Love From Groups Chatting

Love From Groups Chatting
Chapter 01 : Perempuan dari Group Chatting.


__ADS_3

Kenapa kebahagiaanku selalu pergi dengan cepat.., kenapa? Kenapa juga temanku, yang menjadi sahabatku mengkhianati aku.


Oh.., aku tahu. Apakah ini yang disebut sebagai kepalsuan. Apakah dunia ini juga palsu. Memikirkan itu membuat aku ragu kepada diriku sendiri, aku ini apa?


Aku masih belum menemukannya.


Atau.., semua cerita tentang pertemanan, persahabatan, cinta keluarga, dan pasangan sehidup semati, apakah itu juga palsu? Apakah semua itu tidak ada? Kemungkinan besar, itu semua hanya omong kosong. Tapi bila benar adanya, aku sangat meragukannya.


Namaku Gin Mitsuki. Aku hidup di negara Jepang, Tepatnya di kota Nara. Ayahku bukanlah warga asli dari Jepang. Ayahku, beliau adalah warga dari Indonesia, sedangkan ibuku warga asli Jepang. Aku mendengar cerita dari mereka ketika aku masih kecil, soal bagaimana mereka bisa bertemu dan menikah.


Namun, kehangatan keluarga itu tidak bertahan lama. Mereka bercerai ketika aku umur 9 tahun. Ayahku membawa pergi adikku kembali ke Indonesia dan aku tinggal di sini bersama ibuku.


Tapi ibuku juga pergi meninggalkanku. Dia terlibat dalam suatu kecelakaan ketika aku baru masuk SMP. Dan sampai kini, aku hidup sebatang kara.


Aku mencari pekerjaan meski aku masih anak SMP. Aku terpikir untuk membuat sebuah novel di suatu aplikasi. Dan dari sana aku mendapatkan pundi-pundi uang. Beberapa Novel yang aku tulis itu menjadi novel terpopuler di aplikasi tersebut.


Aku berhasil bertahan hidup.


Cuaca di luar cukup dingin karena beberapa waktu lalu hujan deras menerjang kota Nara.


Aku memakai jaket untuk melapisi tubuhku dari dinginnya angin pagi hari ini.


Jam 6 pagi aku sudah mulai berangkat dari rumahku ke sekolah. Aku selalu datang paling awal. Itu sudah menjadi kebiasaan.


Kami siswa tahun pertama di SMA sudah mendapatkan pembagian kelas, tepat pada hasil test ujian masuk. Dan, akhirnya kelas A lah yang aku dapatkan.


Aku mendapat nilai yang cukup tinggi untuk bisa berada di kelas favorit ini. Aku hanya ingin lulus sekolah dan mendapatkan pekerjaan yang aku inginkan.


Aku tiba di sekolah dalam waktu 15 menit menggunakan bus. Aku selalu membawa sebuah laptop ke sekolah, tujuannya adalah agar aku bisa menulis saat jam istirahat.


Waktu yang luang seperti ini adalah waktu yang sangat cocok untukku menulis. Aku mencari ruang kelas A yang nanti akan menjadi ruang tempatku belajar nanti.


Aku menemukannya. Ruangan itu sangat rapi dan bersih. Ada AC terpasang di dalamnya. Aku menempati meja secara acak kemudian mengeluarkan laptop dari dalam tasku. Dan mulai mengetik ketika laptop selesai di nyalakan.


Dalam beberapa menit 200 kata lebih yang sudah aku ketik. Suasana ruangan ini sangat tenang. Aku menyukainya. Tapi ruangan yang paling aku suka adalah kamarku sendiri.


Aku teringat untuk memutar sebuah lagu. Aku mengeluarkan smartphone. Ada beberapa pesan dari group chat dan semuanya tidak ada yang terlalu penting.


[ Selamat pagi semuanya. ]


[ Pagi. ]


[ Pagi. ] Jawabku.


Aku tidak terlalu mempermasalahkan bila hanya berkata "Pagi." kepada orang asing di group chat ini.


