Love U, Pendek

Love U, Pendek
Tiba-Tiba Pindah


__ADS_3

"Assalamu Alaikum... " Aisyah mengucap salam begitu masuk ke dalam rumah. Kebiasaan di kampungnya, rumah tak pernah dikunci saat siang hari. Tapi, masuk rumah tetap saja harus mengucap salam.


"Ibu, Ica pulang..." Aisyah terus berjalan mencari ibunya yang biasanya ada di dapur. Namun sejauh kakinya melangkah, sang ibu belum kelihatan juga.


Aisyah hanya melihat meja makan yang seperti biasa berisi makanan yang ditutup tudung saji. Aisyah membuka tudung saji dan melihat udang goreng kesukaannya bersama tumis sawi.


Rasa lapar menyerangnya, namun karena penasaran dengan sang ibu yang tak kelihatan, Asiyah mengurungkan niatnya untuk makan.


Aisyah berbalik arah menuju kamar ibunya. Rencana mengetuk pintu, tapi saat mendengar suara ibunya seperti sedang berbicara dengan seseorang membuatnya urug mengetuk pintu.


"Tapi, Ica bentar lagi mau naik kelas XII, Yah. masa iya harus pindah. Nanggung, kan 3 pekan lagi sudah Ujian kenaikan kelas" terdengar suara ibunya seakan protes. Sejenak tak ada suara. Aisyah pun berusaha mencerna percakapan ibunya.


"Iya ngerti. Ibu juga paham tugas ayah. Tapi, kita nggak bisa mengabaikan kenyamanan Ica. Ibu nggak mau kalau sampai sekolahnya dia terganggu gara-gara harus pindah di saat seperti ini"


Sampai disini Aisyah paham kalau ibunya sedang berbicara dengan ayah di telpon. Dan mereka sedang membicarakan masalah pindah.


"Ok.. kita bicarakan nanti di rumah. Ica juga harus diberitahu dan meminta pendapatnya"


Lalu kembali tak terdengar suara.


"Waalaikum salam, Yah"


Mendengar ibunya menutup telpon, Aisyah buru-buru ke kamarnya. Dia segera Mengganti seragamnya dengan pakaian rumahan. Setelah itu, ia kembali ke meja makan dan bertemu ibunya yang sedang duduk termenung.


Seperti mendengar langkah kaki, Norma, ibu Aisyah menoleh ke belakang. Agak terkejut melihat anaknya yang sudah berganti pakaian.


"Kapan pulang, kok ibu nggak nyadar sih?" Tanya ibu dengan dahi mengernyit.


"Dari tadi, tapi karena nggak ketemu ibu, Ica langsung ke kamar deh ganti seragam. Trus karena dah lapar, Ica segera kesini. Ibu dari mana?" Ica balik bertanya.


"Ibu dari kamar, angkat telpon dari ayah" Jawab ibu dengan senyuman yang tersungging.


Setelah itu, Aisyah dan ibunya memulai makan siang. Seperti biasa, sang ibu menawarkan beberapa lauk yang tersedia. Tak segan mengambilkan anaknya makanan yang disukainya.


Ibu Aisyah memang sosok ibu yang sangat perhatian. Sesekali mereka bercakap tentang kegiatan hari ini. Aisyah dengan sekolahnya dan sang ibu dengan keseruannya berkebun di belakang rumah atau berita-berita terbaru di kampung ini yang didapat saat keluar beli ikan atau kebutuhan lain.

__ADS_1


Mereka berdua tampak seperti kakak adik yang sedang saling curhat. Maklum saja, Aisyah adalah anak tunggal. Karena ayahnya tak ingin menambah anak, trauma dengan keadaan ibunya saat melahirkan Aisyah


"Ca, kamu ada PR nggak hari ini? mau ibu temani mengerjakan?" Tanya Norma setelah mereka selesai makan dan cuci piring


"nggak ada kok, Bu. Aisyah hanya mau tidur siang, capek banget tadi di sekolah. Ada latihan buat penamatan siswa kelas XII" Jawab Aisyah sekenanya.


