
"Untuk apa kamu ke sini?" Abraham menyipitkan mata, menatap tak suka ke arah Luna.
"Ya?" Luna mengangkat kedua alis hingga kini kelopak matanya terbuka lebar.
"Aku kecewa kepadamu, Luna! Kamu sudah membolos berulang kali pada semester ini. Terlebih lagi nilaimu turun semua!" Abraham menyodorkan selembar kertas berisi transkrip nilai lalu menggebrak meja.
Luna menelan ludah kasar, lalu perlahan meraih kertas tersebut. Dia mulai memperhatikan deretan angka yang tercetak pada kertas tersebut. Gadis itu mengerutkan dahi ketika melihat semua nilai yang ada di sana.
Gadis itu merasa sudah mengerjakan semua tugas dengan sangat baik. Lalu, bagaimana bisa sekarang nilainya berbanding terbalik dengan apa yang sudah dia lakukan selama ini?
"Ini bukan nilai saya, Pak!" tegas Luna sembari meletakkan kembali kertas tersebut dan menyodorkannya pada Abraham.
"Jangan main-main! Bagaimana bisa ini bukan nilaimu?" Abraham mengetuk kertas tersebut berulang kali sambil menatap tajam Luna.
"Saya akan membuktikan ucapan saya, Pak! Ayo, lakukan tes apa pun! Maka, saya akan mengerjakannya dengan baik!" tantang Luna.
"Ambil cuti, dan kerjakan semua tugas yang aku berikan!" Abraham mengeluarkan selembar kertas yang sudah dilipat rapi dari saku kemeja.
"Kutunggu sampai semester berikutnya! Jika kamu gagal, maka kamu harus keluar dari kampus ini secara suka rela!" Abraham tersenyum miring serta melipat lengan di depan dada.
"Ah, aku hampir lupa. Komite pengurus universitas sudah memutuskan untuk mencabut beasiswanya mulai semester depan, jika kamu tidak memenuhi persyaratan pada semester ini."
Luna menghela napas kasar. Dia tertunduk lesu dengan bahu merosot. Gadis itu berjalan gontai keluar dari ruangan Abraham, lalu menuju loker.
Luna membuka pintu lemari penyimpanannya, dan mulai mengeluarkan beberapa buku pelajaran serta alat melukis. Gadis cantik itu menghela napas kasar lagi. Dia pun langsung pergi ke asrama, mengemasi semua pakaian.
Setelah selesai, Luna memutuskan untuk pulang ke Hutan La Eterno selama menjalani masa cuti. Dia berniat mengerjakan semua tugas yang sudah diberikan oleh Abraham di sana.
"Hah! Aku akan menghubungi Valko untuk menjemput."
Luna merogoh ponsel lalu mencari nomor ponsel sang kekasih. Dia mulai melakukan panggilan suara dan dijawab dengan cepat oleh Valko. Luna meminta Valko untuk menjemputnya dengan motor, karena dia lelah jika harus berjalan.
Beban hatinya saja sudah membuat semangat gadis itu pupus. Bagaimana bisa dia membelah Hutan La Eterno di tengah suasana hati yang kacau begini? Setelah selesai menelepon Valko, Luna langsung menggendong tas ranselnya dan keluar dari kamar.
Jam menunjukkan pukul 12:00 ketika Valko sampai di halaman asrama. Awan hitam bergerak mendekat ke atas kepala dua insan tersebut karena tertiup angin. Valko setengah berlari menghampiri Luna yang kini sedang berdiri sambil menatapnya nanar.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? Kenapa mendadak sekali?" tanya Valko seraya mengambil alih tas ransel dari punggung sang kekasih.
"Ada sesuatu yang benar-benar membuatku kacau, Val." Luna tertunduk lesu.
"Ayo, ceritakan sambil jalan. Aku meminjam mobil Paman Jacob karena kulihat cuaca sedang tidak menentu akhir-akhir ini."
Luna mengangguk pasrah. Valko pun segera menggandeng jemari Luna dan menuntunnya untuk masuk ke mobil. Lelaki tersebut menata barang bawaan sang kekasih ke dalam mobil, dan langsung duduk di belakang roda kemudi setelah selesai.
Valko pun melajukan mobil di atas jalanan beraspal. Suasana di dalam kendaraan tersebut hening sejenak. Hanya terdengar deru mesin dan suara freon yang keluar dari mesin pendingin. Valko enggan membuka pembicaraan karena sudah paham betul dengan sikap sang kekasih. Luna tidak akan menceritakan ganjalan hati jika dirinya belum siap.
