Maafkan Aku Istriku

Maafkan Aku Istriku
Koma


__ADS_3

Belum habis keterkejutan Darren tentang janin nya yang telah pergi dari dunia ini, kini kembali kabar buruk di terima nya saat dokter mengatakan kalau istrinya di nyatakan koma, kepala nya seakan di hantam batu besar menyisakan rasa nyeri yang tak tergambarkan


Tangannya yang terluka sama sekali tidak terasa oleh Darren berganti luka di hati nya yang remuk menatap kearah kaca jendela yang mana istrinya berada di dalam dengan banyak alat yang menempel di tubuhnya.


Tetesan demi tetasan darah serta sedikit bau anyir menarik perhatian dokter yang memberitahukan keadaan Anyiler pada Darren, sontak dokter itu pun melakukan pertolongan pertama sebelum luka itu infeksi dan berakibat fatal pada penderitanya.


"Tuan, tangan anda berdarah!".


"Mari Tuan, saya obati luka Tuan!" ucap dokter tersebut memanggil suster untuk mengobati luka pada telapak tangan Darren.


Tidak ada jawaban dari Darren yang terlihat hanya tatapan mengerikan yang membuat suster yang ingin membantu nya gemetar ketakutan.


"Dok, bagaimana? saya takut dok" ragu suster yang berdiri tepat di balik tubuh dokter bedah Anyiler.


"Lakukan cepat, aku ingin masuk melihat istri ku!" bentak Darren membuat nyali suster yang ingin membantunya menciut begitu saja.


"Biar saya saja" putus sang dokter yang kasihan pada suster yang masih bersembunyi di balik tubuh nya.

__ADS_1


Dengan cepat dan tanpa membuang waktu Dokter membebat luka di tangan Darren setelah membersihkan juga mengolesi antiseptik di sana.


Dito yang berjalan dari kejauhan segera menghampiri Tuan nya, dia yang ingin menanyakan keadaan Darren pun urung saat pria itu menatapnya sebagai isyarat untuk tidak mengeluarkan suara nya.


Dia bangkit dari duduknya menghampiri pintu yang terkunci dari dalam, Darren membalikkan tubuhnya menatap ke arah dokter yang belum beranjak dari tempatnya.


"Buka pintunya, aku ingin masuk ke dalam!" perintah Darren tak terbantahkan.


"Maaf Tuan, nyonya Anyiler belum bisa di jenguk, dia masih harus berada dalam pengawasan dokter"


"Aku tidak peduli, buka pintunya atau aku hancurkan rumah sakit ini!"


"Jangan membuat ku meng---"


Darren merogoh saku celana bahannya saat merasa ponselnya bergetar, dia mengangkat panggilan dari salah satu anak buahnya yang bertugas memata-matai orang yang telah membuatnya kehilangan janin dan istri yang terbaring koma.


Langkah kaki besarnya meninggalkan ruang ICU tempat Anyiler di rawat, dia berlalu dari sana di ikuti oleh Dito yang setia mengikuti nya, tentunya setelah Darren memerintahkan anak buahnya untuk memperketat penjagaan atas Nyonya muda mereka.

__ADS_1


Mobil yang di tumpang Darren melaju kencang tanpa menghiraukan lampu merah yang tengah menyala, suara klakson mobil bersahutan, juga umpatan tak di indahkan oleh Dito yang duduk di balik kursi kemudi.


Bangunan yang terletak di pinggiran kota menjadi tujuan dua orang yang kini turun dari mobil setelah pintu di buka dari luar.


Tubuh tegap Darren menatap sekeliling, memastikan tidak ada orang yang melihat keberadaan nya, dia mengikuti Dito yang membawanya menuju tempat di mana orang yang telah menyakiti istrinya itu berada.


Rahangnya mengeras kala matanya menatap orang yang duduk terikat di kursi dengan mulut yang di lakban, ketukan sepatu mahal nya menarik perhatian lawan bisnisnya yang menyeringai ke arahnya.


"Buka lakban nya!" perintah Darren pada Dito yang berdiri di samping.


"Aaahhhh....!" suara teriakan terdengar saat Dito dengan satu tarikan membuka penutup mulut pria yang kini mengadu kesakitan.


"Bara Gerald Mark!" ucap Darren menatap pria yang sudah lama di kenal nya.


"Kau tidak akan pernah bisa mengalahkan ku, meski seribu satu rencana yang kau susun, dan aku tetap diam"


"Tapi kali ini tidak, aku tidak akan pernah lagi memaafkan mu, kau telah lancang masuk ke dalam kawasan ku!"

__ADS_1


Braak....


__ADS_2