
***
Hari berganti, Mas Saga mulai berusaha bersikap adil terhadap aku dan Nadia. Semua pun sudah mulai terbiasa akan hadirnya orang ketiga pilihan mertua itu.
Namun, Nadia masih saja harus menggunakan cara licik untuk mendapatkan haknya. Lagi, aku melihat dia memesan jamu khusus pria via online. Pasti untuk mencekoki Mas Saga supaya mau menunaikan kewajiban sebagai suami saat seranjang dengannya.
“Nad, kenapa sih, kamu gak coba pakai cara lain selain menggunakan obat-obatan seperti itu,” tegurku. Aku gak mau Mas Saga terus menerus dicekoki obat perangsang olehnya. Aku takut penggunaan dalam jangka panjang nanti lama-lama akan berdampak pada kesehatannya. “Pakai hati misalnya,” lanjutku.
“Memangnya selama ini kamu tidak lihat usahaku untuk mendapatkan sedikit saja ruang di hati suamimu?” sergah Nadia. “Nyatanya sampai saat ini mana hasilnya? Yang ada di hatinya itu cuma kamu dan kamu, Mbak!” lanjutnya ketus. Lalu pergi meninggalkan aku sendirian di ruang tengah.
Aku melihat sorot mata Nadia ada cemburu dan dengki di sana. Aku takut itu akan memicu tumbuhnya dendam di hatinya nanti.
***
“Mas,” panggilku dan lelakiku menyahuti dengan gumaman. “Malam ini jadwalnya kamu tidur di kamar Nadia. Pergilah temui istri mudamu, Mas!” titahku. Dia berdecak kesal.
“Sebenarnya males aku ke kamar Nadia. Aku tidak nyaman di sana.”
“Gak boleh gitu, Mas. Kamu harus berusaha bersikap adil, bukan? Lagi pula sudah sekian lama harusnya kamu juga belajar untuk mencintainya, Mas. Sama seperti mencintai aku.”
“Aku sudah berusaha, tapi sejauh ini belum bisa,” sergah Mas Saga.
__ADS_1
“Mas, yuk, kalau mau ke kamar Nadia. Bareng. Kebetulan aku juga mau ambil selimut di balkon. Lupa belum aku angkat tadi.” Mas Saga mengangguk lesu. Lalu kami berjalan menaiki anak tangga menuju lantai dua. Kamar yang dulu milikku dan Mas Saga. Kini telah beralih kepemilikan menjadi milik maduku.
Sesampainya di depan pintu kamar Nadia, aku menyuruh lelakiku untuk mengetuknya. Tak berselang lama Nadia membukakan pintunya. Sekilas aku melihat penampilan maduku. Tubuh mulusnya dibalut baju lingerie sangat seksi. Hati ini memanas. Cemburu. Tapi aku berusaha mengendalikan emosi ini.
Usai mengambil selimut di balkon. Saat melintas di depan kamar Nadia, kudengar dia menyuruh Mas Saga minum dulu. Pasti itu jamu perangsang. Tak ingin dengar apa yang terjadi berikutnya, aku memilih pergi ke kamarku sendiri.
***
Malam telah berlalu berganti pagi yang cerah. Saat akan sarapan tiba-tiba Nadia muntah karena bau sambal terasi.
“Mbak, bisa minta tolong ambilkan minyak kayu putih di kamarku, tidak?” pinta Nadia. Aku mengangguk.
“Gak apa-apa kok Mas. Biar aku aja. Lagian bibi lagi sibuk nyiapin sarapan.”
Aku lantas ke lantai atas. Kamar Nadia. Usai membuka pintu, aku mematung menyaksikan betapa berantakannya ranjang maduku. Sisa kebrutalan kejadian semalam belum dibereskan. Selimut, bantal, dan baju lingerie milik Nadia masih berceceran di lantai. Hati ini ambyar.
Tak ingin berlama-lama di kamar Nadia, dan pikiranku semakin liar terbayang apa yang terjadi semalam di kamar ini. Aku memilih segera kembali ke ruang tengah setelah apa yang aku cari ketemu. Dan menyerahkan minyak kayu putih pada Nadia.
“Kamu kenapa, Nad?” tanya Mama yang baru keluar dari kamarnya.
“Gak tahu nih, Ma. Perutku mual dan kepalaku pusing,” rengek Nadia.
__ADS_1
Mama malah kegirangan usai mendengar pernyataan Nadia. “Pah, sebentar lagi kita punya cucu kandung!” seru Mama dan langsung berpelukan sama Papa.
“Maksud Mama, Nadia hamil?” pekik Mas Saga, tak percaya.
“Kalau dilihat dari gejalanya, sih, kayaknya begitu,” jawab Mama. Seketika binar wajah Mas Saga terlihat bahagia. Melihat semua keluarga antusias dan bahagia, seharusnya aku juga demikian. Tapi, kenapa hatiku justru merasa sebaliknya. Hatiku sakit dan sedih.
“Untuk memastikan sebaiknya kamu antar Nadia ke rumah sakit untuk diperiksa!”
Sesuai titah Mama, usai sarapan Mas Saga bergegas membawa Nadia ke rumah sakit. Aku iri dan cemburu melihat lelakiku mendadak antusias dan begitu peduli terhadap Nadia. Bukankah seharusnya aku senang, karena tak perlu lagi aku memaksanya untuk berusaha peduli pada maduku. Tapi ....
***
Aku mendengar suara mobil memasuki pelataran. Pasti itu Mas Saga dan Nadia pulang dari rumah sakit. Aku keluar kamar. Memastikan. Mama dan Papa mertua sudah lebih dulu menyambut kedatangan mereka. Di ambang pintu.
“Gimana hasilnya?” tanya Mama tak sabar. Padahal Nadia dan Mas Saga baru saja sampai di ambang pintu depan. Aku tertegun di ambang pintu penghubung antara ruang tengah dan ruang tamu. Menyaksikan Mas Saga memberi secarik kertas pada Mama.
Mama pun membaca hasil pemeriksaan itu. “Beneran, hasilnya positif?” tanya Mama dengan nada memekik kegirangan. Nadia dan Mas Saga mengangguk kompak membenarkan.
“Akhirnyaaa kita akan punya cucu kandung juga, Paaa!” seru Mama girang. Detik berikutnya mereka saling berpelukan penuh kebahagiaan. Pun suamiku yang semula tak peduli pada Nadia, kini ia terlihat peduli dan antusias dengan kehamilan istri mudanya itu.
Sedang aku di sini mulai terabaikan.
__ADS_1