
Milan bersiap-siap untuk ke pantai bagian timur di Negara B. Rute perjalanan ke pantai tersebut sekitar 40 menit jika start dari kediaman tuan Fino menuju pantai tersebut. Milan tampak menyiapkan beberapa perlengkapan yang akan ia bawa ke pantai, mulai dari baju ganti, topi pantai, handuk dan beberapa cemilan instan beserta air mineral yang telah disiapkan oleh Suci.
Sementara Fino sedang berada di sebuah ruangan rahasia yang letaknya berada di bawah tanah di kediamannya. Letak ruangan rahasia itu berada di ruang kerjanya, dimana di ruangan kerjanya terdapat sebuah lift yang tersembunyi di dinding ruangan, hanya menggunakan remote control dinding khusus tersebut akan terbuka dan menampilkan sebuah lift yang akan membawanya ke ruangan rahasia tersebut. Ruangan rahasia tersebut begitu unik yang di rancang secara khusus oleh arsitek ternama di Negara B, dimana ruangan tersebut begitu kokoh dan kuat yang terbagi empat sekat, setiap sekat berisi senjata api dan alat-alat yang dapat digunakan untuk bertarung yang tersimpan dengan rapi dalam sebuah lemari khusus persenjataan, juga terdapat patung lilin dari hewan buas yang sengaja dipajang sebagai bahan bidikan jika ingin berlatih menembak. Selain itu, ruangan rahasia itu tidak dapat runtuh hanya karena serangan bom ataupun bencana alam lainnya. Hanya Fino dan Chiko yang mengetahui ruangan rahasia tersebut.
Fino sedang berada di ruangan persenjataan senjata api laras panjang dan pistol yang berbagai tipe, dimana suasana ruangan tersebut terdapat lemari khusus persenjataan, terdapat empat kursi kayu yang mengelilingi meja bundar, dua patung lilin yang digunakan sebagai alat peraga untuk menembak. Ia pun memeriksa seluruh senjata apinya dan sesekali mencoba senjata api tersebut lalu diarahkan pada sebuah patung hewan yang menjadi bidikannya. Mata kelamnya tidak pernah lepas dari bidikannya dan selalu mengarah pada titik kelemahan lawannya.
Dor
Dor
Dor
Bidikannya selalu saja tepat sasaran mengenai jantung lawannya. Patung lilin yang merupakan alat peraga tampak retak dan berlubang akibat tembakan mematikan sang penguasa The Tiger.
Fino tersenyum lalu meniup senjata api laras panjang yang baru saja ia gunakan. Ia pun lalu meletakkan senjata api tersebut di tempatnya semula. Fino kembali ingin beralih ke senjata api berupa pistol berbagai tipe. Namun ia urungkan niatnya, karena ponselnya sedang berdering di atas meja. Tanpa pikir panjang ia mengangkat panggilan masuk dari kepala pelayan.
“Halo”.
“Maaf menggangu waktu tuan Fino”ucap Bi Sri dengan hati-hati.
“Hemm, ada apa”ucap Fino acuh sambil melihat-lihat koleksi senjatanya.
“Begini tuan, nyonya ingin ke pantai bersama Suci, namun saya sangat khawatir kepadanya karena kemarin sore nyonya sempat tidak enak badan dan hanya memilih berada di dalam kamar. Eeh saya sangat menghawatirkan kondisi nyonya tuan”ucap Bi Sri di ujung telpon yang begitu mengkhawatirkan majikannya.
“Memangnya kenapa dengan gadis itu, aku sama sekali tidak peduli dengannya”ucap Fino ketus.
“Mohon maaf sebelumnya tuan, saya melihat gerak-gerik nyonya layaknya sedang hamil. Sebaiknya tuan menjaga nyonya dengan baik”ucap Bi Sri yang berhasil mengeluarkan isi hatinya tentang majikannya.
Deg
Jantung Fino tiba-tiba berdegup kencang mendengar penuturan bi Sri. Entah mengapa ia merasa aneh dengan perasaanya sendiri antara senang, kesal, marah sudah bercampur menjadi satu.
Tidak mungkin gadis tua itu hamil, perutnya saja masih rata. Dan mana mungkin ia akan hamil secepat itu, aku bahkan baru dua kali menyentuhnya. Batin Fino dengan pemikirannya.
“Biarkan saja, dia melakukan sesuai keinginannya. Aku sedang sibuk”ucap Fino yang tidak ingin membetulkan perasaanya dengan ucapan Bi Sri, iapun lalu mematikan ponselnya.
