Luna And The Dire Wolf

Luna And The Dire Wolf
Bab 40. Pencarian Selanjutnya


__ADS_3

Valko terus berlari menuju sumber cahaya itu. Langkah serigala jelmaan itu seringan kapas, seakan sedang tidak membawa apa pun di atas punggungnya. Luna sampai harus memejamkan mata berulang kali karena takut dengan kecepatan lari sang kekasih.


"Val, pelan-pelan!" seru Luna sambil terus mengeratkan pegangan.


"Sedikit lagi kita sampai!" seru Valko yang terdengar seperti geraman di telinga Luna, tetapi entah mengapa dia mengerti setiap geram yang keluar dari mulut sang kekasih.


Benar saja, lima menit kemudian mereka sampai ke arah sumber cahaya itu berada. Valko pun menurunkan Luna dari punggungnya. Mereka berdua saling tatap kemudian mengangguk mantap.


Mereka melangkah perlahan untuk mengikis jarak dengan benda yang seakan sedang menyerap cahaya bulan tersebut. Ketika jarak keduanya semakin dekat, mata mereka membulat sempurna. Benda tersebut memanglah kalung yang dimaksud.


"Lihat, Val! Itu benar-benar kalungku!" seru Luna sambil menunjuk kalung perak dengan liontin berbentuk bulan sabit tersebut.


Valko tersenyum puas karena melihat senyum bahagia terukir di bibir sang kekasih. Dia langsung mengekor di belakang Luna yang kini bersiap menunduk untuk meraih kalung tersebut.


Namun, ketika jarak jemari Luna dengan liontin berbentuk bulan sabit itu tinggal setipis kertas, tiba-tiba kalung itu menghilang dari pandangan. Tak lama kemudian terdengar suara tawa yang menggema.


"Siapa itu?" Luna mengedarkan pandangan berusaha menemukan sosok yang sedang tertawa lepas.


"Penyihir gelap hutan larangan!" seru Valko sambil menunjuk ke arah pucuk pohon pinus.


Di atas pohon tersebut, ada seorang perempuan dengan mantel berwarna gelap berdiri tegap sambil menggenggam kalung Arthemis. Luna mendengus kesal, lalu melipat lengan di depan dada.


"Ini milikku!" seru sang penyihir sambil tertawa jahat.


"Tidak! Kalung itu punyaku! Turunlah penyihir jelek!" ejek Luna.


"Jelek katamu?" Penyihir itu pun langsung terjun dan mendarat tepat di depan Luna.


Sebuah tatapan tajam kini saling dilemparkan oleh Luna dan penyihir. Keduanya berusaha untuk saling mengintimidasi satu sama lain dengan tatapan penuh kebencian.


"Kembalikan! Itu kalungku!" Luna menengadahkan telapak tangan sambil menggerakkan ujung jarinya untuk meminta sang penyihir menyerahkan kalung itu, tetapi Penyihir itu tetap bergeming.


Perempuan paruh baya yang sebenarnya berparas cantik itu bernama Osco. Dia memiliki rambut keriting mengembang yang dibiarkan tergerai begitu saja, sehingga terlihat layaknya permen kapas. Dia memiliki kuku panjang yang diwarnai hitam.

__ADS_1


Penampilannya semakin menyeramkan karena pulasan make-up bertema gotik. Perempuan itu menggenggam sebuah tongkat sihir yang terbuat dari Blackwood. Kayu hitam tersebut memang paling sering digunakan oleh para penyihir hitam, karena sangat kuat ketika digunakan untuk mengendalikan pikiran dan melancarkan kutukan.


"Ambillah ke sini!" tantang Osco sambil tertawa congkak.


Luna hendak merampas kalung dalam genggaman Osco, tetapi perempuan itu tiba-tiba menghilang dari pandangan. Kini hanya terdengar suara tawanya yang menggema, seakan terpantul oleh udara. Telinga Luna mendadak nyeri karena mendengar tawa perempuan itu.


"Luna, naiklah!"


Tanpa Luna sadari, Valko sudah berubah menjadi sosok serigala dengan ukuran lebih kecil dibanding ketika menjadi Dire Wolf. Gadis itu pun langsung naik ke punggung sang kekasih. Valko segera melompat untuk mengejar Osco.


Lelaki itu mengandalkan ciumannya. Aroma Osco semakin kuat ketika keduanya mendekati sebuah pondok tua di tengah hutan larangan. Valko mengerutkan hidung, berusaha mengendus lagi aroma tubuh sang penyihir.


