Love U, Pendek

Love U, Pendek
Sekolah Baru


__ADS_3

Tanpa terasa, waktu bergulir cepat. Aisyah sekarang berdiri di depan teman-teman kelasnya dan memperkenalkan diri.


"Assalamu Alaikum teman-teman..." Ucap Asiyah


"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh" jawab semua yang hadir, serentak.


"Perkenalkan, nama saya Aisyah Putri Haidar. Saya baru pindah kesini karena ikut orang tua..Terimakasih..Wassalamu Alaikum warahmatullahi wabarakatuh" Aisyah memperkenalkan diri dengan singkat, lalu menutup kegiatan perkenalannya.


"Eh.. jangan turun dulu dong" Cegah seorang siswa laki-laki tatkala Aisyah hendak turun. Aisyah yang bingung, melihat siswa yang mencegahnya dan menatap gurunya dengan penasaran.


Memangnya apa yang harus dilakukan di depan kelas. Sementara perkenalan pun sudah dilakukan. Setidaknya, begitulah isi hati Aisyah.


"Kenapa Jo? ada yang mau ditanyakan?" tanya sang guru pada siswa tadi.


"Banyak Bu. masa cuma kenal nama saja. Setidaknya, kasih tahu kita nomor HP dan statusmu saat ini" Jawab siswa itu mantap, yang langsung mendapat sorakan dari yang lain.


"Kalau nomor hp, apa wajib ngasih tahu semua teman kelas? trus status, kan semua sudah pada tahu kalau saya statusnya sebagai pelajar disini, baru pindah. Atau status kewarganegaraan? saya asli orang Indonesia kok" Jawab Aisyah sejelas-jelasnya.


Kembali, suasana kelas menjadi ramai karena suara tawa dan sorakan siswa. Aisyah hanya ikut tersenyum karena sebenarnya telah paham dengan maksud dari pertanyaan teman sekelasnya itu.


"Bukan gitu juga kelessss. kan kita butuh nomor hp mu supaya bisa dimasukkan ke dalam grup kelas. Trus status, bukan seperti itu maksud aku. maksudku itu, kamu itu jomblo apa dah punya pacar" Balas si cowok tanpa malu. Teman-temannya pun meledek. Pasalnya, si Jumadi, yang lebih senang dipanggil Jo memang sangat gemar menggoda cewek-cewek cantik.


"oo.. Nomor hp sudah kuberikan pada Bu guru untuk dimasukkan ke grup kelas. Dan status, aku sedang LDR 'an. Dia sedang memantaskan diri, dan akupun masih belajar untuk jadi pasangan yang baik untuknya. Nanti saat Allah telah menentukan, kami akan dipertemukan" Jawab Aisyah dengan senyuman, yang menambah kesan manis dan anggun.


Hari ini Aisyah tampak cantik dengan seragam putih abu-abu dan hijab warna putih. Yah.. di sekolah baru Aisyah, perempuan wajib pakai hijab.


"OOO... sudah ada yang punya toh" Jo berujar dengan lesu. Lalu ibu guru yang mengerti dengan jawaban Aisyah hanya tersenyum dan memintanya duduk di tempat yang telah disediakan.


"Ok.. karena perkenalan dengan Aisyah sudah selesai, jadi kita mulai saja yah pelajaran hari ini. Aisyah, saat istirahat, bisa ke perpustakaan untuk meminta buku paket yang digunakan. Semua buku sudah disediakan disana dan bisa dipinjam dalam jangka satu semester untuk setiap siswa. Kamu wajib menjaga buku itu dan tidak boleh rusak saat dikembalikan" jelas ibu guru. Lalu pelajaran pun dimulai dan berakhir saat bel pergantian pelajaran berbunyi. Setelahnya, masih ada pelajaran lain yang masuk, Aisyah hanya menyimak dan mencatat yang perlu. Sesekali bertanya, jika ada yang tidak dipahami. Sejauh ini, Aisyah merasa nyaman dengan situasi dalam kelas.


"Hai, kenalkan aku Rani. Bangkuku di belakangta"


"Aisyah, biasa dipanggil Ica" Jawab Ica takkala ramah.