Bi Sri hanya mampu menghembuskan napasnya dengan kasar. Tadinya ia mengingatkan nyonya nya untuk tidak ke pantai, karena ia begitu menyayangi Milan layaknya anak sendiri dan entah mengapa ia mengkhawatirkan Milan ke tempat seperti itu. Namun apa boleh buat, ia hanyalah pelayan yang tidak memiliki kemampuan untuk melarang majikannya. Ia pun memilih melaporkan ke tuannya malah tidak di tanggapi dengan baik. Sehingga ia hanya mampu berdoa kepada yang Maha Kuasa agar nyonya nya tetap dalam lindungannya.
Milan begitu ceria, ia pun tampil santai dengan celana jeans biru di padukan baju kaos putih berlengan pendek dan jaket jeans yang mampu menutupi kulitnya dari pancaran sinar matahari, dan tak lupa kaca mata hitam sudah bertengger di hidung mancungnya, Ia pun memilih menunggu di halaman depan bersama Sasa yang sedang memegangi tas ransel miliknya yang berisi pakaian dan cemilan.
Tampak Suci mengendarai motor matic nya kearah Milan.
“Saatnya kita ngepantai nyonya”ucap Suci sambil tersenyum ke arah Milan yang juga rapi.
“Ayo lets go”ucap Milan yang ikut tersenyum yang langsung mengambil alih tas ranselnya dari Sasa.
Milan lalu naik ke motor Suci dan duduk di jok belakang, sambil melambaikan tangannya ke arah Sasa. Sedangkan Suci langsung menancap gas dan meninggalkan pelataran rumah tuan Fino.
Rupanya mereka hanya menggunakan motor Suci menuju pantai, Milan tidak enak hati untuk menggunakan mobil dan supir pribadi suaminya, jadi memilih hanya menggunakan motor. Tidak hanya suci yang ia ajak, sebenarnya Milan mengajak pelayan lainnya untuk meramaikan acara ngepantainya. Namun ia tidak di respon dengan baik oleh pelayan lainnya karena pekerjaan mereka yang mendesak di samping itu, para pelayan takut akan kehadiran tuan Fino di kediamannya, termasuk Suci yang tidak ingin menemani majikannya, namun rayuan manis dan sedikit ancaman Milan mampu meluluhkan Suci.
Mereka tampak bahagia di atas motor menikmati angin sepoi-sepoi. Namun di luar dugaan, dua buah mobil jeep sedang mengikuti mereka sejak di persimpangan jalan. Milan sadar sedang diikuti dari belakang, namun ia hanya santai di atas motor bersama Suci. Selagi kedua mobil tersebut tidak menghentikan jalannya.
Tak terasa mereka tiba di lokasi pantai. Suci kemudian memarkirkan motornya di parkiran khusus pengunjung. Milan melihat kearah pantai yang sudah ramai pengunjung, ia mampu menyaksikan sekitaran pantai, terdapat para pengunjung yang sedang berjalan beriringan di pinggir pantai bersama pasangannya, ada juga yang saling kejar-kejaran bersama pasangannya, anak kecil yang sedang bermain pasir, beberapa pengunjung yang sedang berenang dan masih banyak lainnya.
Milan menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya, sungguh ia sangat senang ke pantai. Suci yang baru saja memarkirkan motornya dengan cepat menghampiri majikannya.
“Ahhhhhhh, yeeeeeey”teriak Milan dengan lepas. Suci yang berada di sampingnya hanya mampu tersenyum.
Milan lalu menarik tangan Suci untuk mengikutinya ke pinggiran pantai. Tampak Milan berlari kecil menginjak pasir putih.
“Barang-barang nyonya biar saya yang jaga. Sebaiknya nyonya nikmati saja suasana pantainya”ucap Suci sambil tersenyum.
“Baiklah kalau seperti itu, tapi kasian juga kamu hanya ikut untuk menjaga barang-barang ku”ucap Milan.
“Tidak masalah nyonya”ucap Suci yang mengambil alih tas ransel Milan.
“Ya sudah, tolong jaga barang-barang ku”ucap Milan lalu melepaskan jaketnya beserta sepatu sneaker nya.
__ADS_1
Sambil nyeker Milan mulai berjalan di pinggir pantai, ia pun tersenyum menginjakkan kakinya di pasir putih, ombak pantai mulai menyapu kakinya. Milan memilih berlari kecil ke sana-kemari di pinggir pantai sambil tertawa lepas. Sementara Suci hanya memperhatikan nya. Sampai ia puas dan lelah menikmati keindahan pantai.
Milan memilih makan siang di sebuah kedai makanan yang letaknya di sekitaran pantai.
Tampak dua mobil Jeep yang mengikutinya, ikut memarkirkan mobilnya di area parkir di sebuah resort hotel yang dekat dari pantai. Mereka semua turun dari mobil dan memilih berjalan masuk ke dalam resort hotel tersebut. Hingga mereka semua tiba di sebuah ruangan yang begitu luasnya. Tampak seorang lelaki misterius sedang duduk membelakanginya di sebuah kursi pijat dengan dua bodyguard yang berbadan berotot berdiri di samping kiri dan kanannya.
