
*Kembali sebelum Hana dan Gin di pertemukan di sekolah.
“Mami, berisik!” Teriak dari seseorang yang masih bergelut dengan selimutnya di atas kasur. Seakan dia tidak akan bangun meski dunia akan kiamat, dia memilih untuk tetap tidur di kasur.
Namun, apakah ibu dari orang yang sedang bersembunyi di dalam itu akan tetap diam saja melihat putrinya yang dia anggap paling cantik di antara semua anak di muka bumi ini? Tidak, dia tidak akan membiarkan anak kesayangannya bermalas-malasan di tempat tidur dan telat datang ke sekolah karena kesiangan.
Dok! Dok! Dok! Gubrakkk! Terdengar suara 3 kali pukulan dan sekali tendangan dari arah pintu. Jelas-jelas bahwa sang ibu sekarang sangat jengkel dengan tingkah laku anak kesayangannya yang tidak bisa di atur.
“Sayang, ayo cepat bangun!!!” teriak sang ibu.
“lima menit lagi, mami!!!” Karena dia juga sudah tidak tahan lagi dengan teriakan dari sang ibu. Mustahil bagi untuk bisa melanjutkan mimpi indahnya yang baru saja terputus karena gangguan dari sang ibu.
Dia hanya bisa mengulur waktu sampai dia benar-benar siap untuk bangun.
“Omong kosong! Kemarin juga kamu berkata seperti itu dan apa hasilnya? Ayo cepat bangun!!!” Ketetapan hatinya untuk bisa mengatur anak kesayangannya benar-benar sangat kuat.
“Tunggu, mami. Kemarin aku sama sekali tidak mengatakan apa pun!” sang anak itu mengingatkan sang ibu.
“Benar, kamu kemarin tidak mengatakan itu. Tapi, bodo amat! Mami tidak peduli, yang penting sekarang kamu harus bangun! Ini adalah hari pertama sekolah kamu di SMA.”
“Cepat bangun!!!”
Seakan tidak bisa lagi bernegosiasi perempuan yang masuk berselimut di tempat tidur itu akhirnya menyerah karena di kalahkan oleh tekad sang ibu. Dia pun pergi keluar dari kamarnya.
Di luar kamar, sang ibu pun segera pergi dari tempat itu setelah melihat putri kesayangannya keluar. “Cepat mandi. Mami sudah menyiapkan bak mandinya.”
“Iya, mii..” Jujur, dia masih mengantuk.
Setelah mandi, perempuan itu pergi berganti dengan seragam sekolah yang barunya. Kamar perempuan itu masih berantakan. Setelah memakai pakaian seragam dia pun pergi ke ruang makan.
Di ruang makan itu sudah ada ayah dan ibunya. Mereka sedang menunggu anak mereka untuk sarapan bersama.
“Selamat pagi, Papi, Mami. “ Dengan senyum cerah yang manis anak perempuan itu menyapa mereka.
Sang ayah merasa bangga dalam dirinya karena memiliki anak perempuan yang sangat cantik dan juga pintar. Dia merasa menjadi ayah yang paling beruntung di muka bumi ini, itu bisa terlihat karena senyum di wajahnya.
“Selamat pagi anakku.” Ucap sang ayah dan sang ibu.
Anak perempuan itu pun duduk di kursi di sebelah sang ayah dan sang ibu duduk di sebelah kanannya. Ada banyak jenis makanan yang di sajikan sang ibu, mereka tampak sangat lezat dan menggugah selera.
“Hana makan yang banyak, ya.” Ucap sang ayah.
Putri kesayangan mereka, Yorigami Hana, merasa bahagia karena memiliki keluarga yang begitu hangat ini.
“Aku tidak akan makan banyak, Papi. Tapi aku hanya akan makan secukupnya saja karena aku tidak mau menjadi gendut. Aku gak akan terlihat cantik lagi klo aku gendut. Hehe.” Ucap Hana.
“Iya. Pokoknya kalian cepat makan nanti kalian kesiangan.” Kata ibunya Hana.
“Sayang, ini masih sangat pagi. Biarkan aku pergi agak siang kali ini.”
“Iya, mami. Apa yang dikatakan papi itu benar. Biarkan kami berangkat agak siang toh tempat tujuan kami juga tidak terlalu jauh.”
