
Seluruh para pekerja di kediaman Fino tampak begitu bahagia menyambut kedatangan nyonya nya. Mereka begitu antusias menyiapkan jamuan makam malam atas kembalinya istri majikannya. Bi Sri dan Bi Ros tampak akrab menata berbagai aneka makanan lezat di atas meja bersama beberapa pelayan lainnya. Setelah semuanya selesai, mereka pun memilih duduk bersama di kursi yang sudah di siapkan untuknya. Begitu halnya dengan para penjaga yang sudah duduk di kursi mereka masing-masing, sambil menunggu kedatangan majikannya.
Sedangkan si tuan rumah, masih saja siap-siap di dalam kamarnya.
“Apa sudah selesai sayang”ucap Fino yang sudah terlihat rapi sambil memakai jam tangan dipergelangan tangan kirinya. Fino tersenyum menatap ke arah taman belakang lewat jendela kamarnya.
“Iya, sedikit lagi”ucap Milan yang masih duduk di kursi meja rias, sambil menyisir rambut panjangnya. Entah mengapa pikirannya kembali tertuju kepada bayinya.
“Kau tidak boleh dandan yang cantik, aku tidak suka orang lain menikmati kecantikan istriku”ucap Fino yang mulai berjalan menghampiri istrinya.
“Aku hanya menyisir rambutku, terus mengikatnya. Lihatlah seperti ini”ucap Milan sambil menggoyang-goyangkan kunciran rambutnya.
Semoga bayiku tetap dalam lindungan Tuhan. Batin Milan yang kembali mendoakan anaknya.
“Tapi kau masih saja cantik istriku, si gadis tua ku”ucap Fino yang sudah memegang kedua pundak istrinya, dengan sedikit gelak tawa.
“Kau masih saja menyebutku embel-embel gadis tua, aku pikir kau sudah melupakannya”ucap Milan, kemudian mencubit tangan suaminya, setelahnya ia pun terlihat murung menatap ke arah cermin yang memperlihatkan dirinya dengan suaminya.
“Aku akan tetap mengingatmu sebagai gadis tua ku, sayang”ucap Fino, kemudian mencium pipi istrinya.
Wajah Milan kembali memerah di cium oleh suaminya, namun pikirannya masih saja tertuju kepada bayinya.
Semoga bayiku tetap sehat, aku mulai kepikiran dengan nya. Kasihan bayiku berada di ruangan itu, tanpa kedua orang tuanya. Batin Milan, namun tetap terlihat biasa-biasa saja dihadapan suaminya.
Sungguh wanita mana pun pasti klepek-klepek dengan perlakuan suaminya yang romantis.
“Mungkin Novi sudah datang bersama keluarganya di taman belakang tempat diadakannya perjamuan makan malam, aku ingin bertemu dengannya”ucap Milan lalu bangkit dari duduknya. Ia pun tidak ingin ikut membuat suaminya kepikiran dengan bayinya
“Hemm, ayo kita temui mereka”ucap Fino yang langsung mengandeng tangan istrinya”ucap Fino dengan penuh antusias.
Sepasang suami istri itu berjalan bergandengan tangan menuju area taman belakang, tempat acara jamuan makan malam yang akan berlangsung. Fino terlihat tampan mengenakan kemeja berwarna biru dongker, begitu halnya dengan Milan yang juga mengenakan gaun berwarna biru dongker dengan panjang dibawah lututnya terkesan tertutup dan elegan. Rupanya sepasang suami istri itu, mengenakan pakaian couple berwarna biru dongker yang sangat sempurna ditubuh mereka masing-masing.
Sementara mobil yang ditumpangi Novi bersama keluarganya baru saja tiba di gerbang masuk kediaman tuan Fino. Para penjaga yang berada di pintu gerbang, masih belum juga membukakan pintu gerbang untuknya. Novi lalu turun dari mobilnya, kemudian berjalan menghampiri para penjaga yang sedang menghadangnya.
“Mengapa bapak tidak membuka pintu gerbangnya?”ucap Novi yang memasang tampang garang.
“Hei anak muda, kau tidak boleh masuk ke kediaman tuan Fino. Kamu hanya orang asing, dan saya tidak pernah melihat kamu berkunjung ke rumah tuan Fino”ucap Pak penjaga.
“Pak! Saya di undang langsung oleh mbak Milan dan tuan Fino untuk turut menghadiri acara makan malam bersama. Jangan coba-coba menghalangi saya atau saya akan menghubungi tuan Fino kalau bapak menghadang saya di pintu gerbang”ucap Novi dengan sedikit ancamannya yang langsung mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Padahal ia sama sekali tidak mempunyai nomor tuan Fino.