"Salam tuan besar"ucap mereka kompak sambil membungkukkan badannya dengan penuh hormat.
"Hemm"
Lelaki misterius itu hanya menyemburkan asap rokoknya.
"Kami berhasil mengintai gadis yang tuan besar maksud"ucap salah satu dari mereka yang merupakan juru bicara.
Lelaki misterius itu tidak menjawab, ia hanya mengangkat salah satu tangannya untuk menyuruh bodyguard nya menyampaikan pesan nya.
"Kalian semua harus melangkah ke tahap berikutnya, dan jangan lupa masuk ke ruangan khusus yang sudah di sediakan untuk kalian semua"ucap bodyguard nya yang tampak garang dengan kepala plontos ditambah kulitnya hitam pekat.
"Baik tuan besar"ucap mereka kompak.
"Pokoknya malam ini, gadis itu harus menjadi milik tuan besar. Jadi laksanakan tugas kalian dengan baik"ucap bodyguard yang bertampang garang.
Mereka semua mengangguk dengan kompak. Kemudian memilih undur diri dari hadapan tuan besarnya. Ke sepuluh lelaki berbadan kekar kembali berjalan menuju sebuah ruangan yang sudah diinstruksikan oleh bodyguard tuannya.
Mereka masuk ke ruangan khusus yang di penuhi sebuah alat medis dan obat-obatan serta tempat tidur khusus untuk di rumah sakit.
Terdapat 3 lelaki berjas putih sudah menunggu kedatangan mereka. Setiap kali akan melakukan pertarungan besar, mereka semua harus menjalani perawatan terlebih dahulu.
"Kalian semua berbaringlah sesuai tempat tidur kalian masing-masing"ucap lelaki yang mengenakan jas putih.
Semua lelaki tadi mengikuti instruksi lelaki yang berjas putih yang sangat diyakini berprofesi sebagai dokter. Mereka semua sudah berbaring di tempat tidur yang selalu mereka gunakan jika melakukan perawatan.
Ketiga lelaki berjas putih mulai membuka jarum suntik lalu mengisi jarum suntik tersebut dengan cairan berwarna kuning. Lelaki berjas putih kemudian menyuntikkan obat cairan berwarna kuning ke setiap lengan para lelaki tadi.
"Obat ini akan bertahan selama 24 jam, kalian sebaiknya beristirahat untuk menunggu efek obatnya bereaksi" ucap lelaki berjas putih.
Semua lelaki tadi membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur tanpa bergerak, agar efek obatnya bereaksi dengan cepat.
Sore harinya
Milan masih saja duduk dipinggiran pantai bersama dengan Suci menikmati senja. Sementara beberapa pengunjung mulai meninggalkan lokasi pantai.
"Nyonya belum mau pulang, sebentar lagi akan petang"ucap Suci.
"Sebentar lagi ya, aku masih ingin berada di tempat ini" ucap Milan yang sedang menatap matahari yang mulai turun di peradaban nya.
"Baik nyonya" ucap Suci yang sudah di selimuti ketakutan, karena bisa-bisa ia akan mendapat marah dari BI Sri atau Tuan Fino.
Merasa puas melihat senja, dan sudah berganti menjadi petang.
Milan lalu berjalan beriringan menuju area parkiran. Namun baru beberapa langkah, sebanyak sepuluh lelaki berbadan berotot sedang menghadang nya.
"Mau apa kalian" ucap Milan dengan tatapan tajam.
"Membawa anda ke hadapan tuan besar kami" ucap salah satu lelaki berbadan kekar tersebut.
Apa mereka semua suruhan si ABG Tua. Batin Milan.
"Jangan mimpi kalian bisa membawa saya ke hadapan tuan besar kalian"ucap Milan dengan tatapan membunuhnya.
Sementara Suci sudah ketakutan di belakang majikannya.
"Nyonya kita lari saja" bisik Suci yang sudah ketakutan.
"Ha ha ha, jangan bermain dengan kami nona" ucap salah satu dari mereka yang menertawakan Milan.
Semua lelaki itu mulai mendekati Milan. Milan tidak terima ia harus melawan mereka semua. Langsung saja Milan melayangkan tendangan ke arah perut lelaki yang sudah menertawakannya. Namun mereka semua hanya tertawa terbahak-bahak melihat kemampuan Milan. Milan kembali melayangkan tendangannya ke lutut lelaki tadi. Namun lelaki itu sama sekali tidak merasakan apa-apa.
__ADS_1
"Ha ha ha, hanya itu kemampuan mu gadis kecil" ucap lelaki berbadan kekar.
