Mafia Couple Love

Mafia Couple Love
Memikirkan Mu


__ADS_3

Kepergian Fino ke negara A untuk menemani ibunya sekaligus urusan bisnis, memberikan berkah bagi Milan. Wanita manis itu, terasa seperti bebas dari genggaman tangan lelaki yang selalu saja menghinanya membuat dirinya mampu bernafas lega bahkan bisa menghirup udara sejuk sepuasnya.


Beberapa hari kedepannya ia akan menikmati waktu senggangnya tanpa kehadiran sosok lelaki di bencinya. Tinggal menyusun jadwal dan mengatur waktu dan tempat untuk menjelajahi negara B.


Milan berlari kecil menaiki anak tangga menuju kamarnya. Ia benar-benar senang hari ini, wajahnya selalu saja di hiasi senyuman manisnya. Memilih baju yang cocok untuknya adalah hal tepat, karena ia akan mengajak para pelayan wanita untuk jalan-jalan bersamanya.


Kemeja putih dan celana jeans biru tampak cocok di tubuh Milan membuat penampilan nya terlihat manis layaknya anak remaja. Milan kembali melihat penampilan nya di dalam cermin sambil tersenyum tipis.


"Semuanya terlihat ok, saatnya jalan-jalan" ucap Milan. Lalu kembali memilih tas yang cocok untuknya.


"Tas ini sangat manis dan imut" ucap Milan yang memilih tas berwarna putih berukuran kecil yang pastinya ponsel dan dompet masih muat.


Ia lalu memasukkan dompet dan ponselnya, kemudian berjalan menuju pintu kamarnya untuk segera menemui para pelayan wanita.


Bi Sri hanya mengizinkan 3 pelayan wanita untuk menemani nyonya nya jalan-jalan.


Milan kembali tersenyum melihat para pelayan yang sedang menunggu kedatangan nya.


"Mana yang lainnya bi" ucap Milan di ujung tangga.


"Maaf nyonya, pekerjaan mereka masih banyak dan saya tidak mengizinkan semua pelayan wanita ikut bersama nyonya. Takutnya tuan Fino marah, jadi saya hanya meminta Suci, Sasa dan Tiwi yang akan menemani nyonya"ucap Bi Sri sambil menunduk.


"Oh...baiklah bi, tidak masalah jika seperti itu. Saya juga kurang peka terhadap pekerjaan para pelayan, kalau begitu kami pergi dulu" ucap Milan yang berpamitan kepada kepala pelayan di ikuti ketiga pelayan wanita.


Kini mereka sudah berada di dalam mobil, Milan duduk di samping kemudi sedangkan ketiga pelayan wanita duduk di kursi belakang. Mobil pun melaju meninggalkan pelataran rumah menuju tempat yang akan mereka tuju.


Suci dan Sasa selalu saja bercanda gurau di dalam mobil. Milan hanya tersenyum mendengar candaan para pelayannya. Tak terasa mobil yang membawa mereka tiba di sebuah mall terbaik di negara B.


Mereka lalu turun dari mobil.


"Saya tunggu nyonya di parkiran" ucap Hardi supir pribadi Fino.


"Iya pak"ucap Milan lalu mengajak ketiga pelayan wanita masuk ke dalam mall.


Milan mengajak ketiga pelayan wanita memasuki sebuah butik pakaian wanita dan pria. Milan lalu menyuruh para pelayan untuk memilih pakaian yang cocok untuk mereka. Suci, Sasa dan Tiwi sempat sungkan untuk memilih pakaian mahal tersebut. Namun Milan tetap kekeuh untuk menyuruh mereka memilih pakaian tersebut.


"Jangan lupa pilihkan juga untuk teman kalian ya" ucap Milan sambil tersenyum yang juga sedang memilih pakaian wanita.


"Baik nyonya, terima kasih" ucap Suci yang begitu senang dapat rejeki nomplok.


Ketiga pelayan wanita mulai memilih pakaian yang cocok untuk mereka dan juga untuk rekan sesama pelayannya. Setelah selesai, Milan lalu membayar seluruh belanjaan para pelayan wanita dan para pekerja di kediaman suaminya.


Milan kembali mengajak ketiga pelayan wanita untuk makan siang di restoran, lanjut nonton film bioskop, hingga sore hari Milan kembali menyuruh ketiga pelayan wanita menaiki permainan kincir angin, karena sedari tadi Suci dan Sasa begitu antusias ingin mencoba permainan tersebut.


Milan hanya duduk di kedai kopi sambil menyaksikan para pelayannya menaiki arena bermain.


"Boleh saya bergabung" ucap seorang lelaki sambil tersenyum tipis menatap Milan.


Milan lalu mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara seorang lelaki.


"Duduk saja" ucap Milan acuh yang mengenal sosok lelaki tersebut.


