
Perjalanan Milan ke kampung halaman Oma Ina benar-benar memerlukan waktu yang cukup lama. Namun pada akhirnya perjalanan yang mereka tempuh selama dua hari dua malam terbayarkan dengan pemandangan alam di desa itu yang begitu luar biasa.
Gunung yang menjulang tinggi yang diselimuti pepohonan rindang yang tumbuh subur, hamparan perkebunan bunga berbagai macam tersebar luas di lereng gunung dan mulai bermekaran dengan indah. tidak hanya itu, terdapat pula perkebunan strawberry yang sudah siap panen yang tidak jauh dari permukiman penduduk.
Bus yang membawa mereka berhenti tepat di pekarangan rumah Oma Ina yang begitu luasnya dan di penuhi dengan tanaman bunga dan buah-buahan. Terlihat bangunan dua lantai yang tampak kokoh dan paling megah di antara rumah-rumah dari penduduk sekitarnya. Rumah tersebut adalah rumah Nyonya Agustina atau Oma Ina, bisa dikatakan rumah Oma Ina yang paling bagus di desa itu.
Milan kemudian turun dari bus, disusul oleh Ros untuk membantu Oma Ina turun dari bus.
"Desa yang indah"ucap Milan yang melihat disekelilingnya dengan mata berbinar.
Sesekali Milan menarik nafas dalam-dalam untuk menghirup udara sejuk.
"Kamu suka nak"ucap Oma Ina yang sedang di papah oleh Ros.
Milan hanya mampu mengangguk, lalu merentangkan kedua tangannya untuk menghirup udara sejuk yang membuat suasana hati siapa saja akan begitu tenang dan nyaman.
"Sebaiknya kita masuk ke rumah" ucap Oma Ina yang terlihat mulai membaik.
"Melati masih ingin di sini Oma, sangat disayangkan pemandangannya sangat indah" ucap Milan sambil tersenyum manis.
"Ya sudah Oma masuk dulu ya" ucap Oma Ina, lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Terlihat 2 pelayan mulai menyambutnya di depan pintu.
"Ros, kamu temani melati saja" ucap Oma Ina yang sudah di bantu oleh pelayannya.
"Baik nyonya" ucap Ros, lalu berjalan menghampiri Milan yang masih menikmati pemandangan alam.
"Ini sangat indah yeeey, aku pasti akan betah tinggal di desa yang indah seperti ini" teriak Milan dengan penuh kebahagiaan.
Milan memilih duduk di bangku kayu yang tersedia di taman itu, yang langsung menghadap ke arah pegunungan dan perkebunan bunga. Ros kemudian duduk di samping Milan, mereka pun mulai mengobrol bersama layaknya seorang teman dekat, sesekali keduanya tertawa terbahak-bahak. Sangat jelas terlihat bahwa Milan begitu senang berada di tempat itu.
🍁🍁🍁🍁
Sementara di tempat lain......
Sarah duduk bersama dengan anggota keluarganya untuk sarapan bersama. Terlihat Malik dan putranya makan begitu lahapnya, sementara ibu Sarah terlihat termenung sambil mengaduk-aduk buburnya. Harusnya dua hari yang lalu Malik berangkat ke negara B, namun kondisi tubuh Sarah tidak memungkinkan untuk ditinggalkan dengan kehamilan trimester pertamanya. Hampir setiap pagi mual-mual dan terkadang tidak berselera makan, membuat Malik tidak tega meninggalkan istrinya seperti itu.
Mereka mengakhiri sarapan yang begitu hening. Malik lalu berpamitan kepada istri dan ibu mertuanya. Sementara putranya tidak ingin melepaskannya untuk pergi.
"Ayah jangan pergi" ucap Raka, sambil terus memegangi tangan ayahnya.
"Sayang, sini sama mama. Ayah ingin bekerja" ucap Milan sambil menarik Raka dari ayahnya.
Walaupun Sarah hanya ibu sambung Raka, namun Sarah tetap menyayanginya. Namun berbeda dengan Raka yang tidak terlalu menerima kasih sayang ibu sambungnya. Raka lebih dekat dengan ayahnya sedari dulu, sebelum ibu kandungnya meninggal dunia.
"Aku pergi dulu, jaga anak-anak" ucap Malik sambil mencium kening istrinya. Sarah lalu berbalik mencium punggung tangan suaminya.
