Lupa Diri Karena Ingin Kaya

Lupa Diri Karena Ingin Kaya
BAB 5


__ADS_3

Aldi yang melihat Sandra tengah sibuk dengan beberapa kertas di hadapannya pun langsung menghampirinya.


" San, kamu mau ngapain dengan berkas sebanyak ini? Apa kamu mau ngelamar kerja ya sesuai dengan ucapan kamu kemarin? " Tanya Aldi pada Sandra.


" Iya dong. Kamu pasti senang kan karena kakak mau nurutin permintaan kamu?! ". Sandra berbalik tanya pada Aldi dengan maksud menyindirnya.


" Hehehehe.... Kakak bisa aja ". Aldi tertawa cengengesan sambil tertunduk malu.


Sandra kembali sibuk dengan menulis CV dan surat lamaran kerjanya.



Selang beberapa menit lamanya, ia pun selesai mengisikan data dirinya di atas kertas tersebut. Sandra pun kembali mengumpulkan berkas - berkas yang di butuhkan oleh perusahaan tersebut sebagai syarat melamar kerja lalu memasukkannya ke dalam map coklat.



Arum yang hendak ingin keluar rumah tak sengaja melihat Sandra, ia pun segera menyempatkan diri untuk meledek kakaknya itu.


" Cieee yang lagi sibuk ngurusin berkas karena ingin melamar kerja. Semoga keterima ya dan semoga memberikan hasil yang maksimal ". Ledek Arum yang juga berharap kalau kakaknya itu bisa keterima kerja.


" Apaan sih dek. Kamu tuh bisa aja bikin kakak malu-malu ". Sandra salah tingkah mendengar ucapan Arum.


" Hehehe.... By the way, kakak mau nitip gak? Soalnya aku mau ke depan nih beli cemilan. " Tawarnya pada Sandra.


" Kamu ngapain beli cemilan, tumben amat beli kek gituan? ". Tanya Sandra dengan ketusnya.


" Ihh, kakak nih. Aku tuh ya pengen makan lah, masa ia di bagiin ke orang-orang. Lagipula tuh aku bosan kalau cuman nonton Netflix aja tanpa di temani oleh cemilan ". Ujarnya pada kakaknya itu.


Sandra yang sedikit heran dengan perubahan kebiasaan adiknya itupun di buat semakin penasaran.


" Wah, sejak kapan nih adik gue kebiasaannya seperti orang-orang kota pada umumnya? " Tanya Sandra sembari meledek Arum.


" Hehehe.... Semenjak tinggal di Jakarta sih kak ". Jawab Sandra malu-malu.


Tanpa berbasa-basi lagi, Sandra pun sembari menyebutkan apa yang ingin di titipkan pada adiknya itu. Ia berpesan untuk di isikan voucher data karena kuotanya sisa sedikit. Ia berfikiran bahwa nanti bisa saja di butuhkan di tempat melamar kerjanya itu.



Setelah mengucapkan pesanannya, Arum pun hendak segera pergi dari hadapan Sandra menuju ke Indomaret yang tak begitu jauh dari rumahnya.



Toko Indomaret tersebut berjarak setengah kilo meter dan Arum mengendarai motor Aldi untuk menempuh jarak tersebut.


*****


Siang pun tiba, mereka kembali berkumpul di atas meja makan untuk segera makan. Mereka makan dengan lahapnya hingga mereka kenyang lalu kembali melakukan aktivitasnya kembali.



Arum yang merasa sangat kenyang, langsung masuk ke dalam kamarnya untuk melanjutkan aktivitas nontonnya di depan layar laptopnya.



Sedangkan Sandra membuka ponselnya hanya untuk mengecek novelnya untuk melihat pendapatan yang sudah ia kumpulkan dalam bulan ini.


" Wah, udah terkumpul empat juta. Lumayan nih buat tabungan untuk beli bahan bangunan toko sembako nanti. " Sandra bermonolog dengan dirinya sendiri dengan mata yang berbinar-binar.


Sandra merasa sangat bersyukur sebab kerja kerasnya selama ini saat menulis novel akhirnya terbayarkan juga, walaupun ini adalah pertama kalinya mendapatkan gaji hanya dengan melalui aplikasi saja.



Namun ia hanya menutupi dulu soal pendapatannya itu dari orang-orang rumahnya.



