Love U, Pendek

Love U, Pendek
Menuju Kota Bunga


__ADS_3

"Coba lihat ke kiri, yang itu bendungan Ca. Nah, di depan sana ada tempat makan yang enak, kayak lesehan gitu. Banyak menunya, Ca. Ada ikan, trus minumnya ada es kelapa muda. Banyak orang ke bendungan ini buat sekedar foto-foto, atau makan, adapula yang sengaja mengadakan pertemuan dengan rekannya. Kamu mau singgah?" Tanya ayah sambil melirik Aisyah lewat kaca.


"Nggak Yah..Ica masih kenyang. Emang ayah dan ibu lapar? kalau lapar, kita singgah saja dulu" Jawab Ica, tatapannya masih mengarah ke arah bendungan luas itu. Apalagi ayahnya melambatkan laju mobil.


"Kalau ibu sih nggak lapar, gimana mau lapar, dari tadi ngemil terus, hahaha.. " Aisyah ikut tertawa mendengarkan ibunya, begitupula Haidar.


Akhirnya mereka tak jadi turun, Haidar kembali melajukan mobil dan di tempat-tempat tertentu melambat lalu menjelaskan tempat-tempat yang dianggap menarik.


"Nah, di daerah sini biasanya dijadikan tempat istirahat, Ca. kayak rest area gitu. Disini para pendaki biasanya melaksanakan shalat, makan atau beli cemilan buat bekal saat nanjak" Haidar kembali bertutur saat sampai di sebuah masjid dengan kios-kios yang ramai di depannya. lalu diseberang jalan terlihat warung bakso dan mie siram.


"Ayah kok kayak hafal dengan tempat ini?" Heran Aisyah menatap ayahnya.


"Ayah pernah sekali kesini waktu masih zaman kuliah di kota, Ca. Ikut anak pecinta alam buat nanjak. Tapi nggak ayah teruskan kebiasaan itu, kapok manjat gunung, bikin capek, nggak sesuai dengan passion ayah. Ayah sukanya duduk manis dan hanya menikmati keindahan alam tanpa tantangan berlebih seperti itu" Jelas Haidar. Tapi, Aisyah melihat ibu senyum senyum terus, cenderung menahan tawa sejak ayah bercerita.


Aisyah menatap ibunya dengan penasaran.


"Jangan natap ibu kayak gitu Ca. Ayah kamu tuh lucu. Memang nanjak bukan passionnya dia. Masa pertama kali nanjak sudah di gebet sama penghuni gunung. Dibawa kabur pula. Dia sih, liat cewek cantik dikit aja sudah kegoda. Padahal, waktu itu kami dah tunangan, hahahha. Dapat imbasnya deh" Ucap ibu sambil tertawa. Merasa puas karena pertama kali niat lirik cewek lain, ayahnya langsung kena mental.


"Kan ayah sudah bilang, waktu itu, ayah kasihan lihat gadis jalan sendirian di hutan. Mana tahu aku dibawa sampai tersesat, jauh dari teman-teman" Jelas Haidar lesu.

__ADS_1


"Sudah tahu hutan, kalau normalnya nggak akan ada cewek berani jalan sendirian. pake baju merah pula dengan rambut panjang terurai" Lanjut ibu.


Aisyah masih belum paham. Dia menatap ayahnya dengan penasaran.


"Waktu itu, ayah ikut nanjak sama teman-teman. tertarik sama cerita serunya mereka. kebetulan, karena ayah kebelet buang air kecil, ayah tertinggal di belakang, lupa pamit sama teman-teman. Nah, saat selesai, ayah mo lanjut tapi melihat seorang gadis pake baju merah berjalan sendirian tampak bingung. Lalu ayah dekati dan bertanya, katanya dia nyusul pacarnya, tapi belum ketemu. Jadilah ayah dan dia berbincang sambil jalan. Tapi lama-lama, si gadis menunjuk ke depan dan berkata pacarnya di depan sana dan mengejarnya. Akhirnya Ayah berjalan sendirian, nggak tahu lagi rute yang benar. Hingga malam semakin gelap, ayah tersesat, sendirian dan kedinginan. Tenda di bawa oleh teman ayah, sehingga tidak bisa pasang tenda saat dingin semakin menyengat. Hingga ayah jatuh dan saat terbangun sudah di rumah sakit aja" Haidar bercerita panjang lebar, yang langsung diberikan minum oleh istrinya setelah selesai.


Sampai sini, Aisyah mengerti bahwa ayahnya pernah tersesat saat sedang mendaki gunung bersama teman-temannya di daerah ini.


"Oh.... jadi ayah ceritanya tersesat karena gadis cantik yah. Hehe.. mana sudah punya tunangan, kok masih lirik-lirik sih" Goda Aisyah.


