
Milan hanya duduk di kursi kayu di sebuah ruangan yang dikhususkan untuknya, karena dia seorang wanita, jadi memiliki ruangan khusus. Milan sama sekali tidak mengganti pakaiannya, ia pun berkali-kali menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan nya.
"Semoga aku menang dan menjadi pengawal ketua"ucap Milan, kemudian meneguk air mineral yang dibawanya.
Milan kemudian berjalan menuju arena pertarungan, padahal waktu bertarung nya belum juga di mulai.
"Hei lihatlah, gadis itu yang akan mengikuti pertarungan" ucap anggota The Tiger yang sedang duduk bersama temannya.
"Ha ha ha, gadis itu pasti akan dipatahkan tulang-tulang nya oleh Zero" ucap teman satunya. Mereka kembali tertawa terbahak-bahak.
Milan hanya mampu mengepalkan tangannya, mendengar ucapan rekan sesama mafianya yang mengolok-olok dirinya.
"Hei lihatlah, Zero kembali menang"timpal lagi teman satunya.
"Aku sudah tidak sabar mendengar teriakkan gadis kecil yang akan meminta tolong"ucap lelaki yang baru saja mengolok-olok Milan.
Milan hanya diam, ia tidak ingin meladeni mereka. Bagi Milan hal seperti itu selalu saja terjadi di lingkungan baru yang ia masuki, wajar seorang senior selalu membuly yang juniornya.
Milan berjalan melewati para anggota The Tiger yang sedang menyaksikan pertandingan di atas arena. Mereka semua, memberi jalan kepada Milan untuk naik ke atas arena pertarungan.
"Kau yang selanjutnya akan bertarung dengan Zero sang juara bertahan. Semoga kau bisa mengalahkannya" ucap Jones yang menghampiri Milan.
Milan hanya mampu mengangguk sebagai jawabannya. Jones kembali menjelaskan sedikit tentang pertarungan yang akan Milan hadapi. Sementara Fino sedang meneguk minuman soda di singgasana nya sambil menatap ke arah Milan yang sedang berbincang-bincang dengan Jones.
Untuk ketua The Tiger sendiri, tidak sempat hadir menyaksikan pertarungan tersebut. Dikarenakan sedang mengembangkan bisnisnya, sekaligus menempuh pendidikan di negeri orang.
"Terima kasih senior, atas arahannya"ucap Milan antusias.
Kini Milan sudah berada di atas arena pertarungan. Lelaki yang akan ia lawan adalah Zero, orang yang begitu kuat diantara para anggota The Tiger karena mampu mengalahkan rekan sesama mafianya. Zero memiliki tubuh yang kekar dan mampu mematahkan tulang lawannya dengan tangan besinya.
Mereka berdua terlebih dahulu saling membungkuk untuk memberi hormat satu sama lain sebelum melakukan pertarungan. Setelah itu, mereka pun saling menyerang satu sama lain. Tendangan Zero berhasil mengenai wajah Milan hingga membuat gadis itu sedikit goyah.
Zero kembali tersenyum sinis, lalu kembali menyerang Milan dengan pukulan telaknya, Milan dibuat kurang fokus oleh serangan Zero yang begitu aktif. Karena permainan Zero cukup mengecoh, Zero kembali menendang perut Milan berkali-kali hingga membuat Milan terjatuh. Zero lalu melayangkan tendangannya ke wajah Milan hingga membuat gadis itu terlempar dan ambruk seketika. Darah segar mulai mengalir di sudut bibir Milan, begitu juga dengan hidungnya. Sungguh wajahnya sudah babak belur dengan luka lebam dan salah satu matanya ikut terluka akibat serangan mematikan Zero.
Seluruh anggota The Tiger yang menyaksikan pertarungan mereka, kembali heboh dan menertawakan Milan, mereka pun memberikan semangat kepada Zero, sambil meneriakkan nama Zero berkali-kali. Sedangkan Fino yang berada di lantai atas terlihat fokus melihat pertarungan keduanya.
"Memalukan!, mengapa gadis seperti itu di bawa-bawa di arena ini" ucap Fino dingin yang terus menatap ke arah Milan yang sudah ambruk.
"Tenang saja tuan Fino, lagian gadis itu juga bagian dari anggota The Tiger. Kalau kalah dari Zero, saya pastikan akan memberikan dia kepada Zero untuk dijadikan budak nya. Lagian gadis kecil itu lumayan juga untuk mainan Zero di dalam kamar. Ternyata anak Mario tidak berguna!"ucap Antoni dengan senyum sinis nya.
