Love U, Pendek

Love U, Pendek
Ahmad Sakti Pratama


__ADS_3

Aisyah masih tertegun menatap cowok didepannya. Entah kenapa dunianya jadi sempit begini. Setiap hari bertemu cowok di depannya.


"Om Haidar belum jemput yah, ayo aku antar" Tawar pria yang setahu Aisyah namanya Ahmad.


"Nggak usah kak, makasih" jawab Aisyah dengan jutek.


"yakin? Hari ini, angkot lagi mogok loh nggak narik gara-gara BBM naik. memangnya kamu mau menunggu sampai malam disini. Mana mau hujan lagi" Bujuk Ahmad. Aisyah sontak menatap langit yang mendung.


Aisyah dilema, satu sisi dia tidak mau menerima bantuan Ahmad. Tapi di sisi lain, hujan akan segera turun. kalau tidak segera mendapatkan angkot, pasti akan kehujanan. Meskipun tempat duduknya memiliki atap, tapi tidak akan cukup melindunginya jika hujan deras. Apalagi rasa takut jika berada sendirian di tengah hujan. Mana tinggal dia sendirian, yang lain sudah pulang, ada yang dijemput, ada yang berjalan kaki. Ada pula yang terlihat duduk di depan minimarket.


Asiyah adalah orang baru. Dia belum begitu paham daerah ini sehingga takut bergerak jauh dari sekolah.


"hei.. kok malah bengong?" Aisyah sampai terlonjak mendengar suara itu.


"MMM.. tapi, kita cuma berduaan di mobil, apa nggak apa-apa?" Tanya Aisyah ragu-ragu.


" Kakak... adaja' tidak kekihatanka kah??" tiba-tiba disamping Ahmad sebuah kepala melongok keluar dengan mulut belepotan es krim, tersenyum dengan manis.


"eh...." kaget Aisyah.


Darimana pula anak ini muncul. Dari tadi kok nggak terlihat sih. kira-kira begitulah yang dipikirkan Aisyah.


"Ayo buruan, ntar hujan, basah lagi" ajak Ahmad lagi


"Aku duduk dimana?" Tanya Aisyah bingung. Jika tadi dia bisa duduk di depan, karena mengira tidak ada orang lain tapi takut berduaan. Sekarang tambah bingung karena didepan sudah diisi oleh anak kecil gundul yang belepotan es krim.


"Di depan aja, sama si Acil. tempat duduknya luas kok" Jawab Ahmad


"Nggak apa-apa emangnya??" tanya Aisyah ragu-ragu


"Nggak apa-apa kok. Sudah biasa, apalagi dia kan masih kecil" Aisyah yang tidak paham, segera naik ke dalam mobil. Si Acil segera menggeser duduknya lebih ke dalam. Ternyata benar kata Ahmad, tempat duduknya sangat luas, bisa untuk dua orang dewasa.


Memastikan Aisyah sudah duduk dengan nyaman. Ahmad menjalankan mobilnya menuju rumah. Berselang kurang dari 5 menit, mereka telah sampai di depan rumah Aisyah.

__ADS_1


"Sedekat ini?" Aisyah hanya melongo melihat rumahnya yang ternyata tidak begitu jauh dari sekolah.


"Kok tadi pagi kayak jauh gitu sih" lanjut Aisyah lagi


"Itu karena ayah kamu lewat jalan lain. Mungkin belum tahu jalanan yang tadi kita lewati" Jawab Ahmad, lalu segera pamit.


"Makasih kak" Ucap Aisyah. Lalu masuk ke dalam rumah.


Ahmad hanya menghela nafas kasar. 'Bukannya ditawari mampir malah orangnya langsung ngacir'. Pikirnya dalam hati.


"Kak.. Cantik yah" Goda Acil yang melihat kakaknya masih menatap ke arah Aisyah. Ahmad hanya tersenyum lalu mengacak kepala Acil dan segera menjalankan mobilnya kembali ke rumah.