Sandra yang merasa sangat bahagia itu pun kembali melanjutkan cerita novelnya sebab banyak para pembaca yang berkomentar ingin di lanjutkan ceritanya.



Ia terlihat sangat lihai dalam hal mengetik. Tak perlu waktu lama untuk memikirkan kata-kata yang hendak ingin di tulisnya itu.



Saat sejam lamanya ia menulis, ia pun segera mengistirahatkan badannya sejenak lalu melanjutkan cerita novelnya lagi selama beberapa menit hingga ia merasa sangat lelah dan akhirnya tertidur.


*****

__ADS_1


Waktu telah menunjukkan pukul setengah 2 siang dan alarm Aldi pun hendak berbunyi. Saat bunyi pertama ia menghiraukannya terlebih dahulu dengan mematikannya. Namun beberapa menit kemudian, alarm itu pun kembali berbunyi dan Aldi yang merasa kesal karena masih ingin tidur pun segera bangun dari kasurnya.



Ia hendak mengumpulkan nyawanya terlebih dahulu lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.



Saat Aldi sudah siap, ia pun segera pamit kepada ibunya lalu berangkat ke tempat kerjanya.



Kali ini ia tak bersama Ratna perginya tapi ntah nanti kalau ia ingin pulang, apakah Ratna minta nebeng lagi padanya atau nggak.



Saat beberapa menit berkendara, Aldi pun sampai di tujuannya. Di parkirlah motor tersebut lalu masuk ke dalam cafe untuk segera check Lok.



Selesai check Lok, ia pun segera merapikan meja dan kursi - kursi yang ada pada ruangan itu yang di temani oleh beberapa karyawan lainnya.



Hari ini, ia merasa ada yang kurang. Aldi memperhatikan setiap sudut ruang dan melihat para karyawan. Ternyata ia tak menemukan seseorang yang ada di dalam pikirannya itu. Iya, dia adalah Ratna teman PDKT Aldi.



Aldi melihat jam tangannya sudah hampir jam dua pas, namun orang yang di carinya itu belum juga menampakkan wajahnya.



Tanpa pikir panjang, Aldi pun segera menghubungi Ratna karena rasa khawatir yang mulai muncul di dalam dirinya.



Beberapa kali berdering, Ratna tak mengangkat panggilan Aldi. Namun Aldi tak putus asa. Di sambungnya lagi telepon tersebut dan akhirnya Ratna pun mengangkatnya.


" Halo Rat, kamu gak masuk hari ini?. " Aldi memulai perbincangan yang hanya melalui sambungan telepon tersebut.


Aldi semakin bertambah khawatir jika ada sesuatu yang terjadi pada Ratna.


" Apa kamu sedang sakit, makanya gak bisa masuk?. " Tanya Aldi khawatir.


" Nggak kok mas. Aku hanya mengambil cuti dalam seminggu ini ". Jelasnya pada Aldi


" Ohh, baguslah kalau kamu hanya ambil cuti. " Ucap Aldi dengan nafas lega.


" Emangnya kenapa mas? Tumben kamu langsung nyariin aku? Apa mas gak bisa jauh - jauh yah dari aku? " Celutuk Ratna sembari tertawa mengejek.


" Ehh... Nggak kok. Aku hanya merasa khawatir aja sama kamu kalau kamu terjadi apa-apa di sana ". Ungkapnya pada lawan bicaranya itu.


" Ya sudah. Aku tutup dulu ya telfonnya. Kamu langsung kerja gih, ini udah mau jam dua pas loh. " Ratna pamit dan langsung mematikan sambungan telepon tersebut.


Aldi yang merasakan hatinya sangat lega pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia terlihat begitu ramah saat melayani beberapa pelanggan yang datang.



Dan malam pun tiba, Aldi hendak langsung pulang ke rumah saat cafenya sudah di bersihkan dan di tutup.


*****


Di pagi hari, Sandra begitu cepat bangun sebelum waktu alarmnya berbunyi. Ia terlihat begitu antusias sebab hari ini adalah hari pertama untuk dia melamar pekerjaan.



Ia langsung segera membersihkan badannya lalu mengeringkannya dengan handuk.



Saat badannya di rasa sudah kering, ia pun segera memakai baju kemeja berwarna putih yang di pasangkan dengan celana panjang berwarna hitam.



Saat pakaiannya sudah di pasang dan di rapikan, ia pun hendak ke depan meja riasnya untuk meriasi wajahnya semenarik mungkin agak nanti ia dengan mudahnya di terima sebab ia tak begitu kucel untuk di pandang.


