Madu Pilihan Mertua

Madu Pilihan Mertua
BAB 7


__ADS_3

Aku sibuk merias diri di depan cermin. Malam ini jadwalnya Mas Saga tidur di kamarku. Aku tidak mau kalah pamor dengan Nadia.


Tepat saat aku selesai menyisir rambut, Mas Saga datang. “Masuk, Mas!”


Detik berikutnya lelakiku itu menyembul dari balik pintu. Berjalan memangkas jarak dan mendekap tubuh ini. Erat. Seolah sudah bertahun-tahun tidak bersua saja. Kami sama-sama dilanda rindu yang membara.


“Maafkan aku, kalau akhir-akhir ini terkesan cuek padamu,” ucapnya sambil mengeratkan pelukan.


“Nggak apa-apa Mas. Aku ngerti kok.”


Lelakiku melepaskan pelukannya lalu mengecup kening ini lembut. Kemudian kedua mataku, pipi, terakhir bibir ini.


Lenganku ditarik lembut, lelakiku memberi isyarat dengan gerakan wajahnya agar aku naik ke atas ranjang. Kami pun berbaring, kusandarkan kepala di dada bidangnya. Dia membelai rambutku yang terurai.


Kami lalu bersandar pada sandaran ranjang. Kemudian bercerita tentang apa saja yang kita lakukan siang tadi. Setelah tidak ada lagi yang perlu diceritakan, kami diam.


“Sayang,” bisik lelakiku sambil menarik dagu ini agar menghadap ke arahnya. Lagi, dia ******* bibir ini mesra. Aku terpaku menikmati itu.


Saat kami siap memulai ritual suami istri. Tiba-tiba pintu kamar diketuk dengan brutal. Suara Nadia memanggil Mas Saga dengan gusar.


Mas Saga mendengkus kecewa. Lalu merapikan penampilannya dan membuka pintu setelah mendapat persetujuan dariku. Aku mengekor di belakangnya. Untuk memastikan melihat kondisi Nadia kenapa.


“Ada apa?” ketus Mas Saga. Nadia langsung bergelayut di lengan lelakiku.


“Nggak tau, tiba-tiba aku pengen liat kamu, Mas,” jawab Nadia dengan nada merengek manja.


“Mungkin itu bawaan bayi. Perempuan kalau lagi hamil memang suka gitu. Maunya deket dan diperhatikan oleh suaminya,” sahut Mama yang baru saja membaur. Mungkin karena mendengar kegaduhan yang terjadi di sini.


“Apa iya begitu, Ma?”


“Iya, Nad. Bisa jadi begitu.” Mama mengusap bahu Nadia lembut.


“Pantesan tadi bawaannya pengen nangis pas ditinggal Mas Saga,” lanjut Nadia.


“Kamu ngalah kenapa sih, Ra! Biar sementara waktu Saga tidur di kamar Nadia. Kamu sih, nggak pernah hamil makanya nggak ngerti!” ketus Mama.


Hati ini serasa tertusuk belati. Sakit. Tapi, apa yang Mama bilang ada benarnya. Sampai sekarang aku memang belum pernah merasakan yang namanya hamil. Tapi, nggak seharusnya aku diperlakukan seperti ini. Seolah hina dan dikucilkan. Selalu diolok-olok. Sesabar-sabarnya aku ... aku hanyalah manusia biasa yang bisa merasa capek dan muak.


“Nggak bisa gitu dong, Ma. Ini jadwalnya aku tidur sama Safira.” Mas Saga terlihat keberatan. Namun, seperti biasa, Mama selalu menuntut kemauannya dituruti. Maunya dimengerti, tapi dia sendiri masa bodoh dengan perasaan orang lain.


“Udah Mas. Kamu balik aja ke kamar Nadia,” pungkasku. Lalu kututup pintunya, dan menangis di baliknya. Kuabaikan suara Mas Saga yang memanggil sambil menggedor-gedor pintu. Kemudian hening setelah Nadia memaksa Mas Saga ikut ke kamarnya.

__ADS_1


_____


Baru saja aku dan Mas Saga selesai bercinta. Nadia sudah berteriak memanggil sambil menggedor-gedor pintu kamar ini.


“Ck! Kenapa lagi, sih?” ketus lelakiku. Kami lalu sama-sama tergesa mengenakan pakaian masing-masing.


“Mas! Kamu ngapain aja sih, di dalam? Buruan keluar!” teriak Nadia.


“Mas! Keluar!” Nadia semakin brutal menggedor pintunya sampai serasa bergetar seluruh isi kamar ini.


“Ada apa?” ketus Mas Saga setelan pintu dibuka.


“Lama banget buka pintu aja!” Nadia bersungut sebal. “Aku mau rujak,” lanjutnya.


“Rujak? Besok aja, ya! Ini sudah malam. Mana ada orang jual rujak.”


