Luna And The Dire Wolf

Luna And The Dire Wolf
Bab 43. Suku Nuevo


__ADS_3

Melihat beberapa wanita berkulit sawo matang di hadapannya membuat Luna terbelalak. Gadis itu sontak menutup mata Valko dengan telapak tangan agar sang kekasih tidak menatap sepasang daging bulat yang menyembul keluar dari Bra mereka.


"Terus tutup mata, atau aku pukul kepalamu!" ancam Luna sambil merogoh ransel dan mengambil syal untuk menutup mata sang kekasih.


Valko pun pasrah diperlakukan seperti apa pun oleh Luna. Dia hanya diam dengan mata yang kini tidak bisa melihat apa pun. Luna menatap sinis tiga orang perempuan berkulit eksotis di hadapannya.


Mereka adalah warga Suku Nuevo yang memang tinggal di tepi sungai Nuevo. Suku tersebut memiliki penampilan yang jauh dari kata modern. Tempat tinggal, baju, serta makanan mereka masih bergantung dengan persediaan alam. Namun, menurut kabar yang beredar sebagian besar warganya telah kecanduan teknologi sejak jaringan internet masuk ke hutan tersebut.


"Siapa kalian?" tanya perempuan yang berdiri paling depan.


"Aku Luna, dan dia pacarku. Namanya Valko." Luna memperkenalkan diri dengan nada bicara sopan.


Namun, tatapan perempuan itu masih tidak bersahabat terhadap tiga orang di depannya itu. Perempuan paling depan itu maju mendekati Luna, lalu meneliti setiap jengkal tubuhnya.


"Kamu dari mana?"


"Hutan La Eterno. Kenapa?"


"Untuk apa kalian ke sini?"


"Kami ...." Ucapan Luna mengambang di udara karena Valko memotongnya.


"Kami ingin meminta bantuan kalian, boleh?"


Kini tatapan perempuan itu beralih pada Valko. Dari sinar matanya, sangat jelas terlihat kalau perempuan bertubuh tambun itu tertarik kepada Valko. Luna memutar bola mata ketika perempuan berambut panjang itumendekati sang kekasih.


"Apa yang bisa kami bantu?" Perempuan itu mulai mendekati Valko.


"Ah, sebelumnya, siapa namamu?" tanya Valko sambil mengulas senyum di bibirnya.


"Namaku Jannete. Panggil saja Jane, Sayang."


Mendengar ucapan sayang yang dilontarkan Jane kepada Valko, membuat darah Luna seakan mendidih. Dia mengepalkan jemari bersiap untuk mendaratkan tinju ke pipi perempuan itu.


Akan tetapi, Valko mencegahnya. Lelaki itu meraih jemari sang kekasih dan saling menautkan jarinya di sela-sela jari milik Luna. Amarah Luna sedikit terendam karena perlakuan manis Valko.


"Begini, Jane. Kami membutuhkan beberapa lembar daun pappermint yang ada di tepi sungai untuk menyembuhkan penyakitku." Suara Valko terdengar lirih, berusaha mendapat simpati dari Jane.

__ADS_1


Benar saja, Jane akhirnya meminta mereka berdua untuk masuk ke rumah. Setelah itu, perempuan tersebut meminta salah dua teman yang tadi bersamanya untuk memanggil kepala suku Nuevo.


"Frisca dan Bella sedang memanggil Paman Daniel. Semoga beliau memberi ijin untuk memetik daun itu." Pandangan Jane tak lepas dari Valko, hingga membuat Luna merasa muak.


"Hei, kamu! Lepaskan saja ikatan pada matanya! Itu bisa menyakiti lelaki tampan ini!" perintah Jane kepada Luna.


"Aku akan melepaskannya asal kamu mau mengganti pakaianmu!" Tatapan Luna kini berfokus pada dada Jane.


"Memangnya kenapa? Apa kamu tidak percaya diri karena ukuran dadamu lebih kecil daripada milikku?" terka Jane seraya tersenyum mengejek.


"Si-siapa bilang! Dadaku lebih besar dari punyamu! Hanya saja aku berpakaian tertutup!" seru Luna setengah gugup.


Mendengar pengakuan sang kekasih, membuat Valko terkekeh. Dia jadi tahu alasan kenapa Luna mengapa kekasihnya itu memintanya untuk menutup mata. Sebenarnya Valko tadi belum sempat melihat tiga orang perempuan yang menghampiri mereka. Jadi, dia sama sekali todak tahu bagaimana wujud Jane dan teman-temannya.


"Baiklah, aku akan mengambil selimut. Tapi, begitu aku keluar dari kamar, matanya sudah harus terbuka!" Jane beranjak dari kursi lalu melangkah masuk ke kamarnya.