Milan yang sudah ambruk, kembali berusaha untuk bangkit, bayangan ayah dan ibunya yang bekerja banting tulang terus menari-nari di pikirannya.
"Hanya itu kemampuan mu gadis manis, sepertinya kau hanya perlu menjadi budak ku di dalam kamar" ucap Zero dengan seringai licik diwajahnya.
Ditambah ia tidak terima ucapan Zero yang merendahkan nya, dengan sekuat tenaga, ia pun kembali bangkit dengan tubuh yang sedikit bergetar. Sudah di pastikan ia sedikit ko dari pukulan Zero. Milan mengatur konsentrasi nya dan kembali memasang kuda-kuda untuk melawan Zero.
Kini giliran Milan yang melakukan perlawanan, tendangan yang dilayangkan Milan mengenai wajah Zero, Zero refleks memegangi wajahnya yang terasa ngilu, dengan secepat kilat, Milan kembali memutar tubuhnya dan kembali melakukan tendangan bertubi-tubi di perut Zero, hingga membuat lelaki itu muntah darah.
Tak tinggal diam, Milan kembali bergerak melayangkan tendangan di bagian lutut Zero, membuat keseimbangan tubuh Zero sedikit oleng. Milan lalu memegangi kedua pundak Zero, kemudian mengangkat tubuh Zero lalu membantingnya dengan kekuatan penuh.
Brukk
Tidak hanya itu, Milan kembali duduk di tubuh Zero yang sudah ambruk. Milan kembali meninju wajah Zero habis-habisan, bahkan kedua tangannya sudah dipenuhi darah segar dari wajah Zero yang babak belur yang sudah pasti bakalan susah untuk di kenali. Zero sudah tidak berdaya tergeletak di atas lantai marmer, hanya Milan yang mampu membuat ko juara bertahan saat ini.
Semua yang menyaksikan hanya mampu diam dan kagum dengan kemampuan Milan yang begitu hebat, tak terkecuali Fino yang sempat meremehkan kemampuan Milan.
Milan mulai menjauh dari tubuh lawannya, Milan berdiri di tengah-tengah arena pertarungan. Ia pun mengepalkan kedua tangannya sambil menatap ke atas dengan tatapan dinginnya.
__ADS_1
"Ahhhhh" teriak Milan menggema di ruangan itu, sampai-sampai urat syarafnya ikut menonjol, karena menggunakan kekuatannya.
Para anggota The Tiger mulai mengangkat tubuh Zero untuk mendapatkan perawatan medis.
Prokk
Prokk
Jones bertepuk tangan menghampiri Milan.
"Kau sangat hebat, selamat atas kemenangan mu Milan" ucap Jones lalu memeluk Milan atas kemenangan nya.
"Terima kasih" ucap Milan, lalu melepaskan pelukannya. Karena ia sama sekali tidak nyaman dipeluk oleh lawan jenis.
"Selamat bergabung di tim pengawalan ketua" ucap Jones sambil memukul pundak Milan.
Milan hanya diam, ia sama sekali tidak begitu senang dengan kemenangan nya.
Antoni yang duduk berdampingan dengan Fino tidak terima dengan kemenangan Milan. Ia pun mengepalkan tangannya tidak suka, begitu halnya dengan Fino. Fino terlihat tidak suka dengan kemenangan Milan, ia pun lalu bangkit dari singgasana nya.
"Pertandingan ini belum selesai!" Ucap Fino dengan suara lantang.
Seluruh anggota The Tiger langsung menatap ke arahnya, tak terkecuali Milan dan Jones.
Fino lalu berjalan menuruni anak tangga, sambil memasang wajah datar dan tatapan tajam yang selalu saja menghiasi wajahnya, diikuti oleh Antoni dan kedua pengawalnya.
"Aku masih ingin melihat kemampuan gadis ini" ucap Fino dingin yang sudah berdiri di hadapan Milan.
Milan hanya mampu memicingkan matanya melihat lelaki di hadapannya. Semua anggota The Tiger hanya mampu diam mendengar ucapan wakil ketua mereka, termasuk Jones yang tidak bisa ikut campur.
Fino lalu membuka jasnya, tubuh atletisnya sudah menonjol dengan jelas lewat kemeja hitam yang pas di badan yang ia gunakan. Padahal umurnya masih terbilang 20 tahun, namun tubuhnya mampu mencerminkan kepribadiannya yang suka ngeh-gym.
Jones membulatkan matanya mendengar ucapan Fino. Ia tidak ingin Milan kembali melawan wakil ketua mereka.
