
"Wahhh... Udaranya makin sejuk, Ayo kita foto" Aisyah mengajak ayah dan ibunya untuk berfoto. mereka mengambil beberapa gambar. Setelah itu, mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Aisyah tak henti mengagumi suasana sejuk dan pemandangan indah. Hingga mereka sampai di Pertamina. Haidar memasuki Pertamina untuk menambah bahan bakar. Aisyah yang melihat antrian sangat panjang, memutuskan untuk turun. Disamping Pertamina ada masjid, di depannya banyak warung makan.
Tapi, yang menarik minat dan perhatian Aisyah adalah penjual bakso tusuk yang nongkrong di dipinggir jalan. Setelah pamit pada ayah dan ibunya, Aisyah segera berjalan ke arah penjual bakso dan memesan. Saat bakso telah siap dan Aisyah ingin mengambilnya, tiba-tiba seseorang mendahuluinya.
"Sayamo dulu nah, buru-buruka, dari tadi menangis adikku mau makan ini bakso" Ucap seorang remaja laki-laki, sambil menyodorkan uang sepuluh ribu dan meraih bakso yang akan diberikan si penjual pada Aisyah.
Aisyah sendiri hanya bisa diam mematung, dengan tangan masih terulur hendak mengambil bakso tersebut.
"Tapi baksonya buat ini cewek, dek. Antri yah" Ucap penjual bakso dengan sopan, berusaha menarik kembali bakso yang dipegang bersama dengan cowok tersebut.
"Buatkanmi lagi, mas. kamasih banyakji itu. Adikku tidak bisa menunggu. menangis terus dari tadi" Tawar sang cowok, dengan panggilan mas kepada tukang bakso. Entah kenapa di daerah ini, setiap penjual bakso dipanggil mas..Padahal, tidak semua penjual bakso berasal dari daerah dengan panggilan mas. Kebanyakan pula yang jual bakso adalah masyarakat lokal.
"Ambil aja kak, dari pada lama lagi aku nunggunya" Akhirnya Aisyah berucap juga. Heran dia sama orang-orang yang suka nyerobot, padahal kita telah diajarkan budaya antri.
Mendengar suara itu, si laki-laki langsung menatap ke arah Aisyah. Yang sudah beralih menatap tukang bakso.
"nggak apa-apa mas, buatkan aja lagi. Keburu ayah saya keluar dari pom bensin" Ucap Aisyah sambil tersenyum. Sementara si cowok menatap Aisyah tanpa kedip. Aisyah yang merasa diperhatikan menoleh kesamping, tapi belum bisa melihat wajah pemilik suara. Diangkat pandangannya, hingga bisa menatap orang yang kini tengah menatapnya juga.
"Kenapa kak? dibawa aja baksonya, ntar adeknya tambah nangis" Ucap Aisyah membuyarkan lamunan si cowok.
"oo.. Ok. makasih yah,.. Pendek" Ucap cowok itu tersenyum, lalu berbalik segera menuju motornya yang terparkir di pinggir jalan.
Aisyah terpaku mendengarkan pangggilan untuknya dari cowok itu. Rasa jengkel karena baru kali ini ada cowok yang berani mengatainya pendek padahal baru saja dibantu.
"Dasar... itu kan body shaming namanya. Padahal, aku kan nggak terlalu pendek. Benar kan, mas?. Bahkan di sekolahku dulu, banyak yang lebih pendek" Gerutu Aisyah, membuat tukang bakso ingin tertawa melihat wajahnya yang terlihat lucu saat sedang marah.
"Iya dek, tidak pendek kok, anak tadi saja yang terlalu tinggi" Jawab tukang bakso dengan dengan senyum dikulum. Takut membuat pelanggan nya tersinggung.
"Buatkan lagi yah, mas. Ayahku sudah hampir selesai isi bensin" Pinta Aisyah sambil menunjuk mobil ayahnya yang sedang mengisi bensin.
"Siap, dek" Jawab tukang bakso, dengan cekatan membuatkan pesanan Aisyah.
__ADS_1
"Makasih mas" Aisyah segera mengambil bakso pesanannya dan masuk ke mobil ayahnya yang telah terparkir manis di dekatnya.
Perjalanan kembali berlanjut dengan celotehan Aisyah tentang kejadian tadi saat beli bakso. Rasa jengkelnya karena dikatai pendek, membuat ayah dan ibunya merasa terhibur. Pasalnya, baru kali ini anaknya menceritakan rasa jengkel berlebih pada seseorang.
