
Malam kian larut, mata ini enggan terpejam. Mondar-mandir di sisi ranjang. Gelisah memikirkan apa yang tengah diperbuat lelakiku dengan madunya di hotel sana. Hati ini rasanya nyeri, panas, dada sesak.
Capek mondar-mandir, aku duduk di tepi kasur. Kutatap foto pernikahan kami beberapa tahun lalu, yang terpajang rapi di sisi dinding kamar tamu ini. Anganku terlontar kembali ke masa bahagia itu. Pasca akad hari itu, aku merasa jadi wanita paling bahagia dan beruntung di dunia. Tak menyangka jika akan sampai pada masa yang berat seperti sekarang.
Dulu kami sepakat untuk menjunjung tinggi kesetiaan. Tapi apalah daya, takdir berkata lain. Kami hanya bisa pasrah menelan kenyataan entah itu manis atau bahkan sepahit empedu. Aku hanya percaya bahwa semua yang terjadi sekarang, esok atau lusa pasti akan ada hikmahnya.
Tenggorokan terasa kering. Haus. Kuusap air mata yang entah sejak kapan membanjiri pipi ini. Lantas, beranjak ke dapur untuk mengambil minum. Langkahku terhenti di ambang pintu yang menghubungkan antara ruang tengah dan dapur.
Di dapur sana ada mama mertua yang juga tengah mengambil minum sambil menelpon dengan nada setengah berbisik, tapi aku masih bisa menangkap percakapannya dengan jelas dari tempatku berdiri kini. Kudengar mama menyebut nama Nadia.
“Nadia, mama sudah siapkan obat di dalam tasmu. Obat itu kamu tuangkan ke dalam minuman suamimu. Dijamin setelahnya dia nggak bakal menolak melakukan kewajibannya terhadapmu.”
Aku membungkam mulut yang menganga. Dapat dipastikan malam ini lelakiku tidak lagi dapat lari dari menunaikan kewajibannya terhadap Nadia. Bukankah itu bagus, dan memang itulah yang kuharapkan. Tapi kenapa hati ini tak bisa diajak kompromi. Sakit sekali.
“Kamu ngapain di situ?” sentak Mama.
Aku terperanjat dan secepat kilat mengusap air mata di pipi. “Eum, mau ambil minum juga, Ma.”
“Oh,” jawab Mama singkat seraya berlalu dari hadapanku.
Aku melangkah gontai lalu duduk di kursi ruang makan. Melanjutkan tangis yang sempat terjeda. O, Tuhan, bukankah Engkau tidak akan membebani seorang hamba tanpa kesanggupannya, tapi mengapa ini terasa begitu berat.
Kutenggelamkan wajah di sela lengan yang terlipat di atas meja makan. Malam ini aku ingin menangis sepuasnya. Siapa tahu dengan begitu beban di hati ini sedikit berkurang beratnya.
***
__ADS_1
“Ma, Mama!”
Aku membuka mata perlahan lalu mencari si pemilik suara. “Eh, Sayang. Kamu kenapa bangun? Butuh sesuatu, ya?”
Gadis kecilku tidak merespon alisnya menaut. Dia tampak kebingungan. “Mama dari semalam tidur di sini?”
Kini giliranku yang bingung. Aku mengamati sekeliling. Semua lampu sudah dimatikan. Ah, ternyata ini sudah pagi. Aku ketiduran di meja makan rupanya dari semalam.
“Iya, Sayang. Sepertinya mama ketiduran di sini.”
“Hmm. Terus Papa mana, Ma?” Gadis kecilku duduk di kursi sebelah.
“Papa lagi ada keperluan. Jadi, semalam pergi.” Nilam merespon dengan gumaman seolah ia paham. Lantas, aku pamit untuk mandi dulu.
***
Kemudian mampir ke taman kota berniat menenangkan diri di tengah indahnya aneka bunga nan warna-warni. Kupu dan kumbang terbang kian kemari hinggap dari satu bunga ke bunga lainnya yang tengah bermekaran. Indah.
Aku tidak sendirian di taman kota ini. Ada pengunjung lain yang berlalu-lalang. Tapi, tetap saja aku merasa sepi.
Pandanganku tertuju pada sejoli yang tengah duduk berdua dengan begitu mesra. Di kursi sebelah kananku. Rasa iri menyeruak dalam hati ini. Lagi, aku kembali teringat suamiku.
Situasi di taman semakin menyebalkan kurasa. Seisinya seolah mengejek diri. Bukan hanya pengunjungnya yang bermesraan, tapi kupu-kupu dan kumbang juga terbang kian kemari saling kejar. Romantis. Aku? Menyedihkan.
Daripada hati ini semakin panas. Aku memutuskan untuk pulang saja.
__ADS_1
***
Sesampainya di depan rumah, aku tertegun sejenak saat melihat mobil suamiku sudah terparkir rapi di sana. Aku menggeleng menepis rasa yang berkecamuk dalam dada. Lalu kembali mengayunkan langkah. Sampai di teras kembali berhenti. Entahlah, rasanya begitu malas mau masuk ke dalam.
“Sayang, kamu habis nganterin Nilam, ya?” tanya lelakiku yang tiba-tiba menyembul keluar dari dalam rumah. Aku hanya merespon dengan senyum getir.
“Kangen tau!” ujarnya. Lalu memeluk diri ini. Aku berontak berusaha melepaskan pelukannya. Entahlah, rasanya jadi aneh. Jijik. Saat memikirkan apa yang sudah dilakukannya dengan Nadia semalam.
“Kamu kenapa? Kamu nggak kangen sama aku?” tanyanya saat pelukannya berhasil kulepaskan.
“Eum, kok, sudah pulang, Mas?” selaku mengalihkan pembicaraan.
“Ya, memangnya mau apa berlama-lama di hotel. Membosankan. Kalau sama kamu, mungkin iya, aku bakal betah berlama-lama di sana.”
Bulsit! Dulu hati ini berbunga setiap kali mendengar gombalannya. Sekarang rasanya berbeda.
“Eum, aku capek. Aku mau istirahat dulu, ya, Mas.” Aku berlalu meninggalkannya yang masih bergeming di teras. Mungkin dia menyadari perubahan sikapku. Maaf, Mas. Butuh waktu untuk bisa legowo menerima kenyataan ini. Ternyata tak semudah yang kubayangkan sebelumnya.
Langkahku terhenti di ambang pintu penghubung antara ruang tamu dan ruang tengah. Hati ini rasanya panas saat melihat Mama dan Nadia berbincang penuh kehangatan. Berbeda jauh jika dibandingkan saat mengobrol denganku. Ketus dan dingin.
“Gimana semalam berhasil ‘kan?” tanya Mama antusias. Nadia pipinya bersemu menunduk dalam menahan senyum. Detik kemudian mengangguk malu-malu. Mama girang bukan kepalang. Nadia berterima kasih. Selanjutnya mereka berpelukan penuh kebahagiaan.
Aku?
Hancur lebur.
__ADS_1
_____