Love Monster

Love Monster
Gelap Mata


__ADS_3

Pada saat malam hari, saat Andreas ada tugas malam di rumah sakit, Birdella sengaja datang ke rumah Lay Calandra. Dia datang untuk memanaskan-manasi tentang keadaan dan rencana menikahnya bersama dengan Andreas.


Birdella perlahan-lahan berjalan menuju rumah Lay Calandra. Tidak ada yang menyadarinya ketika dia berjalan dengan hati-hati, penuh dengan rasa cemas dan ketakutan. Dia ingin bertemu dengan Lay Calandra secara langsung, tanpa harus diketahui oleh orang lain.


Ketika dia tiba di depan rumah Lay, dia menarik napas panjang dan berjalan ke dalam dengan perasaan gemetar. Dia merasa tidak tenang, tetapi dia harus memberitahu Lay Calandra tentang rencana pernikahannya dengan Andreas dengan segera.


Setelah beberapa saat, Birdella mulai mengetuk pintu rumah Lay, tapi dia juga melakukan panggilan telepon dan mengirim pesan, supaya Lay segera membuka pintu rumah untuknya.


Tok tok tok


Tut tut tut


Clek


Lay Calandra muncul setelah pintu rumah terbuka. Kebetulan Lay belum tidur dan baru saja keluar menemani Felisia di kamar anaknya sendiri, sehingga pada saat menerima panggilan telpon dan pesan dari Birdella langsung keluar membuka pintu rumah tamunya itu.


Birdella tersenyum lebar, begitu melihat Lay yang membukakan pintu untuknya. Jelas sekali jika dia seperti merasakan kepuasan, bisa melihat bagaimana Lay malam ini dalam kesendirian. Sama seperti biasanya jika Andreas datang ke rumahnya.


"Ada apa?" tanya Lay tanpa mempersilahkan Birdella masuk ke dalam rumah terlebih dahulu, jadi mereka berdua masih berdiri berhadapan di depan pintu.


"Aku mau memberitahu, jika Aku dan Andreas berencana untuk menikah dalam waktu dekat." Birdella menjawab dengan tersenyum.


Namun, senyumnya menghilang ketika dia melihat ekspresi wajah Lay Calandra yang tidak terkejut sama sekali.


"Silahkan, tapi... apa Kamu yakin jika Andreas akan menikahi wanita seperti Kamu?" tanya Lay sinis.


"Apa maksudmu?"


"Jelas-jelas Andreas mencintaiku. Dia lebih memilih Aku daripada Kamu Lay!" teriak Birdella yang merasa frustasi dan kesal.


Dia tidak mengerti mengapa Lay Calandra begitu yakin dengan situasi yang ada pada Andreas saat ini.


"Hehhh, Kamu pikir Aku bodoh? jika memang Andreas mau memilihmu, kenapa tidak berterus terang? kenapa harus sembunyi-sembunyi juga ke rumahmu?"


Pertanyaan demi pertanyaan diajukan Lay pada Birdella, membuat rasa ragu yang tiba-tiba muncul di benak Birdella sendiri. Bahkan selama ini Andreas juga melarangnya untuk berbicara dengan Felisia, jika dia adalah mama kandungnya.

__ADS_1


Lay Calandra mendesah. Dia tahu bahwa dia tidak akan bisa membuat Birdella berubah pikiran. "Baiklah, Aku akan berbicara dengan Andreas," katanya kemudian, setelah melihat bagaimana Birdella yang tampak ragu.


"Tapi... saat ini Aku sudah mengandung benih cinta kami Lay. Apa Kamu pikir itu bukan cinta?" Birdella menggunakan senjata terakhirnya untuk memojokkan Lay.


Sayangnya, percakapan antara Birdella dan Lay Calandra terdengar oleh Felisia. Anaknya itu mendengar pembicaraan mereka yang tadi sempat bersitegang, sehingga mengganggu tidurnya di dalam kamar.


"Ada apa Ma? Siapa yang mengandung?" tanya Felisia bingung.


Felisia kemudian berjalan mendekat ke arah mereka berdua, yang masih ada di depan pintu, dan berteriak kepada Birdella, "Aku tidak suka Kamu! Aku tidak ingin Kamu menikah dengan papa! Aku juga tidak ingin punya adik dari Kamu!"


Birdella merasa terkejut dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia merasa sedih karena Felisia tidak menyukainya, sedangkan dia sendiri adalah mama kandungnya Felisia.