Lagi pula, ini adalah group chat milikku sendiri.


Kemudian..,


[ Kakak author, tolong follback aku. Ada hal yang ingin aku bicarakan.., ]


Akun yang meminta aku untuk follback adalah aku yang bernama —Senzo❤️— Namanya yang sedikit aneh, menurutku. Kenapa dia meletakan icon love di ujung namanya.


[ Memangnya ada hal apa? ] Balasku.


[ Pokoknya ada hal yang ingin aku bicarakan. ]


[ Kak author, tolong follback aku juga ya. ]


[ Aku juga. tolong follback akun aku. ]


Beberapa orang dari group ku meminta hal yang sama. Tentu saja, aku tidak akan melakukannya. terlalu merepotkan bila banyak aku yang aku follback. Karena bila aku follback, mungkin para penggemarku akan terus mengirim pesan lewat *PC.


* Private Chat


Aku tidak akan membalas pesan mereka lagi karena itu akan terus berlanjut bila aku menanggapi mereka. Tapi aku akan mem-follback akun yang bernama —Senzo❤️— itu.


Tepat pada setelah aku mem-follback sebuah pesan muncul dari PC dan membuat smartphone ku membuat getaran karena sebuah notifikasi.


Aku menyetel pengaturan terlebih dahulu agar notifikasinya mati dan smartphone ku tidak bergetar, karna itu akan sangat mengganggu.


Dia memulai mengirim pesan dengan perkenalan diri. Tapi sungguh aku sama sekali tidak peduli.


[ Namaku Hana Tajima. Saat ini adalah hari pertamaku di sekolah SMA. Aku hanya ingin minta saran dari kak Author. ]


[ Gak mau. ] Jawabku.


[ Idih.., Kakak kan sudah janji akan membantu ku tadi. ]


Kapan aku berjanji? Seingatku aku tidak pernah berjanji kepada orang ini.


[ Omong kosong. Aku mana pernah berkata begitu. ]


[ Pernah tadi. ]


[ Tidak.] Aku menyangkalnya.


Karena pembicaraan ini percuma dan membuang waktuku, aku akan mengakhirinya sampai di sini. Aku masih mempunyai pekerjaan yang harus aku selesaikan.


[ Oke. Pembicaraan berakhir. Selamat tinggal. ]


Aku akan mengakhirinya hanya dengan sekali tekan. Tombol un-Follow. Tapi, aku menerima sebuah foto ketika aku benar-benar akan men un-Follow gadis ini.


Kemudian sebuah chat lagi.


[ Bagaimana kak Author? Aku cantik bukan. ]


Fakta bahwa gadis ini memanglah cantik. Dengan rambut hitam panjang dan wajah manisnya.


[ Itu Foto kamu? Jelek. ]

__ADS_1


[ Huh?! Kak Author jangan berdusta. Jelas-jelas aku ini cantik. Hehehe. ]


Tapi... Aku cukup terkejut dengan apa yang aku dapatkan. Semua yang di pakai oleh cewek ini sangat pantas untuknya. tapi, itu bukanlah hal yang cukup untuk mengejutkanku.


Hal yang cukup mengejutkan ku adalah..,


Ada sosokku di foto tersebut!


Benar-benar ada sosokku di foto tersebut. Mataku sendiri yang telah mengkonfirmasinya sendiri. Aku tidak akan salah.


Aku menoleh ke arah pintu masuk ruang kelas A dan benar saja, perempuan itu ada di sana sambil memegangi smartphonenya.


[ Itu.., siapa yang di belakang kamu? Apakah itu hantu? ] Tanyaku.


[ Siapa? Mana hantu? Kak jangan menakutiku. Ini masih pagi, mana mungkin ada hantu. ]


[ Coba lihat kembali foto yang kau kirim. ]


Setelah aku menunggu beberapa saat dia membalas.