"Dia ada di dalam pondok tua itu!"


Luna turun dari punggung Valko. Sedetik kemudian, Valko pun kembali berubah wujud menjadi manusia. Keduanya melangkah pelan mendekati pondok tua tersebut.


Ketika Valko membuka pintu reyot yang terbuat dari kayu itu, terdengar suara derit karena engsel yang digunakan memang sudah berkarat. Mereka berdua masuk ke rumah tersebut. Ketika pintu kembali tertutup, mendadak suasana rumah berubah drastis.


Rumah yang awalnya terlihat suram, kini berubah menjadi ruangan yang terlihat mewah. Dinding rumah itu berlapis emas. Lantainya terbuat dari batu marmer yang mengkilap. Langit-langit rumah tersebut seakan memperlihatkan tatanan galaksi bima sakti.


"Ini ilusi. Tetaplah berhati-hati," ucap Valko memperingatkan sang kekasih.


Mereka mulai melangkah masuk lebih dalam ke rumah bak istana itu. Mereka berhenti melangkah manakala melihat sebuah meja panjang berisi beraneka macam makanan lezat.


Air liur Luna seketika meleleh karena melihat hidangan yang terlihat menggoda tersebut. Beruntungnya Valko mengembalikan kesadaran Luna dengan memukul manja kepala sang kekasih.


"Val!" protes Luna.


"Itu hanya tipu daya sihir!"


"Aku kan juga mau makan itu. Aku lapar," rengek Luna sambil memajukan bibir bawah dan memasang muka sedih.


"Memangnya kamu tahu, makanan apa yang sebenarnya dihidangkan di sana?" Valko menunjuk meja di hadapannya dan mengabsen setiap makanan di atasnya.

__ADS_1


"Liat spageti itu! Bisa jadi mereka adalah sekumpulan cacing tanah yang sedang menggeliat manja. Lalu pasta makaroni itu!" Valko menunjuk hidangan di atas meja satu per satu.


"Bisa jadi, itu adalah ulat-ulat pohon atau belatung yang berbau busuk!"


Mendengar ucapan Valko membuat perut Luna bergejolak. Rasa lapar serta nafsu makan gadis itu mendadak sirna. Dia memegangi perut serta menutup mulut dengan telapak tangan.


"Lalu, steik daging itu, bisa saja ...."


"Valko, cukup!" Luna menghentikan ucapan sang kekasih sambil melemparkan tatapan tajam.


Valko tersenyum jahil dan menggandeng lengan Luna menuju sumber aroma yang terendus oleh hidungnya. Mereka berhenti di depan ruangan dengan pintu setinggi dua meter. Pintu tersebut dipenuhi dengan ukiran bunga berwarna keemasan.


Begitu pintu terbuka, mereka disuguhi dengan pemandangan menakjubkan lain. Mereka melihat Osco sedang mematut diri di depan cermin sambil memakai kalung Arthemis. Wajahnya berubah sangat cantik, dan jauh dari kesan menyeramkan.


Luna mengepalkan jemari kuat hendak menghampiri Osco. Akan tetapi, Valko menahannya. Dia menggeleng ketika Luna mengalihkan pandangan dari Osco dan menatapnya.


"Jangan gegabah, Sayang. Dia dibatasi oleh gelembung sihir. Perhatikan baik-baik, dan fokuskan pandanganmu."


Luna menuruti instruksi yang diberikan oleh Valko. Dia memfokuskan pikirannya pada penglihatan. Gadis cantik itu perlahan bisa melihat gelembung udara yang melindungi Osco.


"Kamu bisa meleleh jika memasuki atau berusaha menembus gelembung itu."


"Baiklah, terima kasih sudah mengingatkanku." Luna tersenyum tipis ke arah sang kekasih.


Kini Valko yang melangkah maju. Dia berjalan sampai batas gelembung yang menyelubungi tubuh Osco. Osco pun beranjak dari depan cermin lalu mendekati Valko. Gelembung yang tadi melindungi dirinya perlahan mulai menghilang.


"Sayang, bagaimana? Cantik 'kan aku?" tanya Osco genit.


Valko tersenyum miring kemudian mengangkat tangan ke udara. Dia pun membelai lembut rambut hitam Osco yang kini sudah tidak mengembang.


"Ya, kamu terlihat sangat cantik!"


...****************...

__ADS_1


Halooo, sambil nunggu karya ini update mampir juga yukk ke karya sahabat Chika yang satu ini!



__ADS_2