
Luna terbelalak mendengar ucapan Clavio. Jika saja tubuh lelaki itu berwujud anak-anak, pasti Luna senang menemaninya tidur. Akan tetapi, kali ini beda. Clavio memang memiliki kelakuan dan sifat layaknya anak-anak, tetapi tubuhnya adalah sosok lelaki dewasa.
Jika dia menyetujui keinginan konyol Clavio, sudah pasti Valko akan murka dan mengajar bocah itu habis-habisan. Luna pun terpaksa menolak keinginan Clavio.
"Maaf, Vio. Aku tidak bisa."
"Nggak mau! Pokoknya Vio mau tidur sama Kakak!" rengek Clavio sambil menangis sesenggukan.
"Kak, tolong. Kali ini aku tidak bisa." Luna menatap penuh harap kepada Azura.
"Baiklah, aku akan mencoba untuk membujuknya."
Azura merangkum wajah sang adik sembari tersenyum tipis. "Vio, dengerin Kakak. Kak Luna harus pulang dan bekerja. Jadi, dia tidak bisa menemanimu tidur."
"Tapi, Kak." Clavio mencembikkan bibir dan memasang wajah sedih.
"Besok, dia akan ke sini lagi. Jadi, kalian bisa bermain sepuasnya. Oke?"
Clavio menatap wajah Luna yang kini sedang memaksakan senyum. Gadis itu benar-benar merasa tidak nyaman jika harus terus bersama Clavio. Dia diliputi rasa bersalah kepada Valko karenanya.
Azura menggandeng lengan Clavio dan membujuknya lagi untuk masuk ke kamar. Awalnya Clavio ragu dan terlihat tidak rela, tetapi dengan sabar sang kakak memberinya pengertian. Akhirnya Clavio mau naik dan tidur tanpa Luna.
Setelah Clavio masuk ke kamar, Luna berpamitan kepada Berto dan berjalan keluar rumah. Dia berniat untuk memesan taksi setelah berjalan keluar kompleks perumahan. Namun, tanpa dia duga, Valko sudah berdiri menunggu di depan kompleks perumahan tersebut.
"Bandel sekali, sih, punya pacar!" gerutu Valko sambil melipat lengan di depan dada.
Luna pun tersenyum geli dan segera berjalan ke arah Valko. Dia mengeluarkan jurus andalan untuk mencegah sang kekasih bertambah murka. Kali ini Luna merasa bersalah karena tidak mendengar ucapan Valko.
Gadis itu merentangkan kedua lengan kemudian berlari ke arah sang kekasih. Valko pun ikut merentangkan kedua tangannya menyambut tubuh ramping kekasihnya itu. Mereka berdua akhirnya berpelukan. Valko berulang kali mengecup puncak kepala sang kekasih sambil menghirup aroma sampo yang dipakai gadis tersebut.
"Maaf, Sayang. Aku tidak tega melihatnya terus datang dengan wajah sedih."
"Kamu itu terlalu baik!" Valko menyolek hidung mancung Luna sambil terus menatapnya tajam.
"Ya, resiko kamu punya pacar sebaik aku!" Luna terkekeh, lalu kembali menenggelamkan wajah pada dada bidang Valko.
"Baiklah, ayo kita pulang!" Valko melepaskan pelukan Luna kemudian menuntun kekasihnya itu untuk naik ke motor.
__ADS_1
Luna memeluk pinggang Valko sambil tersenyum lebar. Gadis cantik itu menceritakan semua kejadian di rumah Azura. Valko mendengarnya penuh perhatian.
"Aku penasaran seperti apa wajah lelaki itu. Jangan-jangan dia cuma berpura-pura jadi balita?"
"Val, jangan mulai lagi!" Luna memutar bola mata kemudian mencubit perut sang kekasih.
"Aduh, jangan begitu! Aku sedang mengendarai motor ini!" teriak Valko sambil meringis menahan sakit. Satu tangannya berusaha melepaskan jemari Luna dari perutnya.
"Habisnya pikiran burukmu itu bikin kesel!" seru Luna.
"Iya, maaf, maaf."
Luna pun melepaskan jari lentiknya dari perut sang kekasih. Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di asrama Luna. Luna turun dari motor, dan Valko membantu gadis itu melepas helm.
"Setelah ini mau ke mana?" tanya Luna seraya merapikan rambutnya yang berantakan setelah memakai helm.
"Aku berangkat kerja setelah ini."