"Dasar kelebihan tinggi badan. Dia yang nggak normal malah ngatai Ica. Kan tinggiku sudah ideal, iya kan Bu, yah?. Ica tingginya sesuai dengan berat badan. lagian, Ica kan masih 17 tahun, itupun masih bulan depan. Dia aja yang terlalu tinggi, mana kurus lagi, Ica jengkel deh dibuatnya" Ucap Aisyah berapi-api.
"Hus... jangan ngomong gitu. Ngatain orang dengan menjelekkan bentuk badan itu termasuk body Shaming. Nggak boleh nak. Biarkan dia aja yang begitu, kamu jangan ikut-ikutan. Lagian, saat kamu pede dengan tinggi kamu, penilaian orang lain nggak akan ngaruh. Apalagi bagi ayah dan ibu, kamu itu adalah gadis tercantik. Kalau wanita tercantik sih, tetap ibu kamu, hahaha.." Norma hanya tersenyum malu mendengarkan pujian suaminya.
"Ih.. Ayah. Ica kan cuma jengkel. Ica jadi kepikiran, apa iya Ica sependek itu. Kok bisa sih Ica pendek. Ayah dan Ibu tinggi, kok badan Ica pendek sih. Apa jangan-jangan Ica anak pungut yah?. Bu, Ica dilahirkan oleh ibu kan? Yah.. Ica anak kandungnya ayah kan?" Cecar Aisyah mulai over thingking. Wajahnya sudah merah menahan tangis. Dia tidak bisa membayangkan kalau dirinya bukan anak kandung dari kedua orang tuanya.
"hahha.. kamu aneh-aneh aja deh pikirannya. Mana mungkin kamu bukan anak ibu. Ibu yang hamil dan melahirkan kamu". Jawab ibunya tanpa melihat ke arah Aisyah, Norma fokus menatap jalanan yang dilaluinya.
"Atau mungkin, Ica tertukar Bu, khikz.. khikz.. Ica tertukar yah waktu di rumah sakit. Hwa... Ica bukan anak ayah dan ibu..." Seketika suara tangis Aisyah pecah di dalam mobil. Ayah sontak menghentikan mobil membuat kepala Aisyah terbentur ke sandaran kursi mobil di depannya. Ibu Aisyah kaget, untuk saja kepalanya tidak sampai membentur kaca depan.
"Yah..." teriak Aisyah dan Norma bersamaan.
"Maaf, ayah kaget dengar suara Ica menangis. Kok kamu punya pemikiran Absurd gitu sih nak..? mana mungkin kamu bukan anak ayah, mana ada pula acara tertukar segala. Ayah kan ada saat kamu dilahirkan. Dibersihkan juga di depan ayah kok. Di ruang persalinan. Kan ibumu melahirkan bukan di rumah sakit tapi di Pustu, tempat ibumu biasa cek kehamilan, ikut senam hamil disana pula" Jelas ayah panjang lebar. Ica sedari tadi sudah berhenti menangis tapi masih sesegukan.
"Kamu kok jadi over thinking hanya gara-gara orang lewat sih nak. Apa kasih sayang ayah dan ibu selama ini kurang, hingga membuatmu berpikiran begitu. Apa kamu merasa kurang mirip sama ayah atau ibu?" Lanjut ibunya dengan nada sedih.
"Maafkan Ica yah Bu, Ica salah karena meragukan ayah dan ibu. Padahal kan selama ini, ayah dan ibu sudah jadi orang tua terbaik buat Ica. ini gara-gara cowok tinggi kurus itu, Bu. Ica jadi tidak percaya diri, merasa beda sendiri karena lebih pendek dari ayah dan ibu" Ucap Ica, kembali menangis.
"Sudah sudah. Kok anak ibu jadi cengeng gini sih, ehh.. ini tanggal berapa, Yah?" Tanya Norma menatap suaminya.
"30 Yang, emang kenapa??" Tanya Haidar penasaran
"Yah.. manggilnya kayak biasa aja sama ibu. nggak usah sayang sayangan. Manggil aku aja cuma pake nama" Aisyah langsung pada mode manja, langsung cemberut. Membuat kedua orang tuanya tersenyum. Norma jadi paham, anaknya sekarang sedang PMS.
"Ica, tamunya bulan ini dah datang belum" tanya Norma. Aisyah sejenak tak mengerti, lalu kemudian kaget dan merasakan ada yang tidak nyaman.
"Yah, singgah di toilet dulu yah. Ica mau cek sesuatu". Ucap Aisyah, dia sudah grasak grusuk, dibelakang. Sebentar-sebentar cek tempat duduknya. Untunglah tempat duduknya masih bersih.