[ KYAAAAAA! Benar. Ada orang lain di foto. Padahal aku datang paling awal ke sekolah ini. Aku sama sekali tidak melihat orang lain yang mendahuluiku. ]


[ Hantu! Kakak aku harus bagaimana. Apakah aku akan mati hari ini? ]


[ Iya. Mati saja lah. Aku gak peduli. Wkwk. ]


Aku berbalik sebentar dan melihat ke arah gadis itu. Aku melihat dia seperti agak kesal.


[ Ish... Kakak ini. ]


[ Oh ya, Kak. Aku akan menghampirinya. Mungkin dia bisa menjadi teman baikku. ]


Setelah menerima pesan itu aku langsung menutup laptopku dan membuka aplikasi game di smartphone. Dan tidak lama kemudian, ada tangan yang menggapai pundak ku. Aku berbalik ke arahnya dan melihat sosok dirinya.


Gadis ini sangat cantik. Rambut biru gelap panjangnya, matanya yang indah berwarna hitam, kulitnya putih, dan senyum manisnya benar-benar bisa membuat semua lelaki terpikat olehnya.


"Hii...,"


"Salam kenal, Namaku Hana Yorigami." Sambil menjulurkan tangannya, dia memperkenalkan dirinya.


Aku menjawab dan berjabat tangan dengannya. "Aku, Gin Mitsuki. Salam kenal."


"Umm."


Kemudian, dia duduk di atas meja di depan meja tempat dudukku.


"Hei... boleh aku panggil Gin? Kamu juga boleh memanggilku dengan nama Hana. Bagaimana?"



"Aku menolak." Sambil mengalihkan mataku ke arah lain. Tentu saja aku tidak ingin terlalu dekat dengan seseorang, apa lagi itu seorang wanita. Aku sudah pernah dikhianati.


"Eh? Kenapa."


"Baiklah. Kita memang baru bertemu jadi wajar saja kalau kamu merasa waspada dengan orang asing."


"Oh ya, Gin..,"


Aku merasa aneh dengan wanita ini. Dia baru saja bilang baiklah tapi, dia malah memanggilku dengan Gin? Yang benar saja.


"Kenapa kamu datang begitu awal? Padahal hari ini sekolah mulai pada jam 9-an."


"Sudah menjadi kebiasaan."


"Begitu ya... Rupanya kita mempunyai kesamaan. hehe." Hana tertawa kecil sambil menutupi mulutnya dengan tangan kanan.


"Benarkah?"


"Iya. Tadi pas aku masuk aku mengambil foto Selfie, dan gak sengaja kamu ikut terpotret. Aku cukup terkejut. Ku pikir ada hantu di kelas karena aku menganggap belum ada siswa lain yang datang ke sekolah."


"Hantu di kelas? Mana yang seperti itu."


Aku sama sekali tidak percaya dengan hal-hal mistis seperti itu selama aku belum pernah melihat dengan mata kepalaku sendiri.


Hana melihat bahwa aku sedang memegang smartphone dan dia tersenyum.


"Oh ya... Boleh ku minta nomor telepon kamu?"


"Tidak..,"


"Memangnya untuk apa?" Aku sangat curiga dengan seseorang yang meminta nomor telepon ku. Bisa jadi orang tersebut akan menggangguku di masa depan bila aku menyerahkannya begitu saja. atau... dia bisa saja menyebarkan nomor telepon ku kepada orang asing.


Aku akan selalu berhati-hati bila mengambil tindakan karena mungkin, tindakan ceroboh ku dapat merugikanku suatu saat nanti.


Aku tentu saja tidak akan menyerahkan nomor telepon kepada sembarangan orang walaupun, itu seorang wanita cantik seperti Hana Yorigami.


Dari ekspresi wajah yang pasang wanita cantik, Hana sepeti mengisyaratkan 'Dasar pelit. Padahal itu cuman nomor telepon saja.’ Sambil mengembungkan sedikit pipinya.


“Ngomong-ngomong Gin, kenapa kamu membawa laptop?” Hana merasa heran.