Kemudian Malik masuk ke dalam mobilnya. Sang asisten mulai melajukan mobilnya meninggalkan kediamannya.
Sarah membawa Raka masuk ke dalam rumah. Saat melihat pelayan, Sarah meminta pelayan untuk membawa Raka ke taman bermain di area taman belakang.
Sarah kemudian berjalan menuju kamarnya.
"Aku sangat tidak sabar menghancurkan keluarga Alexander" ucap Sarah yang tersenyum senang.
Sementara nyonya Aisyah tidak sengaja mendengar percakapan anak dan menantunya pagi ini yang ingin menghancurkan keluarga Alexander.
__ADS_1
Terlihat nyonya Aisyah sedang menatapnya dingin di ujung tangga.
Sarah menghentikan langkahnya, lalu tersenyum kearah ibunya.
Plakkk
Sarah langsung memegangi pipinya yang terasa ngilu dari tamparan ibunya.
"Mama sangat malu memiliki putri yang begitu jahat. Sampai kapan kau bersikap seperti ini nak. Asal kau tahu, keluarga Alexander adalah kerabat terdekat mama. Nyonya Ratu adalah sahabat terbaik mama, keluarga mereka selalu membantu keluarga kita. Bahkan keberhasilan bisnis ayahmu berkat bantuan mereka. Jangan hanya cinta mu yang ditolak oleh putranya dan batalnya pernikahan mu dengan putranya membuat mu bersikap seperti ini. Sadarlah nak, jangan ada dendam dengan keluarga mereka" ucap nyonya Aisyah dengan mata berkaca-kaca.
Sarah hanya mampu diam mendengar wejangan ibunya.
"Yang lalu biarlah berlalu, bukankah kau sudah bahagia bersama Malik. Dan lihatlah sekarang kau sudah mengandung anaknya. Untuk apa lagi kau menaruh dendam kepada keluarga Alexander" ucap Nyonya Aisyah sambil memegang kedua pundak putrinya.
"Ma... keluarga mereka yang jahat dan..."ucap Sarah lalu menunduk.
"Jika kau masih menaruh dendam kepada keluarga Alexander, mama akan pergi selamanya dari mu, biarlah mama hidup untang-anting di jalanan, dan mati dengan perasaan tidak tenang, karena memiliki seorang putri yang sama sekali tidak berperikemanusiaan" ucap nyonya Aisyah sambil menghapus air matanya.
Nyonya Aisyah lalu berjalan menuju pintu, Sarah masih saja terkejut dengan ucapan ibunya, tak terasa air matanya mengalir dengan sendirinya. Sarah lalu dengan cepat mengejar ibunya yang masih berada di ambang pintu.
"Mama jangan tinggalkan Sarah, mama adalah orang yang paling Sarah sayangi. Maafkan kelakuan Sarah yang membuat mama malu" ucap Sarah sambil menggenggam tangan ibunya.
Nyonya Aisyah hanya diam, air matanya masih saja membasahi pipinya. Ia pun lalu melepaskan tangan putrinya dengan kasar.
Sarah kemudian bersimpuh di kaki ibunya, sambil terus memegangi kaki ibunya.
"Jangan tinggalkan Sarah ma, hiks hiks hiks, Sarah berjanji akan berubah dan tidak akan lagi menaruh dendam kepada keluarga Alexander" ucap Sarah memohon dan sama sekali tidak menyadari ucapannya.
Nyonya Aisyah yang tidak tega melihat putrinya lalu membantunya untuk berdiri.
"Jangan menangis lagi, kasihan bayi dalam kandungan mu" ucap nyonya Aisyah lalu melepaskan pelukannya.
Sarah dengan cepat menghapus air matanya menggunakan hijabnya. Lalu mereka kembali berpelukan bersama.
🍁🍁🍁🍁🍁
Sementara di perusahaan Alexander....
Fino sama sekali tidak fokus bekerja, ia masih saja memikirkan Milan. Bagaimana tidak, Milan sedang mengandung anak nya dan ia sama sekali tidak mengetahui keberadaan Milan sampai saat ini.
"Ku harap kalian berdua baik-baik saja" ucap Fino sambil menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya.
"Sampai kapan pun, aku akan tetap mencari mu Milan".
Terdengar pintu ruangannya di ketuk dari luar.
Tok
Tok
Tok
"Masuk".
