Malam Untuk Pemimpi

Malam Untuk Pemimpi
Radian Digo Jeovandi


__ADS_3

"Radian Digo...." teriak seorang wanita paruh baya dengan menggedor sebuah pintu.


Radian Digo Jeovandi, seorang anak lelaki yang kini duduk di bangku 9 SMP, seperti anak laki-laki pada umumnya Digo sangat jarang berada di rumah. Prince halu adalah gelar yang diberikan teman-temannya untuknya karena dia terkenal sebagai seorang pemimpi yang profesional wkwkwk.


"Ada apa bund? kenapa kamu teriak-teriak begitu" tanya Radit yang merasa bingung dengan sang istri yang menghampirinya dengan muka memerah menahan amarah.


"Anakmu itu jam 9 malam baru pulang, aku yang bundanya saja jarang melihatnya karena dia berangkat sekolah sehabis subuh dan pulangnya selalu larut malam" adu Liana dengan menatap sang suami berharap jika Radit yang menasehati Digo maka anak nakalnya itu akan berubah.


"Diva, kau panggil kakakmu kesini!" seru Radit dengan menutup buku yang dibacanya.


"Oke yah" jawab Diva dengan tersenyum manis lalu segera pergi memanggil sang kakak.


Radit tersenyum simpul melihat sifat anak keduanya yang selalu ceria itu. Flarisa Diva Jeovanka namanya, berwajah imut dan selalu tersenyum adalah sosok dari diva, umurnya hanya beda dua tahun dari Digo dan sekarang diva telah duduk di kelas 7 SMP.


"Kakak...dipanggil sama ayah" teriak diva dengan mengetuk pintu kamar kakaknya.


"Tidur" jawab Digo dari dalam kamar yang membuat Diva mengerucutkan bibirnya.


"Tidur kok bisa ngomong sih kak" balas Diva kesal karena Digo selalu saja seperti itu jika dipanggil dan yang membuatnya tambah kesal adalah dia yang harus selalu menjadi alarm untuk Digo.


"Kan punya mulut Div" balas Digo lagi yang membuat kekesalan Diva semakin bertambah.


"Kakak keluar atau Diva dobrak pintunya" ancam Diva yang malah membuat Digo tertawa terbahak-bahak.


Ceklekk....


"Badan sekecil ini mau dobrak pintu? bisa bisa patah tulang kamu hahaha" balas Digo dengan kembali tertawa terbahak-bahak.


"Biarin aja nanti kalau kakak dimarahin sama ayah aku gak mau belain" ucap diva dengan memalingkan mukanya dan melipat kedua tangannya didepan dada.


"Yaudah ayo turun" ajak Digo dengan merangkul pundak sang adik.


"Digo, sini... kamu duduk disamping ayah!" seru Radit saat melihat Digo turun dari tangga dengan merangkul pundak Diva.


Digo melepas rangkulannya pada sang adik lalu duduk disampingnya ayahnya.


"Kenapa kamu jam 9 baru pulang?" tanya Radit mengintrogasi Digo dengan menatap wajah sang anak yang terlihat santai namun ada segurat rasa bersalah yang terlihat.


"Ingin" jawab Digo santai.


"Kenapa ingin?"


"Karena aku menginginkannya"


"Apa cita-cita mu?"

__ADS_1


"Banyak"


Radit menghembuskan nafasnya pelan menanggapi sikap sang anak. Sebenarnya Digo adalah anak yang humoris, dengan sikapnya yang seperti itu tidak menandakan jika Digo anak yang pembangkang ataupun tidak hormat. Dan karena sikap ayah dan anak yang sama-sama humoris maka terjadilah adegan interogasi yang lain daripada yang lain seperti itu.


"Pukul berapa kamu berangkat sekolah?" tanya Radit lagi.


"Setengah lima" jawab Digo dengan menunduk, saat pertama kali duduk didepan ayahnya hingga saat ini Digo tidak berani menegakkan kepalanya sama sekali.


"Kenapa sepagi itu?"


Mendengar pertanyaan ayahnya kali ini, Digo langsung mendongakkan kepalanya dan saling menatap dengan sang ayah.


"Because success starts from getting up in the morning" (Karena kesuksesan berawal dari bangun pagi) jawab Digo dengan tersenyum tipis setelah beberapa detik menatap ayahnya.


"And your morning will be in vain if you don't try" (Dan pagi mu akan sia-sia jika kamu tidak mencoba) balas Radit yang memegang pundak digo dengan kedua tangannya.


"But dreaming is more fun" (Tapi bermimpi lebih menyenangkan) balas Digo juga dengan memegang kedua pundak ayahnya.


"Maka mimpi mu akan tetap selamanya menjadi mimpi" ucap Radit dengan menurunkan tangannya dari pundak Digo.


Digo pun ikut menurunkan tangannya dengan perlahan, hatinya cukup terketuk dengan penuturan ayahnya walaupun dengan cara yang aneh.


"Kamu ingin mencapai cita-cita mu?" tanya Radit dengan kembali memegang kedua tangan anaknya.


Digo mengangguk cepat menanggapi pertanyaan sang ayah.


Radit kembali menurunkan tangannya dengan mata yang masih menatap lekat wajah Digo.


"Tidurlah, mimpikan cita-citamu dan bangunlah pagi untuk mengejarnya" ucap Radit santai lalu kembali membuka buku yang sempat ditaruhnya di meja.


