
Hari ini di sekolah tampak ramai. Aisyah dan teman-temannya telah datang dari pagi membantu persiapan acara penamatan untuk kelas XII. Meskipun baru beberapa hari di sekolah ini, tapi Aisyah tetap harus hadir dan turut membantu panitia acara.
Pukul 08.00, tempat kegiatan telah dipenuhi dengan tamu undangan dan siswa yang akan wisuda. Hana bergabung dengan teman-temannya yang lain, duduk pada tempat panitia yang telah disediakan.
Acara diawali dengan tari penyambutan oleh siswa kelas X. Lima orang siswa yang membawakan tarian terlihat cantik dan sangat energik. Mereka bergerak lincah dan selalu dihiasi dengan senyum menawan.
Lalu MC memulai acara. MC terdiri dari tiga orang yang menggunakan bahasa Indonesia, Arab dan Inggris.
Tapi yang Aisyah kagum dan terkejut adalah sosok yang kini tengah membaca ayat suci Al Qur'an di atas dengan suara yang sangat merdu.
"Kok kamu nggak bilang sih, punya suara semerdu itu?" Tanya Aisyah dengan mata berbinar. Pasalnya Aisyah memang selalu kagum saat dengar suara tilawah yang bagus. Kadang ia berfikir 'nih orang makan apa yah sehingga suaranya sebagus itu' hanya saja pikiran itu tak pernah bisa tersampaikan. Karena orang-orang didekatnya, tak ada yang punya suara sebagus itu saat melantunkan ayat suci.
"kan tidak pernahki bertanya. Masa iya, haruska lapor punya suara bagus. Ntar dibilang pamer lagi. Lagian suaraku masih standar kok, banyak teman kita yang suaranya lebih bagus. Tapi aku yang kebetulan ditunjuk, jadi iya-iya ada." Jawab Rani sekenanya, dengan campuran logat Makassar.
Di sekolah Aisyah kali ini memang banyak pendatang. Namun, interferensi gramatikal bahasa Makassar pada bahasa Indonesia anak-anak di sekolah masih lebih kental dari pada bahasa-bahasa lain. Namun, selama disini, Aisyah hanya menyesuaikan saja, kadang bahasa Indonesianya disesuaikan logat setempat, kadang biasa-biasa saja. Tergantung situasinya saja. Rani pun terlihat masih santai dalam penggunaan bahasa Indonesia, kadang pake logat Makassar kadang pula, tidak. Berbeda dengan sekolah Aisyah yang lama, kebanyakan anak disana bahasanya memang masih tercampur bahasa Makassar, bahkan ada yang bercakap full menggunakan bahasa Makassar, yang meskipun dimengerti oleh Aisyah tapi kadang masih sulit mengucapkannya. Karena di rumah, Aisyah selalu berdialog dengan bahasa Indonesia bersama ayah dan ibunya.
"Iya juga yah. Kamu belajar dimana? mau dong belajar tilawah" Tanya Aisyah serius.
"Diajar sama bapak dan ibu, kakak juga. Nanti aja kukenalkan dengan mereka. Kebetulan kan hari ini pada hadir semua karena si kakak lagi wisuda. Katanya sih jadi peraih nilai tertinggi" Jelas Rani
Lalu mereka diam mendengarkan rangkaian acara yang berlangsung. Beberapa sambutan telah disampaikan. Saatnya penampilan drama dari siswa kelas xi.
Aisyah dan Mirna tampak antusias melihat penampilan teman-temannya. Ada beberapa pemain yang telah dikenalnya, beberapa yang lain masih asing baginya.
"Ran, itu yang berperan sebagai pak kyai siapa sih? kok kayak nggak pernah lihat yah?" Tanya Aisyah penasaran.
"Oww.. Itu si Amri kelas sebelah, dia itu hafidz 28 Juz. Targetnya, selesai dari sini sudah khatam sampai 30 Juz. Memang rada pendiam dan nggak pernah tebar pesona tapi tetap saja banyak yang terpesona, hahhaa " jelas Rani. Tapi bisa Aisyah lihat ada yang aneh dengan raut wajah Rani saat menatap dan membahas tentang Amri.
"Kamu suka dia yah?" Tanya Aisyah blak-blakan.