Pintu ruangannya terbuka dan menampilkan Chiko yang sedang membawa gadis tomboi.
"Ada apa ini" ucap Fino dingin yang menatap curiga kepada Chiko.
__ADS_1
Chiko lalu mendorong tubuh Novi untuk masuk ke ruangan tuannya.
Novi terlihat ketakutan melihat sosok lelaki di hadapannya yang terlihat dingin. Ditambah tatapan matanya begitu menakutkan hingga menyayat hatinya.
"Duduk" ucap Chiko yang kembali mendorong tubuh Novi untuk duduk di kursi yang berhadapan dengan tuannya.
Fino lalu menatap tajam Chiko untuk memberikan penjelasan kepada nya tentang sosok wanita tomboi di hadapannya.
"Berbicaralah kepada tuan Fino" ucap Chiko dingin sambil mencengkram erat lengan Novi.
"Be-begini tu-tuan, saya pernah menyelamatkan istri tuan" ucap Novi gugup dengan bibir bergetar hebat. Kemudian langsung menundukkan pandangannya.
Fino terkejut mendengar ucapan wanita tomboi di hadapannya.
"Terus, dimana keberadaan istri ku" ucap Fino dingin.
"Saya tidak tahu tu-tuan" ucap Novi sambil meremas tangannya karena sudah berkeringat dingin.
Brakk
Fino langsung menggebrak meja kerjanya. Novi terkejut bukan main dengan wajah yang semakin memucat.
"Cepat katakan, dimana keberadaan istri ku hah" ucap Fino dengan tatapan tajam, sambil menodongkan pistolnya ke arah Novi.
Novi hanya mampu membulatkan matanya melihat pistol secara langsung di depan matanya. Ketakutan semakin menyelimutinya. Tubuhnya langsung bergetar hebat.
"Saya tidak tahu tuan, mbak Milo hanya mengatakan bahwa akan ke negara A" ucap Novi dengan cepat dan tak terasa bagian bawahnya terasa hangat.
Chiko membulatkan matanya melihat sesuatu mengalir dari kursi yang diduduki oleh Novi.
"Kau ngompol" ucap Chiko, lalu melepaskan tangannya.
Novi hanya mampu menunduk malu, dengan ketakutan yang masih menyelimutinya.
"Sial, bawa wanita ini keluar, membuat ku jengkel saja. Jangan lupa panggil office boy untuk membersihkan ruangan ku" ucap Fino lalu berjalan keluar dari ruangan nya.
Chiko hanya memasang wajah datar, lalu menyeret Novi dengan jijik keluar dari ruangan tuannya.
Bersambung.....
Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏🙏🙏
Mengapa saya munculkan Sarah dalam cerita ini, cuman ingin memastikan bahwa pemeran Sarah masih ada dan tidak ditelan bumi.
Karakter Sarah yaitu wanita berhijab yang memiliki sifat pendendam, iri hati, jadi apapun yang ia inginkan harus terwujud. Namun saya berusaha kedepannya membuat karakter Sarah berubah dan bertobat. Karena Sarah pada umumnya baik, cuman tidak memiliki keberuntungan yang berpihak kepadanya waktu itu.
Untuk pertemuan Milan dan Fino ikutin aja alurnya ya. Mereka pasti bakalan bertemu kok.
Dan terakhir, saya hanya sedikit memberikan pemaparan tentang komentar teman-teman yang merasa resah dengan part sebelumnya.
Saya tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkan wanita berhijab. Saya cuman ingin tekankan kepada teman sekalian, hijab dan sifat seseorang jauh berbeda.
Hijab hanya benda yang bertengger di kepala, namun pembuktiannya begitu hebat dilingkungan masyarakat sedangkan sifat seseorang berada dari dalam dirinya yang mampu ia kendalikan melalui tingkah lakunya, gerak-geriknya, yang semuanya mampu ia kendalikan.
Jadi jangan kalian kait-kaitkan antara hijab, Sifat, perilaku atau pun tingkah laku seseorang yang memiliki sudut pandang yang berbeda-beda. Namun berbeda lagi dengan sudut pandang teman-teman semua. Di sini, Saya tidak berniat untuk menggurui teman-teman sekalian. Mohon maaf bila kalian merasa tidak enak hati pada cerita ini 🙏
...Terima kasih 🙏🙏🙏...
__ADS_1