Maafkan Aku Istriku

Maafkan Aku Istriku
Dia istriku!


__ADS_3

Rasa panas menjalar di pundak Darren saat tangan seseorang memukulnya dari belakang, membuat pria itu menoleh kebelakang yang ternyata ada Mama nya di sana, wanita itu tidak benar-benar pergi dari sana, dia memperhatikan dari jauh apa yang akan terjadi di antara anak dan menantunya yang entah harus bagaimana dia menyebut nya.


Yang satu hilang ingatan dan yang satu nya keras kepala juga tidak mau mengalah, namun satu yang sama, keduanya sama-sama rindu tapi menjunjung tinggi nilai gengsi yang tidak bisa di tawar.


"Mama!" seru kedua orang yang menatap ke arah wanita paruh baya yang kini tengah berkacak pinggang di sisi ranjang serta papa Steve yang berdiri tak jauh dari sana dengan menggerutu.


Namun telinga tajam Mama Lisna bisa menangkap suara papa Steve yang mendengus kesal.


"Dia anak ku, tidak ada yang boleh memukulnya kecuali aku" marah Mama Lisna pada suaminya.


"Terserah kau saja" malas papa Steve.


"Sudah cepat bawah putri kita pulang, aku sudah sangat lelah dan anak mu ini terlalu kaku pada wanita" perintah nya pada papa Steve.


Kalau yang begini saja, anak ku tapi kalau yang baik-baik pasti putra nya, dasar wanita. batin papa Steve.


"Ayo sayang kita pulang" ucap mana Lisna membantu Anyiler bangun dari tempat tidur nya.


"Mama mau bawa kemana istri ku?"


"Pulanglah, mau kemana lagi" kesal Mama dengan pertanyaan putra nya.


Tidak ada kah pertanyaan yang lebih bermutu dari ini, sungguh Mama Lisna sangat ingin mencakar wajah putranya yang terus menggerus kesabarannya.


"Mama tidak berencana membawanya pulang ke rumah utama kan?" tanya Darren memastikan apa yang ada di pikiran itu salah.


"Kamu pikir dia mau berada di rumah mu?"


"Tapi ma, dia istri ku"


"Berjuang lah anak ku, dapatkan lagi istri mu ini"


Darren mematung mendengar ucapan Mama nya, dia tidak habis pikir dengan itu, mama nya justru mendukung Anyiler yang notabene hanya sebagai anak menantu di sana, dia sudah seperti anak tiri yang di kucilkan oleh orang tuanya sendiri.

__ADS_1


Namun Darren bertekad akan membuat Anyiler jatuh cinta pada nya terlepas bagaimana cara dia bisa mendapatkan nya kembali, persetan dengan ingatan Anyiler yang melupakan semua perlakuan nya dulu, dia akan mengejar wanita itu hingga dia jatuh kedalam pelukannya.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


"Cantik sekali ma!"


"Ini kamarku ma?"


"Iya sayang, ini kamar mu!" ucap Mama Lisna saat memasuki salah satu kamar di rumah besar nya, dia sengaja merubah isi kamar itu menjadi kamar yang cocok untuk Anyiler tentunya tanpa sepengetahuan Darren.


Puas melihat isi kamar, Anyiler mendudukkan tubuhnya di sofa yang ada di sana, Mama Lisna memintanya untuk istirahat mengingat dia yang baru saja pulang dari rumah sakit, kini tinggal dia seorang diri di dalam kamar merenung semua yang terjadi terutama tentang pria yang mengaku sebagai suami nya.


Keraguan Anyiler bukan tanpa alasan, dia sama sekali tidak menemukan kepingan ingatan tentang Darren, sedikit pun dia tidak merasa dekat dengan pria itu, namun sebelah hatinya merindukan pria itu, pria yang terlihat samar-samar jauh di dalam ingatan nya.


