
Di lorong sekolah menuju ke arah kelasku.
Sambil membawa minuman yang kami beli dari mesin penjualan otomatis di lantai bawah, kami membawanya ke dalam kelas kami dan duduk kembali di kursinya masing-masing.
Mungkin, saat ini kami bisa di panggil berteman walaupun kami baru saja saling mengenal. Tapi, aku juga tidak ingin terlalu dekat lagi dengan seseorang karena, aku pernah mengalami hal buruk dari apa yang di sebut teman.
Aku menggantungkan tasku di pinggir meja belajar. Di sana biasanya menjadi tempat tas di gantung agar mempermudah proses pembelajaran siswa.
Aku mengambil salah satu smartphone, aku memilih smartphone yang berikan sekolah kepadaku karena aku ingin lebih mengetahui lebih dalam berbagai peraturan-peraturan baru dari sekolah ini.
Tapi tepat pada saat aku membaca beberapa peraturan, seseorang membuat pengumuman di depan ruang kelas. Orang itu berbicara dengan bahasa yang sopan dan terdengar tegas.
Dia adalah Hazo Yujin, orang paling bersinar di kelas.
“Mohon perhatian semuanya.., aku mempunyai hal yang harus kita diskusikan.”
Semua pandangan terfokus kepadanya. Aku tidak tahu apakah masih ada orang yang masih di luar atau mereka sudah hadir di kelas. Tapi, aku juga tidak akan peduli dengan hasil apa pun yang akan keluar. Aku hanya akan menjadi air yang akan mengikuti arus.
Saat semua perhatian di dapatkannya, Yujin akan melanjutkan apa yang seharusnya di diskusikan.
“Terimakasih banyak, semuanya. Aku ingin membicarakan suatu hal yang penting karena ini akan berdampak untuk ke depannya.” Dengan postur tegak Hazo Yujin berbicara. Wajahnya terlihat serius.
“Kelas ini membutuhkan seseorang untuk menjadi ketua kelas.”
Semuanya mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Yujin akan tetapi apakah ada calon yang cocok untuk menjadi ketua kelas selain dia? Mungkin orang yang paling berpengaruh ke dua saat ini adalah Hana akan tetapi, Hana sama sekali tidak cocok untuk memegang kendali kelas.
“Yujin, kenapa tidak kamu saja yang menjadi ketua kelas kami?” Seorang pria yang tampak energik menyuarakan pendapatnya. Dalam sekelas, 40 orang siswa, dan sebagian besarnya juga menyuarakan untuk Yujin memegang kendali itu.
Astaga, berisik sekali. Aku menyesal kembali ke kelasku.
Yah.., bukan hal yang buruk untuk Yujin menjadi ketua kelas karena dia mempunyai sifat untuk mementingkan kepentingan bersama.
__ADS_1
Tapi, entah kenapa raut muka Yujin sama sekali tidak memperlihatkan ekspresi yang bahagia akan tetapi, dia terlihat sedih meski itu terlihat sangat samar.
“Baiklah, sudah diputuskan. Aku, Hazo Yujin akan menjadi ketua kelas kalian untuk satu tahun ke depan jadi, mohon kerja samanya.” Kemudian, Yujin memberi hormat dengan sedikit membungkukkan badannya ke arah kami.
“Ngomong-ngomong, apakah ada yang bersedia untuk menjadi wakil?” Ucap Yujin dari depan kelas.
Suasana kelas pun menjadi berisik kembali hingga membuatku tidak tahan untuk tetap berada di dalam kelas. Aku langsung keluar dari kelas dan berdiam diri di balkon dekat tangga.
Bel pertanda jam pelajaran selanjutnya berbunyi setelah aku diam di luar selama 10 menit. Aku kembali ke dalam kelas dan pelajaran selanjutnya pun di mulai setelah guru masuk.
Semua kelas bubar pada jam 4 sore. Bagi orang yang masuk ke dalam klub mereka akan menetap dan pergi ke ruang klub mereka masing-masing.
Dan aku, tidak masuk ke dalam klub apa pun. Aku langsung pulang setelah bel akhir di bunyikan.
Aku biasa pergi dan pulang sekolah dengan naik bus. Aku melihat ada beberapa orang yang berseragam sekolahku yang menunggu bus yang sama dengan bus yang akan aku pilih.