“Jangan anak muda, ya sudah, kamu boleh masuk”ucap pak penjaga, kemudian langsung membukakan pintu gerbang untuk Novi.
Novi lalu berlari kecil menuju mobilnya, kemudian ia pun dengan cepat masuk ke dalam mobilnya dan kembali menancap gas hingga asap mobilnya mengepul, bahkan mengenai para penjaga yang sedang berdiri di samping pintu gerbang.
Uhuk uhuk
__ADS_1
Ketiga penjaga mulai terbatuk-batuk dengan asap tebal dari mobil Novi. Sedangkan Novi tertawa kemenangan di dalam mobilnya. Novi menghentikan laju mobilnya tepat di halaman depan rumah mewah tuan Fino.
Dafa dan Dafi dengan cepat turun dari mobil, kemudian menatap takjub rumah mewah tuan Fino begitu halnya dengan Novi yang baru pertama kali mengunjungi rumah mewah yang super gedongan. Bu Ani hanya mampu geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya.
“Ayo, kalian tidak usah memperhatikan rumah tuan Fino. Kita sudah terlambat ini”ucap Bu Ani lalu menarik tangan kedua anak kembarnya. Sementara Novi hanya mampu mengekor di belakang ibunya.
Kini mereka sudah berada di tengah-tengah acara jamuan makan malam yang dilaksanakan di area taman belakang. Dafa dan Dafi begitu senang dengan suasana acara yang begitu mewah menurutnya, dikarenakan makanan lezat tampak tersaji dengan rapi dan sudah menggunggah selera untuk kedua bocah kembar itu. Berkali-kali Dafa dan Dafi menyenggol tangan ibunya, karena sudah tidak sabar mencicipi makanan lezat tersebut.
Sementara Chiko sendiri masih berada di rumah sakit tempat bayi tuannya menjalani perawatan. Chiko terlihat lelah, karena habis menjemput adik satu-satunya yang bernama Chaca Swaraya di bandara internasional Negara B, terus berlanjut mengantar adiknya ke rumah sakit terbaik Negara B tempat ia berada saat ini. Berhubung ia harus mendampingi Chaca untuk melapor kembali kepada direktur rumah sakit tersebut, sebagai tenaga medis pindahan dari Negara A.
Chiko mulai bernafas lega, keluar dari ruangan direktur. Adik kakak itu, saling merangkul berjalan melewati lorong rumah sakit.
“Kakak sangat bangga kepadamu Cha, akhirnya cita-citamu bisa juga terwujud menjadi seorang dokter”ucap Chiko yang merasa bangga kepada adik perempuannya.
“Makasih kak, ini juga berkat kerja keras kakak yang sudah menyekolahkan Chaca di perguruan tinggi dengan jurusan kedokteran di luar negeri”ucap Chaca yang tersenyum ke arah kakaknya.
“Bagaimana hari-harimu menjalani aktivitasmu menjadi dokter di Negara orang?”ucap Chiko yang ingin tahu menahu tentang aktivitas adiknya di Negara A.
“Chaca sangat menikmatinya kak, namun Chaca lebih senang jika mengabdi di Negara sendiri menjadi tenaga medis, terutama di rumah sakit ini yang banyak memberikan kenangan kepada Chaca, sehingga bisa meraih mimpi Chaca menjadi seorang dokter umum”ucap Chaca yang memilih menghentikan langkahnya.
“Oh iya, bukankah ruangan ini adalah ruangan NICU”ucap Chaca yang mengamati pintu ruangan tersebut.
“Hemm, ini ruangan Nicu, tempat kamu juga dirawat dulu. Dan di dalam sana, tuan muda juga sedang menjalani perawatan”ucap Chiko yang menatap pintu ruangan tersebut. Lalu memilih menatap area disekelilingnya.
Mata Chiko tampak menelisik seorang wanita yang masih saja berada tidak jauh darinya.
“Hemm”ucap Chiko dan kembali menatap ke arah wanita yang juga sepertinya sedang mengawasinya.
Wanita itu mencurigakan, aku yakin dia memiliki maksud tersendiri berada di area ruangan ini. Batin Chiko yang kembali menatap ke arah wanita yang masih berdiri di tempatnya.
“Emangnya tuan Fino sudah menikah”
Chiko hanya mampu mengangguk sebagai jawabannya. Ia pun kembali melihat ke arah wanita tadi. Namun wanita yang dilihatnya sudah menghilang.
“Sungguh, aku ketinggalan informasi tentang bos kakak, padahal aku sangat mengidolakannya”ucap Chaca sambil cemberut.
“Mulai sekarang, kau juga harus menjaga tuan muda di rumah sakit ini, kabari aku jika terdapat kendala selama berada di rumah sakit ini”ucap Chiko tegas. “ Pastikan tuan muda menjalani perawatan dengan baik dan selalu kabari aku, jika kau mendapat masalah di lingkungan rumah sakit ini”ucap Chiko sambil mengacak rambut adiknya.