Tetapi dia tahu, bahwa dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengubah pikiran Felisia yang tidak mengenalinya.


Lay Calandra segera masuk ke dalam rumah, menenangkan anaknya.


"Kamu kenapa bangun Sayang?" tanya Lay lembut, dengan mengelus-elus rambut coklat anaknya.


Felisia menggelengkan kepalanya, merasa sangat tidak nyaman. Dia tidak suka dengan keadaan ini, terutama ketika dia tahu bahwa Birdella mengandung adiknya. Dia merasa semuanya akan berubah dan dia tidak yakin apakah dia siap menerima adiknya, padahal dua ingin mamanya Lay yang bisa memiliki adik untuknya.


"Aku Mama kandungmu. Mama Feli yang sebenarnya." Birdella tiba-tiba sudah ada di depan mereka berdua, yang saat ini duduk ke kursi tamu.


Birdella nekat memberitahu pada anaknya, juga pada Lay, yang belum mengetahui secara benar apa hubungannya dengan Andreas dulu.


Sekarang bukan hanya Felisia yang terkejut dengan pengakuan Birdella, tapi Lay juga merasa tertipu. Jadi selama ini Andreas menyembunyikan kebenaran ini darinya, bahkan dari anaknya sendiri.


"Tidak mungkin!"


Lay tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Birdella. Apalagi Felisia sendiri tidak mengenali mamanya.


"Hahaha... itulah yang sebenarnya Lay."


"Aku jadi merasa kasihan sama Kamu. Ternyata Kamu tidak tahu apa-apa tentang Andreas. Hahaha..."


Satu sisi Birdella merasa telah menang dari Lay, karena sejatinya di adalah istri pertamanya Andreas. Ini karena hubungan dirinya dengan Andreas belum resmi bercerai, dan kepergiannya waktu itu juga karena sesuatu hal yang tidak bisa dia katakan pada siapapun. Termasuk dengan Andreas sendiri.

__ADS_1


Birdella hanya merasa perlu mendekati suaminya lagi, sehingga suaminya itu tidak bisa pergi darinya. Itulah sebabnya dia merencanakan kepindahannya ke desa ini, bahkan memilih rumah sakit dan juga rumah dinas yang sama seperti Andreas.


Semua sudah direncanakan sedemikian rupa oleh Birdella, sehingga Andreas bisa kembali ke dalam pelukannya, sama seperti sekarang.


"Aku tidak mungkin memiliki mama yang jahat seperti Kamu. Aku tidak mau punya Mama Kamu!" teriak Felisia, yang tidak mau mengakui Birdella sebagai mamanya.


Kau sendiri termangu, memandangi Birdella tanpa berkedip. Dia meresapi setiap kata-kata yang diucapkan oleh Birdella tadi, mencari kebenaran tentang keadaan dirinya selama ini. Karena pada kenyataannya, semua ini adalah permainan Birdella.


"Lalu, apa mau mu?"


"Aku mau Kamu pergi dari kehidupan Andreas selamanya!"


Birdella menekan setiap kata-kata yang diucapkannya dengan wajah mengeras, menahan diri untuk tidak melakukan apa-apa pada Lay Calandra.


"Tidak!"


"Dia mamaku, bukan Kamu!"


Felisia berteriak keras menyatakan tidak setuju, dengan apa yang diinginkan oleh Birdella.


"Pergi Kamu dari rumah ini!"


Sekali lagi Felisia berteriak, tapi kali ini dia justru mengusir Birdella, yang sudah mengaku-ngaku sebagai mamanya. Sayangnya Felisia tetap tidak mengakuinya sebagai mama, bahkan menganggap Lay yang menjadi mamanya selama ini.


Hal ini membuat Birdella marah dan habis kesabarannya, sehingga dia mengambil pisau buah yang ada di meja kecil sudut ruangan, kemudian menusukkan pisau tersebut ke arah Lay Calandra.


Jleb


"Arghhh..."


"Mama..."


Darah mengucur dari perut Lay Calandra, yang terbelalak ketika merasakan perutnya terkoyak oleh pisau yang masih dipegang oleh Birdella dengan tatapan mata penuh amarah.


Demi mendapat perhatian Andreas, Birdella gelap mata dan menusuk Lay Calandra. Bagaimana nasib mereka berdua kedepannya???

__ADS_1


__ADS_2