Ibunya ikut tertawa mendengar godaan Aisyah. Sedangkan Haidar tersenyum masam kala mengingat hal itu. Untungnya, teman-teman Haidar yang sebagian besar adalah seniornya di kampus dan terbiasa mendaki di tempat itu cepat tanggap dan mencarinya. Walau agak terlambat, karena Haidar terkena hipotermia dan terluka dibagian pahanya karena terjatuh hingga sulit berjalan.


Setelah mengetahui sekelumit kisah ayahnya di masa lalu, perjalanan kembali diisi dengan kisah-kisah yang lain. Bahkan ayah dan ibunya tak sungkan menceritakan tentang perjodohan mereka yang dimulai sejak kecil. Bahkan, mereka diperkenalkan dari kelas 6 SD, dan langsung dijejali dengan pemahaman bahwa mereka akan menikah saat besar nanti. Sehingga, ayah dan ibu Aisyah tidak pernah terlibat cinta lain di sekolahnya walau tidak mengenyam pendidikan di sekolah yang sama.


Meskipun masing-masing tahu akan menikah, tapi mereka tetap menjaga diri dan tidak berlebihan dalam berhubungan. Bertemu pun jarang, kadang kala hanya bertukar pesan jika ada hal penting yang harus diketahui satu sama lain.


"Ca, nyeberang kesana ada air terjun yang Indah. Agak jauh sih dari sini. biasanya yang singgah itu anak-anak yang habis nanjak di sebelah. Tempat nanjaknya itu bagus Ca, dan nggak terlalu tinggi, kita akan melewati tanjakan, turunan dan air mengalir yang jernih yang bisa langsung diminum, seger deh. Lalu sampai deh di sungai yang airnya sangat jernih. Disekitar sungai itu, biasanya kita bangun tenda buat istirahat, nginap disana". Haidar kembali bertutur saat melihat sebuah jalanan lebih kecil meski telah beraspal di sebelah kanan.


"Ayah pernah kesana?" Tanya Aisyah.

__ADS_1


"Nggak pernah, Ca. Hanya cerita dari teman, hehe" Jawab Haidar menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kok ayah kayak hafal benget situasi disana?" Heran Aisyah.


"Itu karena ayahmu direcoki foto hingga video perjalanan teman-temannya saat kesana. Berharap ayahmu tertarik dan bisa menyembuhkan traumanya buat nanjak. Tapi apalah daya, ayahmu tidak pernah tertarik lagi ikut sama teman-temannya saat mau mendaki gunung. Bahkan buat sekedar liburan di daerah pegunungan aja, kalau harus nginap dan pake tenda, dia nggak mau. Dia juga selalu minta ibu buat ikut, tapi orang tua kami selalu melarang pergi bersama tanpa pengawasan orang tua atau saudara. Katanya sih takut kami khilaf, heheh.."


"Soalnya, saat ayah sembuh dari sakit, bawaannya selalu mau ketemu ibu kamu. Ayah tuh mulai merasakan cinta yang teramat sangat karena perhatiannya dia. Saat menjelang SMA, ayah memang mulai merasakan cinta, tapi mungkin belum dalam kayak gitu". Jawab ayah sambil senyum senyum.


Mobil terus melaju hingga tak terasa mereka telah berkendara selama dua jam lebih. Aisyah sekeluarga telah memasuki kawasan kota bunga saat jam menunjukkan pukul 10.00. Mereka berangkat jam setengah delapan pagi dari rumah. Takut kena macet, apalagi diakhir pekan seperti ini. Karena menurut informasi yang diperoleh Haidar, banyak wisatawan yang berkunjung saat akhir pekan.


"Yah, singgah dulu. Ica mau foto di tugu yang ada tulisannya itu" Pinta Ica pada ayahnya saat melihat tugu bertuliskan kota bunga di samping kiri jalan.


Haidar melambatkan laju mobil dan berhenti. Dipinggir jalan yang cukup luas agar tidak mengganggu kendaraan lain. Aisyah dan ibunya turun untuk berfoto. Lalu Haidar turut serta. Mereka foto bertiga dengan berbagai gaya.


"Didepan ada tempat foto yang lebih bagus, kayak gapura, gerbang masuk kota bunga. Tapi bentuknya unik kayak kerucut, indah karena ada bunga-bunganya yang merambat, saat malam ada lampu-lampunya" Terang Haidar kembali menjelaskan agar anaknya lebih antusias lagi.


"Kalau gitu, ayo Yah, kita lanjut" ajak Aisyah bersemangat. Ayahnya hanya bisa mengulum senyum merangkul istrinya kembali ke mobil. dibukanya pintu depan, dan setelah anak istrinya merasa nyaman dalam mobil, Haidar pun melajukan mobil.


***

__ADS_1


__ADS_2