“Tidak!” Tolak sang ibu. Hanya dengan satu kata itu juga si ayah dan Hana langsung terdiam.
“Ah, oke.” Kata si ayah dan Hana.
“Cepatlah makan dan segera berangkat.” Perintah sang ibu. Di rumah ini beliaulah yang memegang sebagian kendali.
“...” Mereka bertiga tidak lagi ada yang berbicara. Mereka mengambil sumpit di tangannya kemudian mengucapkan. “Ittadakimasu.” Yang artinya selamat makan.
__ADS_1
******
Aku akhirnya bisa terhubung.
Aku meminta kak Kenny, seorang penulis dari novel yang aku sukai untuk mengikuti aku agar kami bisa menjadi teman chat. Kemudian, aku mengiriminya pesan dan aku juga meminta saran untuk penampilanku tapi, aku sama sekali tidak mendapat saran atau apa pun.
Kak Kenny tidak memberiku saran karena pada saat aku mengirim foto dia mengira ada hantu di dalam kelasku. Awalnya tidak menyadarinya sampai kak Kenny memberitahuku melalui pesan.
Aku takut. Aku takut terhadap hal-hal yang berbau mistis meski aku sendiri tidak pernah melihatnya dengan mata sendiri tapi aku melihat di film-film horor dan jujur, aku cukup sangat takut hanya dengan melihat film itu.
Namun, semua imajinasi dan ketakutanku itu tidak nyata. Hal yang aku anggap horor barusan tidaklah terjadi. Faktanya, sosok yang tertangkap di gambarku adalah seorang lelaki, seseorang yang akan menjadi teman sekelasku.
Aku menghampirinya. Aku lihat orang itu adalah orang yang cukup menarik bagiku. Lelaki itu sekarang terlihat dingin, pendiam dan tipikal orang yang mempunyai sedikit teman karena dia tergolong ke dalam orang yang anti sosial. Itulah pandanganku untuk sekilas.
"Hii...,"
"Salam kenal, Namaku Hana Yorigami." Sambil menjulurkan tangan, aku memperkenalkan dirinya.
Dia menjawab dan berjabat tangan denganku. "Aku, Gin Mitsuki. Salam kenal."
"Umm."
Kemudian, aku duduk di atas meja di depan meja tempat duduknya.
"Hei... boleh aku panggil Gin? Kamu juga boleh memanggilku dengan nama Hana. Bagaimana?" Kata aku.
"Aku menolak." Gin menolak sambil mengalihkan matanya ke arah lain.
"Eh? Kenapa."
"Aku hanya tidak mau." Jawab Gin dengan nada datar.
Aku pikir Gin di sini berbohong, tapi aku juga tidak akan bisa memaksanya untuk membuat dia memanggilku seperti yang aku mau. Namun aku akan tetap memanggilnya Gin.
"Oh ya, Gin..," kataku.
Aku melihat reaksi dari Gin dan aku kira Gin pasti akan berpikir seperti ini. 'Yang benar saja. Padahal dia barusan menyetujui pendapatnya sendiri untuk tidak memanggilku dengan nama depanku. Perempuan yang aneh.’ Yah, kira-kira seperti itulah.
"Kenapa kamu datang begitu awal? Padahal hari ini sekolah mulai pada jam 9-an." Tanya aku.
"Sudah menjadi kebiasaan."
"Begitu ya... Rupanya kita mempunyai kesamaan. hehe." Hana tertawa kecil sambil menutupi mulutnya dengan tangan kanan.
"Benarkah?"
Tentu saja itu tidak sepenuhnya bohong. Memang aku sedikit susah kalau harus bangun terlalu pagi akan tetapi karena ibuku sangat berisik pagi ini jadinya aku datang lebih awal.
"Iya. Tadi pas aku masuk aku mengambil foto Selfie, dan gak sengaja kamu ikut terpotret. Aku cukup terkejut. Ku pikir ada hantu di kelas karena aku menganggap belum ada siswa lain yang datang ke sekolah." Kata aku.
"Hantu di kelas? Mana yang seperti itu."
Aku sama sekali tidak percaya dengan hal-hal mistis seperti itu selama aku belum pernah melihat dengan mata kepalaku sendiri. Tapi, ngomong-ngomong, jangan bicara tentang hantu. Aku takut.
Aku melihat Gin sedang memegang smartphone dan kemudian aku tersenyum.
