Luna And The Dire Wolf

Luna And The Dire Wolf
Bab 22. Duka Luna


__ADS_3

"Apa-apaan ini?" Luna terbelalak ketika melihat Valko, Alarick, serta beberapa orang Suku Canis itu berubah menjadi sosok serigala putih.


Detik itu, barulah Luna menyadari bahwa perkataan sang paman benar. Berulang kali dia diingatkan untuk menjauhi Valko, dan mengatakan bahwa mereka berbahaya. Namun, Luna tidak percaya.


Nasi sudah menjadi bubur. Luna tidak bisa mundur lagi. Cintanya pada Valko mengalahkan akal sehat. Baginya sekarang yang penting bisa bersama dengan Valko, tidak peduli dia makhluk seperti apa.


Jika memang Valko ingin memangsanya, bukankah dia sudah melakukan hal tersebut sejak dulu? Sampai saat ini Valko selalu memperlakukannya lembut, meskipun terkadang menjengkelkan karena terlalu cemburu.


Suasana ballroom terlihat kacau. Sebagian besar tamu undangan sudah berhambur keluar ruangan. Petugas keamanan hotel tidak berani mendekat dan melerai mereka.


Alarick terus berusaha menyerang Vlad. Dia mencoba untuk menggigit lelaki tersebut. Akan tetapi, Vlad dapat menghindar dengan cepat. Tubuh lelaki tersebut terlihat sangat ringan dan lincah.


Valko juga terus memyerang Draco, tetapi seperti biasa. Makhluk pengisap darah itu tidak bisa terluka sedikit pun. Tenaga kekasih Luna tersebut mulai habis.


"Sudahlah! Kalian hanya akan buang tenaga jika terus melawan kami!" seru Vlad.


"Benar, kalian menyerah saja. Biarkan aku dan Luna bersama!" Draco terus berusaha menghindar dari serangan Valko.


"Tidak bisa! Kenapa kalian tidak menanyakan langsung pada Luna? Dia mau atau tidak bertunangan dengan Draco!" seru Valko seraya terus melancarkan serangan.


Ketika suasana di dalam ruangan tersebut sangat kacau, tiba-tiba Martha berjalan menuju tengah ballroom. Dia terlihat kebingungan. Luna segera berlari menghampiri sang nenek.


"Nenek, ayo kembali duduk di sana, jangan mendekati mereka. Bahaya!" ajak Luna.


"Laurent, di mana dia?" tanya Martha dengan wajah linglung dan panik.


"Martha belum pulang sejak kemarin. Apa dia makan dengan baik? Bayinya terus menangis menunggu untuk diberi susu."


Mendengar ucapan sang nenek, membuat perasaan Luna kacau. Air matanya bercucuran dan hati gadis itu seakan diremas. Martha tiba-tiba kambuh, dia terus meracau tidak jelas. Menanyakan keberadaan Laurent, ibu Luna.


"Ayo, kita pergi dari sini, Nek." Luna menarik lengan sang nenek.


Namun, Martha menepis tangan Luna. Nenek dari Luna tersebut terus berteriak di tengah keributan yang terjadi. Suasana semakin tak terkendali, tiba-tiba Martha tersungkur di atas lantai.


Perempuan berusia senja itu terlihat kesulitan bernapas. Bibirnya terbuka lebar, dan matanya terbelalak. Dada Martha kembang kempis dengan ritme tak beraturan. Luna pun menjerit histeris, sehingga membuat semua yang ada di ruangan itu terdiam.


"Tolong nenek!" pinta Luna di tengah isak tangisnya.

__ADS_1


Vlad langsung berlari mendekati Luna. Dia menempelkan telinga pada dada Martha, kemudian mengambil posisi untuk melakukan CPR. Dia menekan bagian tengah dada Martha dengan kecepatan 120 kali per menit. Namun, tak lama setelahnya Martha kehilangan nyawa.


"Nek," panggil Luna lirih seraya mengguncang tubuh Martha.


"Nenekmu sudah meninggal, Luna."


"Nggak! Nggak mungkin, Tuan! Nek, jangan bercanda! Ayo bangun! Bukankah Nenek berjanji akan membuatkan aku pai apel?"


Luna menangis sesenggukan. Dadanya terasa begitu sesak. Bulir bening terus mengucur membasahi pipinya. Akhirnya mereka semua menghentikan pertengkaran, dan segera membawa Martha kembali ke Hutan La Eterno dan memakamkannya di sana.


***


Setelah acara pemakaman selesai, Valko menemui Luna yang kini duduk di teras rumah sambil melamun. Melihat keceriaan kekasihnya sirna, otomatis membuat hati Valko ikut bersedih.


