Love From Groups Chatting

Love From Groups Chatting
Chapter 07 : 700 poin dari kotak hadiah.


__ADS_3

Jam 17:00, aku sudah berada di dalam rumahku dan sedang mengetik naskahku dengan minuman hangat yang menemaniku. Aku harus memasak sendiri akan tetapi, semua bahan makanan di kulkasku sudah habis karena itu aku harus membelinya nanti.


Rumahku sangat besar untuk aku tempati sendiri dan aku sangat benci ketika aku harus membersihkannya seorang diri. Ya, aku hidup sebatang kara. Aku harus hidup dengan semua kemampuanku yang aku punya.


Naskahku selesai tepat pukul 18:00 dan aku langsung meng-upload ke aplikasi, hanya dalam beberapa menit aku sudah mendapatkan beberapa ratus komentar di part novel yang baru saja aku upload. Ini adalah ladang kerjaku untuk saat ini, dan penghasilannya juga lumayan untuk aku hidup seorang diri.


Aku menyiapkan air panas terlebih dahulu untuk nanti aku mandi dan berendam. Namun, aku harus mandi terlebih dahulu sebelum berendam di bak mandi. Suasana yang nyaman sangat terasa ketika aku masuk ke dalam bak, semua rasa letihku hilang, tubuhku hangat, dan pikiranku juga menjadi tenang.


Tapi juga saat berendam inilah yang pas untuk aku memikirkan masalah yang membebani pikiranku. Teman masa kecilku, kami bertemu kembali dengan dia membawa kebencian terhadapku.


Apa yang harus aku lakukan dengan Eiji, dia orang yang gampang sekali meledak dan bahkan dia salah paham dengan apa yang terjadi di masa lalu.


Dan sambil menatap langit-langit aku juga memikirkan masalah Hana. Dia mungkin memiliki kepribadian yang dapat memaksaku untuk mengikuti apa yang di katakannya, apalagi dengan paras cantiknya.


Ah, sangat merepotkan. Aku hanya ingin hidup damai dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Karena itu aku masuk ke sekolah itu. Tapi, aku mempunyai perasaan, entah kenapa kehidupan SMA ku akan diterjang dengan banyak masalah.


Aku selesai berendam setelah 9 menit. Aku langsung pergi menuju kamarku dan berganti dengan baju tidur.


Masih banyak waktu yang tersisa sampai aku pergi untuk tidur di kamarku. Untuk saat ini, aku pergi ke ruang keluarga dan menyalakan TV sambil duduk di sofa. Tapi, karena aku tidak ingin waktu terbuang dengan percuma aku membawa laptop untuk mengetik part selanjutnya dari part yang baru saja aku tulis tadi sore.


TV menyala di saluran berita. Suasana hening di rumahku membuat suara dari pembawa acara di televisi terdengar dengan sangat jelas tapi, pikiranku tidak berfokus terhadap TV tapi aku berfokus kepada ketikanku. Jari dan mataku membuat kata demi kata namun telingaku mendengarkan apa yang di katakan si penyiar.


“Baiklah, sampai di sini dulu.”


Aku tidak bisa lagi meneruskan naskah karena pikiran ku sudah kacau akibat rasa kantuk yang menyerang. Setelah satu setengah jam aku mengetik, aku akhirnya berhenti. Waktu sekarang menunjukkan jam 8 malam. Tapi, aku tahu aku tidak bisa langsung tidur, aku tahu aku harus membeli bahan masakan untuk besok.


Aku memakai sepeda untuk pergi ke mini market yang jaraknya 7 menit dari rumahku.


Aku sangat suka melihat langit di malam hari. Bintang yang bersinar membuatku tidak merasakan kesepian, aku merasakan hal yang sama, kami tinggal di kegelapan.


Angin yang bertiup saat aku bersepeda, menerbangkan rambutku dan jaket yang aku kenakan. Kakiku tidak berhenti mengayuh pedal sepeda hingga sampai di depan mini market itu.


Pintu masuk secara otomatis terbuka ketika aku berada di depannya dan bunyi geseran itu menyadarkan orang yang saat ini menjaga untuk memberi sambutan hangat kepada pembeli.

__ADS_1


“Selamat datang, ada yang bisa saya bantu.” Disambut oleh mbak penjaga mini market. Dia terlihat sudah berusia 40-an namun masih terlihat cantik nan mempesona di usianya.


“Oh, ternyata Gin yang datang.”


“Aku ingin membeli bahan masakan. Bisa tunjukan arahnya, Akane-san.”


“Gin, kamu sudah sering berbelanja di sini. Bagaimana bisa kamu tidak tahu di mana letaknya bahan-bahan masakan. Hehe.” Akane tertawa kecil.


Ya, aku selalu melakukan hal ini tiap kali datang untuk berbelanja bahan masakanku.


Aku berjalan ke arah ruang bagian di mana bahan-bahan masakan ada dimulai dari daging, sayuran, ikan, dan buah-buahan, semuanya di bungkus dengan rapi, di pajang di suatu rak khusus.


Aku mengambil banyak bahan untuk masakanku, mungkin cukup untuk satu minggu. Semuanya komplit.