"Oh ya... Boleh ku minta nomor telepon kamu?" Tanya aku.
"Tidak..,"
__ADS_1
Dih pelit. Kenapa coba harus pelit, padahal orang yang meminta nomor teleponmu adalah seorang wanita cantik, aku.
"Memangnya untuk apa?" Gin sedikit menyipitkan matanya dan menatapku.
Yah.., kalau ditanya untuk apa. Maka aku akan menjawab dengan sebuah kebohongan, karena bila aku beritahu niat aku yang sebenarnya mungkin saja Gin tidak akan memberikan nomor teleponnya kepadaku.
Aku lihat Gin adalah orang yang sangat berhati-hati.
Aku tentu saja tidak akan menyerahkan nomor telepon kepada sembarangan orang walaupun, itu seorang wanita cantik seperti Hana Yorigami.
'Dasar pelit. Padahal itu cuman nomor telepon saja.’ Kata aku dalam hati sambil mengembungkan sedikit pipinya.
“Ngomong-ngomong Gin, kenapa kamu membawa laptop?” Aku sedikit heran dan bertanya kepadanya.
“Aku tadinya ingin belajar menjadi penulis. Tapi aku malah sibuk main game ini.” Jawab Gin.
Oh, begitu. Tunggu, dia ingin belajar menulis novel?
“Aku main Legendary Hero Mobile.” Sambung Gin.
Rupanya dia memainkan game yang sama dengan aku. Yah, aku kira kebanyakan orang juga akan memainkan game ini karena memang game ini sangat seru.
“Oh... Begitu ya. Aku juga suka game itu. Mau main bersama?” Aku bertanya.
“Ah, oke. Mana Id kamu,” Sambil menyodorkan tangan kepada Gin, aku meminta dia untuk menyerahkan smartphone nya kepadaku sebentar.
Hehe.. ini bisa jadi kesempatan aku agar dapat melihat nomor teleponnya.
“Apa?” Tanya Gin. Dia pura-pura tidak mengetahui apa rencana dari orang ini.
“Tolong pinjamkan smartphone mu kamu sebentar. Agar aku bisa cepat masukan id game kamu.”
Memang benar bahwa, Id game Legendary Hero Mobile terlalu panjang, dan karena itu pihak developer membuat kode QR agar para user bisa mudah menemukan user lainnya.
“Kenapa kamu butuh handphoneku?”Gin bertanya dengan nada datar dan begitu juga ekspresinya yang sama datarnya.
Ish.. apa dia benar-benar melihat rencanaku? Dia sepertinya pintar juga
“Ish.., kenapa kamu bertanya segala. Cepat pinjamkan saja kepadaku.” Pipi ku sedikit memerah.
“Itu tidak perlu. Kamu siapkan saja Kode QR akun kamu. Aku yang akan meng-scan.” Jawab Gin.
“Ish.., keras kepala.” Gerutu aku dengan suara yang pelan.
Suasana sekolah ini masih sangat sepi dan karena itu, suara sangat pelan pun dapat terdengar di ruang kelas yang sunyi ini.
Pembicaraan kami tadi mungkin dapat terdengar jelas dari lorong, karena saking sunyinya sekolah ini pada jam pagi hari ini.
Mungkin suara ku barusan juga terdengar oleh Gin. Tapi, yah, bodo amat aku sudah kesal dengan dia.
Sambil memasang ekspresi wajah yang sedikit kesal aku mau tidak mau menunjukkan kode QR nya kepada Gin.
“Nih.., kode QR aku.”
“Oke.” Jawab Gin dengan singkat.
Kemudian, dia meng-scan kode QR yang aku berikan dan dalam hitungan detik pemberitahuan muncul di layar smartphone milik aku. Pemberitahuan pertemanan.
Kami pun memainkan game itu dan memenangkan pertandingan. Kami memang menang tapi entah kenapa aku merasa kesal. Aku hanya menjadi beban saja di pertandingan itu.
__ADS_1
Dan tiba-tiba, ada teman masa kecilnya Gin yang datang ke dalam kelas kami. Mereka langsung ribut waktu mereka bertemu dan aku menghentikan mereka dengan berteriak bahwa aku akan melaporkan mereka bila mereka melanjutkannya lagi.
Teman masa kecil Gin dan yang sekarang menjadi musuhnya adalah Takahashi Eiji.