Luna And The Dire Wolf

Luna And The Dire Wolf
Bab 41. Kembalinya Pendant of Arthemis


__ADS_3

Valko tersenyum miring kemudian mengangkat tangan ke udara. Dia pun membelai lembut rambut hitam Osco yang kini sudah tidak mengembang.


"Ya, kamu terlihat sangat cantik!"


Luna yang menyaksikan sikap tidak wajar sang kekasih pun naik pitam. Dia mulai merasa ada yang aneh. Gadis itu mengira kalau Valko telah terkena sihir Osco. Dia memfokuskan tatapan serta pikirannya kepada Valko.


"Ada yang nggak beres!" seru Luna.


Setelah mengamati baik-baik keduanya, Luna tersenyum miring. Dia hanya terdiam. Luna pun memilih untuk duduk di atas kursi sudut ruangan, menyaksikan Valko yang terus memberikan sentuhan kepada Osco.


"Kau membuatku tergila-gila, Sayang," bisik Valko pada telinga Osco yang sudah mulai dimabuk kepayang karena sentuhan lembut lelaki itu.


"Tócame más, Cariño (sentuh aku lebih banyak, Sayang)!" Osco memelas karena gairah yang tidak dapat dibendung lagi.


Valko mulai menyentuh area telinga Osco. Membelainya lembut dengan gerakan turun. Sampai akhirnya lelaki tersebut memberi sentuhan pada leher putih jenjang Osco. Namun, gerakan lelaki itu berhenti tepat di atas dada sang penyihir.


Ada rasa kecewa sontak bergelayut di hati Osco, karena Valko menghentikan gerakannya. Valko tersenyum miring. Dia menatap Osco dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Bukankah sebaiknya kamu pindah ke tempat lain?" tanya Valko sambil menyeringai.


"Di sini pun tidak masalah, Sayang." Osco melingkarkan lengannya pada leher Valko.


"Sayangnya .... Aku yang tidak sudi menyentuhmu kalau bukan karena ini!" Valko menarik kalung yang bergelayut pada leher Osco, lalu melemparkannya kepada Luna.


"Tangkap!" teriak Valko.


Luna pun langsung bangkit dari kursi, kemudian melompat untuk menangkap kalung tersebut. Di sisi lain, Valko langsung menendang perut Osco yang kini telah kembali ke wujud asalnya karena kalung Arthemis sudah tidak menempel pada tubuhnya.


"Pergilah ke neraka!" teriak Valko geram.


"Dasar, Brengsek!" umpat Osco yang kini melayang lepas ke udara.


Rumah bak istana yang tadi mereka datangi, kini telah kembali ke penampakan semula. Pondok tua penuh dengan sarang laba-laba pada langit-langit rumah. Aroma kayu tua yang sangat menyengat langsung menusuk indra penciuman Valko dan Luna.


Lantai kayu yang berderit ketika diinjak menambah kesan reyot pada bangunan tersebut. Belum lagi tumpukan debu yang sangat tebal, hingga membuat sesak saluran pernapasan.


"Ayo, kita pulang!" ajak Valko seraya mengulurkan tangan kepada Luna.

__ADS_1


Luna melipat lengan di depan dada sambil melemparkan tatapan tajam ke arah Valko. Dia sedang memasang mode merajuk karena kegenitan Valko beberapa waktu lalu.


"Wah, gimana rasanya, Tuan? Bisa menyentuh kulit manusia dengan status penyihir gelap itu?"


"Bagaimana aktingku? Keren bukan?" Valko mengangkat dagu, melipat lengan, sembari mengangguk congkak.


Sedetik kemudian Luna mendaratkan pukulan pada kepala Valko. Lelaki tersebut pun mengaduh sambil mengusap bagian belakang kepalanya.


"Astaga! Kejam sekali!" gerutu Valko.


"Habisnya kamu bikin aku meradang! Sini, kuhapus sentuhan penyihir itu dari tubuhmu!"


Luna mulai beraksi. Dia mengusap bagian tubuh sang kekasih dengan lengan mantel secara kasar. Valko tersenyum geli sambil terus menghindari usapan Luna.


***


Sesuai dugaan Luna, mimpi mengenai cara mematahkan kutukan Valko pun kembali. Kali ini dia bermimpi datang lagi ke bukit Arcoíris. Dia menemui Daphne untuk meminta beberapa tangkai bunga lavender dan mawar merah.


"Kamu membutuhkan sandalwood dari hutan Frio dan ekstrak teh pappermint dari pegunungan Nuevo," pesan Daphne sebelum melebur menjadi serpihan cahaya.


