Madu Pilihan Mertua

Madu Pilihan Mertua
BAB 3


__ADS_3

Aku bersembunyi di balik tembok penyekat antara ruang tengah dan ruang makan. Di sisi pintu. Air mata mengalir deras. Kenapa aku jadi cengeng begini? Hanya karena melihat suamiku dilayani saat makan oleh calon maduku. Bukankah nanti Nadia bakal melakukan lebih dari itu dengan Mas Saga?


Kudengar Mas Saga mempertanyakan keberadaanku. Segera kuhapus air mata yang berderai. Menghela napas panjang, kemudian berusaha bersikap baik-baik saja. Lantas membaur ke ruang makan.


Aku mematung sejenak. Bagaimana tidak? Kursi tempat biasa aku duduk telah diambil alih oleh calon maduku.


Kini aku pun duduk berjauhan dengan lelakiku. Tersekat akan keberadaan Nadia di tengah-tengah kami. Lagi-lagi itu semua atas perintah Mama. Aku merasa disingkirkan secara perlahan. Nyesek? Jangan ditanya. Sangat.


Makanan yang berusaha kutelan seolah tersangkut di tenggorokan saat melihat Nadia terus saja berusaha melayani lelakiku sedemikian rupa.


“Aku mau dilayani oleh istriku,” pinta Mas Saga seraya menoleh ke arahku.


“Nadia juga sebentar lagi jadi istrimu. Sudahlah biar dilayani Nadia saja. Lagian kan selama ini Safira sudah sering melayanimu. Beri kesempatan kepada Nadia untuk belajar menjadi istri yang baik untukmu,” omel Mama. Aku pun urung berdiri melayani lelakiku. Membiarkan Nadia dengan leluasa menguasai suamiku. Sekuat tenaga menahan sesak di dada ini.


“Aku sudah selesai makannya. Permisi duluan, ya.” Aku tatap Mama, Nadia dan Mas Saga secara bergantian. Mereka bergeming tak ada yang memperdulikan ucapanku. Aku pun bergegas ke kamar lalu mengunci pintu dan menumpahkan segala rasa yang berkecamuk dalam dada.


Tak lama kemudian kudengar ada yang mengetuk pintu kamar ini.


“Sayang, kok pintunya dikunci? Apa kamu baik-baik saja?”


Itu suara lelakiku, dari suaranya terdengar mencemaskan aku.


“Buka pintunya, Sayang!”


“Iya Mas, sebentar!”


Setelah pintu aku buka lebar, lelakiku segera memeriksa diri ini. Ia membingkai wajah ini dan ditatapnya dalam mata ini.


“Aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja. Kita sama-sama tersiksa akan keputusan sepihak Mama.” Kemudian Mas Saga memelukku erat. “Seharusnya sejak awal kita tak perlu menuruti kemauan konyol Mama, Sayang,” imbuhnya.

__ADS_1


Aku hanya terdiam dalam dekapannya.


“Mumpung pernikahanku dengan Nadia belum terlaksana. Kita masih ada waktu untuk membatalkan semua ini, Sayang.” Mas Saga melepaskan pelukannya lalu memegang kedua sisi bahu ini sembari menatapku sedemikian rupa. Seolah menunggu persetujuan dariku untuk membatalkan pernikahannya dengan Nadia. Cepat aku menggeleng tak setuju.


“Tidak Mas, pernikahanku dengan Nadia harus tetap berlangsung. Sudahlah jangan pikirkan bagaimana perasaanku. Yang terpenting itu Mama harus bahagia, Mas.”


Lelakiku mengacak rambutnya. Frustrasi. Lalu pergi meninggalkan aku sendiri di kamar. Entah ke mana?


Aku duduk di tepi kasur. Menunduk pilu. Air mata kembali berderai tak mampu kutahan lagi.


Tangan mungil menyodorkan tisu di hadapan wajahku. Aku pun segera melihat si empunya tangan tersebut. “Nilam, Sayang. Sejak kapan kamu di sini?”


Gadis kecilku itu bergeming. Menatapku sedemikian rupa kemudian mengusap air mata yang mengalir di pipi ini dengan lembut.


“Mama kenapa menangis?”


“Papa nakal, ya, Ma?”


Lagi, aku menggeleng. “Enggak Sayang. Papa nggak nakal. Papa itu super baik malah.”


“Terus Mama nangis karena apa?” cecar gadis kecilku. Penasaran.


Segera kupeluk dia erat. Kemudian berusaha mengalihkan pembicaraan.


***


Papa mertua yang selama ini berada di luar kota itu datang memastikan apa benar aku telah menerima jika putra semata wayangnya itu menduakan aku.


“Apa kamu yakin sudah ikhlas jika Saga menikah lagi, Sa?”

__ADS_1


Aku terdiam beberapa saat. Bohong kalau aku bilang ikhlas. “Aku akan berusaha ikhlas, Pa. Mungkin memang ini sudah suratan takdirku.”


Papa tak banyak tanya lagi. Hanya mengusap bahu ini lembut lalu pergi meninggalkan aku sendiri di dalam kamar.


Aku urung membaur dengan Mama dan Papa di ruang tengah saat kudengar mereka berdua terlibat adu mulut. Papa berusaha menasihati Mama agar membatalkan niat gilanya untuk menikahkan Mas Saga dengan Nadia. Namun, Mama tetap kekeh dengan rencananya.


“Papa ini selalu saja ikut campur dengan urusan mama. Lagian Safira, Saga dan Nadianya juga sudah legowo menerima semua ini. Terus kenapa sekarang Papa yang ribet?” tandas Mama. Kemudian pergi meninggalkan Papa yang masih bergeming di tempat. Papa hanya bisa menggeleng lemas dengan sikap istrinya yang keras kepala itu.


***


Tiba masanya Mas Saga bersanding di pelaminan dengan Nadia. Setelah acara ijab terlaksana dengan lancar tanpa kendala yang berarti. Aku menyaksikan lelakiku dengan maduku menyalami tamunya dari kejauhan bersama hati yang remuk redam. Namun, bibir ini tetap kupaksakan untuk menyunggingkan senyum semringah.


***


Aku duduk di tepi kasur berusaha menepis rasa sesak di dalam dada yang terasa semakin menghimpit. Sakit. Pikiranku kacau, tak kuasa membayangkan apa yang suamiku lakukan di kamar tamu sana bersama pengantinnya. Ini malam pertamanya bersama maduku.


Aku terperanjat oleh suara pintu yang diketuk. Detik kemudian pintu telah dibuka lebar oleh si pengetuk. Aku menoleh.


“Mas, ngapain ke sini?” tanyaku sambil menyeka air mata. Kemudian berdiri. Menunggu lelakiku mendekat.


Mas Saga langsung memeluk diri ini erat setelah dekat. “Malam ini aku ingin menghabiskan malam denganmu. Boleh ‘kan?”


Aku tersenyum penuh kemenangan dalam rengkuhan lelakiku. Tapi ... tidak! Aku tidak boleh egois begini. Tidak! Sekarang Mas Saga bukan hanya milikku seorang, tapi ada wanita lain yang juga berhak atas lelakiku ini.


“Jangan Mas! Ini malammu dengan Nadia. Maka sudah seharusnya kamu menghabiskan malam dengannya.”


“Tidak mau. Aku maunya sama kamu. Titik!” tegas lelakiku. Kemudian kembali memeluk diri ini erat. Aku tak bisa berkutik. Hingga suara gedoran pintu membuat pelukan kami terlepas.


B E R S A M B U N G ____

__ADS_1


__ADS_2