Love Monster

Love Monster
Mulai Berpikir


__ADS_3

Lay kembali masuk ke dalam kamar yang tadi, yang katanya memang disediakan khusus untuknya. Sebuah kamar yang luas dan terang, dengan dinding-dinding berwarna putih dan langit-langit yang tinggi. Di salah satu dinding, terdapat jendela besar yang memungkinkan cahaya matahari masuk ke dalam ruangan dan memberikan pemandangan yang menakjubkan. Melalui jendela tersebut, Lay dapat melihat sebuah danau yang indah dengan airnya yang berwarna hijau gelap, namun tetap terlihat indah.


"Ini... ini danau yang dulu?"


Dia ingat dengan danau di tengah hutan yang berwarna hijau gelap, yang pernah disebutkan oleh sosok hitam di awal pertemuan mereka.


Setelah puas memandangi danau tersebut kembali berjalan-jalan di sekitar kamarnya yang luas, bahkan luasnya melebihi rumah dinas Andreas.


Di sudut kamar terdapat sebuah tempat tidur besar dengan balutan selimut yang lembut dan bantal-bantal empuk, yang sudah sempat dia tiduri. Tadi, dia tidak memperhatikan sedetail ini, dan sekarang dia benar-benar mengangumi kamar yang didesain khusus untuknya. Yang kata Armaro Baruto, memang di desain modern sama seperti kehidupan Lay di dunia manusia.


Tempat tidurnya dilengkapi dengan gorden Arsy tirai putih yang mampu menutupi jendela besar bila diperlukan. Di sekitar tempat tidur, terdapat beberapa perabotan berwarna putih yang menghiasi kamar, seperti meja rias, meja belajar, kursi santai, dan lemari pakaian yang elegan.


Di sudut lain, terdapat sebuah sofa yang empuk dengan bantal-bantal berwarna pastel yang lembut, cocok untuk bersantai sambil menikmati pemandangan di luar jendela. Di samping sofa, terdapat sebuah rak buku yang berisi koleksi buku-buku yang menarik untuk dibaca. Membuat Lay tertarik untuk mendekat dan melihat-lihat buku tersebut.


Ternyata buku-buku ini adalah buku-buku novel-novel sastra, sama seperti kesukaannya. Sepertinya Armaro Baruto tahu betul bagaimana keadaan Lay.


"Ini sungguh luar biasa!" kata Lay mengagumi kamar yang dia tempati ini.


Setelahnya, Lay kembali berjalan lagi ke arah kamar mandi, yang berada di samping tempat tidur. Desain kamar mandi yang sangat elegan dan modern, dengan dilengkapi bak mandi yang besar, kaca cermin yang besar, dan perlengkapan mandi yang lengkap, bahkan aroma terapi yang disukai Lay juga.


"Dia sangat tahu apa yang Aku sukai." Lay kembali bergumam mengagumi.


Keseluruhan ruangan didekorasi dengan beberapa dekorasi berwarna pastel dan aksen emas yang indah, seperti bunga-bunga segar di atas meja dan lukisan-lukisan cantik yang menghiasi dinding kamar.


Mirip-mirip seperti kamar para putri-putri kerajaan, sama seperti yang biasa ada di dalam mimpi Lay sewaktu masih kecil dulu.


Tiba-tiba, Lay merasa seolah-olah ada yang mengawasinya dari balik bayang-bayang. Lay Calandra mengalihkan pandangannya ke arah pintu, dan melihat Armaro Baruto yang datang kepadanya. Meskipun terkejut, dia merasa lega karena Armaro Baruto sudah berubah warna matanya, tidak lagi sama seperti waktu pergi tadi. Mungkin saja Armaro sudah bisa meredakan amarah nya sendiri.

__ADS_1


"Bagaimana Honey? Kamu suka dengan gaya kamar yang Aku buat khusus untukmu ini?" tanya Armaro mendekat.


"Iya, Aku suka. Tapi, bagaimana caranya Kamu mengetahui tentang apa yang Aku sukai?" tanya Lay ingin tahu.


"Tentu saja Aku tahu Honey. Dari masa ke masa, Aku ada dan selalu menunggumu. Dan Aku adalah belahan jiwamu, sejak kita diciptakan."


"Jadi Kamu tidak perlu meragukan apa yang Aku lakukan dan katakan, karena hingga detik ini, cintaku tetap utuh untukmu."