"ok deh. Kalau gitu kamu tidur siang aja abis ini. Tapi, sebelumnya biarkan dulu makanannya tercerna. Baru deh bobo cantik" Ucap ibu dengan senyum yang mengembang, melirik anaknya yang sedang berdiri di sampingnya. Menata piring yang telah dicuci.


"Siap, Nya" Ica membalas dengan senyum lebar sambil mengambil gaya hormat. Setelah mengeringkan tangannya, Ica berbalik menuju kamarnya. Duduk nonton film opa-opa kesayangannya sekitar 10 menit, lalu merebahkan diri di tempat tidur. Bersiap memasuki mimpi indah.


***


"Ca, ayah dan ibu mau menyampaikan sesuatu padamu" Haidar, ayah Aisyah memulai pembicaraan saat mereka duduk bersama di ruang keluarga.


"Ada masalah apa, Yah?" tanya Aisyah penasaran. Meskipun dalam bayangannya telah muncul dugaan tentang kepindahannya.


"Begini Ca, Bank tempat ayah bekerja buka cabang di Kota Bunga. Jadi, ayah dipindahkan kesana. Sebenarnya, hal ini sudah lama disampaikan, hanya saja ayah nggak mau mengganggu konsentrasi belajar kamu. Dan Senin lusa, ayah sudah harus masuk bekerja. Jadi, besok kita harus mengurus kepindahanmu ke sekolah baru di tempat kerja ayah" Haidar menjeda penjelasannya, lalu melirik istrinya. karena Aisyah hanya diam saja.


"Nak, kalau kamu nggak mau ikut pindah, kita masih bisa tetap tinggal disini. Ayah dan ibu sepakat, bahwa jika kamu nggak mau pindah maka ayah akan pindah sendiri dan kita akan tetap disini. Ayah akan tetap pulang di akhir pekan agar kita bisa berkumpul bersama. Kan Kota bunga tidak terlalu jauh dari sini". Norma memberikan opsi lain.


Aisyah juga tak bisa membayangkan bagaimana ayahnya bisa hidup sendiri tanpa ibu. Selama ini, ayah begitu bucin pada ibunya. Saat beliau di rumah, hampir setiap saat mereka bersama. Masak bersama, membersihkan bersama, mencuci bersama bahkan berkebun bersama. Ayah tak pernah keluar tanpa membawa ibu, kecuali urusan kantor.


Aisyah tak ingin egois, meskipun teman-temannya di kampung ini sangat baik. Tapi keluarganya harmonis tak bisa dipertaruhkan hanya karena merasa sulit jika harus pindah sekarang. Aisyah sudah cukup dewasa untuk mengerti pentingnya kebersamaan keluarga. Dia telah mendengar banyak berita perselingkuhan suami atau istri, bahkan saat mereka berdekatan, apalagi jika harus berjauha. Oh.. tidak, meskipun Aisyah yakin dengan kesetiaan kedua orang tuanya satu sama lain. Tapi dia tidak yakin dengan pebinor dan pelakor di luar sana yang selalu mencari celah jika orang tuanya tinggal terpisah. Pindah bukanlah hal baru buat Aisyah, mereka saja terhitung baru 5 tahun di tempat ini. Ayahnya seringkali pindah kerja, jadi sebenarnya tempat ini pun bukan kampung halamannya


"Bagaimana nak?, kami akan menghargai keinginanmu" Tanya ayahnya, berusaha membuat anaknya agar tidak merasa terpaksa dalam mengambil keputusan.


"Ica, ikut pindah, Yah. Ica nggak mau tinggal jauh dari ayah. Kalau masalah sekolah, Ica bisa pindah kemana saja yang penting baik menurut ayah dan ibu" Jawab Aisyah mantap.


