya, dulu ia dan ibunya sering berbelanja bersama dipasar tradisional, pergi dari satu pedagang ke pedangang lain untuk mendapatkan bahan yang mereka perlukan. Bagian favorite Emu adalah saat menawar harga.
Ibunya sangat jago dalam hal tawar menawar, ia sempat kagum dan berencana akan mencoba trik trik yang ibunya gunakan.
Emu berharap dapat mengulang masa masa seperti itu lagi, mungkin jika ia tak terlalu repot ia akan menjenguk ibunya dirumah sakit.
Selesai mendapatkan apa yang Emu perlukan, Emu langsung menuju bagian kasir, namun diperjalanan matanya membelelak lebar, persis didepan nya, ia melihat sepasang kekasih sedang bersenda gurau.
__ADS_1
Pandangan matanya terfokus pada sosok pemuda yang sedang menggenggam erat jemari si gadis. Mereka tertawa bersama dengan bahagianya.
Pemuda itu bernama Christ, tunang- ahh.. ralat mantan tunangan Emu, pria yang meninggalkan Emu dimasa sulitnya hanya karena tak ingin merasakan kehidupan susah.
Dulu, Emu adalah gadis yang berkecukupan, ia hidup dengan warisan yang ayahnya tinggalkan. Namun harta itu tak pernah ia pakai demi kelangsungan hidupnya dimasa depan bersama sang ibu.
Emu lebih memilih bekerja setelah menamatkan kuliah nya, saat itulah ia mengenal sosok Christ.
Pemuda dengan paras biasa namun sikapnya yang selalu ada dan bisa membuat Emu nyaman, membuat hati Emu luluh. Dan menerima pernyataan cinta pemuda itu.
Mereka pun melanjutkan ke jenjang yang lebih serius melalui ikatan pertunangan. Pada saat itu Emu begitu bahagia, ia tak pernah membayangkan jika sosok Christ akan seserius ini dengannya.
Mereka juga telah sepakat untuk membagi dua biaya pernikahan nantinya, namun tentu saja Emu lebih banyak berperan dalam hal ini.
Lalu masalah itu datang, tepat sehari sebelum pernikahan mereka. Christ tiba tiba menghilang, membuat ibu Emu mengalami serangan jantung dan dilarikan ke rumah sakit.
Heyy..!!, ibu mana yang tidak sedih dan sakit, saat mengetahui jika calon menantunya menghilang. Dan mempermalukan anak gadisnya yang paling ia sayangi.
Sampai sekarang ibunya juga masih terbaring lemah tak berdaya dirumah sakit. Harta warisan simpanan itu pun Emu gunakan untuk biaya pengobatan sang ibu.
Seminggu setelahnya Christ datang bersama Windy, sahabat Emu sewaktu sekolah menengah atas. Mereka mengatakan akan melangsungkan pernikahan dikarenakan Windy tengah mengandung anak dari Christ.
Saat itu Emu merasa marah sekali dan sangat putus asa, namun ia tak bisa berbuat apa apa. Anak itu tidak bersalah, ia berhak untuk hidup dan mendapat kasih sayang dari ke dua orang tuanya secara lengkap.
Maka ia melepaskan Christ, meskipun ia rela. Tapi tetap saja penghianatan yang Christ lakukan sangat menyakitkan bagi Emu.
Cukup lama ia melamun, hingga tak menyadari jika Christ dan Windy juga tak sengaja melihatnya, mereka juga tak kalah terkejut. Mata mereka membola dengan tidak elitnya saat melihat Emu.
Awalnya Windy ingin pergi dari tempat itu dan mengabaikan sosok Emu. Tapi Christ menarik tangan nya dengan mata yang masih menatap intens Emu, mau tidak mau mereka memutuskan untuk menghampiri Emu yang sedang melamun dan menatap mereka tanpa berkedip.
"Hai..". sapa Christ dengan nada canggung saat tiba didepan Emu
"Iya". balasan bernada datar nan dingin itu mereka terima dari Emu
Memang apa yang ingin mereka harapkan, sapaan penuh nada ceria dengan aura hangat. Setelah apa yang mereka lakukan pada Emu.
"Bagaimana kabar mu..?, Sendirian saja?". tanya Christ basa basi
"Yentu saja kabarnya baik, dan ia bersama ku". bukan Emu yang menjawab melainkan seorang pemuda bersuara bass dalam, yang langsung melingkarkan tangan nya dipinggang ramping Emu
Christ yang melihat tangan pemuda itu berada dipinggang Emu merasa kesal, Tapi berhasil ia tutupi dengan senyum palsunya.
"Ahh.., siapa kau?, dan apa hubungan mu dengan Emu?". tanya Christ meremehkan
"Tidak penting siapa aku dan apa hubungan ku dengannya". jawab pemuda itu dengan nada menyebalkan yang mengintimidasi
Emu yang mendengarnya sontak saja menegang, pemuda itu merasakan ketegangan Emu dan meremas pinggang Emu. Meminta izin agar membiarkan ia menghandle semuanya.