Mata nya tertuju pada hari tangannya yang polos tanpa cincin yang melingkar di sana, ada rasa yang tak bisa dia jabarkan dengan kata, kebingungan Anyiler membuat kepala kembali berdenyut.


Dia merebahkan tubuhnya di sana, yang ada di dalam ingatan samar nya hanya Mama Lisna dan Papa Steve yang tengah duduk di meja makan bersama dia dan seseorang yang sama sekali tidak bisa di kenali.


"Apa mungkin itu dia" lirihnya sambil menerawang jauh.


Cukup lama Anyiler tertidur sampai dia merasa usapan lembut di pipi nya yang membuatnya terusik, dengan malasnya dia membuka mata yang langsung terbelalak saat melihat pria yang mengaku sebagai suami nya itu berada di sana.


"Aaahhh...!"


Teriak Anyiler yang begitu kencang membuat kegaduhan seisi rumah, meski Darren secepat kilat membungkam mulut sang istri.


"Kenapa berteriak?" kesal Darren yang masih membekap mulut Anyiler.


"Ada apa ini?" tanya papa Steve yang keluar dari kamar saat mendengar teriakkan dari kamar menantunya.


"Darren apa yang kau lakukan haah!"


"Papa!" teriak Anyiler yang kini bersembunyi di balik tubuh papa mertua nya.

__ADS_1


"Aku takut pa, di sangat kurang ajar masuk kedalam kamarku" adu Anyiler pada papa Steve.


"Aku suami mu, tidak ada yang kurang ajar di sini"


"Sudah-sudah, ayo kita makan malam" putus Papa Steve yang tidak ingin pusing dengan semua itu.


Dia sangat malas, harus berurusan dengan anak nya yang keras kepala itu, sia-sia saja apa yang dia ajarkan kemarin pada putranya kalau hanya di anggap angin lalu.


Darren hanya menatap punggung dua orang yang layaknya ayah dan anak perempuan nya, meski Papa Steve tetap menjaga jaraknya, namun tetap saja rasa cemburu begitu kental di darah nya saat melihat istrinya berjalan beriringan dengan papa nya.


Dengan cepat dia menarik tubuh Anyiler hingga membuat wanita itu kehilangan pijakannya, tubuh nya terhempas ke dada bidang dengan perut enam kotak di sana.


Anyiler membeku saat tubuhnya menempel pada tubuh Darren, getaran tak biasa membuat nya tanpa perasaan mendorong tubuh tegap Darren.


"Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan" tuduh nya.


Anyiler melenggang pergi menuju meja makan dan mendudukkan dirinya di samping Mama Lisna yang juga baru saja sampai di sana.


Dahi Mama Lisna berkerut saat melihat Anyiler yang terlihat begitu kesal, di ikuti oleh dua orang di belakangnya.


Tak ada percakapan di sana membuat suasana makan malam itu terlihat begitu canggung, dua orang tua itu saling melirik satu sama lain, seakan berbicara lewat tatapan mata.


Bahkan sampai makan malam itu berakhir semua tetap diam di tempat nya.


"Ma, Pa, aku sudah selesai" ucap Anyiler memecahkan keheningan, belum sempat dia beranjak dari duduknya suara tegas Darren menghentikan gerakannya.


"Kita pulang sekarang!" putusnya dengan sorot mata menusuk Anyiler.


"Pulang?" beo nya.


"Ayo...!"


"Kemana?, aku sudah di rumah dan kau masih mengajakku pulang"

__ADS_1


Darren yang tidak ingin berdebat untuk kesekian kali nya itu menarik Anyiler keluar dari sana, dia tidak lagi memperdulikan seruan Mama nya yang memintanya untuk tidak berbuat kasar pada istrinya.


Namun Darren tetaplah Darren yang tak ingin di setir oleh siapapun, meski itu orang tuanya sendiri, dan Anyiler adalah istri sah nya jadi tidak ada alasan yang bisa memisahkan mereka kecuali dia sendiri.


__ADS_2