
Digo, Rey dan Riko pulang dalam keadaan langit yang mulai berwarna jingga, menandakan jika sang senja akan hadir dan matahari akan kembali ke tempat peraduannya. Dan akhirnya mereka memilih berhenti di danau yang sering di sebut danau cincin itu untuk menikmati senja.
Indah...satu kata yang terukir manis di hati ketiganya, siapa yang dapat menolak pesona dan keindahan senja, tidak terkecuali tiga laki-laki tampan yang sering disebut sebagai badboy dan keras kepala itu, tapi nyatanya mereka masih memiliki kerapuhan hati yang mungkin tidak disadari oleh orang yang belum mengenal mereka luar dalam.
"Lo suka senja? laki-laki kok suka senja gak jantan banget lo berdua" ucap Riko mencibir Digo dan Rey padahal sebenarnya dirinya sendiri pun menyukainya.
"Gak usah munafik lo, liat tuh mata lo aja sampai keluar bintang" balas Rey dengan tersenyum tipis saat melihat tatapan takjub Riko yang melihat senja. Tapi tak disangka dengan polosnya Riko mengedipkan matanya beberapa kali dengan muka malu.
"Yaelah gitu doang lo percaya, semulia apa lo sampai bintang harus keluar dari mata bulat lo" ucap Rey dengan tertawa kecil lalu menjitak kepala sahabatnya itu.
Sementara Digo hanya fokus melihat senja tanpa memperdulikan ocehan kedua sahabatnya, diantara mereka bertiga Digo lah yang lebih menyukai senja.
*Senja adalah ketenangan jiwaku...
Aku menyukai senja bukan seperti mereka
Yang hanya membutuhkan senja untuk
pengobat luka cinta
Senja adalah faktor kebahagiaanku
Dimana dia bisa mengukir senyum di bibirku
Tanpa tema dan sandiwara
Berterimakasih kepada Tuhan pencipta senja
Karena engkau telah menghadirkan
Sebuah keindahan yang pantas ku cinta*
"Udah yok pulang, senja nya juga udah ilang" ajak Riko dengan menatap kedua sahabatnya yang masih asik menatap langit jingga yang perlahan memudar dan digantikan oleh malam berbintang.
__ADS_1
"Senja nya malu liat ketampanan gue" ucap Rey dengan bangganya.
"Dih najis, yang ada tuh senja gedeg kalau harus lama-lama liat muka lo" balas Riko yang merasa tak habis pikir dengan sifat narsis Rey yang semakin menjadi itu.
"Lo liat tuh si prince halu, penggemar beratnya si senja sama si jingga dia, gue tebak dia lagi halu terbang diatas awan terus mengukir tanda tangannya di langit" ucap Rey dengan melirik kearah Digo yang masih fokus menatap langit senja penuh pemujaan itu.
"Hahaha bisa ae lu tong, bangunin sana! tiba-tiba kesambet kita juga kan yang repot" ucap Riko dengan mendorong punggung Rey untuk lebih mendekati Digo.
"Woy prince halu, mau sampai se-abad lo liat langit? sadar woy mbak senja udah pergi, jangan bilang lo halu lagi" ucap Rey dengan sedikit berteriak yang sontak saja membuat Digo terkejut.
"Sabar go, makanya kalau halu gak usah ketinggian, di ghosting lagi kan lo" ucap Riko menimpali.
Mereka kembali mengingat kejadian saat mereka bertiga melihat senja bersama dan di tempat itu yang sama dengan yang mereka kunjungi saat ini tapi bedanya waktu itu mereka baru kelas VII SMP.
Kejadian itu adalah kenangan berarti bagi ketiganya, dimana waktu itu adalah pertama kali bagi seorang Radian Digo Jeovandi memulai bakat halu nya, kejadian penting salah satu dari mereka adalah kejadian penting pula bagi ketiganya, dari awal memang mereka hanya bertiga dan di warung bang Ali lah awal yang mempertemukan mereka dengan Jek dan Henk yang kini juga menjadi sahabat mereka.
Flashback on
Digo, Rey dan Riko saat itu tengah duduk santai di danau dengan membawa satu gitar yang dimainkan oleh Rey, mereka datang dengan bahagia berniat untuk menyaksikan kehadiran dan kepergian senja, waktu a
"Wuih liat bro, senja nya udah muncul" ucap Riko dengan menepuk kedua pundak sahabatnya.
"Woahhh keren...baru kali ini gue benar-benar merhatiin senja, ternyata bagus juga" ucap Rey menimpali dengan tatapan tak kalah takjub dari Riko.
