Maafkan Aku Istriku

Maafkan Aku Istriku
Sadar


__ADS_3

"Kau telah salah membangunkan jiwa iblis ku Bara!"


"Aaakkhhh....!"


Tanpa perasaan Darren menginjak tubuh Bara yang tersungkur di lantai akibat tendangan nya tadi, Darren memukuli Bara membabi buta meluapkan kekesalannya selama ini.


Tak terhitung sudah berapa kali pria itu membuat ulah dan Darren hanya diam di balik layar, namun kali ini dia tidak akan tinggal dia saat sesuatu yang di miliki di sentuh barang seujung kuku saja.


Teriakan kesakitan demi kesakitan terdengar memenuhi ruangan tersebut, semua orang yang ada di hanya bergidik ngeri melihat Tuan mereka yang bak kesetanan.


"Aaakkhh....bu-bunuh sajaaa a-akuuu..!" pinta Bara yang tidak lagi bisa menahan rasa sakit nya, sekujur tubuhnya penuh dengan luka lebam dan bagian kaki nya patah karena injakan dari Darren.


"Aaakkhh....!"


"Tidak semudah itu kematian menghampiri mu kawan..." ucap Darren menatap Bara yang meringkuk di lantai.


"Kembalikan dia ke rumah keluarganya, aku ingin melihat bagaimana dia bisa hidup dalam kemiskinan!"


"Tapiii, Tuan---"


"Jangan khawatir, pria bodoh ini tidak akan berani membuka mulutnya"


"Kalau sampai dia berani mengatakannya, maka aku tidak akan segan-segan lagi membuat keluarga nya hancur sampai ke akar-akarnya!"


Darren berlalu begitu saja setelah mengatakan ancaman yang entah di dengar a tau tidak oleh Bara yang masih mengerang kesakitan.


Sejak tadi pikiran nya hanya tertuju pada istrinya yang terbaring koma, tanpa menunggu Dito yang masih memberikan arahan pada anak buahnya, Darren menginjak pedal gas meninggalkan bangunan tua yang baru pertama kali dia masuki.


Biasa nya Darren hanya memberikan instruksi dari jauh pada anak buah nya untuk mengeksekusi tawanan mereka, namun kali ini berbeda, dia memilih turun tangan sendiri menghadapi teman lama nya.


Kini Darren sudah sampai di rumah sakit, dia bergegas masuk ke dalam menuju tempat dimana istrinya di rawat, dia tidak lagi peduli dengan penampilan yang acak-acakan, di pikirannya hanya penuh dengan bayangan Anyiler dan anak mereka yang telah pergi dari sisinya.

__ADS_1


Rasa kehilangan begitu terasa di hati Darren, dia tidak pernah menyangka kalau perbuatan nya itu menciptakan malaikat kecil di rahim istrinya.


Hari telah berganti hari, bahkan kini bulan telah berganti, namun Anyiler belum juga menunjukkan kesadaran nya, dia masih setia memejamkan mata nya, seakan di telah menyerah dunia yang tidak berpihak pada nya.


Sementara Darren, dia setiap hari berada di sisi wanita yang dulu dia sia-siakan bahkan tidak pernah menganggap ada wanita yang kini memenuhi setiap hela nafasnya.


Darren yang dulu selalu memperhatikan penampilan nya kini berubah total, jika dulu rambutnya selalu pendek berlapis pomedo mahal, juga jenggot nya yang selalu di cukur rapi, maka tidak untuk saat ini, dia benar-benar hancur sampai tubuh nya yang dulu berotot kekar kini tinggal tulang yang tertutup oleh kulit putihnya.


Untung saja, asisten pribadinya itu dengan tanggap mengurusi semua urusan pekerjaan yang di tinggalkan oleh Darren, kalau tidak pasti perusahaan yang sudah bangun dengan susah payah oleh kakeknya itu akan hancur dalam hitungan jam saja.


"Darren..." panggil wanita yang telah melahirkan nya itu dengan suara khawatir, bagaimana tidak putranya itu sudah seperti mayat hidup yang terus berada di samping istrinya yang masih belum tersadar dari koma nya.


Darren sama sekali tidak beranjak dari sana setelah mendapatkan kabar bahwa Anyiler di nyatakan koma.