Setelah memastikan perempuan itu menghilang di balik tirai, Luna melepaskan ikatan syal yang menutupi mata Valko. Gadis itu menatap tajam sang kekasih.


"Ingat! Meski suka kubuka matamu, kamu tidak boleh menatap gadis-gadis itu terlalu lama!" titah Luna.


Valko mengira, Jane memiliki tubuh yang ramping karena suaranya begitu indah. Namun, ternyata dia salah. Luna tersenyum tipis seraya melirik Valko yang sedang terbelalak menatap Jane.


"Hai, Tampan. Perkenalkan, aku Jane." Jane mengulurkan tangan, dan mau tidak mau Valko menyambut uluran tangan tersebut.


"Valko," ucap Valko singkat.


Jane mengerlingkan sebelah matanya. Ujung telunjuknya menggelitik telapak tangan Valko hingga membuat bulu kuduk lelaki itu berdiri. Dia merinding bukan karena memiliki hasrat, melainkan karena tidak nyaman dengan kelakuan genit Jane terhadapnya.


"Ada apa, Jane?" tanya lelaki paruh baya dengan kumis yang mulai memutih.


"Paman Daniel, duduklah di sini!" Jane menepuk kursi kosong yang ada di sampingnya.


Daniel pun menatap Valko dan Luna bergantian. Dia menyipitkan mata, meneliti wajah Valko kemudian mengusap dagu.


"Bukankah kamu adalah putra dari Alarick?"


"Ya?" Valko mengerutkan dahi karena tidak menyangka bahwa Daniel mengenal ayahnya.

__ADS_1


"Kamu putra pertama Kepala Suku Canis, 'kan?"


"Bagaimana bisa, Paman ...."


Lelaki itu tertawa lepas. Dia menepuk punggung Valko sedikit keras karena semangat yang menggebu. Setelah lelah tertawa, dia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.


"Kami adalah sahabat ketika berjuang dulu!" Mata Daniel menerawang mengingat lagi kepingan masa lalu saat bersama Alarick.


"Dulu, suku Canis, Nuevo, Guildayi, serta Smilodon sering berperang untuk mempertahankan wilayah kekuasaan, bahkan saling merebut. Namun, seiring bergantinya generasi, kami semua lelah. Aku, Alarick, dan Berto memutuskan untuk membagi wilayah. Hanya Catz yang enggan berbagi wilayah. Manusia kucing itu tidak suka dengan bersatunya kami, lalu menggunakan berbagai cara untuk mengadu domba."


Daniel menceritakan setiap detail kisah masa lalu itu. Setelah selesai, barulah dia kembali fokus dengan tujuan Valko serta Luna. Kini giliran Valko menceritakan mengenai kutukan yang menimpanya sejak kecil.


"Kutukan? Bukankah itu adalah berkah? Arwah penguasa hutan La Eterno merasukimu, dan berkat hal itu kamu memiliki kekuatan luar biasa untuk melindungi hutan itu serta suku Canis."


"Aku tidak suka ketika menjelma menjadi Dire Wolf, Paman. Aku tidak bisa mengontrol kesadaran. Aku takut melukai orang lain ketika menjelma menjadi Dire Wolf."


Daniel menghela napas kasar. Dia beranjak dari kursi, kemudian masuk ke kamar Jane. Taka lama kemudian lelaki tersebut keluar dengan membawa sebotol cairan berwarna kehijauan.


"Ini adalah minyak pappermint. Pakailah!" Daniel menyodorkan botol tersebut kepada Valko.


Valko dan Luna saling melemparkan pandangan. Ketika Luna mengangguk tanda setuju, barulah Valko mengambil botol itu dari tangan Daniel.


"Terima kasih, Paman. Aku akan selalu mengingat kebaikanmu." Valko tersenyum lebar lalu menyerahkan botol berisi minyak esensial itu kepada Luna.


Mereka berdua merasa sangat beruntung karena untuk pencarian kali ini tidak ada hambatan. Semua berjalan lancar berkat bantuan orang baik di sekitar mereka. Keduanya pun berpamitan, dan kembali ke Hutan Frio untuk membantu Rudolf mengangkut kayu.


Valko mengikat semua kayu yang ditebang kurcaci itu bersama temannya. Setelah kembali ke bukit Arcoíris, Valko dan Luna pun berpamitan kepada Rudolf. Mereka melanjutkan perjalanan menuju Hutan Gato.


Namun, masalah lain muncul ketika Valko dan Luna sampai di hutan Gato. Micky dan Micko berlari ke arah mereka dengan wajah merah padam. Mata keduanya berkaca-kaca dan tubuh yang gemetar.


"Gawat, Kak!"


...----------------...


Sambil nunggu karya ini update, mampir kasih dukungan yuk ke karya sahabat Chika ❤❤❤


__ADS_1


__ADS_2