Armaro Baruto berbicara meyakinkan Lay tentang perasaan hatinya. Dia ingin Lay tahu, bahwa dia bertahan sampai sekarang karena cintanya pada Lay.


"Tapi, kenapa baru masa sekarang Aku merasa bertemu denganmu?" tanya Lay bingung dengan apa yang dikatakan oleh Armaro barusan. Dia memang tidak pernah merasa hidup di masa lalu atau di masa-masa yang sebelum ini.


"Itu karena peri jahat yang menghalangi Maya hatimu untuk bisa melihatku. Mungkin garis takdir yang sudah waktunya mempertemukan kita Honey."


"Tapi... bagaimana dengan kehidupanku di dunia manusia yang sekarang?" tanya Lay lagi, disaat teringat dengan permasalahannya bersama dengan Andreas dan Birdella.


"Tapi Kamu harus tahu, Aku mempertimbangkan rasa cinta untuk anakku, Felisia." Lay memberikan alasan.


"Apa Kamu juga sudah mempertimbangkan, bahwa Kamu tidak mungkin bisa memperbaiki kehidupan seperti yang Kamu inginkan di dunia manusia?" Armaro justru bertanya tanpa memberikan penjelasan yang lebih rinci.


"Tentu saja saat ini Kamu sedang mempertimbangkannya, tapi Aku yakin Kamu ingin melakukan yang terbaik untuk hidupmu dan Felisia, tapi dia bukan anakmu. Dia sudah ada yang menjaganya, karena orang tuanya sudah bersatu, dan kakeknya juga sangat menyayanginya."


Lay Calandra merasa sedikit tidak nyaman dengan perkataan Armaro tentang keadaan di rumah.


"Tapi..."


"Berhentilah memikirkannya Honey. Dia bukan anakmu!" potong Armaro tegas.

__ADS_1


Armaro tidak suka seandainya Lay memikirkan orang lain selain dirinya. Akhirnya dia kembali pergi, karena perasaan hatinya yang tidak baik-baik saja. Dia akan mengatasinya dengan cara menjauhi Lay, dan akan kembali menemui Lay jika perasaan hatinya sudah baik-baik saja.


Sekarang Lay sendirian lagi, merenung di setiap perkataan Armaro Baruto yang memang ada benarnya.


"Apa sekarang mereka mencari-cari keberadaanku?"


"Apakah mereka merasa kehilangan karena Aku tidak ada di rumah? atau mereka justru senang karena Aku tidak mengganggu hubungan mereka?"


"Lalu bagaimana dengan Felisia, apakah dia menangis mencariku?"


Pertanyaan demi pertanyaan muncul di bibir Lay, sambil mematut dirinya di depan cermin kamar mandi yang besar. Memantulkan bayangan dirinya secara utuh, sama persis.


"Tapi nyatanya Andreas tega menyakitiku, meskipun dia juga tahu, jika Aku sangat mencintainya dan juga anaknya."


"Apakah ini sudah saatnya Aku mencintai diriku sendiri, dengan cara menerima Armaro yang begitu perhatian dan menyayangiku?"


"Tapi... apakah ini adil untukku dan juga Armaro? lalu, masa lalu seperti apa yang sebenarnya Aku jalani dulunya?"


Pikiran dan hati Lay memiliki banyak pertanyaan, yang dia sendiri tidak tahu jawabannya. Dia tidak mengetahui apapun, yang seperti diceritakan oleh Armaro ataupun dukun Lena padanya.


"Tapi Aku masih cantik, seksi dan tentunya menarik. Jadi, jika Aku memikirkan kebahagiaanku sendiri dengan memilih untuk bersama dengan Armaro yang selalu bisa membuatku bahagia itu tidak salah kan?"


Sisi lain hatinya yang egois memberikan jawaban, sambil terus memperhatikan dirinya di depan cermin. Lay mengagumi dirinya sendiri, yang nyatanya memang masih menarik dengan lekukan-lekukan tubuhnya yang aduhai.


"Baiklah. Aku akan memastikan, bahwa Aku akan bahagia dengan keputusanku."


Akhirnya Lay membuat keputusan untuk membuat dirinya bahagia, dengan caranya sendiri. Dia akan bersikap egois, sama seperti sikap orang-orang yang menyakitinya.

__ADS_1


Hemmm... kira-kira Lay membuat keputusan seperti apa ya???


__ADS_2