"Apaan sih, Ca. Kita kan dilarang pacar pacaran?" Rani memukul lengan Aisyah, pelan.
__ADS_1
"Lah... yang bilang pacaran siapa juga. Kan aku cuma tanya, kamu suka dia?" Aisyah kembali mengamati wajah Rani yang sudah memerah, salah tingkah.
"Jangan bilang, kalian betulan pacaran sekarang?" Tebak Aisyah.
"nggak kok. Seriusan, kami nggak pacaran. kan aku dibagian kedisiplinan, sangat tahu sanksi bagi siswa yang pacaran. Jadi nggak mungkin pacaran" Elak Rani
"Yah... siapa tahu aja. Kan sekarang lagi marak, yang buat peraturan, dia pula yang duluan melanggar" Aisyah tak mau kalah.
"Kami persilahkan kepada kakanda Ahmad Sakti Pratama, Indira Prayuda, Nur Fahmi Fauziah, naik ke atas panggung beserta masing-masing orang tua" Suara MC menghentikan pembicaraan keduanya.
"Wah... kakakku betulan dapat penghargaan" Seru Rani tersenyum bahagia yang menular ke Aisyah. Aisyah mengikuti arah pandang Rani yang berbinar indah.
'deg'
Aisyah tertegun menatap ke atas panggung. Sosok yang ditemuinya setiap hari secara kebetulan, sekarang sedang berdiri bersama teman-teman dan orang tuanya di atas panggung.
Sejenak Aisyah tertegun menatap kepada laki-laki yang dikenalnya dengan nama Ahmad. Disampingnya ada pak RT dan istrinya. Lalu ada dua siswa lain beserta orang tuanya. Aisyah terus menatap hingga Ahmad yang sedari tadi mengedarkan pandangannya, dapat menemukan mata Aisyah yang sedang menatapnya juga. Tatapan mereka bertemu, hingga Ahmad mengedipkan matanya secara jahil dan Aisyah kaget dan langsung mengalihkan pandangannya.
"Kenapa?" Tanya Rani
"Nggak kok" Jawabnya gugup.
"Kamu kenal kakakku yah?, dari tadi dia menatap kesini bahkan ngedipkan mata. Jangan-jangan, kamu jadi gadis incarannya?" Tanya Rani heboh.
"Eh.. mana ada yang begitu? Kami hanya beberapa kali ketemu dengan nggak sengaja" Jawab Aisyah gugup.
"Wah... kamu ketahuan.... Sudah berapa kali ketemu kakakku? Ayo ngaku. Tapi, kamu jangan mau Ca, kalau dibaperin sama kakakku, dia itu terkenal playboy walau tak pernah pacaran. Cuma PHP in, anaknya orang. Kalau dah takluk, minta dipacarin, kakak akan bilang 'Maaf yah, aku dilarang pacaran, apalagi di sekolah juga ada larangan pacaran', banyak yang sering nangis karena ulahnya. Anehnya, cewek lain malah kebanyakan berharap di deketin sama kakak, berharap kisahnya beda sama yang lain, tapi sampai lulus saja tetap begitu" Jelas Rani panjang lebar, menatap kakaknya sinis.
Sakti yang merasa mendapatkan tatapan tak bersahabat dari adiknya hanya bisa garuk kepala nggak mengerti. Hingga acara pemberian penghargaan selesai, dan mereka semua turun dari panggung, Aisyah tak lagi mau menatap kearah panggung.
Setelahnya, Ahmad Sakti Pratama alias Sakti atau yang dikenal dengan nama Ahmad oleh Aisyah, naik ke atas panggung sendirian untuk menyampaikan pesan dan kesan sebagai siswa yang tamat.
__ADS_1
Sakti membawakan pesan dan kesan dengan sangat baik. Hadirin kadang tertawa dan di sela tawa ada tangis haru dari teman-temannya mendengar untaian kata dari sakti. Banyak diantara siswa yang ditamatkan berpelukan dengan teman-temannya sambil terisak sedih karena akan terpisah.
"Dan terakhir saya akan menyampaikan pesan spesial untuk adik kelas saya yang disana" Ucap sakti sambil menoleh kearah Aisyah tanpa menunjuk, hanya tersenyum manis.