"Aku, Jo" Jo langsung menjabat tangan Aisyah menggantikan Rani yang baru saja melepaskannya. Membuat Aisyah kaget karena tangannya tiba-tiba telah dijabat oleh Jo.


"heh.. Jo. nggak ingat apa, kita tuh dilarang bersentuhan dengan perempuan yang bukan makhram" Rani memperingati Jo yang lancang menjabat tangan Aisyah tanpa izin pula.


"Kan rencana mau dijadikan makhram" jawab Jo cengengesan dan segera melepaskan tangan Aisyah. Bisa gawat kalau bagian kedisiplinan kelas mencatat perbuatannya. Bisa kena sanksi point'. Rani hanya memutar mata malas.


Satu persatu, teman-teman kelas Aisyah memperkenalkan diri. Mereka tampak ramah dan tidak sungkan untuk berkenalan dengan Aisyah.

__ADS_1


"Ca... kantin yuk" Ajak Rani. Aisyah yang sedang masa pengenalan dan adaptasi dengan lingkungan baru, segera mengikuti Rani. Bagaimanapun juga, dia belum tahu letak kantin di sekolah ini.


Di sepanjang jalan, banyak yang penasaran dengan Aisyah dan mengajak kenalan. Jika perempuan, mereka akan berjabat tangan tapi laki-laki hanya akan menangkupkan kedua tangan di depan dada. Aisyah sudah membaca tata tertib yang terpajang, lengkap dengan poin-poin pelanggaran. Setiap tempat di sekolah ini juga terlah disediakan CCTV selain masing-masing bagian kedisiplinan kelas yang bertugas untuk mencatat saat ada pelanggaran yang dilakukan oleh siswa.


Meskipun tidak dipisahkan kelas antara laki-laki dan perempuan, tapi di sekolah ini sangat menjaga batas pergaulan siswa siswi nya. Apakah siswa tidak pernah melanggar? tentu saja pernah, tapi hukuman yang diberikan akan memberikan efek jera sehingga akan berpikir berkali kali jika ingin dengan sengaja melakukan pelanggaran lagi.


"Ran, itu kok rame sih di lapangan?" Aisyah seketika terhenti seketika melihat lapangan yang begitu ramai dengan sorakan.


"Oo.. itu, si kakel lagi main basket. Biasalah banyak yang nonton. Pengumumannya sampe di kelas tapi malaska nonton deh". Jawab Rani malas malasan.


"Tapi kok banyak banget yang nonton, emang tanding dengan siapa?" Tanya Aisyah penasaran.


"Bukan tanding, palingan hanya latihan. Tapi yah gitu, banyak fans nya" Jawab Rani. Aisyah jadi heran sendiri. Bukannya di sekolah ini aturan sangat ketat yah aturan pergaulan antara laki-laki dan perempuan.


"Kok banyak cewek yang kesana sih Ran, kan kita harus jaga batas pergaulan dengan cowok?" tanya Aisyah penasaran.


"hahaha... kalau sekedar nonton nggak dilarang kok. bahkan disediakan khusus tempat untuk perempuan agar tidak berdesakan dengan laki-laki saat nonton. Kita boleh memberikan support kepada teman-teman yang latihan atau bertanding. Yang dilarang itu kalau duduk berduaan, bersentuhan kalau bukan makhram, termasuk jabat tangan apalagi pacaran. Kita juga masih bisa bekerja kelompok di kelas dengan teman laki-laki tapi tidak ada pekerjaan sekolah yang boleh dibawa pulang ke rumah. Semua harus diselesaikan di sekolah. Sama guru lawan jenis saja cuma boleh menangkupkan tangan". Jelas Rani panjang lebar.


"oo..". Aisyah hanya mangguk-mangguk, sekilas melihat ke arah lapangan basket. Tanpa sengaja melihat orang yang selama menginjakkan kaki di daerah ini selalu membuatnya jengkel. Namun, dia segera menepisnya. Tidak mungkin kan ada kebetulan yang seketerlaluan ini.


"Itu kak Sakti. Sampai beberapa bulan lalu, dia masih ketua tim basket. Tapi, sekarang sudah digantikan, dia cuma sekedar datang buat latihan bersama yang lain. Kan sudah ujian akhir sekolah, Tinggal tunggu pengumuman lulus aja, lusa nanti" Rani kembali menjelaskan sambil terus berjalan menuju kantin.