Hari ini tiba-tiba saja si Acil mau makan es krim tapi harus yang dekat sekolah. Aneh-aneh saja nih anak, mana dia harus antar barang. Terpaksalah dia membawa Acil ikut mengantar barang, lalu singgah di dekat sekolah membeli es krim kesukaannya. Ternyata keterpaksaannya membawa berkah. Dia bisa ketemu Aisyah dan mengantarnya pulang.


***


Keesokan hari, Aisyah memutuskan untuk berjalan kaki ke sekolah. Bermodalkan ingatan saat diantar pulang oleh Ahmad kemarin, Aisyah ingin mencoba agar tidak merepotkan ayahnya.


"Yah.. Ica mau berangkat sendiri aja. Bisa jalan kaki kok, dekat banget ternyata sekolah Ica dari sini" Kata Aisyah saat mereka sedang duduk sarapan pagi.


"Itu loh, Yah, yang pertigaan di depan. Kemarin kan kita ambil jalanan yang agak lebar. Saat pulang, anaknya pak RT pake jalanan yang agak kecil di sebelahnya. Sudah di aspal tapi nggak terlalu luas" Jawab Aisyah menjelaskan.


"Jangan, biar ayah antar saja. sekalian lihat jalanannya. Kalau memang aman buat jalan kaki, ayah ijinkan" Haidar tidak mau mengambil resiko anaknya mendapatkan bahaya di jalan. Mereka penduduk baru disini, jadi harus berhati hati karena belum terlalu mengenal lingkungan sekitarnya.


"Tapi, Yah. Ica nggak mau ayah repot antar tiap hari. Mana Ica masuknya jam 7 dan harus sudah sampai di sekolah 15 menit sebelumnya. Sedangkan ayah, kan jam 8, terlalu cepat kalau mengikuti jadwalnya Ica" kata Aisyah.


"Benar kata ayah, kita kan masih baru disini, nggak boleh ambil resiko. Kamu satu-satunya putri kami, jadi harus dijaga sepenuh hati. Tapi, Ica juga benar, kasihan ayah yang bolak-balik antar Aisyah, tapi nggak bisa langsung juga ke kantor. Mau pake motor, nggak mungkin juga karena belum cukup umur. Lagian ngeri juga kalau harus naik motor di daerah ini...." norma menjeda ucapnnya sambil berpikir. Semntara Haidar dan Aisyah diam menyimak. "Nah.. bagaimana kalau Ica kita sewakan becak saja buat antar jemput" Seolah ada lampu di atas kepalanya, norma mengeluarkan ide itu.


"Boleh juga itu. Ayah setuju, asal bukan ojek saja. Kalau ojek perempuan sih, ayah setuju tapi disini rata-rata ojeknya laki-laki" Haidar setuju dengan istrinya


"Tapi yah. Itu artinya kita nambah pengeluaran lagi. Tabungan kita saja sudah terkuras banyak gara-gara membeli rumah dan banyak perabotan disini, belum biaya sekolah Ica"


"Nggak apa-apa kok sayang, Insya Allah gaji ayah cukup kok. Ayah kan naik jabatan pas pindah kesini. Jadi kamu jangan khawatir tentang pengeluaran kita" Balas Haidar yang paham dengan maksud anaknya.

__ADS_1


"Ok.. Nggak ada perdebatan lagi yah. Sebentar, ayah akan ke rumah pak RT untuk membahas ini. Beliau pasti kenal beberapa tukang becak yang bisa dipercaya buat antar jemput kamu" Putus haidar.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Aisyah segera berangkat ke sekolah diantar oleh ayahnya. Menggunakan jalan yang dilaluinya kemarin bersama Ahmad, Aisyah sampai lebih cepat ke sekolah. Meskipun, jalanannya lebih kecil, tapi cukup aman digunakan berkendara dengan mobil. Tapi, Haidar tentu tidak setuju jika Aisyah berjalan kaki di tempat ini. Selain karena jalanannya yang naik turun, yang tentu akan melelahkan Asiyah, Haidar juga takut karena jalanan ini masih kurang rumah penduduk. Jadi Haidar memutuskan bahwa ide istrinya adalah yang terbaik. Tidak masalah jika mereka harus mengeluarkan biaya lebih.


