
"Val, tolong hargai usahaku sedikit saja!" Luna menepis lengan sang kekasih seraya menatap tajam Valko.
Valko pun menelan ludah kasar kemudian mengembuskan napas kasar. Dia menatap sang kekasih dengan raut wajah yang masih kebingungan.
Lelaki tersebut sedang berusaha mengingat lagi kesalahan apa yang sudah dia perbuat, hingga membuat Luna tersinggung. Valko menyelami lagi ingatannya. Setelah sampai dasar memori barulah dia menyadari kesalahannya.
"Astaga!" Valko menepuk dahi kemudian merangkum wajah Luna yang masih ditekuk.
"Maaf, Sayang. Tapi, sungguh! Sekarang aku menerima nasib apa pun asal bisa terus bersamamu. Menjadi Dire Wolf, kurcaci, atau apa pun itu. Aku mau! Jadi, bagiku sudah tak masalah jika harus berubah menjadi serigala raksasa sebulan sekali."
"Bukan itu masalahnya, Val!" bentak Luna.
Dada gadis cantik itu kembang kempis karena menahan gejolak amarah dalam dada. Dia menarik napas panjang dan membuangnya perlahan melalui mulut. Setelah merasa lebih tenang, Luna menatap serius sang kekasih.
"Kita sudah berjalan sejauh ini untuk mencari cara agar kutukan itu terlaksana. Dan sekarang kamu mengatakan kalau tidak masalah jika tak menjadi manusia seutuhnya? Aku kecewa!" Luna mengerucutkan bibir lalu membuang muka.
"Bu-bukan begitu maksudku." Valko terdiam.
Valko kini memutar otak agar Luna berhenti merajuk. Namun, otaknya seakan buntu. Jadi, dia hanya bisa mengucap maaf penuh penyesalan.
"Luna, maaf karena sudah mengatakan hal seperti tadi. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk menjadikan usaha kita sia-sia. Aku hanya tidak ingin merepotkanmu." Valko menatap sedih sang kekasih.
Luna pun akhirnya menurunkan sedikit emosi. Dia menghela napas kasar, kemudian meraih jemari Valko. Valko pun kini menatap mata gadis cantik itu dengan tatapan sendu.
"Ayo kita berjuang, Val. Sedikit lagi! Aku yakin setelah ini akan ada kebahagiaan yang menanti kita!"
Valko mengangguk mantap. Dia menatap sang kekasih penuh keyakinan. Valko berulang kali mengucap syukur dalam hati karena sudah dipertemukan oleh gadis sebaik Luna. Dia merasa sangat beruntung memilikinya.
Dua hari kemudian, setelah sang paman kembali lagi ke Hutan La Eterno, Luna dan Valko kembali melanjutkan perjalanan. Mereka melewati Hutan Gato dengan sangat mudah, karena kebetulan Catz tidak ada di sana.
__ADS_1
Para suku Smilodon mengizinkan mereka melintasi hutan tersebut dengan cuma-cuma. Namun, mereka harus kembali maksimal dua hari lagi sebelum fajar, karena Catz akan pulang dua hari kemudian.
"Aku tidak menyangka kalau kita akan kembali lagi ke sini." Luna menatap hamparan padang bunga lavendel yang ada di bukit Arcoíris.
Gadis itu memejamkan mata, kemudian menghirup napas dalam. Menikmati aroma bunga yang kini bercampur menjadi satu, dan menjadi wewangian yang memanjakan indra penciuman.
Di sisi lain, Valko sedang berdiskusi dengan Daphne. Kedua makhluk beda ras itu terlihat sangat serius. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Luna tidak mau mencampuri urusan keduanya.
Setelah selesai berbincang, Valko kembali menghampiri Luna sambil membawa beberapa tangkai bunga lavendel serta mawar. Tanpa Luna minta, Valko pun menceritakan apa yang baru saja dia perbincangkan dengan Daphne.
"Kata Daphne, ada jalan pintas rahasia menuju hutan Frio dan pegunungan Nuevo."
"Jalan pintas itu ada di mana?" tanya Luna penasaran.
"Di dalam rumah Tuan kurcaci itu. Pintu belakang rumah Paman Rudolf, merupakan jalan pintas menuju hutan Frio. Setelah sedikit menanjak ke dataran tinggi yang ada di hutan itu, kita akan sampai di perkebunan mint milik Bangsa Nuevo."
