
“Surprise!” teriak suamiku, sambil membawa nampan berisi kue tart lengkap dengan lilin berbentuk angka 7 menyala di atasnya.
Aku yang baru saja bangun dari tidur pun merasa diistimewakan, dan bahagia tentunya. Kali ini Mas Sagara mendahului memberiku surprise. Ya, hari ini adalah hari anniversary pernikahan kami yang ke-7.
“Ayo, kita tiup lilinnya bareng-bareng!” ajak Mas Saga, dan aku mengangguk setuju.
Selepas meniup lilin, diletakkannya nampan berisi kue tart tadi di atas meja kecil samping ranjang. Mas Saga lalu memelukku dan mengecup pucuk kepala ini dengan penuh cinta. Lalu kami duduk bersisian di atas kasur. “Sayang, semoga pernikahan kita ini langgeng sampai nanti kita menua bersama, ya!” ucapnya kemudian.
Aku mengangguk, “iya, Mas. Mas juga ... jangan pernah bosan bareng sama aku!” ucapku asal nyeplos, seraya menyandarkan kepala pada dada bidangnya.
“Nggak akan!” tegasnya. “Mana mungkin sih, mas bosan. Kamu kan bidadariku, ratu hatiku,” imbuhnya, seraya menowel ujung hidung ini, mesra. Lantas, kami kembali berpelukan.
“Sudah tujuh tahun, tapi belum juga ada hasil,” sindir Mama mertuaku dengan nada ketus, yang tiba-tiba masuk ke kamar kami tanpa permisi.
Aku dan Mas Saga pun terperanjat kaget dibuatnya. Lalu saling melepaskan pelukan.
“Ma, udah dong, jangan mulai. Ini masih terlalu pagi untuk berdebat. Saga lagi nggak pengen debat sama Mama. Ini hari bahagia aku, Ma. Plislah!” sahut suamiku. Sementara aku hanya menunduk pilu.
“Kamu itu satu-satunya anak mama, Saga. Mama sama Papamu sudah semakin menua, dan cuma dari kamu seorang, mama mengharapkan seorang cucu. Cucu kandung! Bukan cucu angkat seperti Nilam,” ucap Mama, penuh dengan penegasan.
“Ma, jangan bawa-bawa Nilam terus kenapa sih, Ma. Kasihan nanti kalau Nilam denger gimana? Terus dia nanyain orang tua kandungya,” bela Mas Saga. Sengit.
Hampir setiap hari kondisi seperti ini tercipta. Mas Saga bersitegang dengan orangtuanya. Itu semua terjadi karena aku sampai selama ini belum bisa memberinya keturunan.
Bukan aku nggak pernah periksa dan berusaha. Pernah, bahkan segala macam cara dan usaha sudah kulakukan dan jalani berbagai macam terapi. Sampai mengadopsi anak dari panti asuhan yang kami beri nama Nilam. Niatnya untuk pancingan, tapi mau bagaimana lagi kalau Tuhan belum menghendaki. Aku bisa apa?
❤❤❤
Aku dan Mas Saga saling pandang. Kebingungan mencerna sikap aneh Mama malam ini. Ia begitu sibuk menyiapkan makan malam, dan menyuruh Mas Saga agar berdandan rapi. Konon akan datang tamu istimewa, yang sengaja Mama undang untuk makan malam bersama.
“Kenapa cuma pake kaos. Pake jas, dong! Biar kelihatan gagah,” titah Mama pada putra semata wayangnya.
Mas Saga pun urung duduk di atas kursi ruang makan.
“Ma, kenapa ribet banget? Ini kan kita cuma mau makan di rumah. Makan di luar aja nggak seribet ini. Sebenernya ada apa sih, Ma? Siapa yang akan datang?”
“Nanti juga kamu tahu,” sahut Mama, tangannya sibuk menata menu masakan di meja makan persegi panjang.
Aku berusaha hendak membantu, tapi tanganku ditepis.
“Nggak usah bantu!” bentak Mama. “Nanti yang ada malah kacau tatanannya,” imbuhnya sewot.
Aku berusaha tetap tenang dan tersenyum manis, meski hati rasanya nyeri.
Akhirnya aku hanya menjadi penonton sambil berdiri di sisi kursi tempat biasa aku duduk.
Mas Saga yang kebetulan berdiri di sampingku mengusap bahu ini. Aku tahu dia berusaha menguatkan aku atas sikap kasar mamanya terhadapku barusan.
