
Lima menit perjalanan, Aisyah dan keluarganya sampai disebuah rumah kayu sederhana dengan halaman yang cukup luas. Norma yang sangat senang berkebun telah menghayalkan banyak jenis tanaman yang akan di tanamnya.
"Wahhh.. rumahnya bagus yah. Kapan ayah membelinya?" Tanya Aisyah menoleh pada ayahnya.
"Baru kemarin, sayang. Ayah cari rumah saat berkunjung kesini setelah diberitahukan akan dipindahkan. Kebetulan, pemilik rumah ini akan ikut anaknya yang kerja di kota dan menetap di sana. Makanya di jual saja rumahnya ini" Jelas Haidar.
"Pasti mahal yah, ini kan daerah wisata" Tanya Aisyah lagi.
"Nggak kok, masih bisa kita jangkau. Lagian, Bagus kan punya di daerah seperti ini. Ayah dan ibu rencananya akan membuat kamar sewa, supaya kita ada pemasukan lain nanti" Jawab Haidar.
"Ayo kita masuk, ibu sudah nggak sabar mau lihat ke dalam rumah" Mereka bertiga bergegas naik ke rumah yang tidak terlalu tinggi itu. Hanya perlu beberapa langkah, mereka telah sampai di atas teras rumah dan Haidar segera membuka pintu rumah dengan kunci yang dibawanya.
Rumah yang Haidar beli adalah rumah atas dengan bahan kayu. Semua masih tampak bagus. Rumah pun dalam keadaan bersih, pemilik rumah lama betul-betul telah membersihkan rumah ini sebelum pergi. Bersih dalam artian betul-betul bersih, tanpa barang-barang apapun di atas.
Rumah dengan dua kamar tidur, ruang keluarga, ruang tamu, dan dapur yang sekaligus ruang makan. Puas melihat-lihat, Haidar segera ke mobil mengambil sapu yang dibawanya dari rumah lama beserta dengan masker.
Aisyah dan norma yang melihatnya segera mengambil sapu dan memakai masker. Mereka membagi tugas untuk menyapu, agar tidak ada debu yang menempel di lantai.
Setelah bersih, ayah kembali ke mobil dan mengambil karpet untuk digelar di ruang keluarga. Aisyah segera membantu ayahnya, mengangkat barang-barang yang bisa dibawanya, seperti rantang makanan dan piring untuk makan.
"Nyammmm... masakan ibu memang yang terbaik" Puji Aisyah saat tengah menyantap nasi yang dibawa dari rumah mereka yang lama. Norma sengaja masak lebih cepat untuk dibawa. Karena, dia yakin sampai di rumah baru tak akan sempat untuk memasak.
"Itu karena ibu memasak dengan penuh cinta. Jadi rasa masakannya ditambah bumbu cinta yang pas, semakin luar biasa" Jawab Haidar yang membuat norma merona karena dipuji.
"Kalian bisa aja, ibu kan jadi malu. Padahal biasa aja loh masaknya. Meskipun ibu selalu berusaha memberikan citarasa yang pas, agar kalian betah makan masakan ibu" Norma memang selalu merendah saat dipuji oleh suami dan anak-anaknya.
Aisyah segera mengangkat piring bekas makan mereka setelah selesai dan mencucinya. Itu memang sudah menjadi kebiasaan Aisyah.
__ADS_1
"Assalamu Alaikum"
Terdengar suara seseorang memberi salam dari depan rumah. Aisyah yang penasaran segera ke depan dan melihat pak RT dengan dua mobil truk di depan rumah. Padahal Aisyah tidak mendengar ada mobil yang masuk ke pekarangan rumahnya. Mungkin karena tadi, mereka keasyikan ngobrol sambil cuci piring. Karena ayah dan ibunya menemani Aisyah tepatnya menyaksikan sambil duduk, Aisyah yang sedang mencuci piring. Aisyah enggan dibantu, karena melihat ayah dan ibunya masih capek.
"Waalaikum salam, eh pak RT, masuk pak" Jawab Haidar lalu mempersilahkan pak RT untuk masuk.
Pak RT pun naik ke teras dan duduk bersama Haidar, melantai. Meskipun tanpa alas, tapi lantai kayu telah disapu dan cukup bersih untuk jadi tempat duduk.