Sedangkan Digo hanya terdiam dengan menatap fokus pada cahaya jingga yang dengan perlahan menguasai langit sore. Sudah kebiasaannya sedari kecil jika ia sangat menyukai senja dan tidak bisa di ganggu ketika tengah menyaksikan keindahan dari sang pencipta itu.
"Sejak kapan kalian suka senja?" tanya Digo memecah keheningan diantara ketiganya.
"Sore ini" jawab keduanya kompak tanpa mengalihkan pandangannya.
"Aku adalah orang pertama yang menyukai senja, aku berharap jika Tuhan mau menciptakan Dewi jingga yang dapat menjadi tulang rusukku, hidung mancung, bibir jingga, bulu mata lentik dan manik mata biru, sungguh sebuah kesempurnaan yang telah kau ciptakan tuhan, dan aku berharap jika aku lah takdir dari Dewi itu" ucap Digo dengan senyum tipis yang menghiasi wajah tampannya.
Kata-kata itulah yang pertama kali ia ucapkan dan dari senja lah ia memulai kebiasaan halu nya, siapa yang menyangka jika ia begitu terobsesi dengan senja dan warna jingga hingga ia berkeinginan untuk menikahi wanita bernama jingga.
__ADS_1
Flashback off
"Hahahaha..." tawa keduanya pecah saat selesai mengingat kejadian sore itu.
Sedangkan Digo...? jangan tanyakan lagi mukanya sekarang sudah memerah tapi masih dengan ekspresi cool nya.
"Apaan sih lo berdua, gak jelas banget, udah yok pulang" ucap Digo kesal lalu langsung pergi begitu saja dengan mengayuh sepedanya.
Rey dan Riko sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi ketika melihat kepergian Digo yang dengan gampangnya mereka ditinggalkan begitu saja, padahal alasan mereka mengapa tidak langsung pulang adalah karena menunggu Digo.
"Sahabat lo tuh Rey" ucap Riko.
"Ogah, yang ada calon kakak ipar lo tuh" balas Rey dengan memutar bola matanya malas.
Selalu seperti itu, jika diantara mereka ada yang membuat malu ataupun bersikap menyebalkan maka mereka pasti berkata seperti itu tapi tentunya hanya untuk candaan saja, apapun keadaannya mereka telah berjanji untuk tetap bersama, meskipun tidak pernah diucapkan tapi janji itu sudah tertanam seiring kebersamaan mereka.
***
"Kenapa kamu gak makan Diva?" tanya Liana saat melihat sang putri hanya menatap kosong pada sepiring nasi dan lauk yang berada dihadapannya.
"Kamu marah sama bunda?" tanya Liana lagi, sebenarnya ia juga tidak menyalahkan jika Diva marah padanya, karena bagaimanapun kepergian Digo adalah salahnya.
"Bunda minta maaf sayang, bunda terlalu emosi sampai bunda tidak bisa mengontrolnya, bunda salah diva, tapi bunda melakukan ini karena bunda sayang sama kamu dan kakakmu, bunda tidak mau kamu mengikuti pergaulan kakakmu karena kamu adalah seorang gadis" ucap Liana berusaha memberi pengertian kepada Diva.
"Bunda menyesal?" tanya Diva yang menatap bundanya dengan mengangkat satu alisnya.
"Tidak ada gunanya bund, kak Digo sudah terlanjur pergi, percuma bunda mau bilang menyesal sebanyak apapun" ucap Diva yang kini sudah mengeluarkan air matanya.
Dengan segera Diva beranjak pergi menuju kamarnya dengan berlari.
"Bunda tau bagaimana kakakmu Diva, dia anak yang penyayang bunda yakin jika dia akan kembali, dia sayang bunda, dia sayang ayah dan dia juga sangat menyayanginya kamu Diva" ucap Liana yang juga sudah tak sanggup menahan air matanya, hatinya sebagai seorang ibu sangat terluka ketika melihat kedua anak yang disayanginya kini marah padanya bahkan mungkin membencinya.
Ia sadar jika ia sudah melewati batas, ia sering memarahi Digo jika Digo membuat salah, tapi Digo selalu menanggapi itu dengan candaan untuk menggodanya ataupun membujuknya dan akhirnya dia selalu menjadi tertawa jika sudah berhadapan dengan sifat humoris anaknya itu, meskipun anak berandal tapi Digo tidak pernah menyakiti hatinya ataupun melawannya, sifat humoris telah melekat di diri seorang Digo.
__ADS_1
"Maafkan bunda Digo, bunda sayang sama kamu" lirih Liana dengan perasaan yang campur aduk, sedih, kecewa, penyesalan dan rasa rindu membuat hatinya semakin sakit.