Aura permusuhan dan kebencian langsung menguar dengan kuat saat Christ dan pemuda itu bertatapan.
Windy yang mulai merasa tidak nyaman menarik lengan baju Christ, meminta perhatiannya dan mengkode agar mereka segera pergi.
Tapi Christ tidak peka dan malah menyentak tangan Windy, membuat Windy terkejut.
"Sebentar sayang, aku punya urusan dengan laki laki ini". ujar Christ tanpa melihat Windy
"Ta.. tap.. tapi Chist-".
"Jika kau ingin pulang, segera lah ke basment dan tunggu aku hingga urusan ku selesai". suara Christ memotong perkataan Windy dengan dingin
Tapi Windy tak bergerak seinchi pun, ia memutuskan tetap tinggal dan menemani Christ.
"Memangnya ada perlu apa lagi kau dengan gadis ku?". tanya pemuda itu dengan menekan kan pada kata 'gadis ku'
"Aku hanya menyapa Emu, apa salah jika aku menyapa teman ku?".
"Salah..!, jelas saja salah karena aku tak mengijinkan hal itu". skak, Christ semakin penasaran. Hubungan apa yang pemuda itu miliki dengan Emu
"Lebih baik kita pergi dari sini". lanjut pemuda itu menarik lembut tangan Emu, berjalan meninggalkan Christ dan Windy ke arah kasir
Christ yang melihat hal itu sontak semakin merasa panas, ia sangat tidak menyukai pemuda itu.
"Christ..., le.. lebih baik ki..kita segera pu.. pulang sayang..". ujar Windy gugup namun yang sebenarnya ia merasa kesal dengan tingkah Christ
__ADS_1
Untuk apa Christ merasa marah pada Emu dan pemuda itu, bukan kah mereka sudah tak memiliki hubungan apa apa lagi.
"Ck.. kita pulang". melangkah kan kakinya lebih dulu, meninggalkan Windy yang terpaku melihat sikap Christ yang tiba tiba berbeda
Sementara itu Emu yang tengah diseret oleh pemuda itu hanya diam saja, sampai mereka tiba di wilayah kasir. Lalu pemuda itu meninggalkan sosok Emu sendirian.
Gerry, Kevin, dan Yana melihat jika Emu elah berada di kasir langsung menemui Emu. Yana menepuk pelan pipi Emu yang sedang melamun,
Emu yang tersadar langsung mencoba fokus.
"Sudah selesai?". tanya Yana dengan raut wajah khawatir
"Iya sudah, Gerry bisa membayar semuanya sekarang". ujar Emu sambil tersenyum manis
"Baiklah jika sudah lengkap, aku akan segera membayarnya. Yana, Emu, dan kau Kevin tunggu dibagian depan. Kita akan membawa barang belanjaan langsung ke mobil, oh ya Kevin ini kunci mobil, ambil di basment". perintah Gerry yang langsung mereka lakukan
Yana dan Emu berpisah dengan Kevin yang menuju basment, diperjalanan ke pintu keluar. Yana menghentikan langkahnya dan memandang Emu.
"Dia kembali dan membuka luka lama, namun benag merah itu berkata lain". ujar Yana ambigu secara tiba tiba
Yana yang mendengarnya hanya kebingungan, "Ada apa Yana..?, kau sakit?".
"Ah.. tidak aku hanya asal bicara, lupakan saja.., lupakan saja..". mengibaskan tangan nya Yana tertawa kecil
"Lebih baik kita segera ke depan, mungkin Kevin sudah menunggu". lanjut Yana mengalihkan pembicaraan
Setelah melihat keberadaan Kevin dan Gerry, Emu dan Yana membantu untuk meletakan barang belanjaan kedalam bagasi mobil dan langsung menuju cafe. Meninggalkan du- ahh.. tiga pasang mata dengan tatapan yang berbeda beda.
Sesampainya dicafe, Kevin langsung membuka pintu depan cafe. Yana, Emu, dan Gerry langsung mengambil barang belanjaan dan menuju dapur untuk segera menyusun barang belanjaan itu.
Tiba tiba Gerry mendapat telfon dari Aron. Ia keluar dari dapur dan langsung menjawab telfon dari Aron, ia ingin membicarakan sesuatu juga dengan Aron.
"Halo". sapanya
".....".
"Sudah, semua bahan keperluan cafe dan untuk persiapan hotel juga sudah ada".
".....".
"Apa hiasan untuk dekorasi hotel aman?".
".....".
"Oh ya Aron, 'dia' kembali".
".....".
"Ahh..., baiklah. Kalau begitu nanti kabari kami dimana posisi mu agar memudahkan kami membantu mu nanti"
".....".
"Bye". sambungan telfon teputus
.
.
.
T...
B...
C...
iya iya tau.. udah jarang up.. sekali up malah ganje.. jadi mohon maap ye.. reader sekalian..
tapi puput tetep berharap masih ada yang nunggu kelanjutan cerita ganje ini.., stay save ya reader tercinta ku..
jangan lupa kripik pedasnya..
mohon maaf juga apabila menemukan typo..
__ADS_1
Sincerely
Puput..~ 💚