Dengan segera Digo berlari menuju kamarnya untuk melaksanakan apa yang diperintahkan oleh ayahnya.


Ada dua pasang mata yang sedari awal saling menatap dengan kebingungan, Liana dan Diva yang menyaksikan kejadian itu tidak tau harus menangis atau tertawa menanggapi tingkah ayah dan anak yang sama-sama aneh dimata mereka.


***


Sampai didalam kamarnya, Digo langsung menuju kamar mandi untuk membasuh kaki, tangan dan mukanya.


Ia menatap pantulan dirinya di depan cermin, senyuman penuh tekad ia persembahkan untuk tidurnya berharap jika bisa menemukan salah satu impian dari sekian banyak mimpi yang pernah diimpikannya.


Dengan segera ia keluar dari kamar mandi dan berlari menuju ranjang lalu melompat keatas kasur yang membuat tubuhnya memantul beberapa kali, ia mengangkat selimutnya sampai atas kepala dan bersiap untuk menuju dalam mimpi indahnya.


Eitsss... ia melupakan satu hal yang penting untuk keberhasilan penjelajahan mimpinya, Alarm...yaps ia lupa memasang alarm yang akan membantunya bangun pagi, ia menyibakkan selimutnya lalu memasang alarm pukul setengah lima pagi, senyuman lebar kembali menghiasi wajahnya seiring ia menjatuhkan tubuhnya diatas kasur.


Akhirnya ia bisa tidur nyenyak dan on the way menuju alam mimpinya.

__ADS_1


***


"Kak Digo bangun..." teriak Diva dengan menyibak selimut yang membungkus tubuh Digo.


"Kakak katanya mau berusaha mengejar impian kakak, ayah bilang harus bangun pagi bukan bangun siang kak..." ucap Diva dengan menarik-narik tangan Digo tapi tetap tidak mendapat respon apapun dari si pemilik tangan.


Karena merasa dengan cara itu tidak akan membuat kakaknya terbangun akhirnya Diva memilih menggunakan jurus andalannya yaitu dengan menyiram Digo dengan seember air.


Byurrrr...


Satu ember air berhasil meluncur ditubuh Digo yang langsung membuatnya gelagapan tak jelas.


"Hahahaha...rasain, salah siapa kebo banget kalau tidur" ejek Diva dengan tertawa keras.


"Kamu..." geram Digo yang tak jadi meneruskan kata-katanya dengan menunjuk sang adik menggunakan jari telunjuknya.


"Apa? mau marah? marah aja, lagian kakak katanya mau berubah tapi kerjanya cuma rebahan doang" ucap Diva acuh.


"Usahanya nanti aja, tidur masih enak" balas Digo lalu kembali merebahkan tubuhnya di kasur namun kembali menegakkan tubuhnya saat menyadari jika tubuh dan selimutnya sudah basah akibat ulah Diva.


"Hahaha kenapa? basah ya? duh kasian..." ejeknya lagi dengan menatap sok prihatin kepada kakaknya.


"Diva, kamu bunda suruh panggil kakakmu untuk makan siang kenapa malah ketawa-ketawa gini" ucap Liana yang datang ke kamar Digo untuk menyusul Diva.


"Diva basahin selimutku lagi bunda" adu Digo dengan melirik Diva yang tengah menatapnya dengan memelototkan mata.


Mendengar itu Liana langsung mengecek apakah selimut Digo basah atau tidak, dan ternyata selimut itu memang basah, ia langsung mengalihkan pandangannya pada Diva.


"Benar kamu yang basahin selimut kakakmu lagi?" tanya Liana dengan menatap Diva yang menundukkan kepalanya.


Diva mengangguk pelan sebagai jawaban. Liana menghembuskan nafasnya dengan berjalan menghampiri anak perempuannya itu.


"Kamu tau kan kalau salah harus dihukum?" tanya Liana yang dibalas anggukan kecil dari Diva.


"Maka kamu harus mencuci selimut kakakmu" ucapnya dengan nada tegas, sebisa mungkin ia selalu mendidik anak-anaknya dengan tegas, namun nampaknya ketegasannya belum terpengaruh pada Digo.


"Hahaha kenapa? disuruh nyuci ya, duhh kasian" ejek balik Digo dengan mengacak-acak rambut Diva.


"Kamu juga Digo, kamu sudah berjanji pada ayahmu akan berubah, tapi bangun aja masih kesiangan" ucap Liana yang beralih untuk menegaskan Digo.


"Hahaha dimarahin juga ya?" ejek Diva lagi lalu langsung berlari keluar kamar dengan tertawa.


"Diva, mau kemana kamu cuci dulu selimutnya!" seru Liana dengan sedikit berteriak.


Dengan berjalan gontai mau tak mau Diva harus kembali ke kamar kakaknya untuk mencuci selimut yang telah disiramnya dengan air. Ia mengambil selimut berat yang sudah bertambah berat akibat terkena air itu lalu membawanya keluar untuk segera dicuci.

__ADS_1


"Kamu mandi dan setelah itu langsung ke ruang makan untuk makan siang! jangan malas-malasan terus" perintah Liana memperingati Digo lalu melangkah keluar dari kamar.


Setelah kepergian bundanya, Digo langsung bergegas untuk mandi karena tak mau membuat bundanya bertambah marah karenanya.


__ADS_2