Mereka pun menuruni bukit dan menuju lembah tempat Rudolf tinggal. Setelah sampai di depan pintu sang kurcaci, Luna mengetuk pintu rumah kecil tersebut. Tak lama kemudian, pintu terbuka.
Rudolf tersenyum ramah, dan mempersilakan mereka masuk. Luna dan Valko pun masuk ke rumah tersebut, dan langsung menceritakan apa yang sedang mereka lakukan.
"Aku akan menemani kalian! Aku punya beberapa teman yang di sana. Aku akan menunjukkan di mana sandalwood mudah ditemukan!" Rudolf beranjak dari kursi, dan pasangan kekasih itu pun mengekor dibelakangnya.
Mereka menuju ke bagian belakang rumah Rudolf. Setelah pintu terbuka lebar, sebuah keajaiban terjadi. Di sisi sebelah lembah Arcoíris, hari sudah gelap.
Berbeda dengan kondisi lembah Arcoíris yang menyenangkan, tempat itu terlihat begitu gersang dengan hawa panas yang membuat gerah. Banyak ilalang yang mulai menguning karena cuaca panas di tempat itu. Meski tempat itu terlihat gersang, suhu di sana terasa sangat dingin. Berbanding terbalik dengan suhu pada siang hari
Angin dingin menerpa kulit Luna hingga membuat gadis itu bergidik. Valko yang menyadari bahwa Luna sedang kedinginan pun melepaskan mantelnya dan memakaikan benda tersebut pada tubuh sang kekasih.
"Lihat di sana! Itu adalah pohon sandalwood."
__ADS_1
Rudolf menunjuk sebuah pohon dengan batang yang tidak begitu besar. Pohon itu memiliki diameter sekitar 40 centimeter, dengan tinggi sekitar 15 meter. Tajuknya tergolong ramping dan tumbuh melebar. Akar dari pohon tersebut tidak berbanir.
Luna mendekati pohon tersebut. Dia menyentuh permukaan pohon itu, lalu mengendus tangan yang tadi digunakan untuk menyentuhnya. Hidung gadis itu kembang kempis. Aroma kuat tercium olehnya.
"Iya, benar! Ini pohonnya!" seru Luna dengan mata berbinar.
"Paman, bisakah kami meminta tolong untuk menebang beberapa pohon dan menjadikannya potongan kecil? Selain dibuat minyak esensial, kami akan menggunakannya untuk pembakaran persembahan," pinta Luna sopan.
Rudolf pun mengangguk tanda menyanggupi permintaan Luna. Sementara sang kurcaci kayu itu menebang pohon bersama beberapa teman yang tadi sudah dia panggil, Luna dan Valko memutuskan untuk melanjutkan perjalanan untuk mempersingkat waktu.
Entah bagaimana caranya keajaiban itu datang. Usai melewati sepasang pohon besar di Hutan Frio, mereka seakan berpindah ke dimensi lain. Kini keduanya berada di tepian sungai yang dipenuhi oleh aroma segar daun pappermint. Langit tempat itu terlihat terang dan berwarna biru.
"Segar sekali di sini. Beda dengan hutan Frio yang lebih terlihat seperti musim gugur dan gersang," ungkap Luna.
"Suku Nuevo tinggal di sini. Ada baiknya kita meminta ijin kepada mereka untuk meminta beberapa helai daun pappermint."
"Iya, kamu benar, Valko." Luna tersenyum kecut karena teringat kebodohannya ketika memetik bunga baby blue eyes di bukit Arcoíris beberapa waktu lalu.
Keduanya pun melangkah menyusuri sungai untuk menemukan keberadaan Suku Nuevo. Setelah berjalan selama tiga puluh menit, akhirnya mereka melihat beberapa pemukiman.
Pemukiman warga suku Nuevo dibangun mengitari tanah lapang. Di tengah tanah lapang tersebut terdapat bekas pembakaran kayu yang sepertinya dijadikan api unggun setiap malam hari. Rumah para penduduk, atapnya dibuat dari jerami dengan dinding yang terbuat dari kayu.
"Wah, masih sederhana sekali rumahnya." Luna mengedarkan pandangan ke setiap bangunan yang ada.
Ketika mereka berdua hendak melangkah mendekati rumah-rumah itu, tiba-tiba dari arah belakang ada beberapa orang yang menghardik.
"Siapa kalian!"
Melihat pemandangan di depannya membuat Luna langsung menutup mata Valko dengan telapak tangan. Dia tidak ingin mata lelaki tersebut tercemar hingga membuat otaknya menjadi kotor akibat pemandangan menakjubkan saat ini.
__ADS_1