"Begini pak Haidar, ini barang-barang yang bapak sudah beli di toko saya. Karena bapak tadi sudah chat saya, makanya saya bawa kemari. Jadi ini sudah lengkap yah pak, ada dua tempat tidur, dua lemari pakaian, rak piring, satu set kursi tamu dan meja makan." Jelas pak RT.
"Oh iya pak. Tapi ada anak buahnya kan yang bisa angkat pak" Tanya Haidar. pasalnya, dia tak akan sanggup mengangkat semua barang-barang itu.
"Ada kok pak. Tenang saja, harga yang bapak bayar pekan lalu itu sudah termasuk biaya angkut dan pasangnya" Jawab pak RT sehingga Haidar nampak lega mendengarnya.
"Mad, angkatmi barangnya naik"
Aisyah dan ibunya menyiapkan kue dan minuman yang telah dibeli di perjalanan kesini. Lalu diangkatnya baki yang berisi minuman itu, untuk di bawa ke teras.
Bukkkk... Prang...
"Aduh...."
"Maaf.."
"Ica.."
Suara-suara itu bersahutan. Suara baki stainless yang jatuh bersamaan dengan minuman teh kemasan yang untungnya tidak akan tumpah karena di wadah yang tertutup dan terbuat dari bahan yang tidak akan pecah. Sementara Ica berteriak kesakitan. Yang menabrak atau ditabrak, segera minta maaf, dan norma yang berada di belakang Aisyah segera memanggil dan menghampiri anaknya yang terjatuh. Keterkejutan membuatnya hampir melupakan kue yang dibawanya, untunglah kue itu tidak dilemparkan tapi tetap dibawa berlari menuju Asiyah yang jaraknya kurang dari satu meter.
__ADS_1
Norma membantu anaknya untuk duduk dengan lebih baik.
"Kamu nggak apa-apa dek"
deg... suara itu, sepertinya Aisyah mengenalinya. Aisyah lalu menatap wajah orang yang menabraknya dengan wajah penasaran. Sakit yang tadi dirasanya seakan hilang karena penasaran. Begitu Aisyah melihat wajah pria yang menabraknya, Aisyah melotot tak percaya. Bagaimana bisa ada kebetulan seperti ini
"Kamu lagi?? kenapa sih, setiap kali ketemu kakak aku selalu ketiban sial?" Tanya Aisyah dengan nada cukup lantang.
"Eh.. kok ngomong gitu sih nak. Kakaknya kan nggak sengaja" Sela norma yang tidak paham dengan sikap anaknya, padahal selama ini, Aisyah selalu menjaga nada bicaranya.
Sementara Ahmad yang dapat melihat wajah Aisyah tertegun untuk sesaat lalu segera tersadar dan mulai mengatur kata.
"Eh . Asiyah, ketemu lagi deh. Jadi, kamu penghuni baru disini? kita tetanggaan dong yah" Ahmad berusaha bersikap manis karena ada orang tua si gadis di dekatnya. Coba kalau nggak ada, habis sudah si Aisyah di ledeknya. Dia sangat senang saat Aisyah memperlihatkan kejengkelannya.
"Kalian saling kenal?" Tanya Haidar yang tiba-tiba masuk bersama pak RT karena mendengar teriakan dari dalam rumah dan benda jatuh.
"Nggak... Iya.." Ahmad dan Aisyah menjawab bersamaan dengan jawaban yang berbeda
"kok bisa beda sih jawabnya, mana yang benar Ca?" Tanya Haidar
"Kami nggak kenal kok Yah. Hanya ketemu di jalan tadi" Jawab Aisyah sekenanya
"Kami ketemu di penjual bakso saat adek saya menangis mau makan bakso. Syukurnya, Aisyah dengan rendah hati mengijinkan saya mengambil pesanannya yang telah lebih dulu menunggu. Lalu kami ketemu lagi di masjid dan dia menabrak saya. sekarang gantian saya yang nabrak. Maaf yah Aisyah" Jelas Ahmad panjang lebar.
"oo begitu. Bantumi padeng itu Aisyah sama mamakna mengambil itu minuman yang jatuh di lantai baru bawa keluar. Kasihan teman-temanmu, pasti mereka haus" Pak RT segera memberikan perintah agar mereka bisa segera berdiri dari tempat Aisyah terjatuh.
Aisyah yang merasa jengkel, menatap sinis pada Ahmad tanpa menghiraukan permintaan maafnya. Lalu Ahmad terlihat memungut teh kemasan di lantai dan membawanya ke teras depan.
__ADS_1