Asiyah sedikit lega mendengar nama kakak kelas yang disebutkan oleh Rani. Setidaknya, Aisyah tahu bahwa, dia bukan bocah tengil yang selalu membuatnya jengkel.


"Kok kamu kayak nggak antusias sih nonton kakak kelas main basket. Nggak kayak yang lain. Teman-teman kita aja banyak yang melipir kesana" Tanya Aisyah lagi.


"umdede... malaskuja. Setiap hari juga ketemu di rumah" Jawab Rani dengan nada cuek, dengan logat yang berubah-ubah. Kadang biasa saja, kadang pake logat daerah.


"Saudara?" tebak Aisyah.


"Iya, kakak. Npa? kamu tertarik? Jangan deh.. dia playboy cap kangkung. Kanan kiri tebar pesona, memberikan harapan pada anak orang, pas orangnya baper, dia malah menjauh" Jawab Rani. Dia sangat tahu karakter kakaknya, jadi tidak mau sampai teman barunya ini terjerumus sama permainan sang kakak yang menjengkelkan.


"nggak kok, lagian kita kan nggak boleh pacaran. Bukan hanya aturan di sekolah, tapi di rumah juga ayah dan ibu melarang aku buat pacaran" Jawab Aisyah santai.


Mereka lalu menghabiskan makanan yang dibawa ibu kantin dan bergegas kembali ke kelas. Jam istirahat terasa begitu cepat berlalu. Teman-teman yang tadi sempat nonton masih sibuk bercerita tentang Kehebatan sakti dalam mencetak poin.


Dari roman-romannya, Aisyah dapat menebak bahwa Sakti ini adalah bintang sekolah. Kentara sekali mereka sangat memuji apapun yang sakti lakukan saat pertandingan.


huftt.. di sekolah seperti ini saja dunia per haluan pada sosok tampan tetap saja ada. gerutu Aisyah dalam hati. Pasalnya dia mendengar dengan jelas bagaimana antusiasnya berharap si kakak kelas mau menjadikan mereka pacar. Padahal kan jelas-jelas, diaturan sekolah pacaran itu dilarang.


Kelas kembali hening saat guru masuk. Suasana kembali kondusif bagi Aisyah. Setiap siswa begitu antusias menerima pelajaran. Apalagi, guru tidak kaku dalam mengajar. Kali ini, siswa diajak untuk membuat kelompok. Guru menampilkan gambar, dan siswa diminta membuat sebuah cerita berdasarkan gambar yang ditampilkan. Setiap kelompok akan menyampaikan hasil karyanya di depan dan kelompok lain memberikan penilaian. Kelompok dengan rangkaian cerita terbaik dan sesuai dengan gambar akan diberikan hadiah. Lalu guru memberikan penjelasan. Dan terakhir guru bersama siswa memberikan kesimpulan dari pelajaran hari ini.

__ADS_1


Diakhir, Aisyah mendapat giliran karena ini adalah pengalaman pertamanya belajar bersama mereka untuk menyampaikan pengalaman belajarnya.


"Assalamu Alaikum warahmatullahi wabarakatuh" Ucap Aisyah.


"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh" jawab yang lain.


"Saya merasa sangat senang belajar dengan cara seperti tadi. Terus terang, saya masih sulit untuk merangkai kata-kata jika harus menulis sebuah cerita. Tetapi, dengan bantuan gambar yang ditampilkan guru, itu lebih memudahkan. Apalagi ini dilakukan secara berkelompok, jadi kami bisa saling bertukar pikiran dan menyelesaikan tugas dengan baik. Terimakasih Bu. Assalamu Alaikum warahmatullahi wabarakatuh" Aisyah segera duduk kembali.


"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh"


"Alhamdulillah, semoga yang lain juga merasa seperti Aisyah yah nak. Ibu ingin, kita bisa belajar dengan cara yang menyenangkan agar pelajaran lebih mudah dicerna. Berikan tepuk tangan dong untuk Aisyah dan untuk semangat kita semua yang sudah mau belajar dengan baik hari ini" Ucap ibu guru yang disambut dengan tepuk tangan yang sangat meriah dari siswa siswinya.