"Mil kamu jahat banget, masa tidak mau angkat telepon ku. Kamu harus tahu, aku nungguin kamu berjam-jam di pom bensin Lawrence"ucap lelaki itu yang tidak lain adalah David.


"Saya tidak ingin lagi berurusan dengan anda" ucap Milan sambil menyesap kopinya.


"Jahat banget sih, aku itu temanmu mil, aku bahkan ingin berteman baik dengan mu".


Bahkan lebih dari teman, kalau perlu menjadi istri ku saja. Batin David sambil tersenyum tipis.


Milan hanya diam, ia hanya terus menatap ke arah arena bermain anak.


"Kamu ada waktu nggak? minggu depan aku ingin mengajakmu ke pesta" ucap David yang terus saja menatap Milan.


"Saya tidak punya waktu tuan David, jadi tolong jangan ganggu saya"ucap Milan ketus yang kini menatap tajam David.

__ADS_1


"Please ya Mil, kamu harus ikut"ucap David sambil memegang lengan Milan layaknya anak kecil memohon kepada ibunya.


Milan dengan kesal menarik tangannya.


"Nyonya kami sudah selesai mencoba seluruh are bermain di tempat ini" ucap Suci yang begitu bahagia.


"Ya sudah lebih baik kita pulang" ucap Milan lalu bangkit dari duduknya.


David ikut bangkit dan kembali ingin meraih tangan Milan. Milan dengan kesal menaikkan salah satu tinjunya. David hanya mampu mundur kebelakang sambil tersenyum cengengesan.


Sedangkan Suci dan Sasa terus memperhatikan David yang sepertinya menyukai nyonya Milan dari pandangannya terhadap nyonya Milan nya.


Di balik kerumunan orang, ternyata seseorang sudah mengintai Milan bersama ketiga pelayannya sedari tadi. Lelaki misterius itu, menghubungi seseorang setelah itu, ia pun meninggalkan tempat tersebut.


Kini Milan sudah berada di kediaman tuan Fino. Bi Sri menyambut kedatangan mereka dengan ramah. Milan kemudian menyerahkan paper bag yang berisi pakaian untuk bi Sri. Bu Sri begitu senang dan berterima kasih kepada nyonya nya. Sementara untuk paper bag lainnya Milan hanya serahkan kepada bi Sri dan ketiga pelayan tadi untuk dibagikan ke para pekerja dan para pelayan wanita lainnya.


Kemudian Milan memilih menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya. Milan memilih berendam dengan air hangat di dalam bathtub, hari ini ia begitu senang menikmati waktu senggangnya.


Sementara di tempat lain tepatnya negara A....


Selesai mengantar ibunya di kediaman Alexander atau kediaman orang tuanya yang sudah sepenuhnya diwarisi oleh adiknya Darren Alexander Tiger, Fino memilih berpamitan kepada ibunya, karena banyak urusan pekerjaan yang akan ia lakukan. Dan selama seminggu ia hanya akan tinggal di hotel miliknya bersama sekertaris setianya.


Sehabis melakukan pekerjaannya bersama para rekan bisnisnya. Fino memilih kembali ke hotelnya bersama Chiko.


Chiko terlebih dahulu mengantarkan tuan Fino ke kamar hotel VIP yang sudah menjadi kamar pribadinya yang tidak seorang pun menempati kamar tersebut. Lanjut memesankan makan malam untuk tuannya yang akan diantarkan langsung ke kamar tuan Fino.


"Beristirahatlah Chiko"ucap Fino sambil menepuk pundak Chiko, kemudian masuk ke dalam kamarnya.


"Iya tuan" ucap Chiko lalu undur diri dari hadapan tuannya.


Fino mengunci pintu kamarnya, kemudian memilih duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Wajahnya kembali dihiasi senyuman saat memainkan ponselnya, namun lama-kelamaan wajah Fino kembali datar sambil mengepalkan tangannya. Fino menyimpan ponselnya dengan asal, kemudian ia pun memilih masuk ke dalam toilet untuk membersihkan tubuhnya.


Fino terus memikirkan sesuatu di bawah guyuran air shower, entah apa yang sedang ia pikirkan. Setelah selesai, ia pun melilitkan handuk di pinggang nya dan berjalan keluar, Fino mengambil baju kaos oblong dan celana pendek di dalam lemari pakaian. Ia pun mengenakan pakaian santai nya.


"Taruh di situ" ucap Fino acuh.


Pramusaji lalu meletakkan nampan yang berisi makan malam pemilik hotel tersebut.


"Silahkan tuan, saya permisi dulu" ucap pramusaji dengan ramah lalu undur diri.


Fino terlebih dahulu mengunci pintu kamarnya, kemudian ia pun menikmati makan malamnya yang sama sekali tidak berselera, bahkan tidak sengaja ia menumpahkan gelas yang berisi jus jeruk.


