
Tangan gemetar bukan main saat hendak menandatangani surat persetujuan menikah lagi untuk suamiku. Air mata terus saja berderai. Aku menghela napas panjang, lalu mengusap air mata yang mengalir di pipi. Berdiam sejenak menenangkan diri.
Memejamkan mata, dalam hati gemuruh menyemangati dan menguatkan diri sendiri. Perlahan kubuka mata, dan kembali meraih pulpen yang semula kuletakkan di atas surat. Lalu perlahan kugoreskan tintanya di tempat semestinya aku harus tanda tangan.
Huf, selesai juga.
Biasanya jika aku telah menyelesaikan sesuatu maka rasa lega akan menelusup ke dalam relung hati. Namun, kali ini justru resah semakin membuncah. Dadaku sesak serasa terhimpit bukit. Sakit sekali.
Aku terperanjat oleh suara gedoran pintu serta teriakan Mama dari luar kamar. “Tanda tangan saja lama sekali. Buruan!”
Aku menghela napas panjang, mengusap sisa air mata, “sebentar, Ma. Sudah selesai kok,” jawabku kemudian.
Aku keluar kamar dengan menyunggingkan senyum. Melanjutkan drama bersikap seolah baik-baik saja. Lalu menyodorkan suratnya pada Mama. Mama menyahutnya dengan kasar, lalu pergi meninggalkan aku yang masih mematung di depan pintu kamar.
Setelah Mama turun kembali ke lantai bawah, aku bersandar pada daun pintu kamar. Mencoba menetralisir rasa yang berkecamuk dalam dada.
Lagi, air mata ini tak mampu aku bendung. Meluncur dengan begitu derasnya.
Anganku melayang, memikirkan nanti bagaimana jika Mas Saga sudah benar-benar menikah dengan Nadia. Akankah aku kuat?
Suara derap sepatu membuatku tersentak dari lamunan. Segera aku mengusap air mata, menarik napas panjang lalu mengembuskan perlahan. Kembali pasang wajah pura-pura kuat, pura-pura baik-baik saja.
“Asalamu’alaikum, Sayang,” sapa lelakiku dari kejauhan, sambil menyunggingkan senyum semringah. Kubalas salamnya kuiringi dengan senyum juga.
“Kamu ngapain berdiri di sini?” tanyanya kemudian.
Aku meraih tangannya lalu kukecup dengan khidmat punggung tangannya. Kurasakan Mas Saga mengusap pucuk kepalaku yang terbungkus hijab. Penuh kasih.
Semua masih sama kurasa, meski sebentar lagi lelakiku akan menikahi wanita lain. Namun, sikapnya, kasih sayangnya, semua tidak ada yang berubah. Masih sama persis seperti dulu.
“Tadinya aku mau turun ke bawah, tapi pas denger suara sepatu Mas. Aku putuskan untuk menunggu Mas di sini.”
“Hemm, kangen ya?” goda lelakiku, seraya menowel ujung hidung ini seperti biasa. Lalu merangkul bahu ini, kami berjalan beriringan masuk kamar.
Aku melakukan ritual seperti biasa, menaruh tas kerja suamiku di tempatnya. Membukakan dasi dan kemejanya, serta membukakan sepatunya. Seperti biasa aku mendapat upah berupa kecupan mesra di kening ini.
“Udah, buruan mandi sana. Bau.” Aku menutup hidung pura-pura kebauan, padahal aroma keringat campur parfumnya sepulang kerja inilah yang selalu membuatku rindu berat.
Aku mengayunkan langkah menuju ke tempat handuk tersampir. Lantas kuambil dan kuberikan kepada lelakiku yang sudah menunggu di depan pintu kamar mandi.
__ADS_1
Selama lelakiku mandi, aku menyiapkan baju ganti dan kutaruh di atas kasur. Lalu turun ke bawah membaur dengan Mama dan Nadia. Tentunya setelah pamit pada Mas Saga yang masih berkutat dengan air di kamar mandi.
Melihat Mama dan Nadia sedang duduk santai di sofa ruang tengah, aku pun langsung ikut duduk di sofa sebelahnya.
“Nanti setelah kamu nikah sama Saga, nggak usah pakai alat kontrasepsi, ya. Pokoknya kamu harus secepatnya memberikan mama cucu. Oke!” Tangan Mama menggenggam jemari Nadia yang putih bersih itu. Penuh kasih. Dan Nadia terlihat menikmati itu.
Aku di sini seolah tak kasat mata. Diabaikan, dikucilkan.
Dadaku kembali bagai dihantam sesuatu yang amat berat, sakit dan sesak. Aku cemburu melihat kedekatan Mama mertuaku dengan calon maduku.
Dulu tahun-tahun awal pernikahan Mama juga seperhatian itu padaku. Namun, sudah lama sekali hubungan kami merenggang, faktornya karena aku tak kunjung bisa memberinya cucu.