Milan hanya diam, ia sama sekali tidak tahu siapa lelaki dihadapannya. Karena ia masih baru dalam dunia hitam itu, sehingga belum tahu menahu tentang ketua mereka.
Fino mulai melipat lengan kemejanya sambil berjalan mengitari Milan. Saat keduanya sudah siap untuk bertarung. Milan terlebih dahulu membungkukkan badannya sebagai tanda penghormatan sebelum bertarung.
Fino hanya memasang tubuhnya di tengah arena pertarungan, ia pun lalu mengangkat salah satu tangannya untuk menyuruh Milan menyerang nya. Milan dengan sigap, melayangkan tinjunya ke wajah Fino, namun Fino berhasil menghindar dengan cepat.
Milan kembali melayangkan tendangannya ke arah Fino, namun lagi-lagi Fino dengan sigap menghindar. Milan dibuat sedikit emosi, ia pun kembali bergerak untuk menghajar Fino. Namun dengan liciknya, Fino malah menarik pakaiannya hingga sobek. Milan tidak terima, ia pun kembali melawan Fino, lagi-lagi Fino selalu menghindar dari pukulan Milan.
Fino hanya tersenyum sinis melihat kemampuan Milan, ia pun lalu menarik pinggang Milan hingga menubruk tubuhnya. Kemudian Fino malah mencengkeram kuat pinggang Milan menggunakan salah satu tangannya, lalu tangan satunya kembali memelintir tangan Milan,
"Lepaskan" ucap Milan marah.
Fino malah semakin menjadi-jadi, ia pun kemudian mengangkat tubuh Milan lalu membantingnya.
"Huhhh".
Milan terengah-engah merasakan sakit di tubuhnya. Ia pun mendongak menatap tajam Fino yang tengah berdiri di samping nya. Milan kemudian langsung menarik kaki Fino hingga membuat Fino terus memberontak, Milan kemudian memposisikan tubuhnya, lalu melayangkan tendangan ke atas hingga mengenai perut Fino.
Milan lalu bangkit dan langsung memegangi kedua pundak Fino untuk membantingnya sedangkan Fino malah memegangi pinggangnya, hingga keduanya ingin saling banting-membanting, keduanya sama-sama sengit, hingga pada akhirnya mereka jatuh bersamaan.
Fino dan Milan kembali saling mengunci. Keduanya susah untuk bergerak. Namun Milan terus mencari celah agar lepas dari kuncian Fino. Milan terus menggerakkan lututnya dengan kuat, hingga tanpa sengaja mengenai aset berharga Fino.
"Akkhh, mama!"
__ADS_1
Teriak Fino kesakitan sambil melepaskan kuncian nya. Milan kembali menghajar wajah songong Fino, namun Fino masih tetap bisa melawan sambil mencengkram tangan Milan. Antoni bersama kedua pengawalnya dengan cepat menghampirinya. Ia pun lalu menyeret tubuh Milan untuk menjauh dari tuannya.
"Ha ha ha, mama" ucap Jones keceplosan yang berhasil menertawai Fino. Namun seketika itu, jones langsung menunduk atas tingkah lakunya.
Sementara para anggota The Tiger yang menyaksikan itu, hanya bisa diam membisu dan tidak berani bersorak riuh. Namun dalam hatinya, mereka pasti tertawa terbahak-bahak mendengar teriakkan Fino yang memanggil nama ibunya, seperti yang dilakukan oleh Jones.
Antoni menghampiri Milan lalu menamparnya dengan kasar hingga Milan terjatuh.
"Beraninya kau berbuat licik kepada wakil ketua hah"teriak Antoni dengan kemarahannya.
"Ampun tuan, saya tidak sengaja" ucap Milan.
Fino yang sudah baikan, kembali duduk di kursi kebesarannya. Fino sama sekali tidak habis pikir, bisa-bisanya gadis di bawah sana mempermalukan nya di depan anggotanya.
"Lucuti pakaian gadis rendahan itu, lalu tenggelamkan di danau hitam" teriak Fino di atas sana.
Aku ingin membuat kau tidak betah menjadi pengawal adikku. Batin Fino dengan seringai licik diwajahnya.
Milan membulatkan matanya mendengar ucapan Fino barusan. Kedua pengawal Fino langsung menghampiri Milan lalu memegangi kedua tangan Milan agar tidak bisa melawan. Supaya mereka tidak kewalahan membuka seluruh pakaian Milan.
Milan hanya mampu menunduk saat pakaiannya mulai dipegangi oleh Antoni yang sudah siap untuk dirobek.
