
Hujan deras yang disertai dengan angin kencang dan guntur, membuat Birdella sangat ketakutan.
Birdella merasa ketakutan dan panik, jantungnya berdegup kencang dan tubuhnya gemetar. Dia berteriak-teriak tidak jelas dan mengeluarkan isi hatinya yang penuh dengan kemarahan. Dia mulai memaki Andreas dan Lay, dua orang yang selama ini menjadi masalah untuk kehidupannya.
Birdella merasa sedang mengalami situasi yang sangat buruk. Dia tidak tahu harus melakukan apa, dan takut jika ada yang terjadi pada dirinya atau orang-orang yang dicintainya. Dia merasa situasi seperti ini adalah hukuman atas segala kesalahan dan dosanya.
"Tidak, jangan!"
"Sayang, ada apa?"
Puk puk puk
"Sadar Sayang!"
Andreas berusaha menyadarkan Birdella, dengan menepuk-nepuk pipi wanitanya itu.
Namun pada saat itu, di alam pikiran Birdella sendiri, ada sesuatu yang menenangkan yang datang tiba-tiba datang. Dia mulai mengingat beberapa kejadian yang terjadi dalam hidupnya, yang mirip dengan situasi saat ini.
Birdella pernah mengalami kejadian yang mirip di masa kecilnya, ketika dia mengalami bencana alam yang serupa. Ketika itu, dia kehilangan rumah dan harta benda keluarganya dalam banjir bandang. Saat itu, dia dan keluarganya harus mengungsi dan tinggal di tenda selama beberapa bulan.
Meskipun dia masih muda saat itu, Birdella merasa bertanggung jawab besar untuk membantu keluarganya selama masa sulit tersebut. Dia belajar untuk tetap tenang dan mengatur pikirannya agar tidak panik dalam situasi yang penuh tekanan.
Tapi ada sesosok bayangan hitam yang seakan-akan tidak berhenti mengikutnya, memintanya untuk pergi meninggalkan keluarganya.
Hal ini juga yang terjadi, pada saat dia baru saja melahirkan anak pertamanya. Dia seakan-akan diteror oleh bayangan hitam yang tidak dua kenal untuk membunuh Andreas, suaminya. Itulah sebabnya dia pergi meninggalkan rumah, suami dan anaknya.
Dia menghilang dan bersembunyi, di tampung oleh orang yang tidak dikenal. Untungnya orang itu sangat baik dan mau menampungnya hingga rasa ketakutan yang dialaminya hilang seiring waktu berjalan.
"Sayang, Aku sudah ingat."
__ADS_1
Andreas bingung dengan apa yang dikatakan oleh wanitanya itu, karena dia tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Birdella.
Lay sendiri melihat dan mendengar semua pembicaraan mereka berdua, sama seperti dulu saat dia melihat bagaimana keadaan suaminya yang sedang bersama dengan Birdella di tempat tidur. Dan itu karena dukun Lena, sama seperti sekarang ini.
"Jadi, Birdella dikuasai oleh bayangan hitam yang tidak dia kenal?"
"Apa itu..."
"Bukan!" potong dukun Lena, membantah praduga Lay yang mengaitkan persoalan Birdella dengan Armaro Baruto.
"Lalu, siapa yang dia maksud dengan sosok hitam yang mempengaruhi pikirannya?" tanya Lay penasaran.
"Aku tidak tahu, tapi Aku tahu itu bukan Tuan Armaro." Dukun Lena menjawab dengan tegas, jika itu bukan Armaro Baruto yang dikenal Lay selama ini.
"Papa, Mama kenapa?" tanya Felisia yang tiba-tiba muncul dari dalam kamarnya.
Lay kembali melotot kaget, melihat keadaan anaknya yang nyatanya sudah bisa menerima keberadaan Birdella. Bahkan Felisia juga memanggil Birdella dengan sebutan "mama" yang kemarin-kemarin tidak mau dilakukannya.
"Kamu bisa melihatnya sendiri."
Dukun Lena tidak memberi jawaban yang pasti, tapi meminta kepada Lay untuk memikirkannya sendiri. Tentu saja ini membuat Lay menggelengkan kepalanya beberapa kali, tidak mempercayai apa yang dia lihat dengan matanya sendiri.
"Apa mereka tidak pernah mencari keberadaan ku?"
"Apa mereka tidak pernah memikirkan bagaimana nasibku?"
