
Dua jam berlalu...
Selama itu pula Darren sama sekali tidak melepaskan tangan Anyiler, dia genggam tangan wanita itu sampai Darren merasakan tangan lemah itu mulai bergerak perlahan.
"Sayang, akhirnya kamu sudah sadar!" ucap Darren dengan wajah bahagia nya.
Namun apa yang keluar dari mulut Anyiler membuat Darren menegang di tempat nya.
"Kamu siapa?"
Duaar....
Darren bagai di sambar petir saat mendengar pertanyaan istrinya yang menatap heran ke arahnya, bahkan tangan nya yang menggenggam erat tangan Anyiler di lepaskan begitu saja.
"Panggil Dokter pa!, sepertinya ada yang salah dengan menantu kita!" perintah Mama Lisna yang di tanggapi tatapan dingin oleh papa Steve.
"Kau menyuruhku Lisna?"
"Ma, Pa, dia siapa?" tanya Anyiler pada mertuanya yang langsung saling menatap satu sama lain.
Heran.
Itu lah yang kini ada di dalam benak mereka, bagaimana tidak menantunya itu justru mengingat mereka namun melupakan Darren yang merupakan suami nya.
"Anda sudah sadar Nona?" tanya dokter yang tadi memeriksa Anyiler.
"Dia sudah sadar, tapi kenapa dia tidak mengenali ku?" tanya Darren pada dokter yang berdiri samping nya.
"Dari hasil Rontgen yang saya terima, ada retakan di bagian kepala yang menyebabkan terjadinya gejala hilang ingatan yang terjadi pada pasien!"
"Kami tidak bisa memberikan keterangan sebelumnya, belum tahu pasti kondisi pasien"
"Apa semua itu bisa sembuh Dok?" Tanya mama Lisna saat Darren hanya terdiam saat mendengarkan penjelasan dokter.
"Bisa, tapi semua itu perlu waktu lama untuk mengembalikan ingatan nya"
"Apa yang bisa kami lakukan untuk membantu nya mengingat ingatan nya Dok?"
__ADS_1
Dokter pun menyarankan banyak hal untuk membantu Anyiler mendapatkan ingatan nya kembali, termasuk menemani nya melakukan hal-hal yang biasa dia lakukan sebelum dia mengalami kecelakaan tersebut.
Sedangkan Anyiler hanya menatap tidak mengerti apa yang di maksud oleh dokter yang baru saja keluar dari ruang perawatan nya, dia merasa tidak ada yang salah dengan dirinya namun kenapa Dokter mengatakan dia sedang sakit.
"Ma, Anya kenapa?" Tanya Anyiler sambil memegang tangan mama Lisna yang menatap ke arah putra nya yang menaikkan sebelah alisnya saat kedua orang tuanya justru menyunggingkan senyumnya.
"Kalian menyebalkan!" ucap Darren yang kesal pada kedua orang tuanya yang justru mendukung Anyiler.
Dia bisa membaca apa yang ada di pikiran kedua orang tuanya, jangan-jangan ini hanya akal-akalan tiga orang itu saja, namun tidak mungkin dokter memalsukan data dan diagnosa pasien.
"Pa, dia siapa?"
"Dia?" tanya papa Steve sambil menunjuk Darren dengan dagunya yang di angguki oleh Anyiler.
"Dia suamimu" jawab nya apa ada nya.
"Hah, suami?"
"Kapan, Anya menikah?"
"Coba lihat itu, di jari manis mu ada cincin pernikahan yang sama dengan milik ku" ucap Darren meyakinkan istrinya.
Tanpa berkata apapun Anyiler melepaskan cincin pernikahan nya dan mengembalikan nya pada Darren yang melorot tak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Anyiler.
Berani sekali wanita ini melepaskan cincin pernikahan dariku, geram Darren yang menatap tajam Anyiler yang juga menatap sinis kearah nya.