__ADS_1


Selang beberapa menit lamanya berhias, ia pun akhirnya selesai lalu kembali menyiapkan berkasnya tak lupa juga ia menyiapkan pulpen sebab nanti bisa saja ia membutuhkannya di sana.



Saat waktu menunjukkan sudah pukul tujuh pagi, ia pun segera keluar dari kamarnya untuk sarapan. Bu Lijah yang melihat anaknya begitu rapi, langsung bertanya kepada anaknya itu.


" Kamu sudah mau melamar kerja nak? " Tanya Bu Lijah sembari menatap Sandra.


" Iya Bu. Hari ini Sandra akan melamar kerja. Tolong doain aku yah Bu, biar bisa keterima di sana. ". Ucap Sandra mengharapkan doa pada keluarganya.


" Kami semua pasti akan mendoakan yang terbaik untukmu nak ". Balas Bu Lijah.


" Iya nak. Benar dengan apa yang di katakan ibu mu tadi. Pasti kami semua akan selalu berdoa dan mengharapkan yang terbaik untuk kamu. " Pak Hari ikut memberikan nasehat.


Mereka pun makan bersama - sama sampai makanan yang di hidangkan di atas piringnya ludes termakan. Ya, mereka sekeluarga tiap makan pasti selalu di habiskan sebab orang tua mereka sering menasehati anak-anaknya untuk menghabiskan makanannya sebab masih banyak orang di luaran sana yang butuh makan tapi tak bisa mendapatkannya.



Saat waktu sudah sudah menunjukkan hampir setengah delapan, Sandra pun segera bersiap - siap,  tak lupa juga ia memesan taksi online untuk di tumpangi-nya nanti.



Tak perlu menunggu waktu lama, taksi itupun tiba di depan rumah Sandra. Sandra pamit dan segera masuk ke dalam taksi tersebut.



Hampir setengah jam lamanya berkendara, Sandra pun sampai di perusahaan tersebut.



Sebelum masuk, terlebih dahulu ia melapor ke Pak satpam. Sebab di perusahaan tersebut tidak di perbolehkan memasukkan orang sembarangan jika tak ada perlu.



Saat Sandra sudah berada di dalam perusahaan tersebut. Ia pertama masuk ke kantin untuk bersantai sejenak. Ia membeli sebotol minuman lalu di bawanya ke atas meja.



Sandra sembari memainkan ponselnya sebab ia tak ada lawan bicara karena baru pertama kalinya ia masuk ke dalam perusahaan itu dan belum menemukan teman baru.



Namun tak lama kemudian, ada seorang pelamar juga yang datang yang ingin duduk di samping Sandra.


" Permisi kak, apa aku boleh duduk di samping kakak, sebab di kursi lain sudah pada penuh. " Ucap Serlina yang seorang pelamar juga.


" Iya, silahkan. " Sandra mempersilahkan duduk.


" Kalau boleh tau, kakak pegawai baru disini atau kakak baru mau ngelamar juga kayak aku? ". Tanya Serlina tanpa rasa canggung.


" Iya, aku pelamar disini ". Jawab Sandra ramah.


Mereka berdua saling berbincang-bincang satu sama lain hingga bel berbunyi yang menandakan para karyawan harus segera masuk ke ruangannya masing-masing untuk bekerja.



Saat waktu menunjukkan pukul sembilan, barulah para calon karyawan di panggil untuk berkumpul di aula pengetesan.



Mereka semua segera masuk dan berkumpul lalu mengumpulkan berkasnya masing-masing.



Semua berkas telah terkumpul rapi di atas meja. Tiba saatnya satu persatu dari mereka di panggil untuk di interview. Hampir semua yang melamar pekerjaan terlihat nampak begitu tegang menunggu panggilan dari HRD, begitupun dengan Sandra karena ini pengalaman pertamanya.



Mereka di wawancarai satu persatu, kemudian di tes pengetahuan dan penglihatannya. Saat semuanya telah di tes. Barulah mereka di beritahukan jika hasilnya akan keluar besok siang. Dan yang di telfon sama HRD, merekalah yang akan di terima di perusahaan itu.



Para karyawan sangat berharap agar bisa masuk di perusahaan tersebut.



Tak lama kemudian saat mereka di berikan instruksi. Barulah mereka pulang ke rumahnya masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2