Di sekolah, Aisyah segera menuju kelasnya. Hari ini merupakan jadwal piket nya untuk menyapu. Meskipun sekolah ini memiliki 3 tenaga kebersihan, tapi itu hanya untuk di luar ruang kelas. Petugas akan membersihkan WC dan lapangan serta ruangan lain yang tidak dibersihkan oleh siswa. Sedangkan untuk ruang kelas hingga depannya menjadi tanggung jawab masing-masing kelas untuk membuat jadwal piket dengan sanksi bagi siswa jika melanggar yang diatur dalam peraturan masing-masing kelas.


"Hai Ca, dua baris samping kanan biar aku yang bersihkan, kamu yang sebelah kiri. Untuk membersihkan meja dan buang sampah, biar teman kita aja yang lain" Ica hanya mengangguk, mendengarkan petunjuk Sarah. Lalu mengambil sapu di lemari kelas dan mulai menyapu.


Sekitar dua menit mereka menyapu, teman-teman piket yang lain telah datang. mereka berlima bahu membahu membersihkan ruang kelas sampai ke depannya.


Setelah membersihkan, Aisyah dan teman-temannya segera mencuci tangan.


"Besok kan acara penamatan sekaligus pengumuman kelulusan siswa. Tidak sengaja toh, kulihat grup chatnya mamakku, ternyata kak Sakti yang dapat juara I siswa berprestasi. Selain memperoleh nilai tertinggi dalam ujian sekolah, dia juga memperoleh nilai tertinggi untuk raport semester satu sampai lima. hwaaaa...tambah kagumku sama kak Sakti... " Sayup sayup Aisyah mendengar celotehan anak kelas x yang berjalan di dekatnya.


"Wah.. hebat yah. Mauka kasih hadiah deh besok. Hadiah apa bagus di..." Suara itu semakin menjauh, hingga Aisyah tak mendengarnya lagi.


Aisyah merasa penasaran juga dengan sosok Sakti. Kenapa di sekolah ini seakan tidak ada cowok lain. Setiap ada siswi yang berbincang, pasti tidak jauh-jauh dari nama itu. Bukan cuma di kelasnya, bahkan sampai kelas x pun sudah terkena virus Sakti.


Rasa penasaran membawanya ke Mading yang terpajang tidak jauh dari kelasnya. Dari perbincangan teman-temannya, dia tahu bahwa sakti seringkali memenangkan pertandingan basket atau lomba-lomba lain, yang artinya Sakti pasti seringkali masuk berita di sekolah. Jam belajar masih ada 10 menit, cukup untuk menghilangkan rasa penasarannya.


Aisyah mencari pada kolom berita. Dan benar saja, di kolom berita sudah terpampang nama Ahmad Sakti Pratama yang sedang melakukan serah terima jabatan sebagai ketua TIM Basket di sekolah ini. Terlihat foto Sakti dan ketua tim basket yang baru. Namun, belum sempat Aisyah mengamati wajah dari Sakti, bel tanda masuk belajar telah berbunyi. Aisyah bergegas kembali ke kelas.


Nama Ahmad Sakti Pratama terekam baik-baik di otaknya. Entah kenapa dia merasa begitu familiar dengan wajah dalam foto. Tapi belum sempat melihatnya dengan baik, dia sudah harus kembali ke kelas.


"Eh.. ngelamun aja.."


"Kamu Ran, bikin kaget aja. Nggak melamun kok. Hanya sedang berpikir aja" Jawab Aisyah.


"Sama aja tauu. Emang mikirin apa sih?" Kepo Rani.


"Ada deh..kepo amat sih" balas Aisyah.


Rani yang tidak terima hendak membalas. Tapi belum sempat berkata apa-apa, suara salam dari luar sudah terdengar dan serempak mereka menjawab salam. Guru matematika telah hadir di kelas, semua siswa bersiap untuk belajar.

__ADS_1


***


__ADS_2