"Alhamdulillah, makasih banyak sayang. Ayah nggak tahu bagaimana seandainya kamu nggak mau ikut ayah. Ayah sudah memilih sekolah yang bagus buatmu disana. Jadi kamu nggak usah khawatir. Besok, kamu tinggal ke sekolah mengambil surat pindah karena ayah sudah mengajukan kepindahanmu dari pekan lalu" Haidar berucap dengan wajah berbinar. Tanpa menyadari keterkejutan Aisyah.


"Ayah sudah urus semuanya tanpa memberitahuku?. Jadi pertanyaan dan tawaran tadi hanya formalitas?" Cecar Aisyah.


"Nggak sayang, ayah memang telah menyampaikan ke pihak sekolahmu. Tapi ayah bilang, keputusan pindah atau tidak tetap kamu yang menentukan. Jadi, ayah hanya jaga-jaga saja supaya saat kamu betul-betul siap pindah, kita tidak perlu terlalu terburu-buru menyiapkan semuanya. Nah, kan terbukti feeling ayah bahwa kamu bersedia pindah" Tutur ibunya, agar Aisyah tidak merasa tersinggung dengan sikap ayah yang terkesan memaksakan kehendaknya untuk pindah.


"iya nak, ayah nggak bermaksud memindahkanmu tanpa persetujuan. Ayah hanya berusaha menggunakan waktu yang tersisa sebaik mungkin. Besok kan sudah hari Jum'at Ca, jadi kamu bisa langsung pamit pada guru-guru dan teman-temanmu. Karena hari Ahad kita akan berangkat ke kota bunga" Haidar berbicara dengan nada super lembut, agar anaknya tidak sampai ngambek karena perbuatannya.

__ADS_1


"Baik yah, Ica hanya kaget tadi. Mudah-mudahan, kurikulum yang digunakan disana sama dengan di sekolah lama Ica. Supaya, Ica tidak ketinggalan pelajaran. Apalagi sebentar lagi ujian kenaikan kelas". Ucap Aisyah lemah.


Meskipun dia menuruti kemauan orang tuanya. Sebenarnya dia pun agak ragu beradaptasi dengan lingkungan baru. Apalagi saat menjelang penilaian akhir tahun seperti sekarang ini. Apalagi saat dia mengingat banyak siswa yang dibully pada sebuah sekolah. Sedangkan sekolahnya yang sekarang sangat ramah anak. Bukan hanya guru dan stafnya yang ramah. Siswa-siswa di sekolahnya termasuk sangat ramah. Dan tata tertib yang diberlakukan sangat mendukung kenyamanan siswa.


"Insya Allah, kamu akan nyaman disana. Karena, kita akan tinggal di puncak. Disana, cuaca sangat dingin tapi keindahan alamnya begitu nyata. Belum ke tempat wisata saja, kita sudah disuguhkan pemandangan indah. Sawah-sawah penduduk terlihat sangat cantik. Disepanjang jalan kamu akan melihat banyak bunga bermekaran, kebun stroberi, kol, wortel dan banyak tanaman lain yang menambah indahnya pemandangan. Gunung terlihat hijau. Banyak pohon Pinus yang menambah asri, menyejukkan udara dan memanjakan mata. Pokoknya, kamu akan melihat keindahan alam yang hakiki" Haidar begitu bersemangat bercerita, mempromosikan kota bunga.


Sedangkan Norma hanya tersenyum dengan antusias suaminya. Dia sangat tahu bahwa Haidar bersemangat untuk pindah, karena lokasi itu sangat indah dan dia pun akan menjadi kepala cabang jika bersedia pindah kesana. Perekonomian mereka akan meningkat, dan anaknya bisa mengenyam pendidikan lebih tinggi tanpa perlu khawatir lagi dengan biaya. Bahkan tidak tanggung-tanggung, Haidar langsung mendaftarkan anaknya di sekolah terbaik disana, yang levelnya sama bahkan melebihi beberapa sekolah unggulan di kecamatan tempatnya tinggal sekarang.