Gadis itu pun menghela napas kasar. Dia melirik jam beker yang ada di atas nakas. Jarum jam menunjuk pukul 06:00. Dia pun beranjak dari ranjang, dan mulai membuka tirai jendela.


Dibukanya jendela kamar, sehingga angin pagi masuk ke ruangan itu dan membelai rambut ikal Luna yang diikat asal. Dia memejamkan mata, mengisi paru-paru dengan udara segar hutan pinus, lalu mengembuskannya perlahan.


"Aku pasti bisa melewati ini semua!" Luna mengepalkan jemari lalu meninjukannya ke udara.


Setelah berhasil mengumpulkan semangat, Luna membersihkan diri dan turun ke dapur untuk membuat sarapan. Suasana rumah terasa begitu hening. Ketika berada di depan lemari pendingin, terdapat sebuah catatan yang ditempel pada pintu benda tersebut.


[Aku ke kota untuk membeli beberapa bahan pokok dan menjual beberapa kelinci hutan]


"Kuno sekali, padahal sudah ada ponsel. Kenapa masih menempelkan benda seperti ini di sini?" Luna tersenyum kecut.


Gadis itu pun membuka lemari pendingin, mengambil sebutir telur dan sosis. Dia mulai menggorengnya sembari memasukkan dua potong roti tawar ke dalam alat pemanggang. Setelah semua makanan siap, Luna bergegas menghabiskan sarapan, dan keluar rumah untuk melanjutkan tugas dari Abraham.


Jam menunjukkan pukul 10:00 ketika Luna selesai menggambar sketsa kalung Arthemis. Dia berdiri dan mulai meregangkan otot yang kaku. Mulutnya menguap lebar untuk menghirup oksigen lebih banyak.


"Perutku sudah lapar lagi!" Luna melirik jam pada layar ponsel yang dia letakkan di atas meja.

__ADS_1


Baru saja Luna hendak kembali masuk ke rumah, tetapi Valko datang dengan seulas senyum tampan. Lelaki itu berjalan cepat ke arah gadis itu dan memberinya pelukan. Luna pun membalas dekapan sang kekasih, seraya menghirup dalam aroma parfum yang dipakai Valko.


"Aroma mint yang menyegarkan!" seru Luna.


Gadis itu pun terbelalak karena teringat dengan mimpinya semalam. Dia melepaskan diri dari dekapan Valko, lalu menarik pelan lengan sang kekasih.


"Val, duduklah sebentar. Aku ingin menceritakan sesuatu kepadamu!"


Valko pun segera menarik kursi dan duduk di atasnya dengan tenang. Mata Luna berbinar. Dia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.


"Mencium aroma parfummu membuatku teringat tentang sesuatu!"


"Apa?" tanya Valko singkat sembari bertopang dagu dan menatap intens wajah Luna yang sedang antusias bercerita.


"Aku mendapatkan mimpi itu lagi?"


"Mimpi apa?" Valko tersenyum tipis dengan tatapan yang tak lepas dari Luna.


"Misi kita selanjutnya! Aku sudah membuka kuncinya! Sebelum melakukan ritual transfer kutukan, kamu harus mandi untuk menetralkan aura tubuh."


"Apa aku sebau itu?" Valko mengerutkan dahi, kemudian menghirup aroma ketiaknya sendiri yang jauh dari kata tak sedap.


"Aduh, bukan itu maksudnya! Sebelum ritual pembakaran serigala putih, kamu diharuskan mandi berendam dengan beberapa macam bunga serta tumbuhan untuk mengusir aura negatif dalam tubuh akibat kutukan itu!" terang Luna dengan cara bicara berkecepatan tinggi.


Gadis itu sampai tersengal karena tanpa sadar sudah menahan napas selama bicara. Valko terkekeh melihat antusias sang kekasih. Dia mendekap tubuh Luna lalu mengecup puncak kepalanya penuh cinta.


"Luna, aku rasa aku sudah melupakan kutukan itu. Aku telah menerima takdir untuk tetap menjadi Dire Wolf. Toh, kamu juga menerima aku apa adanya bukan?"


Mendengar ucapan Valko, membuat Luna mendorong tubuh lelaki tersebut. Kini Luna terlepas dari dekapan sang kekasih. Dia menatap Valko tak suka.


Melihat ekspresi Luna yang mendadak memburuk, membuat Valko turut mengerutkan alis. Dia menatap sang kekasih penuh tanya. Jemari Valko menggantung di udara karena Luna memalingkan wajah saat dia hendak mengusap pipi gadis cantik tersebut.


...----------------...


Aloha, mampir ke karya salah satu bestie Chika juga skuy. Jangan lupa beri dukungan kalian yaakkk.


__ADS_1


__ADS_2