Madu Pilihan Mertua

Madu Pilihan Mertua
BAB 4


__ADS_3

“Buka pintunya!”


Aku hafal betul itu suara Mama. Kudengar lelakiku mendengkus.  Detik kemudian bedecak kesal.


“Aku buka pintu dulu, ya, Mas.” Lelakiku tidak menjawab, ia mengacak rambutnya kasar.


Setelah pintu kubuka, aku mendapat omelan panjang kali lebar. Mama menyalahkan aku perihal keberadaan Mas Saga di kamar ini. Ia menuduhku telah menghasut lelakiku itu agar tetap bersamaku.


“Bukan salah Safira, Ma. Aku yang sengaja datang ke kamarnya,” tegas lelakiku.


Mama beralih mengomeli Mas Saga. “Kamu harus bisa adil sama istri-istrimu, Saga!”


“Mama enak banget, ya, ngomong gitu. Coba Mama jadi aku ....” Kuusap pundak Mas Saga sambil menggeleng pelan memberinya isyarat agar jangan mendebat mamanya. Sehingga ucapannya tergantung. Lelakiku itu mengerang emosi sambil mengacak rambutnya.


“Nadia!” Selang beberapa detik setelah dipanggil oleh Mama, Nadia datang.


“Iya, Ma. Ada apa?” sahutnya. Kini Nadia sudah berdiri di antara kami.


“Mulai sekarang kamu tidur di sini!  Kamar ini sekarang jadi milikmu dan Saga,” ujar Mama, tegas.


Rasanya hati ini bagai disayat sembilu. Bagaimana bisa Mama menyerahkan kamar ini kepada menantu barunya. Itu sama saja sengaja menghapus kenangan  bersama lelakiku yang telah terukir di dalamnya. Aku sakit hati dan tak terima akan keputusan mertuaku, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dalam ketidak-adilan ini.


“Ma! Mama ini apa-apaan sih, Ma! Safira yang pertama kali tinggal di kamar ini. Jadi biarkan saja tetap menjadi kamarnya ....”

__ADS_1


“Tidak apa Mas. Biar aku tidur di kamar tamu atau tidur bersama Nilam saja,” selaku. Tak ingin memperpanjang masalah, aku segera pergi meninggalkan kamar. Pergi ke kamar tamu.


Air mataku luruh membayangkan lelakiku mengukir kenangan baru di kamar pengantin kami.


***


Menjelang subuh aku terbangun,  dan kaget oleh sebuah tangan kekar yang melingkar di pinggang ini. Aku segera berbalik mencari tahu siapa pemilik tangan ini.


“Mas Saga!” seruku, kaget. Dia terbangun.


“Kenapa, Sayang?” tanyanya dengan nada berat.


“Kok, Mas di sini? Bukannya seharusnya ....”


“Tapi, Mas ....” Lagi, ucapanku menggantung. Kali ini bukan lagi jari, tapi bibir lembut Mas Saga yang menghentikan ucapanku. Aku tak bisa menolaknya. Takut dilaknat oleh Malaikat.


Usai melakukan hubungan suami istri, kami mandi bersama. Keromantisan pun berlanjut di dalam kamar mandi, gemericik air keran menjadi saksi bisu pelepasan hasrat kami.


***


Di ruang makan, Nadia tampak cemberut dan tidak nafsu makan. Aku tahu apa yang membuatnya kesal. Maafkan aku, Nad, bukan inginku merebut malam pengantinmu. Semua terjadi begitu saja. Mama memperhatikan gerak-gerik menantu barunya itu. Usai sarapan kulihat Nadia diinterogasi di ruang tengah oleh Mama.


“Keterlaluan!” pekik Mama. Ia terlihat murka.

__ADS_1


Benar, selang beberapa saat Mama mendekatiku yang tengah membantu Bibi beberes. Lantas memarahiku tanpa ampun. Perihal Mas Saga yang pindah ke kamar tamu semalam. Lagi-lagi Mama menganggap aku telah meracuni pikiran putranya itu agar senantiasa memperhatikanku saja. Padahal aku tidak seperti itu. Bahkan aku tak tahu kapan suamiku itu pindah ke kamar tempatku tidur.  Mama baru berhenti mengomel saat Mas Saga datang melerai.


“Loh, kamu mau ke mana, Ga?” tanya Mama pada putra semata wayangnya. Amarahnya terjeda, Mama memperhatikan tubuh Mas Saga yang sudah terbalut pakaian rapi.


“Aku mau ke kantor, Ma,” jawab lelakiku datar.


“Kamu gila, ya? Seharusnya kamu itu ajak Nadia jalan-jalan ke mana kek. Bulan madu kek, nginep di hotel atau ke mana. Nggak! Nggak ada ngantor-ngantoran. Pokoknya kamu harus habiskan waktu bersama Nadia. Titik!” Mama merebut tas kerja Mas Saga lantas diberikan kepada Bibi. “Taruh lagi di tempatnya!” titahnya pada Bibi.


“Baik Bu.” Bibi nurut lantas menaruh tas kerja Mas Saga ke tempat semula.


Mas Saga menggerutu. Kesal. Aku hanya bisa menyuruhnya bersabar.


***


“Mama sudah pesankan tiket untuk kalian berdua. Ayo, buruan siap-siap!” titah Mama pada Mas Saga dan Nadia.


“Tiket? Tiket apa, Ma?” tanya Mas Saga. Dahinya berkerut tak mengerti.


“Tiket untuk kalian menginap di hotel. Bulan madu,” goda Mama sambil mengedikkan alis. Antusias. Kudengar Mas Saga merespon dengan decak kesal. Lelakiku terlihat tidak antusias. Sedang Nadia berbinar penuh harap.


Enggak! Aku nggak boleh egois begini. Aku harus bisa membujuk Mas Saga agar menerima tawaran Mama. Meski berat aku terus berusaha membujuk lelakiku agar mau pergi. Akhirnya suamiku mau pergi juga bersama maduku.


Hati ini nyeri, panas dibakar api cemburu, tapi aku harus kuat, harus bisa merelakan lelakiku pergi bulan madu dengan istri barunya.

__ADS_1


B E R S A M B U N G___


__ADS_2