"Bagaimana mungkin mereka setega itu padaku, yang selama ini tulus mencintai dan menyayangi mereka?!"
Pertanyaan demi pertanyaan diajukan oleh Lay pada dukun Lena, yang selama ini memberinya petunjuk, arahan dan saran yang seharusnya dia lakukan. Sayangnya selama ini Lay sendiri yang selalu menolak, bahkan nekat dengan keputusannya sendiri.
__ADS_1
Rasa sakit dan kecewa yang dirasakan Lay sangat mendalam, karena merasa diabaikan oleh suami dan anaknya sendiri.
"Lalu, apa yang Kamu rasakan sekarang Queen? apa Aku salah, karena telah memberikan kesempatan padamu untuk melihat semua ini?" tanya dukun Lena, di saat melihat kekecewaan tampak jelas di wajah Lay setelah mengetahui semuanya.
"Aku sangat kecewa dengan Andreas. Aku melihat dia berselingkuh dengan Birdella, yang ternyata adalah istrinya sendiri. Di tambah lagi dengan keadaannya sekarang, yang seakan-akan tidak pernah menganggap diriku ada di dalam kehidupannya."
Lay mengatakan isi hatinya, apa yang dirasakannya sekarang melihat dan menyaksikan semua di depan matanya sendiri.
"Aku sangat menyesal mendengarnya. Apa yang membuat Queen merasa kecewa dengan Andrea? karena dia berkhianat, atau karena Queen yang terlalu mempercayainya?" tanya dukun Lena mengorek isi pikiran Lay.
"Dia telah berselingkuh dengan mantan istrinya sendiri. Jujur Aku sangat terkejut dan merasa dikhianati olehnya."
"Tapi Aku juga bersalah dalam hal ini, karena Aku terlalu percaya diri bahwa dia sangat mencintaiku dan membutuhkan kehadiranku, begitu juga dengan Felisia. Tapi nyatanya tidak." kata-kata yang diucapkan oleh Lay, seakan-akan menyalahkan dirinya sendiri.
"Aku bisa mengerti bagaimana perasaanmu Queen. Namun, sekarang semua sudah terjadi, dan apakah Kamu tahu? hujan lebat, dan angin kencang serta guntur ini adalah kemarahan yang terjadi dari Tuan Armaro Baruto. Dia pasti sangat marah."
Mendengar penjelasan yang diberikan oleh dukun Lena, membuat Lay cepat menoleh kepadanya. "Maksudnya, dia tahu jika Aku pergi dari sana?" tanya Lay cemas.
Anggukan kepala dukun Lena, pembuat wajah Lay menegang. Dia tidak mau jika membuat makhluk tersebut marah, sehingga membuat kekacauan yang besar lagi dibandingkan dengan iyang sekarang ini.
"Tapi Aku masih merasa sangat sedih dan tidak tahu harus bagaimana. Bisakah dukun Lena memberikan nasehat atau memberikan mantra, yang bisa Aku gunakan agar perasaan hatiku tidak terlalu berat?"
"Tentu saja, Lay. Aku dapat memberikan beberapa mantra yang dapat membantu mengatasi perasaanmu. Namun, Aku juga menyarankan agar kamu memberikan waktu untuk dirimu sendiri. Merenungkan dan meresapi setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupanmu. Semua butuh waktu untuk sembuh dan ambil keputusan yang tepat untuk dirimu sendiri."
Lay kembali terdiam. Dia tidak tahu apa yang saat ini dia rasakan. Kesedihan, kekecewaan, dan sakit hati bercampur aduk dalam hati.
Apa yang dia rasakan untuk Andreas, sama seperti yang dia rasakan pada Felisia, yang nyatanya masih bisa berubah untuk Birdella. Anak kecil tersebut sudah tidak mencarinya lagi, tidak membenci Birdella lagi, bahkan terlihat seperti tidak pernah terjadi sesuatu.
"Aku terlalu mencintai orang lain. Peduli dengan orang-orang yang ada di dekatku, tanpa peduli dengan diriku sendiri."
__ADS_1
"Apakah masih pantas Aku berpikir untuk mereka, dan tidak memperdulikan kebahagiaan diriku sendiri?"
Sekarang Lay mulai bertanya-tanya tentang keadaan dirinya sendiri, dengan kebahagiaan yang seharusnya dia dapatkan juga. Tidak harus selalu memikirkan kebahagiaan orang lain, yang nyatanya tidak seperti yang dia pikirkan selama ini.