Beberapa anggota The Tiger yang tidak menyukai Milan berteriak riuh, mereka sudah tidak sabaran menonton tubuh Milan akan dilucuti. Sementara Chiko yang baru bergabung dengan para anggota The Tiger, menjadi heran dengan kehebohan saat ini.
Fino kembali angkat bicara, ia tidak ingin membuat masalah yang bisa saja berakibat fatal pada dirinya sendiri.
"Em.. tidak perlu lakukan Antoni, lempar saja di danau hitam. Aku ingin kembali ke rumah" ucap Fino dingin, lalu bangkit dari duduknya.
"Baik tuan Fino" seketika Antoni menghentikan aksinya.
Kedua pengawal Fino lalu membopong tubuh Milan ke danau hitam belakang markas besar mereka yang berada di negara A. Mereka berdua tertawa terbahak-bahak setelah selesai menceburkan tubuh Milan ke danau hitam. Kemudian mereka meninggalkan tempat itu.
Sementara Milan memilih keluar dari danau sambil menggigil kedinginan. Untungnya jones dengan cepat menghampirinya sambil membawa handuk untuk Milan.
"Kau tidak kenapa-kenapa?" tanya Jones.
Milan hanya menggeleng lalu menerima handuk Jones.
"Lelaki berjas yang melawan mu tadi adalah tuan Fino Alexander atau wakil ketua, kakak dari tuan Darren Alexander Tiger, ketua kita. Kamu jangan coba-coba cari masalah dengannya, dia lelaki arogan dan berdarah dingin, yang pastinya sebelas duabelas dengan ketua" ucap Jones menjelaskan.
Milan hanya diam, ia tidak peduli siapa sebenarnya lelaki yang semena-mena memerintah anak buahnya untuk melucuti pakaiannya. Milan sama sekali tidak ingin lagi berurusan dengan wakil ketuanya.
Hingga lambat laun, ia pun bertemu dengan Darren Alexander Tiger, yang akan selalu ia kawal kemanapun dan disinilah tempat ia mengadu nasib, dengan bekerja menjadi pengawal lelaki yang lebih muda tiga tahun darinya hingga pada waktunya, ia kembali diangkat menjadi sekretaris lelaki dingin itu.
Ujian semakin menjadi-jadi ia dapatkan. Ia pun hampir setiap hari menghadapi ketuanya yang super dingin dan sedikit bicara, namun terlalu banyak maunya. Dan banyaknya orang disekitarnya yang iri kepadanya, sampai-sampai mengadu domba mereka.
Bahkan Milan kembali dituntut untuk terus belajar dan belajar. Kuliah yang sempat ia tinggalkan, kembali ia lanjutkan demi sebuah jabatan yang sangat diidam-idamkan oleh para wanita sebayanya. Menggapai semua itu, tidak semudah membalikkan telapak tangan demi mendapatkan jabatan tersebut. Perjuangan, pengorbanan, kerja keras, penderitaan, susah, sedih, senang dan saingan berat yang ada dimana-mana mampu ia lalui.
Kedua orang tuanya pun begitu bangga, mengetahui bahwa putrinya sudah bekerja di perusahaan Alexander Group yang sangat susah untuk ditaklukkan oleh semua orang, terutama dengan otak yang setengah-setengah. Banyaknya pungli bertebaran untuk menerima sogok-menyogok oleh para pencaker yang ingin instan bekerja di perusahaan tersebut. Namun semua hasil dan kerja keras mereka, hanya sia-sia pastinya.
Kedua orang tuanya pun, memilih berhenti dari pekerjaan mereka masing-masing. Dikarenakan mereka sudah lelah bekerja siang malam melayani keluarga Alexander. Milan pun begitu senang dengan keputusan kedua orang tuanya. Baginya, dialah yang harus bekerja untuk menghidupi kebutuhan keluarganya.
Setelah lima tahun bekerja di perusahaan Alexander Group. Perekonomian keluarganya mulai berubah. Dikarenakan gaji yang didapatkan Milan begitu besar dan kalah jauh dari pendapatan kedua orang tuanya.
Milan pun tidak pernah lagi bertemu dengan Fino. Walaupun mereka sempat bertemu jika Fino berkunjung di perusahaan adiknya, namun tetap saja mereka tidak saling akrab satu sama lain.
Milan kembali tersadar dengan lamunannya.
__ADS_1
hingga bus yang membawa mereka memilih berhenti di sebuah mushola untuk beristirahat sejenak.
Bersambung.....