Kuusap punggung tangan Mas Saga yang masih bertumpu di pundak. Kuisyaratkan padanya bahwa aku baik-baik saja.
Tak berselang lama, bel pintu bunyi.
“Nah, itu dia sudah datang!” pekik Mama semringah.
“Biar aku yang buka, Ma.”
“Nggak usah!”
Inisiatifku ditolak mentah-mentah.
Lagi, Mas Saga merangkul dan mengusap pundak ini.
“Sabar ya, Sayang,” bisiknya.
“Iya. Sudah biasa.” Aku lalu tersenyum manis ke arah suamiku. Seperti biasa dia menowel ujung hidung ini.
__ADS_1
“Seneng banget toel-toel hidung. Heran?” gumamku sambil memegang hidungku.
“Habisnya hidungmu mancung.”
“Mancung?” Alisku menaut tak percaya.
“Iya. Mancung ke dalam.”
“Sudah kuduga.” Aku bersungut sebal. Sementara lelakiku terkekeh.
“Sini, langsung saja kita ke ruang makan!” ajak Mama pada tamunya.
Mataku beradu sejenak dengan mata lelakiku. Kami sama-sama bingung saat Mama berjalan beriringan dengan seorang wanita yang tinggi semampai dan cantik jelita bak Mis Univers. Jauh, jika dibandingkan dengan aku yang laksana upik abu ini.
“Siapa dia, Mas?” tanyaku pada lelakiku dengan nada berbisik. Mas Saga menimpali dengan mengedikkan bahu tanda tak tahu.
“Awas minggir!” sentak Mama padaku. Aku yang semula berdiri bersisian dengan lelakiku terpisah dan tersekat oleh wanita cantik tamu Mama.
“Kamu duduk di sini!” titah Mama pada tamunya.
Wanita itu pun pasrah duduk di atas kursi tempat biasa aku duduk.
“Kamu duduk di tempatmu!” titah Mama pada Mas Saga. Lelakiku protes karena dipisahkan dariku.
“Timbang tinggal duduk aja ribet banget!” bentak Mama. Mas Saga melirikku seolah meminta pendapatku. Aku mengangguk pelan memberinya isyarat agar nurut saja. Tidak mengapa kita dipisahkan tempat duduknya, Mas, yang penting hati kita tetap terpaut satu sama lain.
“Kenalin dia ini namanya Nadia, dia putrinya sahabat mama yang tinggal di Belanda.”
Mama memperkenalkan tamunya pada kami semua.
“Dia ini wanita karir, sudah periksa kandungan dan dinyatakan subur oleh dokter. Nggak kayak ....” Mama melirikku sekilas. Sukses membuatku merasa tersindir. Tanganku terkepal erat. Meski mencoba sabar dan apa yang dikatakan Mama itu benar, tapi palung hati ini terasa nyeri.
“Maksud Mama apa ya, ngomong kayak gini?” cecar lelakiku.
“Enggak usah belagak pilon lah. Kamu pasti ngerti maksud mama. Lagi pula Nadia juga sudah setuju untuk jadi ....”
“Nak, kamu makannya di kamar saja, ya! Biar ditemani bibi.” Nilam mengangguk paham. Kasihan baru saja dia duduk membaur di ruang makan sudah langsung di hadapkan dengan drama yang tak sepantasnya dilihat oleh gadis kecilku yang lugu.
“Mbok Mesi!”
Wanita paruh baya berbadan gempal itu berlari mendekat.
“Iya, Bu.” Ia siap menerima perintah.
“Tolong bawa Nilam ke kamar. Sekalian bawakan makanan untuk dia makan di dalam.”
“Siap, Bu.”
Setelah Nilam dibawa masuk ke kamar oleh Mbok Mesi. Kini tinggalah aku, Nadia dan Mama di ruang makan bernuansa putih ini.
“Safira, coba kamu bujuk suamimu supaya mau menikah lagi dengan Nadia!”
Hatiku serasa tertusuk pedang panjang mendengar titah Mama.
“Kamu kan tahu bagaimana wanita yang tidak bisa memberi keturunan untuk suaminya harus berbuat apa?”
Aku bergeming, tak mampu menimpali ucapan Mama. Dadaku rasanya sesak.
Iya, Ma. Aku tahu. Harus merelakan suaminya menikah lagi. Jawabannya tak mampu terlontar keluar hanya kemelut di dalam hati.
Aku mengangguk pilu, lalu kuseret kakiku yang mendadak terasa sangat berat ke kamar menyusul lelakiku.