Haidar yang paham, langsung menepikan mobil ke masjid terdekat saat melihat ada toilet umum di depannya.
__ADS_1
Aisyah segera turun, dan berlari ke dalam toilet. Sampai di dalam, Aisyah langsung mengecek dan ternyata benar, sudah ada noda disana. Dia segera ingin memakai pembalut tapi saat akan mengambilnya, dia jadi sadar tidak bawa apa-apa.
"Ca... , buka bentar, nih ibu bawa perlengkapan kamu" Aisyah bernafas lega mendengar suara ibunya. Ibunya begitu sangat pengertian. Beliau bisa mengetahui yang dibutuhkan Aisyah tanpa dia harus bilang. Ibu terbaik versi Aisyah.
"Makasih, Bu"
"Sama-sama sayang. Ibu kembali ke mobil yah" Aisyah hanya mengangguk. Lalu kembali menutup dan mengunci pintu. Setelah menyelesaikan kegiatannya, Aisyah bergegas kembali ke mobil. DIa berjalan sambil bersenandung dengan suara lirih, hingga tidak memperhatikan sekeliling.
Buuukkk...
"Aduh..." Suara benturan itu bersamaan dengan ringisan Aisyah yang telah terduduk di lantai depan masjid.
"Maaf..., adek nggak kenapa Napa kan?" Suara yang seperti Asiyah kenali membuatnya mendongak ke asal suara.
"Kamu...." Ucap Aisyah dan cowok di depannya bersamaan. Bedanya, Aisyah dengan suara lantang dan jengkel. Sedangkan si cowok, nadanya lebih lembut. Mungkin merasa bersalah karena menabrak orang yang tadi ditemuinya di penjual bakso.
"Maaf yah, Pendek. Kamu jadi jatuh karena nabrak aku. padahal, tadi aku sudah coba menghindar loh, tapi kamu malah ikutan bergeser"
"he... namaku tuh Aisyah bukan pendek, heran deh, dari tadi manggil pendek terus. Kan aku nggak pendek-pendek amat, kan wajar usiaku aja baru mau 17 tahun. Badan segini dah wajar..kakak aja yang terlalu tinggi, atau karena kakak sudah tua yah, sudah berumur jadi badannya bisa setinggi ini?" Ceplos Aisyah tanpa sengaja menyebutkan namanya yang memang dari tadi membuat si cowok penasaran. Tidak mungkin pula kenalan di saat saya begini.
"huss.. enak saja. Saya tuh masih kelas XII SMA. Cuma, bibit unggul memang bentukannya kayak gini, jadilah badanku tinggi dengan wajah tampan paripurna" Sombong si cowok. Membuat Aisyah rasanya ingin muntah.
Tapi benar juga sih, cowok ini memang sangat tampan untuk ukuran orang desa. Mana mirip bule lagi, tinggi kurus, putih, rambut agak pirang. Tapi kan, zaman sekarang mewarnai rambut adalah hal yang biasa. Matanya juga beda, pake lensa kali ya? kan bisa saja. Lagian mana ada bule fasih pake logat orang lokal. Aisyah terus berceloteh dalam hatinya. Sampai tak sadar, si cowok mengulurkan tangannya dari tadi.
"Pegel nih tangan aku, terpesona juga nggak usah selebay itu sih, sampai mangap kelamaan.." Aisyah seketika tersadar, tapi dia tidak betul betul mangap seperti yang dikatakan cowok di depannya.
"Siapa juga yang terpesona". Ucapnya sambil berdiri tapi mengabaikan tangan si cowok. Meski tak berhijab, tapi Aisyah sudah diajarkan agar tidak bersentuhan dengan yang bukan makhramnya. Dia lalu berjalan meninggalkan si cowok yang masih tertegun di tempat karena uluran tangannya tidak diterima, bahkan dia ditinggalkan begitu saja. sesuatu yang sangat aneh baginya saat bertemu dengan seorang cewek, yang biasanya langsung diajak kenalan.
"Pendek, Namaku Ahmad. Ingat yah, kalau ketemu lagi kamu harus jadi pacarku" ucap Ahmad dengan suara agak lantang agar di dengar oleh Aisyah.
Tapi Aisyah terus berjalan cepat menuju mobil ayahnya. Didalam sama sang ayah dan ibu terlihat sedang asyik bercengkrama.
Begitu menyadari kedatangan Aisyah, mereka melanjutkan perjalanan. Aisyah tak tahu saja bahwa dia telah membuat hati seorang pria klepek-klepek.
__ADS_1
***