"Sial ada apa dengan ku" ucap Fino kesal yang melihat ulahnya, karena tidak fokus.


Selesai makan malam, Fino kemudian menghubungi Chiko untuk meminta cleaning servis ke kamarnya.


Tak berselang lama kemudian, cleaning servis kembali menghampiri kamarnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Fino memilih menunggu di luar, cleaning servis sudah tahu tugasnya untuk membersihkan kamar pemilik hotel tersebut.


"Sudah selesai tuan" ucap cleaning servis tersebut.


Fino lalu mengeluarkan beberapa lembar uang sebagai tips untuk cleaning servis tersebut.


"Terima kasih tuan" ucap cleaning servis yang menerima uang pemberian Fino.


"Hemm".


Fino masuk ke dalam kamarnya dan tak lupa menguncinya. Ia memilih membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, sungguh ia benar-benar lelah seharian bekerja.


"Berani-beraninya gadis tua bersenang-senang di belakangku, bahkan tidak pernah tersenyum sebahagia itu didepan ku" ucap Fino kesal yang kembali memainkan ponselnya.


Ia pun memilih menghubungi Milan, untungnya Chiko sempat memasukkan nomor istrinya di ponselnya.


Fino terus menghubungi nomor istrinya yang tak kunjung di angkat.


"Jika kau tidak mengangkat telepon ku, awas saja, sepulang nanti aku akan memberi mu pelajaran" ucap Fino yang mulai kesal, karena panggilan telepon nya tak kunjung diangkat.

__ADS_1


Rupanya Milan sudah tertidur pulas bahkan ponselnya entah dimana ia letakkan.


Fino begitu kesal, ia kembali menghubungi bi Sri.


"Halo tuan" ucap Bi Sri di ujung telepon.


"Bangunkan istriku" ucap Fino dingin.


"Baik tuan" ucap Bi Sri, lalu buru-buru ke kamar majikannya. Fino lalu mematikan panggilannya secara sepihak.


Tok


tok


tok


Milan terbangun mendengar gedoran pintu kamar nya. Sambil mengumpulkan kesadarannya, Milan lalu berjalan untuk membuka pintu.


Ia pun mendapati bi Sri dan ketiga pelayan tadi sedang menggebrak pintu kamarnya.


"Ada apa bi Sri" ucap Milan.


"Tuan Fino meminta saya untuk membangunkan nyonya" ucap Bi Sri.


"Ada-ada saja, ini sudah larut malam dan..."


Ponsel Milan kembali berbunyi.


"Tunggu sebentar".


Milan lalu mengambil ponselnya kemudian membukanya, yang sudah terdapat 30 panggilan masuk dari nomor yang tidak di kenal.


Ponsel Milan kembali berbunyi. Dengan cepat ia menggeser tombol ikon berwarna hijau.


"Halo, beraninya kau tidak mengangkat telepon ku" omel seseorang diujung telepon.


"Maaf anda salah nomor tuan" ucap Milan.


"Hei gadis tua, aku sudah menghubungi mu puluhan kali dan meminta bi Sri untuk membangunkan mu, dasar kebo" ucap Fino ketus.


"Oh anda tuan Fino, sepertinya sudah merindukanku ya" ucap Milan yang berbasa-basi di hadapan para pelayan nya.


"Kami permisi dulu nyonya" ucap Bi Sri, lalu menyuruh ketiga junior nya kembali ke kamar mereka masing-masing.


Milan hanya mengangguk, sambil menjauhkan ponselnya dari telinganya, karena Fino mulai mencaci maki dirinya.


Milan mengunci pintu kamarnya dan memilih kembali membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


"Apa kau tidak mendengar ku hah!"teriak Fino di ujung telepon.


"Saya ingin tidur, lain kali saja menghubungi ku. Tidak bosan ya anda memarahiku dan menghinaku di sana. Ingat ya tuan, sebentar lagi saya akan mendapatkan penggantian tuan, bye" ucap Milan lalu menutup panggilan telepon suaminya dan memilih mematikan ponselnya.


"S***n kau gadis tua, tunggu kepulangan ku" ucap Fino marah.


Fino benar-benar tidak bisa tidur memikirkan ucapan Milan.


"Akhh..mengapa aku terus memikirkan mu gadis tua" ucap Fino yang sedang membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Ya aku memang merindukan tubuh mu, mengapa aku seperti ini" ucap Fino yang terlihat frustasi terus membolak-balikkan tubuhnya mencari zona nyaman.


Fino lalu memilih melihat rekaman cctv di ponselnya yang terpasang di kamarnya. Tampak Milan sudah tertidur pulas, ia pun tersenyum melihat tingkah istrinya yang tertidur pulas.


Bersambung......


Terima kasih atas dukungan nya 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2