Ibu guru kemudian mengucapkan terimakasih atas partisipasi aktif anak-anaknya dan menyampaikan materi yang akan dipelajari pekan depan agar siswa bisa mempersiapkan diri di rumah. Pelajaran lalu ditutup dengan doa dan salam. Bersamaan dengan itu, bel tanda istirahat untuk shalat pun berbunyi.


Aisyah dan Rani bergegas mengambil perlengkapan shalat. Namun sebelum ke mushallah sekolah, Aisyah meminta ditemani ke perpustakaan untuk meminjam buku. Disana, Aisyah didaftar untuk menjadi anggota perpustakaan, diberikan lembar tata tertib, lalu dipersilahkan memilih buku yang dibutuhkan. Tapi karena sudah akan memasuki waktu shalat, Aisyah diminta untuk datang kembali saat jam pulang.


Aisyah dan Rani pun meninggalkan perpustakaan menuju musholah untuk shalat berjamaah.


Setelahnya, mereka kembali ke kelas menunggu pelajaran selanjutnya. Aisyah merasakan bahwa hari-harinya di sekolah ini akan sangat menyenangkan. Cara belajar yang asyik dan teman-teman yang baik membuatnya betah.


Hingga tanpa terasa waktu pulang akhirnya datang. Aisyah dan Rani membenahi peralatan sekolah nya.


"Ca, duluanka nah, ada rapatku dengan pengurus OSIS yang lain. Sorry tidak bisa menemanimu ke perpustakaan. Semangat... Assalamu Alaikum" Rani segera bergegas menuju ruang OSIS. Sementara Aisyah berjalan lesu menuju perpustakaan.


"Hai Ca, mau ditemani ke perpustakaan tidak?" Tanya Jo yang dari tadi melihat interaksi Rani dan Aisyah.


"Hai Jo, nggak usah. Lagian, kesana tinggal ambil buku kok. Aku duluan yah" Aisyah buru buru keluar kelas menuju perpustakaan. Diperjalanan, dia bertemu dengan teman dari kelas lain yang kebetulan telah berkenalan saat akan ke kantin tadi.


"Mauka pinjam Novel, pekan depan pelajaran membuat resensi. Jadi, mauka dulu pilih-pilih novel dan latihan di rumah" jelas temannya yang bernama Indri.


"OOO.. kamu asli orang sini yah?" Tanya Aisyah. sekilas dia mengamati gadis disampingnya yang wajahnya tampak putih alami dan tingginya sebelas dua belas dengannya. Tapi lebih berisi, pipinya kemerahan dan sangat cantik. Itu versi Aisyah tentu saja.


"Iye, ayah dan ibuku asli orang sini. Rumahku dekat sini. Keluar gerbang, rumahku langsung kelihatan" jawab Indri.


"Wah... bagus dong. Nggak perlu tunggu jemputan kayak aku. Tapi kayaknya, haruska juga naik angkot deh. Ayahku sedang rapat, hari ini kan pertama kali nya juga beliau masuk kerja" Ucap Aisyah tanpa sadar malah curhat dengan Indri, logatnya pun kembali bisa menyesuaikan.


"Kalau begitu, kerumahki saja dulu, tunggu jemputan atau kalau naik angkot bisa juga sih dari rumahku" Tawar Indri dengan ramah.


"Makasih, tapi lain kali aja deh. Aku mau coba tunggu angkot di depan, supaya terbiasa dan tidak merepotkan ayah" Aisyah menolak dengan sopan. Indri pun tidak memaksa. Mereka melanjutkan menuju perpustakaan dan meminjam buku.


Setelah ke perpustakaan, Asiyah dan Indri berjalan bersamaan keluar sekolah. Indri menunggu angkot di pinggir jalan yang untungnya telah disediakan tempat duduk yang memiliki atap yang dapat melindunginya dari sinar matahari. Beberapa menit menunggu, belum ada juga angkot kosong yang lewat, rata-rata telah penuh dengan siswa. Hingga sebuah mobil pick up berhenti di depannya.

__ADS_1


"Hai pendek, ketemu lagi kita" Suara familiar itu membuat Aisyah mengalihkan pandangan dari chat grup yang sedang di bukanya.


"Kamu lagi...?"


__ADS_2