"Jangan mentang-mentang Dokter mengatakan aku hilang ingatan kau bisa seenaknya mengatakan kalau kamu adalah suami ku"
"Mana mau aku punya suami yang menyeramkan seperti mu!"
Sekuat tenaga orang tua Darren menahan tawa mendengar ucapan menantunya itu, selama ini tidak ada yang berani melawan Darren yang terkenal bermulut pedas itu, dan kini saat ada yang berani melakukan itu Darren sama sekali tidak bisa membantah nya.
Sementara Darren, dia justru tidak mengalihkan perhatian nya dari Anyiler membuat wanita itu ketakutan dan menyembunyikan wajah nya.
"Darren, kamu justru membuatnya semakin takut pada mu dengan wajah menyeramkan mu itu" tegur Mama Lisna pada putranya.
" Terserah kau saja" ucapnya keluar dari ruang perawatan, dia kesal pada istrinya yang tidak mengenali nya, dia sudah rindu dengan sawahnya justru pemilik sawah itu melupakan nya.
__ADS_1
Tidak tahukah istrinya itu kalau adik kecil nya sudah ingin mengunjungi sawah itu sejak lama.
Huu, dasar menyebalkan. Batin nya yang kini terduduk di kursi tunggu depan ruang Anyiler di rawat.
"Apa yang harus aku lakukan agar dia mengingat ku!"
"Kejar dia, seperti orang yang jatuh cinta dan menikah pada umumnya!" tepuk papa Steve yang juga keluar dari ruang perawatan mengikuti putranya yang tampak frustasi dengan keadaan istri nya.
"Papa pikir selama ini pernikahan ku tidak seperti umumnya?" tanya Darren yang tidak mengerti maksud papa.
"Aku yakin kau tidak sebodoh itu untuk mengerti apa yang papa maksud"
"Tapi aku benar-benar tidak mengerti apa yang papa katakan!"
Gelengan kepala Papa Steve menandakan pria itu benar tidak percaya pada putranya yang sama sekali tidak tahu bagaimana cara memperlakukan wanita, selama ini putra itu terlalu fokus pada perusahaan sampai melupakan kodratnya sebagai pria yang harus menjadi pelindung wanita yang ada di sekeliling nya.
Kini dua pria beda generasi itu pun berada di sebuah cafetaria yang tak jauh dari rumah sakit, sekedar melakukan waktu ayah anak yang selama ini tidak pernah mereka lakukan, Darren yang terlalu kaku tidak pernah menceritakan tentang apapun pada papa nya.
Kini saat itu tiba-tiba papa Steve benar-benar menjadi layak nya orang tua yang sesungguhnya yang bisa berbicara empat mata dengan putranya, membahas sesuatu yang tidak pernah bisa di pecahkan oleh siapa, meski dia sudah bisa menghafal kamus wanita sekalipun.
Meninggalkan dua orang yang tengah menghabiskan waktu berharganya, kita bergeser pada mertua dan menantu yang berada di ruang perawatan.
Mama Lisna dengan telaten menyuapi menantu yang menganggap dirinya anak kandung dari nya, serta melupakan status aslinya yang merupakan seorang menantu.
"Ma, boleh aku bertanya?" tanya Anyiler sambil menelan bubur yang di suapkan mertuanya.
"Apa yang ingin kamu tanyakan Hem?" tutur Mama Lisna dengan suara lembut dengan usapan penuh kasih sayang di kepala Anyiler.
"Tapi janji Mama harus jawab dengan jujur!" ucap Anyiler dengan penuh harap.
"Iya, memang apa yang ingin kamu tanyakan!"
Hening....
Tidak ada suara di ruang perawatan itu, Anyiler menatap ragu pada Mama Lisna yang juga menatapnya, dia ragu dengan pertanyaan juga jawaban yang akan dia dapatkan nantinya, dia tidak sanggup dengan kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang dia pikirkan saat ini.
Dia berharap apa yang ada dalam pikiran saat ini, tidak sama dengan apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
"Ma..."
"Apa aku..."