“Aku maunya sekarang, Mas!” Nada suara Nadia meninggi.


“Coba aja usaha cari dulu, Mas. Nadia lagi ngidam tuh,” saranku.


“Kamu harus jadi suami siaga. Istrimu lagi ngidam. Turuti dong, kemauannya. Jangan sampai Nadia dibuat sedih. Mama nggak mau ya, sampai terjadi sesuatu sama kehamilannya!” Lagi-lagi Mama datang dan ikut campur.


Mas Saga mengacak rambutnya kasar. “Iya iya. Aku carikan rujaknya.”


“Ck! Ini sudah jam 12 malam. Ngapain ikut. Nanti kamu malah masuk angin lagi aku perginya pake motor. Udah kamu tunggu aja di rumah.”


Nadia memaksa mau ikut. Merengek persis seperti anak kecil. Mama menyarankan agar Mas Saga membawa mobil supaya Nadia bisa ikut bersamanya. Sesuai saran Mama, akhirnya Mas Saga pergi bersama Nadia naik mobil. Mencari rujak.


Sementara aku memilih nonton Drakor. Ketimbang terus menerus memikirkan dan bertanya-tanya bagaimana rasanya hamil, ngidam, lalu melahirkan.


“Sayang, lagi nonton Drakor rupanya. Pantesan dipanggil nggak nyahut.”


“Eh, Mas. Udah pulang.” Saking asyiknya nonton aku sampai tidak menyadari kedatangan lelakiku.


“Udah. Oh ya, ini aku belikan makanan kesukaan kamu. Cilok kuah.”


Kuraih nampan berisi bungkusan cilok  lengkap dengan mangkuk dan sendok dari tangan Mas Saga. “Terima kasih, ya, Mas.”


“Iya, Sayang.”


“Oh ya, gimana? Rujaknya dapat?”

__ADS_1


“Dapat. Lagi beruntung pas ke kedai rujak masih buka,” jelas lelakiku. Aku mengangguk pelan.


“Dimakan itu ciloknya! Nanti keburu dingin, loh.”


“Iya, Mas.”


“Atau mau Mas suapin?” tawarnya.


“Nggak usah. Nanti aku makan sendiri aja.”


“Sini biar aku siapkan!” Lelakiku menuangkan cilok ke mangkuk yang sudah ia persiapkan. “Dah, nih, ayo dimakan!” titahnya.


“Terima kasih, Mas!” Dia menyahut dengan gumaman.


“Maaas! Buruan ke sini!” teriak Nadia dari lantai atas. Coba saja aku yang teriak begitu, pasti Mama langsung memarahiku. Tapi, giliran Nadia dibiarkan saja. Terkadang jika maduku itu kunasehati, Mama malah membelanya dan malah menyalahkan aku.


Mas Saga mendengkus kesal. “Apa lagi, sih?” gumamnya.


“Udah, Mas ke sana aja. Daripada Nadia makin rusuh.” Sesuai saranku, Mas Saga bergegas menemui istri mudanya. Aku sendiri lagi di kamar.


***


Perut Nadia sudah terlihat buncit. Terang saja kini usia kandungannya sudah memasuki bulan ke tujuh.


“Sebaiknya kamu USG lagi, Nad. Bulan kemarin kan belum ketahuan jenis kelaminnya. Karena posisi bayinya membelakangi alat USG.”


“Iya, deh, Ma. Nanti aku minta anter Mas Saga.” Nadia antusias sekali. Mama lalu berdoa berharap punya cucu laki-laki.


Setelah lelakiku ada waktu luang. Nadia pun meminta antar untuk pergi USG. Rupanya doa Mama diijabah. Menurut laporan hasil USG, bayi dalam perut Nadia berjenis kelamin laki-laki. Mama dan Papa sangat girang. Pun Mas Saga meski hanya diam, tapi tak bisa dipungkiri raut wajahnya terlihat semringah.


Aku hanya bisa diam menikmati sesak di dada.


***


Perut Nadia nyeri, mungkin kram. Karena Mas Saga, juga Mama dan Papa lagi nggak ada di rumah. Jadi, terpaksa aku dan Pak sopir yang mengantar Nadia ke rumah sakit untuk periksa.


Aku cuma bisa menunggu di depan ruangan saat Nadia diperiksa. Aku tidak diizinkan masuk oleh dokter. Dikhawatirkan dapat mengganggu proses pemeriksaan.


“Nad, bagaimana perutmu? Masih sakit? Apa kata dokter?” tanyaku saat kami sudah berada di mobil menuju pulang.


“Sudah nggak sakit, kok,” jawabnya, tapi sikap dia jadi aneh, berubah sedikit murung dan pendiam. Entah apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


Sesampainya di rumah Nadia terlihat bingung.


__ADS_2