Milan lagi-lagi tidak terima ditertawakan oleh mereka. Milan kembali melawan mereka dengan sekuat tenaga. Ia pun melayangkan tinjunya ke wajah lawannya, namun lagi-lagi mereka terlihat biasa-biasa saja. Milan layaknya boneka putar yang melawan seekor beruang.
Milan kembali melawan mereka sambil mengarahkan belati kecil yang menjadi senjata satu-satunya. Karena pistol tertinggal di kamarnya.
Srekk
Milan berhasil menggores lengan lelaki yang menertawakannya. Ia pun kembali berputar mengitari lelaki tersebut hingga pakaian lelaki itu sobek layaknya di terkam hewan buas. Milan lalu memegang kedua lengan lelaki itu lalu menguncinya dengan sekuat tenaga dan kembali menendang kedua lutut lelaki itu hingga bersimpuh di tanah. Milan lalu menancapkan belati kecil di leher lelaki itu hingga tewas.
Tenaga Milan terkuras habis hanya melawan satu lelaki, sementara masih ada sembilan lelaki yang siap bertarung dengan nya.
Mengapa mereka semua tampak kuat, aku merasa kehabisan tenaga melawan mereka. Batin Milan.
"Nyonya" ucap Suci yang sudah di tangkap oleh Penjahat tersebut sambil mengarahkan sebilah pisau di leher Suci.
"Jangan sakiti dia" teriak Milan dengan keringat yang mulai bercucuran di keningnya.
Milan kembali melawan mereka, walaupun tenaganya sudah terkuras abis, ia tetap melawan mereka dan belati kecilnya sebagai pegangannya.
Tuhan kuatkan aku, agar aku bisa melawan mereka semua. Batin Milan.
Milan kembali di serang oleh sembilan lelaki tadi. Ia pun kewalahan menghadapi mereka hingga belati kecilnya terjatuh di tanah. Dengan susah payah ia kembali mengambil belatinya dan dengan gerakan cepat ia tancapkan ke perut lawannya.
SREKKK.
Milan terus menancap belatinya hingga mengenai jantung lawannya. Darah segar mengalir dengan deras nya mengenai baju putihnya.
Hiyaaaa
Milan kembali menarik belatinya dari tubuh lawannya yang sudah berlumuran darah. Tatapan mata membunuhnya tidak lepas dari lelaki penjahat itu.
Milan kembali melawan mereka, namun seseorang dari arah belakang melilitkan rantai besi di lehernya. Milan terbatuk-batuk memegangi rantai besi tersebut. Kedua lelaki itu mulai menarik sisi rantai dan melilitkan terus dileher Milan hingga rantai besi itu terus terlilit di tubuh Milan. Milan kesusahan untuk bernafas. Lalu lelaki lainnya memborgol kedua tangan Milan.
"Lepaskan" ucap Milan sambil terbatuk-batuk.
Tangan Milan sudah terborgol, lalu mereka melepaskan rantai besi di tubuh Milan.
Milan masih saja memberontak menggunakan kakinya. Kemudian kedua lelaki tadi, kembali merantai kedua kaki Milan.
Sementara Suci terus menangis histeris di tangan lelaki yang membekuknya.
"Nyonya" ucap Suci yang terus saja menangis melihat perlawanan nyonya terhadap penjahat.
Plakkk
Tamparan keras bersarang di wajah Suci hingga terjatuh di tanah. Kemudian lelaki itu kembali menarik paksa rambut Suci hingga beberapa helai rambut Suci terlepas.
"Lepaskan, aku bersumpah akan membunuh kalian semua" teriak Milan dengan kemarahannya yang melihat suci di dianiaya.
Mereka tidak peduli, Milan lalu di bawah mereka pergi. Sementara Suci berusaha bangkit dengan kesakitan yang dialaminya. Ia pun langsung mendekati barang-barang nya dan mencari ponselnya untuk menghubungi bi Sri. Suci terus menangis sambil menghubungi bi Sri.
Untungnya bi Sri dengan cepat mengangkat teleponnya.
"Halo"
"Nyonya di culik dan di bawah pergi oleh para penjahat"
"Apa.. nyonya di culik" ucap Bi Sri dengan suara lantang. Hingga Fino yang berada di ujung tangga tidak sengaja mendengar ucapan bi Sri.
Fino berjalan mendekati bi Sri dan langsung mengambil alih ponsel bi Sri.
"Kau dimana sekarang"ucap Fino dengan tatapan tajam
"Nyonya di culik tuan, di dekat pantai gerilya" ucap Suci yang terus saja menangis.
Fino lalu menyerahkan ponsel bi Sri dan berjalan tergesa-gesa menuju mobilnya.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak 😉