"Karena dalam Islam tidak ada kata pacaran, dan di sekolah kita juga dilarang berpacaran, terlebih orang tuamu pasti juga menolak jika anaknya diajak pacaran. Maka hari ini saya minta belajarlah dengan giat agar cepat lulus, kuliah dan meraih mimpi bersama, lalu ayo kita menikah. Saya akan menunggumu, menjadikanmu halal untukku, Love U, Pendek. Assalamu Alaikum warahmatullahi wabarakatuh" Sakti turun dari panggung dengan teriakan heboh dari teman-temannya, decakan dari guru-guru dan orang tua nya. Dan wajah cengo dari Aisyah.
Sementara Rani yang menyadari tatapan kakaknya selalu mengarah pada Aisyah hanya bisa menatap tak percaya pada kakaknya yang sepertinya diberondong berbagai pertanyaan dari bapaknya.
Sementara para gadis yang memuja sakti sibuk menatap kearah pandangan sakti tadi. Masih menebak-nebak siapa gadis yang ditaksir sakti. Pasalnya, rerata yang duduk di dekat Aisyah adalah perempuan, pendek pula.
Suasana haru yang sempat tercipta tadi, tiba-tiba menjadi riuh dengan suara-suara bersahutan. Meskipun seperti berbisik, tapi karena dilakukan oleh hampir seluruh siswa, suaranya menjadi terdengar riuh dan mengganggu pelaksanaan acara. Begitu besar pengaruh kata-kata seorang sakti, yang menembak adik kelas dihari kelulusan. Tepatnya sih melamar. Jelas saja, semua penggemarnya heboh.
Untunglah kehebohan itu tidak berlangsung lama. Karena MC segera mengambil alih dan melanjutkan acara. Hingga tanpa terasa, prosesi penamatan pun dilakukan. Aisyah tidak lagi bisa menikmati acara dengan baik. Masih bingung dengan kejadian tadi. Dia hanya menimpali sesekali saat Rani berbicara. Sedangkan Rani bisa melihat Sakti yang sepertinya masih mendapatkan banyak pertanyaan saat prosesi penamatan berlangsung.
Seluruh kegiatan berjalan dengan baik. Hingga tiba sesi foto bersama. Semua siswa yang ditamatkan berfoto bersama. Dan begitu selesai kegiatan, Sakti dan teman-temannya menuju lapangan untuk melakukan selebrasi kelulusan.
Mereka membentuk lingkaran dengan iringan musik, lalu menerbangkan balon bersama-sama. Setelahnya, mereka berfoto bersama teman-teman dan keluarga.
Banyak yang membawa buket bunga, Snack dan hadiah-hadiah untuk siswa yang wisuda. Sakti mendapatkan sangat banyak buket dari penggemar-penggemarnya. Hingga tangannya tidak cukup muat untuk membawanya. Untungnya, adik sakti di Acil ikut serta, jadi buket yang kebanyakan Snack segera berpindah ke tangannya. Orang tua sakti pun tampak rela membantu sang anak.
Di sisi lain, Aisyah dan Rani sibuk membantu panitia untuk membersihkan tempat acara. Hingga Azan Dzuhur berkumandang, Aisyah dan teman-temannya bergegas ke masjid. Setelah itu makan dan kembali membersihkan.
Karena kekompakan panitia yang dibantu oleh Staf kebersihan sekolah, mereka bisa menyelesaikan tugas pukul 14.30. Aisyah dan Rani berjalan bersama untuk pulang.
"Nggak nyangka yah, Ca. Kita dekatan rumah. Kalau gini kan, kita bisa pergi dan pulang bareng" Rani membuka pembicaraan.
"Iya, kamu ternyata anaknya pak RT" balas Aisyah.
Rani terus berceloteh yang kadang hanya diangguki oleh Aisyah. Bagaimanapun, Aisyah masih memikirkan kejadian tadi. Dia bisa memastikan bahwa Sakti atau yang dikenalnya dengan nama Ahmad, terus menatap ke arahnya saat mengatakan hal tadi, lalu 'pendek' adalah panggilan Ahmad untuknya.
Dengan melamun, Aisyah terus berjalan ke arah gerbang keluar bersama Rani. Hingga suara klakson mobil mengagetkan keduanya.
__ADS_1