Meskipun biaya pendidikannya sangat mahal, karena sekolah tersebut melaksanakan subsidi silang. Jadi anak-anak dengan tingkat ekonomi rendah akan digratiskan. Sedangkan, anak-anak dengan ekonomi menengah ke atas akan membayar sesuai dengan penghasilan orang tuanya. Makin tinggi penghasilan orang tua, maka akan semakin tinggi pula pembayarannya. Sekolah ini sangat diminati sehingga setiap tahunnya pendaftarnya sangat banyak dan berasal dari berbagai daerah.


Setelah perbincangan di ruang keluarga. Mereka kembali ke kamar untuk beristirahat. Aisyah begitu lama sampai bisa terlelap. Segala skenario perpisahan dengan teman-temannya telah disusun. Hingga jam 01.00, kantuk mengalahkannya.


***


"Hwa.,.. tidak percayaku bestie.., masa pindahki. Padahal, kemarin masih sama-samaki latihan drama. Jadi siapa mi gantikanki nanti itu" Cecar hawa dengan logat khas Makassar nya, saat Aisyah berpamitan untuk pergi,


"Barupi juga kemarin kutahu, bestie. Kalau guru-guru, dari pekan kemarinji natahu tapi diam-diamji karena belum pasti juga. Pindah tugaski bapakku jadi haruska ikut. Kalau soal pentas nanti, Adami itu gantikanka. Sudah kutanya Bu Ida" Jawab Aisyah tak kalah sedih karena harus berpisah dari sahabatnya itu. Logatnya pun bisa menyesuaikan dengan teman-temannya karena telah lama berbaur dengan masyarakat di kampung ini.


Setelah berbincang dan berpamitan dengan bestienya, Asiyah berpamitan dengan teman-temannya yang lain. Tanpa disadarinya, ada satu sosok yang menatapnya dengan sendu. Fadil, sang ketua kelas yang selama ini diam-diam selalu memperhatikannya.


"Terimakasih teman-teman, atas kebaikan ta semua selama ini. Senangka bisa bertemu kalian, bisa belajar dan bermain dengan kalian. Semoga nanti kita bisa ketemu lagi" Ucap Aisyah lirih, dia menatap teman-temannya dengan linangan air mata.


"Kami juga senang kok, berteman denganmu, ingat kami selalu yah Ca" Filda, temannya yang lain berucap sambil menghambur memeluknya. disusul dengan teman-teman yang lain.


Suasana haru berlangsung kurang lebih setengah jam di kelas itu. Setelahnya, Aisyah diantar oleh teman-temannya ke ruang guru untuk berpamitan, lalu mengambil surat pindah dan akhirnya dijemput oleh ayahnya.


Di gerbang keluar, kembali suasana haru terjadi. Bahkan, Hawa tak mau melepas pelukannya dari Aisyah. Setelah ditenangkan oleh yang lain, akhirnya Hawa bisa berhenti menangis dan melepas Aisyah dengan senyum manis walau diiringi air mata.


"Sampai jumpa lagi, semuanya. Ingat yah, kita masih bisa terus berkomunikasi, hubungika dinomor ku nah, insya Allah tidak akan kugantiji" Ucap Aisyah sambil melangkah menuju mobil ayahnya. Saat di mobil pun, Aisyah masih menatap sambil melambaikan tangan pada teman-temannya.


Matanya tak sengaja berpapasan dengan Fadil yang entah mengapa Aisyah susah mengartikannya. Takut baper, Aisyah hanya tersenyum lalu mengalihkan pandangan pada yang lain. Tak tahu saja, bahwa yang disenyumi serasa ingin ikut pindah bersamanya.


Mobil melaju meninggalkan sekolah Aisyah. Ibunya terus menghibur, yang hari ini sengaja ikut karena tahu Aisyah akan bersedih karena berpisah dengan teman-temannya. Esok hari, mereka akan segera pindah, agar bisa beradaptasi lebih cepat dengan lingkungan baru. Hari ini akan dihabiskan untuk packing. Aisyah terus memikirkan apa-apa saja yang akan dilakukan di tempat barunya. Hingga tak sadar, mobil telah sampai di rumahnya.


***

__ADS_1


__ADS_2