Dan untuk membayar semuanya aku tinggal meng-scan kode QR setelah mbak Akane menghitung semua harga untuk belanjaanku ini. Inilah sistem belanja yang baru. Sejujurnya aku suka dengan cara kerja yang seperti ini, sangat simpel.


Mbak Akane memasukkan semua bahan itu ke dalam dua kantung plastik besar berwarna putih. Kemudian, aku pun keluar dari mini market itu dan bersepeda, kembali pulang ke rumahku.


“Terimakasih sudah berkunjung, datang lagi ya.”


Mengumpulkan tenagaku sebentar sambil menatap langit lagi, aku menghela napas sekali dan kemudian mulai mengayuh sepeda.


Sebenarnya kami yang masih di bawah 19 tahun tidak di ijin kan keluar pada jam delapan malam oleh pemerintah. Aku juga mengerti alasan mereka akan tetapi, aku juga harus membeli barang yang sangat aku butuhkan.


Aku pulang dan langsung membereskan semua bahan di kulkasku. Tidak lupa aku memisahkan bahan untuk aku masak malam ini karena perutku juga sudah keroncongan, sekarang dia mengaung seperti harimau.


Krubuk.. krubuk. Benar, perutku sedang mengaung meminta makanan.


Sebagian pencahayaan rumahku aku matikan karena aku harus menghemat untuk apa pun itu. Aku memasak di dapur sambil menyalakan musik dari smartphone dan sesekali aku melihat berita dan pesan yang masuk. Hana menggunakan akun Senzo, mengirimkan beberapa pesan kepadaku.


[ Apa apaan itu. ] itu adalah pesan yang dia kirimkan tadi sore.


[ Hey kakak, apakah aku boleh tahu siapa nama aslimu? ] Berselang beberapa menit dari pesan sebelumnya, Senzo menanyakan siapa nama asli aku karena aku menggunakan nama lain pada akun aplikasi yang sedang aku gunakan.

__ADS_1


[ Tidak boleh ya, kak.. ]


Mungkin karena aku tidak membalas pesan sebelumnya, dia berpikir bahwa aku tidak mau memberitahu nama asliku. Ya.., aku memang tidak akan memberi tahu nama asliku. Tidak akan pernah.


[ Yasudah, aku tidak akan bertanya tentang itu lagi. Tapi setidaknya balas pesan aku, dong. ]


[ Kak Kenny.. ] Aku di panggil. Tapi karena aku tadi tidak bermain smartphone lagi, jadi aku tidak melihat semua pesan yang di kirimkan terakhir kali.


Pesan yang di kirimkan Hana atau Senzo tadi sore berakhir sampai di situ. Aku berniat membalasnya akan tetapi tanganku sedang memasak, aku tidak ingin makananku sampai gosong karena aku teralih kan fokus untuk membalas pesan itu.


Masakanku akhirnya beres. Aku membawanya ke ruang ruang keluarga dan meletakkannya di meja. Kemudian, kembali ke dapur untuk mengambil minumnya.


Aku membuka smartphone ku sambil makan. Aku masuk ke aplikasinya dan pergi ke GC aku terlebih dahulu. Aku ingin melihat bagaimana keadaan GC aku sebentar.


[ Kakak Author terimakasih sudah up. Tetap semangat, ya. ] Ada beberapa orang yang mungkin suka dengan cerita dari novel aku. Jadi mereka selalu mengucapkan terimakasih di GC aku. Yah, aku merasa sedikit senang karena karyaku di sukai oleh banyak orang.


Banyak pesan masuk di GC aku sampai sedikit pusing karena tidak bisa mengikuti alur mereka. Jadi aku hanya akan melihat-lihat saja.


Tapi, tiba-tiba ada kotak hadiah yang muncul. Aku dengan cepat mengambil hadiah yang ada di dalamnya.


[ Selamat kamu mendapatkan 700 poin dari kotak hadiah ] Wow, jujur saja aku sedikit terkejut ketika melihat hasil yang aku dapatkan.


Orang yang melempar kotak hadiah tersebut menggunakan akun yang bernama 7Kotoba. Mungkin, akun yang bernama 7Kotiba ini melempar kotak hadiah yang berisi 2000 poin dan di bagikan kepada tujuh orang. Hadiah tersebut tidak dibagi rata seperti hasil dari kalkulator tetapi, tergantung dari keberuntungan si pembuka kotak hadiah.


Banyak orang yang sedih karena tidak mendapatkan atau tidak kebagian hadiah dari kotak hadiah tersebut karena hanya untuk 7 orang.


Dan juga, orang yang mendapatkan hadiah paling kecil merasa cukup sedih, dia memasang stiker sedih.


Karena aku mengambil hadiah dari kotak itu. Para penghuni yang ada di GC aku tahu bahwa aku sedang on di GC. Mereka mulai menyapa dan memanggil aku.


[ Yo, selamat malam semuanya. ] Aku membalas sapaan mereka.


Kemudian, aku terus membalas pesan yang ada di GC aku dan mengobrol tentang beberapa masalah serta mengobrol dengan sesama penghuni GC.

__ADS_1


Aku lupa membalas pesan dari Senzo. Tapi aku memilih untuk menutup smartphone ku dan membereskan piring karena aku sudah selesai makan malam.


__ADS_2