"Baiklah, hati-hati di jalan!"
"Ya? Apanya yang cuma itu?" Luna menautkan kedua alisnya.
"Cuma ucapan hati-hati di jalan. Aku rasa ada yang kurang." Valko mengusap dagu dengan ujung jarinya.
Luna sebenarnya tahu maksud dari sang kekasih. Akan tetapi, dia tersenyum tipis dan berniat menggoda Valko. Gadis cantik itu menaikkan satu alisnya.
"Lalu, kamu mau apa lagi, Val?"
"Dasar nggak peka!" seru Valko kemudian mulai menggenjot motornya. Ketika hendak memutar tuas gas, Luna mendaratkan sebuah ciuman pada pipi lelaki tampan tersebut.
Sontak Valko membantu. Dia terbelalak karena terkejut dengan ciuman dadakan yang diberikan oleh sang kekasih. Perlahan dia menoleh ke arah Luna.
"Tanggung sekali!"
Tanpa aba-aba Valko langsung menempelkan bibirnya pada bibir Luna. Keduanya saling mengisap seakan ingin membuktikan siapa yang terkuat dalam pertandingan ini. Napas keduanya saling beradu dengan hasrat yang semakin menggebu.
Ketika Luna hampir kehabisan napas, dia mendorong lengan valko. Lelakinya ini memang jago berciuman. Pasti Luna yang akan menyerah terlebih dahulu karena ciuman rakus Valko seakan mengusap semua energinya.
__ADS_1
"Stop, Val. Aku bisa kehabisan napas!" seru Luna seraya mengatur napas.
"Maaf, Sayang. Kamu selalu berhasil membuatku bergairah." Valko tersenyum miring sambil menempelkan dahinya pada dahi sang kekasih.
"Kita ketemu lagi besok. Aku harus istirahat sekarang."
"Baiklah, te amo (aku cinta kamu)."
"También te amo (aku juga cinta kamu)!"
Luna mulai berjalan mundur seraya melambaikan tangan. Valko pun turut melambaikan tangan sambil tersenyum lebar. Setelah Luna masuk ke asrama, Valko pun segera melajukan motornya.
***
Angin semilir menerpa rambut ikal Luna. Langit tidak seperti biasa. Langit hari itu berwarna merah muda seperti gulali. Gumpalan awan berarak melayang memenuhi mega.
Luna berjalan di antara hamparan padang bunga nemophila berwarna kebiruan, seraya menghirup dalam aroma yang menguar ke udara. Bunga yang biasa dikenal dengan sebutan bunga baby blue eyes itu, terlihat begitu kontras di batas cakrawala langit yang berwarna merah muda.
"Indahnya ...." Luna memejamkan mata sejenak.
Gadis cantik itu menghirup aroma wangi yang sangat menenangkan itu untuk mengisi paru-paru. Sebuah senyum tipis terukir di bibir Luna. Matanya kembali terbuka karena merasa ada yang tengah memperhatikannya dari jarak lima meter.
Luna mengerutkan dahi, berusaha mengenali siapa yang sedang menatapnya sambil tersenyum itu. Satu detik, dua detik, pada detik ketiga, barulah dia menyadari bahwa orang yang memperhatikannya adalah Clavio.
Lelaki berambut pendek berwarna hitam itu terlihat begitu tampan dan gagah. Dia tersenyum tipis, sambil mengulurkan tangan kepada Luna. Seakan ada magnet yang menariknya, perlahan Luna melangkahkan kaki.
"Luna ...," panggil Clavio dengan suara tegasnya.
Luna seperti tersihir. Dia terus mendekat kepada Clavio. Setelah dia berhadapan dengan lelaki tersebut, Luna hanya menatap tangannya yang masih terbuka.
"Ayo, ikut aku!" ajak Calvio.
"Maaf, aku memiliki duniaku sendiri. Kamu ada di mana sekarang? Bukankah seharusnya kamu kembali ke tubuhmu? Kenapa anak kecil yang sekarang tinggal di sana?"
"Itu keinginanku. Aku tidak ingin tumbuh dewasa karena melihat bagaimana paman Catz membunuh ibu." Clavio menggenggam kembali jemarinya. Tatapan lelaki itu menerawang ke depan, menatap hamparan bunga baby blue eyes.
"Ketika aku melihatmu hari ini, aku berubah pikiran. Aku ingin kembali ke tubuhku, tetapi tidak bisa. Apakah kamu mau menolongku, Luna?"
__ADS_1