Aku menunggu kurang lebih 5 menit sampai bus datang. Bus datang selalu tepat pada jadwalnya dan kami langsung naik satu per satu ke dalam bus tepat pada saat pintu bus di buka.
Aku duduk di bangku paling ujung. Itu bangku favoritku dan aku senang melihat ke luar jendela. Melihat pemandangan jalanan yang aku lewati.
Aku mendapatkan notifikasi dari aplikasi, memberitahukan bahwa aku mendapat beberapa pesan masuk dari akun Senzo atau Yorigami Hana, orang yang mempunyai akun itu.
[ Selamat sore, kakak author. ] Pesan sapaan dari Senzo atau Hana.
[ **Aku punya kabar bagus. Aku mendapatkan jabatan di kelas sebagai wakil ketua. ]
[ Hebat, kan**? ]
Aku tidak mengerti kenapa Hana menyombongkan jabatannya, memangnya juga apa bagusnya menjadi ketua atau wakil ketua kelas, yang ada hanyalah tugas lebih dan tanggung jawab yang lebih banyak dari pada siswa biasa.
Itu sangat bertentangan sekali dengan moto hidupku.
__ADS_1
[ Dan selanjutnya, tadi pagi, aku bertemu dengan dua cowok yang sepertinya bermusuhan. Namanya Mitsuki Gin dan yang satu lagi namanya, Takahashi Eiji. ]
[ Mitsuki Gin adalah orang yang pendiam dan dingin. Sedangkan, Takahashi Eiji, menurutku dia adalah orang bar-bar yang suka dengan kekerasan. Tapi, itu hanyalah penilaian ku dalam sekilas. Aku belum tahu orang seperti apa mereka sebenarnya. ]
‘Kau suka sekali meneliti kepribadian orang lain, ya.’ Ucap aku dalam hati.
[ Yang pasti, hari ini aku sangat senang sekali. Aku mendapatkan teman baru yang menyenangkan. ] Pesan terakhir dari Hana di sore itu.
Aku bertanya-tanya apakah aku harus mengucapkan sesuatu atau memberinya selamat namun, aku sama sekali tidak bisa mengetik ucapan yang sederhana itu karena hatiku tidak ingin.
[ Berbahagialah selagi bisa karena mungkin saja akan ada banyak masalah di masa depan. Lingkungan baru, masalah baru. Manusia itu adalah makhluk yang tidak akan lepas dari Maslah. ] Aku mengirimnya pesan yang agak aneh. Ini adalah pertama kalinya aku mengirim pesan yang seperti ini kepada seorang gadis.
Tapi apa yang aku tulis ada benarnya juga. Manusia itu.., tidak akan terlepas dari masalah. Karena adanya masalah manusia bisa berkembang sampai sekarang.
[ Kakak author, kamu sepeti orang yang sudah tua, ya. Ahaha. ] hanya dalam beberapa detik aku langsung mendapatkan balasan dari Hana. Tidak, itu sepertinya ejekan.
[ Tapi, terimakasih. Aku juga tahu bahwa akan ada banyak masalah yang akan aku hadapi di masa sekolah SMA ini. ] Kata Senzo.
[ Eh, ngomong-ngomong, kakak author ini masih kuliah? ] Tanya Senzo.
[ Ya. ] jawabku. tentu saja aku berbohong. aku masihlah anak sekolah SMA, sama sepeti mu.
[ Kakak author sedang apa sekarang? ] Senzo bertanya.
[ Lagi... ] Sebenarnya aku tidak tahu harus menulis apa yang sedang aku lakukan. Lagi pula kenapa dia penasaran dengan qpa yang sedang aku lakukan, bukannya sudah jelas? Aku sedang memainkan smartphone.
[ Jangan bilang kamu lagi pegang smartphone mu. ] Tebak Senzo.
Hebat. Apakah Senzo atau Hana ini adalah seorang anak indigo atau sesuatu?
[ Tepat sekali. ]
__ADS_1
Tidak terasa, pemberhentian berikutnya adalah giliranku. Jadi aku tidak akan membalas pesan masuk apa pun setelah ini. Aku mematikan smartphone ku dan memasukkannya ke dalam kantung celanaku.
Dan, aku turun setelah bus berhenti di pemberhentian berikutnya.