"Makanlah, kau juga harus memikirkan dirimu sendiri, istri mu pasti akan sangat merasa bersalah kalau dia sadar dan melihat mu seperti ini"


Entah sudah berapa kali mama Lisna memintanya untuk merawat dirinya sendiri, namun semua itu hanya dianggap angin lalu oleh Darren yang terus saja diam di samping tubuh istrinya.


"Heem" jawab papa Steve.


"Urus anak mu itu, jangan sampai aku menghancurkan ponsel mu" terdengar helaan nafas pria paruh baya itu yang kini berjalan menghampiri Darren, di tatapnya putra pertamanya itu dengan tatapan yang tak bisa di artikan, sementara mama Lisna dia mendudukkan dirinya di sofa dengan kaki yang menyilang di sana.


"Boy..."


"Papa tahu apa yang kamu rasakan, tapi bukan dengan cara seperti ini, kau menghukum diri mu sendiri"


Darren hanya tetap diam tanpa menjawab nasehat panjang dari papa nya, tangan nya terulur meraih tangan Anyiler yang terpasang selang infus di sana, wajah pucat wanita itu seakan mengalihkan dunia nya yang kini menghitam bersamaan dengan kepergian janin nya.


Isak tangis mama Lisna masuk ke dalam indera pendengaran Darren yang kini berjalan menatap wajah yang menunduk dengan deraian airmata, melihat itu hati Darren seakan kembali di koyak kan, dua wanita yang paling berharga dalam hidup nya harus merasakan sakit karena nya.


"Ma, maafkan Darren!"

__ADS_1


"Maafkan Darren yang menyakiti hati mama" pinta nya sambil berjongkok di hadapan wanita yang menatapnya dengan tangisan di mata nya.


Pelukan dua orang dewasa yang sama-sama terluka dengan keadaan yang terjadi, dimana Darren dengan luka hati nya menatap istrinya tercinta nya yang belum juga tersadar, sementara sang mama yang juga terluka karena darah daging nya bagaikan raga tanpa nyawa di depan nya.


"Darren, lihat tangan istrimu bergerak!" panggil papa Steve membuat pelukan dua orang itu terlepas.


Darren menghampiri Anyiler yang masih memejamkan mata nya, hanya jari tangan nya yang bergerak.


"Sayang, bangunlah, aku mohon bangun lah" pinta nya sambil menggenggam tangan Anyiler.


Di kecupnya tangan Anyiler yang tampak kurus dengan segenap hati nya, perlahan Anyiler membuka mata nya, dia menatap wajah pria yang tidak terurus dengan wajah kusam dan penampilannya yang berantakan.


Tak lupa juga kedua orang tua Darren yang berdiri di samping ranjang tak luput dari pandangan mata nya, Anyiler memegang kepala yang terasa berat saat mengingat kepingan demi kepingan ingatan yang berseliweran di pikirannya.


Darren yang melihat istrinya kesakitan memencet tombol darurat yang ada di bawah ranjang pasien, beberapa detik kemudian suster yang berjaga di konter siaga masuk memeriksa kondisi Anyiler, di ikuti oleh Dokter di belakang nya.


Mereka melakukan pemeriksaan terhadap Anyiler yang masih mengerang kesakitan di bagian kepala nya, sampai-sampai Dokter harus menyuntikkan obat penenang yang membuat Anyiler yang kini kembali tertidur.


"Apa yang terjadi Dokter?" tanya Darren saat dokter baru saja keluar dari ruang perawatan istrinya.


"Benturan keras di kepala membuat pembuluh darahnya mengalami penggumpalan, itu yang membuat nya mengalami sakit yang luar biasa"


"Tapi anda tidak perlu khawatir, saya sudah menyuntikkan obat untuk meredakan rasa nyerinya, jadi anda tidak perlu khawatir"


"Lalu kapan istri saya bisa sadar kembali Dok"


"Dua jam lagi istri anda akan sadar kembali Tuan!"


"Baik Dok terimakasih" ucap Mama Lisna mewakili Darren yang pergi begitu saja menghampiri Anyiler.


"Kamu siapa?"

__ADS_1


__ADS_2