“Baik boss ku, Iih kakak, dari kecil selalu saja merusak tatanan rambutku, aku sudah dewasa, umurku sudah 26 tahun, hanya saja jodohku belum muncul-muncul juga”ucap Chaca sambil mengerucutkan bibirnya.
“Kamu selalu saja seperti ini. Ayah dan Ibu sangat merindukan mu. Mereka sedari tadi menuggu kedatangan mu. Sebaiknya kamu pulang ke rumah. Kakak sudah memesankan taksi online untukmu. Kakak tidak bisa mengantarmu pulang ke rumah. Soalnya kakak ingin menghadiri acara jamuan makan malam di kediaman tuan Fino”ucap Chiko lalu kembali melangkahkan kakinya.
“Baiklah, terserah kakak. Karena aku juga sangat merindukan ayah dan ibu”ucap Chaca yang berlari kecil mengikuti langkah kaki kakaknya.
Sementara seseorang mencurigakan tadi mulai mengendap-endap berjalan menyusuri lorong area ruang NICU. Ia menjadi leluasa, karena lelaki yang mencurigainya sudah pergi. Saat berada di pintu ruangan NICU, ia pun mendongak menatap plafon rumah sakit yang terdapat cctv.
__ADS_1
“Sial!, sepertinya aku tidak bisa bergerak cepat untuk melenyapkan bayi Fino Alexander”ucap orang itu lalu berbalik badan.
Dikarenakan enam anggota The tiger tampak berlalu-lalang di area tersebut. Orang itu memilih menjauh dari anggota The Tiger. Ia pun mulai mengikuti langkah kaki para perawat yang sedang berjalan melewati lorong rumah sakit.
Aku memiliki ide cemerlang, tunggulah kedatanganku bayi kecil. Batin orang itu sambil terus mengikuti langkah kaki para perawat.
Sedangkan Chiko membantu adiknya menaikkan kopernya ke bagasi mobil taksi online.
“Hati-hati di jalan, kalau kau sudah sampai cepat kabari kakak”ucap Chiko, lalu menutup pintu mobil taksi tersebut.
“Iya kak”ucap Chaca yang menurunkan kaca mobil taksi online tersebut.
Chiko hanya mampu menatap kepergian adiknya, setelah itu, ia pun memilih masuk ke dalam mobilnya, kemudian langsung menancap gas menuju kediaman tuannya.
Orang yang mencurigakan tadi sudah mengenakan pakaian perawat, ia pun sudah berada di depan pintu ruang NICU. Sebelum menjalankan aksinya, tak lupa ia celingak-celinguk menatap di sekelilingnya.
Sepertinya aman, batinnya.
“Mengapa ruangan ini di kunci, bukankah ini masih jam besuk”ucapnya.
“Hei apa yang kau lakukan di situ, perawat seperti kita tidak diizinkan masuk di ruangan ini, ayo pergi”ucap perawat yang menghampirinya.
“Saya di suruh dokter masuk ke ruangan ini untuk membawa peralatan ini”ucapnya.
“Ya sudah, biar aku yang menemanimu”ucap perawat tersebut.
Mengganggu saja, awas saja kau. Setelah ini, aku akan melenyapkan mu. Batinnya.
Kedua perawat itu, masuk bersama-sama di ruang NICU. Mereka kembali dihadang dua perawat untuk menggunakan pakaian steril, jika berkunjung di ruangan tersebut.
Kini dua perawat tampak menghampiri dokter yang sedang menangani salah satu bayi yang sedikit kritis.
Sementara perawat gadungan tadi, mulai celingak-celinguk mencari bayi Fino di dalam inkubator.
Mana ya bayi kecil itu, tanganku sudah tidak sabar untuk menghabisinya. Batinnya.
Perawat gadungan itu, mulai menjauh dari dokter yang sedang menangani bayi yang sedang kritis.
“Mana sih bayinya”gumamnya dengan kesal.
Mata perawat gadungan menerawang seluruh bayi di dalam inkubator. Ia pun tersenyum kemenangan dengan seringai licik diwajahnya, saat melihat salah satu bayi yang begitu tampan dan sangat familiar wajahnya.
Aku menemukan bayi kecilnya. Akhirnya rencana ku bisa terwujud juga. Gabriela, kau sangat pandai, untungnya kau menggunakan cara licik dengan memakai topeng penyamaran, ha ha ha. Batinnya.
Bersambung…….
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏🙏🙏.
Maaf bila alurnya tidak sesuai dengan harapan teman-teman semua 🙏🙏🙏