
Raut wajah Anyiler menegang saat mendengar apa yang di katakan oleh Mama Lisna, membuat nya terdiam tanpa mengatakan sepatah kata pun, dia masih tidak mempercayai apa yang di katakan oleh wanita yang mengusap lembut kepala nya.
Sekuat tenaga dia mengingat apa yang dia lupakan, namun yang ada dia justru merasakan sakit di kepala nya, rasa sakit yang kian menusuk saat dia terus mencoba mengumpulkan kembali ingatan nya.
"Aaauu...!" desis nya.
"Sayang!"
"Jangan memaksakan diri untuk mengingat nya sayang"
"Sakit ma"
Mama Lisna yang tidak tega melihat Anyiler kesakitan pun memanggil suster yang tak lama datang setelah mendengar panggilan darurat itu.
Kini Mama Lisna bisa bernafas tenang saat Anyiler tertidur dengan lelap akibat obat yang di berikan oleh suster tadi, meski sebenarnya dia juga bingung dengan apa yang terjadi saat ini, apalagi saat menantunya itu justru menganggap nya sebagai orang tua kandungnya.
Bukan dia keberatan dengan semua itu, tapi sudahlah tidak perlu di pikiran juga, mungkin ini saat yang di siapkan Tuhan untuk membuka mata hati putranya yang selama ini menyia-nyiakan istrinya.
Karma memang benar ada nya, dan dia datang di waktu dan tempat yang telah di tentukan, di mana banyak orang berkata apa yang kau semai itu yang kau petik, dan kini adalah awal baru bagi Darren untuk memperjuangkan istrinya.
Lagi lagi Darren harus mengelus dadanya saat melihat Anyiler yang membuang muka saat dia baru saja masuk ke dalam ruang perawatan istrinya.
Tidak tahu kah wanita ini kau dia bahkan membatalkan meeting hanya untuk menjemput nya pulang dari rumah sakit, namun apa yang dia bayangkan justru berbanding terbalik dengan kenyataan saat ini.
Bayangan yang sejak tadi terus menghantui pikiran nya hingga dia tidak bisa berkonsentrasi dengan meeting yang ak di pimpinnya, senyum indah Anyiler yang menyambut nya saat dia pulang kerja itu la yang sejak tadi berada di pelupuk matanya, rasa nya dia ingin kembali mendapatkan senyuman dan segala yang pernah dia dapatkan dari Anyiler, istri nya.
Ya wanita itu, wanita yang telah resmi menjadi istri nya itu kini sudah di perbolehkan pulang setelah satu minggu menjalani masa pemulihan dari komanya.
Respon yang di berikan oleh Anyiler pada Darren tetap sama seperti saat dia pertama kali melihat pria kumal di sampingnya saat pertama kali dia membuka mata, Anyiler masih tidak percaya bahwa pria itu adalah suami nya meski dia merasakan getaran aneh saat pria itu berada di dekatnya, dia juga merasa rindu yang tak bisa dia artikan saat Darren pernah tidak mengunjungi nya saat pria itu pergi ke luar kita untuk urusan bisnis nya.
Bahkan saat itu Mama Lisna sampai kebingungan dengan apa yang di rasakan oleh menantu yang uring-uringan tak jelas sepanjang hari bahkan sampai keesokan harinya.
"Untuk apa Manusia ini kemari Ma?" tanya Anyiler pada Mama Lisna membuat Darren membelalakkan matanya mendengar sebutan dari Anyiler untuk nya.
Apa tadi?
__ADS_1
Manusia..?
Apa istrinya itu sedang bercanda atau tidak...
Sungguh saat ini Darren saat ingin menghancurkan apapun yang ada di dekatnya saat ini, namun semua itu tertahan saat mendengar ucapan Anyiler lagi.
"Dasar suami tidak peka, bagaimana bisa dia telat menjemput ku?"