"Aku dipaksa untuk mengambil cuti." Luna tiba-tiba membuka pembicaraan setelah setengah perjalanan menuju rumah.
"Kenapa?" Valko melirik Luna sekilas untuk melihat ekspresi sang kekasih.
"Karena membolos beberapa kali. Nilaiku juga turun semua. Padahal aku yakin sudah mengerjakan semua tugas dengan baik." Luna mengusap wajah kasar kemudian menatap sendu Valko yang masih fokus menyetir.
"Bagaimana bisa? Apa ada yang salah dengan sistem penilaian Profesormu?"
"Entahlah." Luna mengedikkan bahu seraya tersenyum kecut.
"Ya sudah, siapa tahu setelah pulang pikiranmu jauh lebih jernih. Apa tugas yang diberikan oleh Profesor Abraham?" tanya Valko.
Luna memilih untuk memejamkan mata selama sisa perjalanan. Sebuah mimpi mengenai Valko pun kembali membelai gadis cantik itu dalam lelap.
Pada mimpi tersebut, Luna sedang berjalan beriringan dengan Valko di dalam hutan larangan bagian selatan. Mendadak Valko menghentikan langkah, lalu mengembalikan kalung yang pernah dia berikan. Luna mengerutkan dahi karena merasa tersinggung.
"Kenapa?" tanya Luna sambil menatap kesal ke arah Valko.
"Aku sudah tidak membutuhkannya lagi. Aku sudah menjadi manusia seutuhnya sekarang. Maka aku akan mengembalikannya kepadamu."
"Simpan saja." Luna membuang muka seraya melipat lengan.
"Kalung ini akan berguna juga untukmu." Valko menarik pelan lengan Luna dan memaksa gadis itu untuk membuka telapak tangan.
Entah mengapa, saat itu Luna naik pitam. Dia langsung melempar kalung tersebut lebih dalam ke arah hutan larangan. Valko terbelalak. Dia memarahi Luna, dan langsung berlari masuk ke hutan itu.
__ADS_1
Tak lama kemudian, terdengar suara teriakan Valko. Luna terkejut bukan main. Burung pemakan bangkai yang ada di dalam hutan tersebut mendadak beterbangan ke angkasa.
"Valko!" teriak Luna, dan dia pun kembali ke alam nyata.
Valko yang terkejut pun segera menginjak pedal remnya. Dia melepas sabuk pengaman dan mencondongkan tubuh ke arah sang kekasih. Lelaki tampan tersebut langsung memeluk tubuh Luna yang gemetar.
Air mata mulai membasahi netra gadis bermata hazel itu. Valko menepuk lembut punggung sang kekasih dan sesekali mengecup puncak kepala Luna. Setelah tenang, dia kembali melepaskan pelukan dan merangkum wajah cantik sang kekasih.
"Kamu kenapa?" tanya Valko sambil menatap intens manik mata sang kekasih.
"Aku bermimpi buruk." Luna masih tersengal-sengal karena rasa sesak teringat mimpi buruknya.
"Memangnya kamu mimpi apa?" Valko tersenyum lembut, sambil mengusap pipi Luna yang basah karena air mata dengan ibu jari.
"Aku bermimpi ...." Luna mulai menceritakan apa yang dia lihat di dalam mimpi kepada sang kekasih.
Setelah selesai mendengar cerita Luna, pupil mata Valko melebar. Sebuah dugaan kuat muncul dalam pikiran lelaki bertubuh tegap itu.
"Jangan-jangan kalung itu juga berperan dalam proses mengubahku menjadi manusia seutuhnya?" terka Valko.
"Bisa jadi, Val. Tapi ... aku takut ada hal buruk yang terjadi."
"Tenanglah, Sayang. Semua akan baik-baik saja." Valko tersenyum lembut lalu mencium jemari lentik Luna.
"Lalu, di mana kalung itu sekaranh, Val?" tanya Luna.
"Ia ada di sini!" Valko meraba lehernya.
Akan tetapi, sedetik kemudian mata lelaki itu membulat. Dia tidak menemukan kalung tersebut melingkar pada leher. Luna yang mengetahui perubahan ekspresi Valko pun mengerutkan dahi.
"Kenapa, Val?"
"Jangan-jangan ...."
...----------------...
__ADS_1
Haloo bestie Chika. Sambil nunggu karya ini update, mampir juga yukk, ke karya keren sahabat Chika ❤❤❤