Sesampainya di depan pintu kamar yang tertutup rapat, aku kembali mematung. Air mata yang sedari tadi kutahan luruh dengan begitu derasnya. Membungkam mulut kuat-kuat supaya isak tangisku tak terdengar oleh lelakiku di dalam sana.
Ini mungkin memang sudah saatnya aku harus merelakan suamiku menikah lagi. Supaya dia bisa segera punya keturunan.
__ADS_1
Aku tahu sudah sejak lama Mas Saga menginginkan seorang anak. Anak kandung, pun dengan Mama dan Papa, mereka juga sudah lama menanti cucu kandung. Nyatanya sampai sekarang aku belum bisa memberikan.
Ya, mungkin memang ini takdirku.
Menghela napas pajang. Mencoba menguatkan diri sendiri. Kuusap sisa air mataku hingga bersih tak tersisa. Lalu kuketuk daun pintu bernuansa putih. Lantas membukanya. Di dalam mataku langsung tertuju pada lelakiku yang tengah berdiri di dekat jendela kamar. Matanya menilik keluar melihat kerlip lampu jalanan depan rumah.
“Mas,” sapaku lembut. Lalu memeluknya dari belakang. Kusandarkan kepalaku di punggungnya. Menghirup aroma tubuhnya laksana aroma terapi bagiku. Menenangkan.
“Mas minta maaf atas sikap mama yang semakin hari semakin keterlaluan padamu.”
“Hem, aku nggak apa-apa kok, Mas.”
“Apa kita pindah rumah saja. Supaya rumah tangga kita tidak diganggu oleh mama.” Lelakiku melepaskan pelukanku, lalu berbalik berhadapan denganku.
“Jangan Mas! Kamu kan anak satu-satunya, masa mau menjauh dari Mama. Apa lagi kamu kan anak laki-laki Mas. Di mana menjaga dan mengutamakan Mama adalah kewajibanmu.”
Sebisa mungkin aku menstabilkan napas dan suaraku supaya tidak parau saat bicara di depan Mas Saga.
“Tapi aku nggak tega, Sayang, lihat kamu setiap hari diperlakukan tidak adil oleh Mama.”
“Aku nggak apa-apa kok, Mas. Beneran. Insya Allah, aku kuat.” Aku berusaha tersenyum, meski hati serasa terhiris. Dan mata nyaris menangis.
Mas Saga menarik tubuhku ke dalam rengkuhannya. Suasana pun menjadi hening beberapa saat.
“Mas.”
“Hem.”
“Mungkin sebaiknya kali ini kamu turuti titah Mama ....”
Belum selesai aku berbicara, Mas Saga melepaskan pelukannya.
“Kamu sudah gila, ya?!” selanya. Lalu pergi meninggalkan aku sendirian di kamar.
“Mas, dengerin dulu penjelasan aku!”
Tak digubrisnya teriakan aku, dan dibantingnya daun pintu kamar ini sehingga menimbulkan suara gaduh.
***
Nadia semakin intens datang ke rumah. Sering kali mengobrol dengan Mama. Juga melakukan pendekatan terhadap diriku. Terutama melakukan pendekatan terhadap Mas Saga. Tentunya atas perintah Mama.
Setelah melewati proses yang cukup lama dan panjang. Salah satunya drama yang diperankan oleh Mama yang mengancam akan bunuh diri jika Mas Saga menolak menikahi Nadia. Akhirnya Mas Saga menuruti kemauan Mama.
Aku tahu ini pasti berat bagimu. Pun bagiku, Mas. Tapi, mungkin inilah takdir kita.
***
“Ini kamu tanda tangani. Cepat!" Mama memerintahku agar menandatangani surat persetujuan menikah lagi untuk Mas Saga.
“Pulpennya ada di kamar, Ma. Biar aku tanda tangani di kamar saja.”
“Terserah mau kamu tanda tangani di mana, yang penting cepetan!”
Aku mengangguk lalu pergi ke kamar. Kukunci pintu dari dalam. Kuamati surat persetujuan di genggaman sedemikian rupa. Untuk yang kesekian kalinya air mataku jatuh berderai.
Oh Tuhan, begini rasanya pura-pura kuat. Sangat menyakitkan.
Ini baru tanda tangan surat persetujuan saja nyerinya minta ampun. Lalu bagaimana nanti jika aku harus menyaksikan pernikahan suami dengan madu pilihan mertuaku itu. Sanggupkah aku?
N
E
X
__ADS_1
T
👇