Ah, apa yang mesti harus aku katakan. Aku sama sekali tidak boleh membocorkan bahwa aku orang yang menulis novel yang paling populer sekarang-sekarang ini.


Tapi, mari kita pikirkan jalan keluarnya. Aku harus membuat alasan yang kuat agar bisa di percayai oleh orang ini.


“Aku tadinya ingin belajar menjadi penulis. Tapi aku malah sibuk main game ini.”


Di smartphone yang saat ini aku sedang mainkan. Aku membuka game favorit yang selalu aku mainkan di kala sedang stres dengan pekerjaan.


Aku beruntung. Aku memikirkan alasan yang bisa di terima dan cukup masuk di akal. Dari mata Hana perlihatkan, dia menjadi tertarik dengan game apa yang sedang aku mainkan.


“Aku main Legendary Hero Mobile.”

__ADS_1


“Oh... Begitu ya. Aku juga suka game itu. Mau main bersama?” Tanya Hana sambil tersenyum dan memainkan smartphone-nya.


“Ah, oke. Mana Id kamu,” Sambil menyodorkan tangannya kepadaku, sepeti sedang meminta.


Aku tahu bahwa dia bisa saja berbohong dan memanfaatkan kesempatan itu untuk mendapatkan nomor telepon ku tapi, aku sama sekali tidak bodoh. Aku tahu rencananya.


“Apa?” Tanyaku. Aku akan pura-pura tidak mengetahui apa rencana dari orang ini.


“Tolong pinjamkan handphone kamu sebentar. Agar aku bisa cepat masukan id game kamu.”


Memang benar bahwa, Id game Legendary Hero Mobile terlalu panjang, dan karena itu pihak developer membuat kode QR agar para user bisa mudah menemukan user lainnya.


Aku sudah melihat rencananya. Aku tidak akan terjebak ke dalam perangkap yang sudah terlihat jelas di depan mataku.


“Kenapa kamu butuh handphoneku?” Aku bertanya dengan nada datar dan begitu juga ekspresi ku yang sama datarnya.


“Ish.., kenapa kamu bertanya segala. Cepat pinjamkan saja kepadaku.” Pipi Hana sedikit memerah. Tangannya masih saja ada di depanku, meminta aku menyerahkan handphone ku kepadanya.


“Itu tidak perlu. Kamu siapkan saja Kode QR akun kamu. Aku yang akan meng-scan.” Jawabku.


“Ish.., keras kepala.” Gerutu Hana dengan suara yang pelan.


Suasana sekolah ini masih sangat sepi dan karena itu, suara sangat pelan pun dapat terdengar di ruang kelas yang sunyi ini.


Pembicaraan kami tadi mungkin dapat terdengar jelas dari lorong, karena saking sunyinya sekolah ini pada jam pagi hari ini.


Aku masih bisa mendengar gerutu Hana meski volume suaranya sangat pelan. Tapi aku tidak akan mengurusi hal yang sangat sepele itu. Itu juga tidak penting buatku. Aku tidak peduli sama sekali.


Sambil memasang ekspresi wajah yang sedikit kesal Hana mau tidak mau menunjukkan kode QR nya kepadaku.


“Nih.., kode QR aku.”


“Oke.” Jawab aku dengan singkat.


Kemudian aku meng-scan kode QR yang Hana berikan. Dalam hitungan detik pemberitahuan muncul di layar smartphone milik Hana.


Hana langsung menyetujui permintaan pertemanan dari Gin tanpa banyak membuang waktu.


“Mau langsung main?”


“Boleh.” Jawabku.


Satu game sudah terlewati dengan hasil yang sangat bagus. Team kami menang telak dari musuh juga, skor bunuh kami sangat banyak di bandingkan dengan skor mati.


“Kerja bagus, Gin. Mau satu pertandingan lagi?” Hana tersenyum puas.


Hasil yang sebenarnya adalah Gin yang membuat team itu menang dalam pertandingan ini.


“Tidak mau. Cara bermainmu buruk sekali.”