Mama jadi seperti mengucilkan aku di rumah ini. Terlebih saat Mas Saga selalu membelaku di depannya. Mama semakin membenciku, ia menganggap aku telah meracuni pikiran putranya.
Padahal aku justru selalu melakukan sebaliknya. Menasihati lelakiku supaya tidak bersikap keterlaluan pada wanita yang telah melahirkannya itu.
Mas Saga yang sudah rapi dan wangi turun membaur dengan kami, duduk di sisiku.
“Ayo kita makan! Mama sudah lapar.” Mama berdiri lalu bergandengan tangan dengan Nadia menuju ruang makan. Aku dan lelakiku mengekor di belakangnya.
“Mas, aku panggil Nilam dulu, ya, ke kamarnya,” pamitku. Mas Saga mengangguk.
Mas Saga kembali berdebat dengan Mama. Aku mencoba menengahi mereka seperti biasa. Hingga akhirnya lelakiku memilih diam seribu bahasa.
Setelah situasi di ruang makan kembali damai, aku segera mengambil sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya. Lantas kubawa ke kamar Nilam.
Kubuka pintu kamar Nilam perlahan. Saat pintu sudah menganga lebar kulihat malaikat kecilku sedang asik berkutat di meja belajar. Gadis kecilku itu sampai tak menyadari akan hadirku.
“Asalamu’alaikum, Sayang,” ucapku pelan, berharap tidak mengejutkannya.
“Wa’alaikumsalam, Ma.” Nilam hanya menoleh sebentar ke arahku. Lalu kembali fokus melihat ke arah bukunya.
“Nilam lagi apa?” tanyaku seraya merangkul bahu mungilnya. Setelah menaruh piring berisi makanan tadi di atas meja kecil samping ranjangnya.
“Lagi gambar, Ma.”
“Hemm, gambar apa, Nak?”
“Ini aku, terus ini Mama, ini Papa sama Tante Nadia,” paparnya dengan gaya lugu. Hatiku kembali berdenyut sakit melihat hasil gambar Nilam.
__ADS_1
Baris pertama ada Nilam lalu aku kemudian Mas Saga, dan di sebelahnya lelakiku ada Nadia. Dari hasil gambar ini seolah Nilam tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini. Hanya saja ia belum mengerti bagaimana caranya mengungkapkan keresahan batinnya. Makanya lewat gambar ia mengungkapkan resahnya.
“Ma, gambar Nilam, bagus, nggak?”
Gadis kecilku mendekatkan hasil gambarnya ke depan wajahku.
“Bagus,”
“Aku mau tunjukkan ke Papa dan Tante Nadia kalau gitu.” Ia bergegas turun dari kursi. Segera kucekal bahunya.
“Nanti saja ya, nunjukin ke Pap dan Tante Nadianya. Sekarang Nilam di sini dulu. Makan di kamar saja.”
“Kenapa sekarang Nilam tidak boleh makan bareng Oma, Papa, dan Mama juga Tante Nadia?”
“Bukan nggak boleh, Sayang, tapi Oma, Papa, dan Tante Nadia sedang membicarakan hal penting khusus orang dewasa.”
“Oh, gitu. Jadi Nilam belum boleh ikutan ya, Ma. Nunggu Nilam dewasa dulu, gitu?”
Aku mengangguk pelan. Berusaha tersenyum meski dada sesak.
“Terus kapan Nilam dewasanya, Ma?”
“Masih lama, Nak. Nanti juga tahu-tahu dah, dewasa aja. Kalau Nilam menikmati proses pendewasaan dirinya.”
Gadis kecilku itu mengangguk-angguk seolah paham saja.
“Ya sudah, sekarang Nilam makan ya, itu sudah mama siapin di situ.” Aku menunjuk sepiring makanan dan segelas air putih serta segelas susu di meja kecil samping ranjangnya.
“Iya Ma, nanti Nilam makan.”
“Eum, apa Nilam mau mama suapin?”
Cepat gadis kecilku menggeleng. “Tidak Ma, Nilam ‘kan sudah besar. Nanti Nilam makan sendiri saja,” sergahnya.
“Oke, kalau gitu sekarang mama gabung sama Oma, Papa, dan Tante Nadia, ya, di ruang makan. Nanti kalau Nilam butuh apa-apa, panggil saja mama atau Simbok.”
Nilam bergumam sambil mengangguk paham. Aku lalu keluar dari kamar Nilam, dan kembali menuju ruang makan.
Langkahku terhenti di ambang pintu antara ruang tengah dan ruang makan menyaksikan pemandangan yang teramat menyakitkan hati. Tangan terkepal sempurna. Rasa cemburu membakar hangus hati ini.
__ADS_1
B E R S A M B U N G