"Luna, maafkan aku." Valko tertunduk lesu, karena merasa bersalah telah menimbulkan kekacauan dalam acara pertunangan itu.


"Maaf untuk apa, Val?"


"Keributan itu. Sepertinya menjadi pemicu kematian nenekmu."


"Bukan, semuanya sudah takdir. Tidak ada yang perlu dipersalahkan dalam hal ini."


"Val, justru tadi aku berharap dan berdoa begitu kencang, menginginkan kamu datang untuk membatalkan acara pertunangan tersebut." Luna tersenyum getir seraya menggenggam jemari Valko.


Tak lama kemudian, Vlad dan Draco menghampiri Luna yang sedang duduk di teras rumah. Kedua orang itu ikut merasa bersalah atas kejadian buruk hari ini. Luna hanya menanggapinya dengan senyum tipis.


"Tidak apa, Tuan. Sudah takdir nenek harus tutup usia hari ini."


"Mengenai pertunangan itu ...." Draco menatap Luna penuh harap.


Lelaki itu sebenarnya ingin sekali melanjutkan pertunangannya. Akan tetapi, tentu saja dia tidak bisa. Luna tidak memiliki perasaan apa pun kepada Draco. Dia tidak ingin mengikat tubuh gadis pujaannya itu, tetapi tidak dapat memiliki hatinya.


"Maaf, Tuan Muda. Aku memiliki orang yang sangat aku cintai. Aku harap setelah ini, kamu benar-benar menikah dengan perempuan yang tepat."


"Mengenai perjanjian itu, aku menghapusnya." Vlad merogoh sakunya, mengeluarkan selembar kertas, dan secara ajaib muncul api sehingga surat perjanjian itu terbakar.


"Maaf, Tuan, karena saya harus mengingkari perjanjian itu."

__ADS_1


"Tidak masalah."


"Apa ... kalian akan tetap membunuh Paman Diego?" tanya Luna sedikit ragu.


Mendengar pertanyaan Luna sontak membuat Vlad tertawa. Dia mendekati gadis itu, lalu mengusap lembut puncak kepalanya. Sebuah senyum tipis, kini terukir di bibir lelaki tersebut.


"Tidak, meskipun kami makhluk pengisap darah, kami tidak membunuh orang tanpa alasan yang kuat."


Luna terdiam. Dia bayangan Clara yang dihisap darahnya kembali terlintas. Seakan mengetahui isi kepala Luna, Vlad pun meraih lengan atas Luna.


"Mengenai orang-orang yang kami hisap darahnya ... itu karena permintaan mereka pribadi. Kebanyakan dari mereka ingin membalas budi kepada kami. Sebagian lagi melakukannya karena sudah bosan hidup. Entah itu karena masalah ekonomi, asmara, atau oun penyakit," jelas Vlad lalu melepaskan tangannya dari lengan Luna.


Kini, lelaki itu menatap Luna serius. "Luna, bisakah aku meminta tolong kepadamu?"


"Ada apa, Tuan?"


"Datang dan menginaplah ke mansion dua bulan sekali. Agar kami bisa re-charge energi. Jadi, kami tidak perlu lagi mengisap darah manusia untuk bertahan hidup."


Luna mengangguk setuju. Diikuti dengan senyum merekah Vlad dan juga Draco. Malam itu berakhir dengan kata damai antara Luna, Valko, dan dua makhluk pengisap darah itu.


***


Di tengah kota Flor yang tidak pernah sepi, seorang perempuan bergaun abu-abu melangkahkan kaki menaiki satu per satu anak tangga di rumahnya. Dia memiliki potongan rambut pendek. Manik matanya berwarna abu-abu dengan riasan yang terlihat sangat sederhana.


Perempuan itu adalah Azura. Dia menghentikan langkah, ketika sudah sampai di depan sebuah kamar. Gadis itu mengangkat lengannya ragu. Akan tetapi, setelah menguatkan tekad ruas jarinya berakhir di atas papan kayu tersebut.


"Masuk!" seru seseorang dari dalam kamar.


Azura pun segera memutar tuas pintu dan masuk ke dalam ruangan tersebut. Seorang pria dengan kepala dipenuhi rambut yang sudah berubah warna menjadi abu-abu sedang duduk lesu di samping ranjang.


Jemari lelaki tersebut menggenggam tangan seorang lelaki berusia jauh lebih muda dari dia. Pemuda itu sedang tidur meringkuk dengan jempol yang dimasukkan ke mulut, dan boneka beruang madu dalam pelukan.


"Ada apa?"


"Aku menemukannya!"


"Siapa?"

__ADS_1


"Titisan Dewi Arthemis!"


__ADS_2