"Apa memang dia hanya mengaku saja sebagai suami ku!" kata Anyiler lagi.
"Aku kerja ya bukan jalan-jalan!" kesal Darren saat Anyiler menyalahkan dirinya.
"Memang siapa juga yang mau di jem---"
"Sudah-sudah kalian ini, selalu saja seperti itu, tidak bisakah kalian akur satu hari saja"
"Apalagi kamu Darren!, sudah tahu istrinya amnesia, harus nya mengalah ini justru memperkeruh suasana" Bentak Mama Lisna menengah sementara Papa Steve dia hanya diam menatap wanita yang paling di cintai nya itu.
"Ayo pa! Kita pulang, biarkan saja mereka berdua di sini"
Ketukan sepatu yang perlahan menjauh itu menjadi satu-satunya suara yang ada di ruang itu, setelah nya hanya ada keheningan di dalam sana, Anyiler menatap lucu ke arah pintu keluar yang tidak ada siapapun di sana.
Sepasang suami istri itu
Sementara Darren, pria itu memasukkan kedua tangan nya ke dalam saku celana bahan yang ia kenakan, lurus menatap Anyiler yang memalingkan wajahnya saat mata tajam itu menatapnya.
"Ayo kita pulang!"
Tidak ada jawaban dari Anyiler, wanita itu terus bungkam dan memalingkan wajahnya.
Darren tidak lagi bisa bersabar dengan Anyiler yang sangat jauh berbeda dengan dirinya yang dulu, wanita yang menjadi istrinya itu sangat lah penurut dan tidak pernah membangkang nya sama sekali, berbeda dengan Anyiler kini yang keras kepala dan berbuat semaunya sendiri.
Bahkan dulu dia selalu di prioritaskan oleh Anyiler namun saat ini jangan harap dia mendapatkan perlakuan seperti itu.
"Jangan terus menguji kesabaran ku Anyiler"
__ADS_1
"Urusan ku tidak hanya kamu saja, aku masih harus bekerja dan itu semua demi kamu!" bentak Darren membuat Anyiler ketakutan pada nya.
Wanita itu meringkuk di atas ranjang pasien, dengan airmata yang membasahi pipinya, suara segukan yang keluar dari mulutnya menarik perhatian Darren.
Sial, aku kembali membuat nya menangis, rutuk Darren pada dirinya sendiri.
"Sayang"
"Maafkan aku istriku!"
Tangan kekar nya terulur menyentuh pundak Anyiler yang bergetar hebat karena tangisan wanita itu semakin kencang, hempasan tangan Anyiler pada Darren membuat pria itu menyesali apa yang telah dia lakukan.
Satu jam berlalu.
Namun tangisan Anyiler masih belum usai mata nya membengkak akibat terlalu banyak mengeluarkan airmata nya.
Selama itu pula Darren hanya bisa menatap tubuh bergetar istrinya yang enggan menatap sedikitpun kearahnya, isakan yang kini tak lagi terdengar itu membuat nya berani menyentuh lengan wanita yang di kiranya sudah terlelap.
Namun lagi-lagi hempasan tangan Anyiler menandakan bahwa wanita itu masih terjaga dari rasa lelahnya.
"Ayo kita pulang, aku janji tidak akan membentakmu lagi"
Ucap nya dengan suara lembutnya, suara yang baru pertama kali keluar dari mulutnya.
"Ayo, aku janji akan memenuhi semua keinginan mu jika kamu mau pulang"
"Aku bisa pulang sendiri!" ucap nya setelah beberapa saat.
"Mau pulang dengan siapa? tidak ada satu orangpun di sini"
Anyiler terdiam saat dia menyadari kalau di ruang itu hanya tinggal mereka berdua, dia lupa kalau Mama Lisna dan juga Papa Steve sudah pergi dari sana, bahkan mungkin keduanya sudah sampai di rumah.
"Tapi---"
"Jangan mendekat---"
__ADS_1
Plak