Ini kenyataan. Cara bermain Hana sangat buruk sekali. Andai kata bila tidak ada Gin di dalam team itu pastinya, team itu akan mengalami kekalahan.


“Ugh.., Padahal aku sudah memberikan permainan terbaikku.”


“Memang benar kamu bermain sangat bagus tapi, tolong hargai aku juga.” Keluh kesah Hana. Dia merasa sedikit kesal saat dia menerima kenyataan bahwa permainannya tidak sebagus Gin.


“Baiklah. Kerja bagus.” Aku memujinya.


Seketika raut wajahnya langsung berubah menjadi senang.


“Benarkah?”


“Tidak juga. Permainanmu jelas-jelas sangat buruk.” Jawabku dengan datar.


Ini membuat suasana hati Hana melayang dan langsung jatuh dengan sangat keras. Ini cukup kejam.


“Kau cukup kejam juga.” Kata Hana dengan nada agak sedikit sinis.


“Terimakasih.”


“Itu bukan pujian! Humph.” Marah. Hana menyilangkan tangannya dan membuang pandangan ke arah lain.


Kemudian, Hana turun dari atas meja dan pergi ke arah jendela. Terlihat dari sana bahwa ada beberapa siswa yang sudah tiba di sekolah. Hana melihat mereka ada yang berpakaian rapi dan juga ada yang berpakaian seenaknya saja.


Hana membuka jendela dan angin sejuk langsung masuk memenuh ruang. Rambut biru gelapnya, baju dan roknya berkibar terayun oleh sapuan angin. Dia berbalik dan menatap ke arah Gin.


Pemandangan yang ada di depanku ini cukup menyejukkan mata para lelaki. Dia terlihat sangat cantik.


“Oh ya, Gin. Di mana kamu tinggal.” Dia bertanya kepadaku.


Aku menatap Hana Yorigami dalam beberapa saat lalu, berkata ”Kenapa?” dengan ekspresi dan gaya bicara yang datar.


“Yah.., a-aku hanya ingin tahu di mana rumahmu dan kapan-kapan, aku mungkin akan berkunjung.” Hana mengatakannya dengan sedikit malu. Pipinya memerah dan tangannya sibuk memainkan rambutnya.


Aku paham. Wanita ini pastilah akan terus menggangguku lebih jauh lagi bila aku katakan semuanya.


“Aku tidak akan memberitahu mu.” Aku langsung membuang wajahku ke arah lain.


“Ish.., pelit. Kau sedang mencoba menjadi misterius di depan aku ya.” matanya menyipit dan menatap tajam ke arahku.


Aku berbalik dan melihat ke arah pintu ruang masuk kelas yang ada di belakangku. Ini adalah pertama kalinya aku berharap ada orang lain. Yang aku harapkan adalah orang itu bisa menjadi pengalih agar aku bisa menjauh dari wanita itu, Hana Yorigami.


Aku berharap dengan sungguh-sungguh karena, ini pasti akan mempengaruhi hasil ke depannya. Aku sama sekali tidak ingin sampai dekat dengan seseorang. Aku pernah di khianati di masa lalu.


“Kenapa kau melihat ke sana aku yang sedang berbicara denganmu, ada di sini.” Gerutu Hana. Dia benar-benar kesal dengan tingkah laku Gin yang acuh tak acuh. Dia pun berbalik dan kembali melihat ke luar jendela.


Aku kembali lagi melihat ke arah Hana, dia masih di dekat jendela menyaksikan para siswa lainnya datang ke sekolah.


Ada perlahan aku mendengar suara langkah kaki dari lorong sekolah. Suara itu perlahan mulai mengeras dan semakin jelas.


Suara langkah kaki itu semakin keras kemudian, berhenti di pintu masuk yang satu lagi, yang berada di depan.

__ADS_1


Clraaaks.., suara pintu di geser.


Mata dan perhatian kami tiba-tiba berfokus kepada orang yang baru saja membuka pintu.


__ADS_2